Hantu Sekolah

Hantu Sekolah
Episode Spesial 12 : Masa Lalu Kagusa (Kehidupan yang Sulit)


__ADS_3

"...."


"Aku kembali menjadi pemimpin, ya..." Gumam Kagusa


"Sudah berapa lama aku merasa sangat hampa seperti ini. Benar juga, terakhir kali saat aku masih hidup"


"Itu sudah sangat lama sekali hingga ingatan itu mulai memudar"


*


**


75 tahun yang lalu....


Lahirlah seorang anak laki-laki dari keluarga Ikawa yang miskin. Anak itu diberi nama Ikawa Kagusa.


Ia memiliki rambut coklat keemasan yang ia dapat dari ibunya, dan bermata coklat gelap dari ayahnya. Lalu, Kagusa juga memiliki tampang menarik yang diwariskan oleh ibunya yang cantik.


Namun meski Kagusa dan ibunya memiliki paras rupawan, kehidupan miskin itu membuat ayahnya tertekan.


Disaat Kagusa masih bayi, ayahnya pergi entah kemana melarikan diri karena tidak sanggup menghidupi Kagusa dan ibunya.


Kagusa dan ibunya pun hidup melarat. Ibunya mau tidak mau harus bekerja keras menghidupi, mendidik dan menyekolahkan Kagusa yang ia sayangi.


Meski itu terasa berat dan melelahkan, ibu Kagusa tetap berusaha baik-baik saja didepan anaknya itu.


"Ibu. Ibu mau pergi kemana?" Tanya Kagusa kecil


"Ibu harus bekerja. Kagusa baik-baik dirumah, ya. Jangan nakal" Ucap ibunya lembut


"Ya! Ibu hati-hati di jalan"


"Iya"


Meski kondisi ekonomi mereka sangatlah buruk, namun setidaknya hubungan mereka harmonis. Dengan tidak adanya ayah di keluarga itu tidak membuat Kagusa dan ibunya patah semangat.


Walau Kagusa masih kecil, namun ia mengerti dengan situasi itu. Kagusa sama sekali tidak bertanya soal ayahnya pada ibunya meskipun dia sangat ingin mengetahuinya.


*


Di sore hari, Kagusa yang berumur 5 tahun sedang bermain di taman bersama anak-anak seumurannya.


Karena hari sudah mau gelap, para orang tua dari anak-anak itu mulai datang menjemput anak mereka masing-masing.


"Rey, cepat pulang. Ibu sudah buatkan makanan kesukaanmu"


"Jun, ayo pulang sama ayah. Ibu di rumah akan marah lagi kalau kau pulang telat"


"Dasar anak ini. Bajumu kotor semua seperti ini. Ibu akan marah kalau melihatmu seperti ini"


Kini, orang tua dari anak-anak itu sudah menjemput anak mereka semua.


"Ibu dan ayah semuanya sudah datang menjemput" Pikir Kagusa


"Kagusa, besok main lagi, ya~"


"Ya!" Jawab Kagusa semangat


Dan hanya tersisa Kagusa seorang ditengah taman itu.


"...."


"Sudah mau malam, aku harus pulang sekarang. Ibu nanti khawatir karena aku tidak ada di rumah" Gumam Kagusa


"Kagusa" Panggil seseorang


Kagusa tersentak dan menatap orang di depannya.


"Ibu..." Gumam Kagusa kaget


Dari kejauhan ibunya tersenyum menatap Kagusa.


"Ayo pulang, Kagusa. Hari sudah gelap"


"...."


"Ya!" Teriak Kagusa ceria


Kagusa pun langsung lari menghampiri ibunya.


"Ibu~ Bagaimana ibu bisa tau aku main disini?~" Tanya Kagusa


"Ibu mendengarnya dari para tetangga kalau kau bermain disini" Jawab ibunya hangat


"Hehe!"


Bagi Kagusa, ibu adalah segalanya, dan ayah tidaklah penting. Ayahnya tidak bertanggung jawab atas ia dan ibunya. Karena itu sejak kecil Kagusa membuang jauh kata 'Ayah' dalam hidupnya.


*


Hari terus berlalu seperti biasanya.


Hingga di suatu hari, di umur Kagusa baru 9 tahun, Kagusa mengalami demam tanpa sebab.


"Kagusa... Bagaimana ini? Kau demam seperti ini..." Gumam ibunya sambil menangis terisak disamping Kagusa yang terbaring diatas kasur tipis.


"Ibu... Aku... Baik-baik saja..." Gumam Kagusa


"Ibu tidak bisa membiarkan kau sendirian disini selama ibu bekerja" Ucap ibunya dan terus menggenggap erat tangan Kagusa


Lalu, seorang nenek yang adalah tetangga datang mendekati Kagusa dan ibunya.


"Demam adalah hal biasa untuk anak-anak. Tak perlu khawatir, aku akan menjaga anakmu selagi kau bekerja" Ucap nenek itu


"Tapi..."


"Kau perlu uang untuk membeli obat anakmu. Sudah, cepat pergilah sebelum kau terlambat bekerja"


".... Terima kasih"


Ibu kagusa pun pergi dan Kagusa dirawat oleh tetangganya itu.

__ADS_1


Dua hari kemudian, demam Kagusa pun reda dan dia sudah kembali seperti biasanya.


"Syukurlah, Kagusa. Ibu sangat khawatir denganmu..." Gumam ibunya


"Aku sudah baik-baik saja. Ibu tak perlu khawatir lagi"


Ibunya pun dengan tenang bisa meninggalkan Kagusa di rumah seperti biasanya.


Lalu...


Tes... Tes...


"!!!"


"Da... Darah... Darah keluar dari hidungku..." Pikir Kagusa


"Tidak. Tidak perlu panik. Temanku juga ada yang hidungnya keluar darah, tapi katanya itu hal biasa. Benar! Ini bukan masalah, jangan buat ibu khawatir" Pikir Kagusa dan dengan cepat mengelap darah di hidungnya


Setelahnya, Kagusa jadi sering mengalami mimisan di berbagai situasi dan ia sama sekali tidak memberitahukannya ke ibunya.


Lalu Kagusa kembali mengalami demam tinggi disertai batuk dan muntah-muntah.


"Kagusa.... Anakku...."


"Aku baik-baik saja. Ibu pergi saja dengan tenang" Ucap Kagusa lemah


"Ya. Ibu akan kembali secepatnya dan membeli obat. Bertahanlah, Kagusa"


Setelah 4 hari Kagusa mengalami demam tinggi, kini suhu tubuhnya menjadi normal, namun terkadang ia masih mual-mual.


Tapi yang ibunya tau, Kagusa sudah sehat. Kagusa menyembunyikannya didepan ibunya.


Setelahnya Kagusa merasa, akhir-akhir ini ia jadi jarang buang air kecil. Jikapun ia buang air kecil, warnanya jadi lebih keruh dari biasanya. Namun Kagusa tidak terlalu memperdulikannya.


Kagusa mulai mudah kelelahan bahkan untuk aktivitas ringan, tidak nafsu makan, dan sulit belajar di sekolah.


Lalu Kagusa juga merasa pinggangnya terasa sakit. Ia juga merasa gatal dan tiba-tiba muncul memar dan bengkak di tubuhnya.


Kagusa tidak bisa menyembunyikannya dari ibunya.


"Kagusa, kau kenapa?" Tanya ibunya


"Aku... Aku tidak apa-apa..." Gumam Kagusa


"Wajahmu pucat! Ibu akan membawamu ke rumah sakit!" Teriak ibunya panik


Kagusa pun mendapat perawatan.


"Jadi... Anakku kenapa, dokter?" Tanya ibu Kagusa


".... Bisa kita bicara di ruanganku, bu?" Tanya dokter


"Ya. Kagusa, tunggu sebentar disini, ya. Ibu akan cepat kembali"


"Ya~"


Ibu Kagusa pun pergi mengikuti dokter itu.


"Jadi bu, anak ibu ini mengalami penyakit yang cukup serius"


"Apa? Dia sakit apa?" Tanya ibu Kagusa panik


"Dia menderita penyakit gagal ginjal. Sepertinya sejak awal kondisi ginjalnya tidak seperti orang biasa lainnya, karena itu kerusakannya terus berlanjut dan kondisinya sekarang sudah parah"


Ibu kagusa tersentak dan refleks menutup mulutnya.


"Dia harus segera ditangani dan tiap minggu harus cuci darah 2 atau 3 kali karena kondisinya yang sangat buruk"


"Tidak... Kagusa... Dia masih kecil, kenapa harus menderita seperti ini..." Gumam ibu Kagusa dan menangis tersedu-sedu.


"Dokter! Lakukan apapun untuk anakku!! Tolong sembuhkan dia!!" Teriak ibu Kagusa


"Maaf bu, tapi... Kondisi anak ibu sudah sangat parah sehingga tidak bisa disembuhkan lagi. Kami sekarang hanya bisa membantu memperlambat kerusakan ginjalnya agar tidak makin parah"


"Kemungkinan hidupnya.... Paling lama 2 tahun. Itupun sudah ku lebih-lebihkan" Lanjut dokter


"Tidak.... Itu tidak mungkin...." Gumam ibu Kagusa dan terus menangis terisak-isak.


*


Ceklek...


"Ibu! Ibu sudah kembali!" Teriak Kagusa


"Ya" Jawab ibunya sambil tersenyum tipis


Ibunya berjalan mendekati Kagusa dan mengelus kepala anaknya dengan lembut.


"Kau harus kuat, Kagusa. Ibu akan berusaha semaksimal mungkin"


"?" Kagusa yang tidak mengerti apa-apa hanya menatap bingung ibunya.


"Ya. Kagusa baik-baik saja~ Ibu tidak perlu khawatir!" Ucap Kagusa ceria


Mendengar itu, si ibu tanpa sadar kembali menangis.


"Ya... Kagusa anak yang kuat..."


*


**


Karena Kagusa yang mengalami sakit parah ini, keluarga mereka yang miskin kini makin dipersulit.


Biaya untuk cuci darah Kagusa tidaklah murah. Karenanya si ibu harus kerja keras ekstra mencari uang untuk pengobatan Kagusa.


Kagusa yang masih kecil dan tak tahu apa-apa, sama sekali tidak tahu atas pengorbanan ibunya untuknya selama ini.


Hingga beberapa bulan setelahnya....


"Paling lama 10 hari" Ucap dokter

__ADS_1


"10 hari?! Maksud anda... Kagusa..." Gumam ibu Kagusa tak percaya.


"Kondisinya sudah sangat sangat parah. Ginjalnya hampir tidak berfungsi sama sekali dan racun mulai menumpuk di tubuhnya"


"Kami sudah berusaha, tapi sejak awal memang tidak bisa menyembuhkan ginjal yang sudah rusak parah itu. Setelah mengecek tubuhnya tadi, saya mengambil kesimpulan hidupnya hanya sekitar 10 hari, tidak lebih" Lanjut dokter


"Dokter! Tolong! Apapun itu, tolong Kagusa!! Lakukan apapun itu untuk menolongnya!!" Teriak ibu Kagusa histeris


"Tenang, bu. Saya mengerti perasaan anda"


"Sebenarnya, ada 1 cara yang beberapa tahun lalu dilakukan di rumah sakit luar negri untuk mengatasi masalah ini"


"Caranya dengan membuang ginjalnya yang sudah rusak dan menggantinya dengan ginjal baru yang sehat. Dengan itu, anak ibu bisa hidup lebih lama dan bisa kembali melakukan aktivitas ringan"


"Lakukan itu! Yang penting anakku selamat!!" Teriak ibu Kagusa


"Tapi... Untuk melakukan itu diperlukan ginjal sehat yang cocok dengan anak ibu. Lalu biaya untuk melakukannya tidaklah sedikit"


"Ambil saja ginjal ku! Aku ibunya, jadi seharusnya cocok dengan anakku. Soal biaya, aku akan mencari cara mendapatkannya!"


"...."


"Baiklah"


Keesokan harinya, dilakukan operasi transplantasi ginjal untuk Kagusa tanpa sepengetahuan Kagusa sendiri.


Begitu selesai operasi dan keduanya telah sadarkan diri, Kagusa melihat ibunya tengah berbaring di ranjang disampingnya.


"Ibu? Ibu kenapa?" Tanya Kagusa


"Tidak... Ibu hanya sedikit sakit, tapi ini bukan masalah" Jawab ibunya lemah


"Kagusa harus sehat, ya. Jika Kagusa bisa sehat kembali, itu sudah cukup untuk ibu"


"Ya! Kagusa akan segera sembuh!!" Ucap Kagusa ceria


Ibu Kagusa tersenyum melihat Kagusa.


*


Sekitar 10 hari kemudian, Kagusa telah dibolehkan pulang ke rumah dan hanya perlu kontrol ke dokter sekitar seminggu sekali untuk pengecekan lanjut kondisi ginjal barunya.


Tentunya, Kagusa sama sekali tidak diberi tahu ibunyo soal penyakit yang dideritanya selama ini, juga soal pengorbanan ibunya.


Begitu keluar dari rumah sakit, Kagusa beraktivitas seperti biasa, dan ibunya juga seperti biasa, bekerja di pagi hari dan pulang saat sore hari.


Hingga di umur Kagusa ke-12 tahun, ibunya jatuh sakit tiba-tiba.


"Ibu! Ibu!!" Teriak Kagusa panik


Dengan cepat Kagusa membawa ibunya ke rumah sakit dimana Kagusa mendapatkan perawatan sebelumnya.


"Ibuku kenapa, dokter?!" Tanya Kagusa panik


"Ah, kau yang saya rawat beberapa tahun lalu, kan? Anak kecil yang menderita penyakit gagal ginjal"


"A.... Apa.... Apa maksud anda?" Tanya Kagusa


"Ibumu sebelumnya memberi ginjal baru untukmu. Kini ginjal ibumu tinggal satu dan sepertinya dia memaksakan diri selama ini dan jatuh sakit"


Baru itulah Kagusa menyadari kalau ibunya berkorban sangat banyak untuknya.


Begitu keluar dari ruang dokter, kaki Kagusa tidak bisa menopang tubuhnya lagi dan ambruk dengan bersandar ke dinding.


"Ibumu... Kenapa dia sama sekali tidak bilang apapun denganku? Kenapa menyembunyikannya?...." Gumam Kagusa pasrah


"Ini semua... Karenaku... Ibu jadi menderita..."


"Aku harus... Menyembuhkan ibu! Harus!!!"


Kagusa langsung bangkit dan mencari pekerjaan kasar untuk mencari uang demi pengobatan ibunya.


Ia terus bekerja mencari uang hingga sering bolos tidak sekolah. Namun meski begitu, Kagusa masih memperhatikan kemampuan akademik nya.


Kagusa bekerja dari pagi hingga sore, dan belajar mandiri di malam hari.


Terkadang ia merasakan nyeri di pinggangnya akibat ginjalnya yang bekerja ekstra, tapi Kagusa tidak menghiraukannya dan terus bekerja.


Lalu... Ketika Kagusa akan masuk SMA, ia masuk ke sekolah biasa agar ia bisa bolos semaunya tanpa perlu terlalu khawatir.


Dan... Beberapa bulan kemudian, keadaan ibunya kembali memburuk.


Hingga akhirnya ibu Kagusa meninggal dunia.


*


"...."


Kini Kagusa duduk di lantai dengan bersandarkan dinding di belakangnya. Matanya tampak kosong menatap langit-langit rumahnya yang sempit dan kumuh.


Perlahan Kagusa menoleh ke kanannya, dimana ada fotonya bersama sang ibu.


Begitu melihat foto itu, Kagusa refleks menggigit bibirnya hingga berdarah.


"Ibu... Kau kejam... Kau meninggalkanku sendirian disini... Kau pergi begitu saja dan menyembunyikan kenyataan itu bahkan hingga kau meninggal..." Gumam Kagusa


"Aku takkan memaafkanmu!! Kau menyembunyikan kenyataan penyakitku saat masih kecil dan terus bilang aku baik-baik saja, padahal aku hampir mati!"


"Kau terus bekerja keras untuk manusia sepertiku?! Benar-benar tidak berguna!! Seharusnya kau biarkan saja aku mati saat itu dan kau bisa melanjutkan hidup dengan tenang!!"


"Setelah tau kenyataannya, aku terus, terus, terus mencari uang untuk menyembukanmu lagi. Tapi kini semuanya sia-sia!! Sudah tidak ada artinya lagi semua uang yang aku kumpulkan!! Ini semua karena kau yang tiba-tiba pergi!!!"


Tes... Tes....


"Ibu!! Kembalilah kesini!!" Teriak Kagusa


"Aku akan berusaha lebih keras lagi setelah ini!! Karena itu.... Kembalilah... Aku kesepian..."


Kagusa kini sebatang kara tanpa ada kerabat di sekitarnya dan hidup tanpa tujuan.


Hingga akhirnya... Disaat Kagusa berada di kelas 2 SMA dan berumur 17 tahun, ia meninggal dunia karena terlalu memaksakan diri melakukan pekerjaan kasar selama bertahun-tahun dengan hanya 1 ginjal.

__ADS_1


Saat sedang berjalan menuruni tangga di sekolah, ia kehilangan kesadaran diri hingga terjatuh dan meninggal.


__ADS_2