Hantu Sekolah

Hantu Sekolah
Kehidupan Izumi : Berkumpul Bersama


__ADS_3

*


Hari-hari terus berlalu seperti biasanya dan tidak terasa ulangan semester pun tiba.


Seperti biasanya, aku menjadi yang pertama di angkatan kelas umum. Dan dari yang aku dengar, Kirian menjadi yang pertama di kelas khusus, sedangkan Maeru berada di urutan ke-2 dibawah Kirian.


Saat libur semester, Maeru datang ke rumah Tuan Hazuki dan menginap.


Di malam hari, mereka berempat berkumpul di kamar kosong yang ada di seberang kamarku, yang sekarang digunakan Maeru untuk bermalam.


Beberapa saat kemudian, Rusen membuka kamarku tanpa mengetuk.


"Izumi, ayo ikut kami ke kamar sebelah" Ucap Rusen dengan jempol menunjuk ke kamar itu.


Aku tidak bisa melawan. Meski aku menolak, dia tetap akan memaksaku ikut. Jadi dengan sukarela aku mengikuti kemauannya.


"Ian, kau hebat sekali. Padahal aku sudah percaya diri yakin bisa di peringkat pertama, tapi kau mengambilnya" Ucap Maeru


"Hanya kebetulan. Nilai kita juga beda tipis"


"Kau tahu? Keberuntungan itu termasuk kekuatan. Padahal aku sudah berjuang keras, tapi masih tidak bisa mengalahkanmu"


"Eru, kau itu di peringkat kedua. Aku yang di urutan ke-20 saja tidak protes " Ucap Rio


"Itu karena kerjamu cuma bikin onar saja" Sindir Maeru


"Kau juga di kelas selalu tebar pesona untuk menarik perhatian para perempuan" Sindir Rio balik


"Hahahahahaha"


Aku bisa dengar suara mereka dari luar ruangan.


Saat aku bersama Rusen masuk ke kamar itu, Kirian dan Rio menatapku dengan lekat.


Tak lama setelah itu, Maeru tersenyum padaku. Seketika aku langsung tersentak dan firasat buruk langsung terbesit di benakku.


"Aku dengar kau berada di peringkat pertama di kelas umum?" Tanya Maeru


"Iya...." Gumamku


"Apanya? Kelas umum itu berisi orang-orang bodoh semua, makanya orang seperti itu bahkan bisa di peringkat pertama. Coba kalau dia di kelas khusus, pasti di urutan terakhir" Sindir Rio


"...." Aku hanya diam saja tidak menanggapinya.


"Walau begitu, di tetap di urutan pertama. Makanya Mawari bisa suka sama dia" Ucap Maeru


Maeru melirik ke arahku, dan kembali tersenyum.


"Ngomong-ngomong, Izumi, lama tak bertemu. Terakhir kali kita bertemu saat di belakang gedung kelas umum sebelumnya, ya"


"Apa kau sudah baikan? Aku tidak sadar memukulmu saat itu" Tanya Maeru lembut, namun matanya menatapku dengan tajam.


"Aku... Sudah lebih mendingan sekarang" Gumamku sambil menundukkan kepala dengan wajah pucat.


"Baguslah~"


"Ayo bergabung dengan kami"


Maeru bergeser dan memberi tempat untukku duduk di sampingnya.


Dengan ragu aku duduk dengan mereka. Meski tidak melihatnya, aku bisa merasakan Kirian, Rio dan Rusen terus menatapku dengan lekat.


"Jadi, coba ceritakan pada kami bagaimana rasanya di kelas umum?" Tanya Maeru memulai pembicaraan


"Sama.... Seperti sekolah pada umumnya" Gumamku


"Tidak, tidak. Bukan itu yang ingin aku dengar darimu"


"Aku ingin dengar cerita 'dirimu' di kelas umum" Lanjut Maeru sambil menatapku tajam


"...."


Aku hanya diam saja sambil menundukkan kepala.

__ADS_1


"Kenapa diam saja?" Tanya Maeru


Aku menarik nafas panjang lalu mendongak menatap mereka dengan wajah ceria.


Akting pun dimulai.


"Di gedung kelas umum ternyata banyak tempat yang nyaman, gurunya lumayan dan murid lainnya sangat perhatian padaku. Disana tidak seburuk yang aku bayangkan"


Tidak ada kata-kata yang aku ucapkan itu bohong. Semuanya benar, hanya saja aku mengubah sedikit kata-katanya hingga bisa membuat orang salah paham.


Banyak tempat yang nyaman, itu benar karena aku bisa nyaman jika mendapat ketenangan di perpustakaan, toilet, atau dimanapun yang tidak banyak orangnya. Jadi dimanapun bisa membuatku nyaman asalkan sepi.


Guru yang lumayan, itu juga benar karena meski mereka tidak bertindak mengenai pembullyanku, tapi mereka tetap adil dalam nilai akademik dan tetap menjadikanku di peringkat pertama.


Para murid sangat perhatian padaku, itu benar karena tiap mereka melihatku, mereka akan bergosip membicarakanku, yang artinya mereka sangat memperhatikan tiap detik gerak-gerikku.


Kelas umum tidak seburuk yang kubayangkan, itu juga benar karena tidak semuanya membully ku secara fisik, dan ada Mawari yang sebelumnya mau berbicara padaku. Lalu jika dibanding dengan kelas khusus, kelas umum jauh lebih baik bagiku.


Semua yang kukatakan itu benar dengan apa yang aku alami.


*


Kirian, Rio, dan Rusen menatapku tidak percaya, tapi Maeru menatapku dalam, lalu tersenyum.


"Begitu? Aku jadi penasaran seberapa bagus kelas umum" Ucap Maeru


"Tapi..."


"Sebenarnya ada banyak hal yang kudengar di kelas umum dari Mawari sebelumnya..."


Aku tersentak. Jantungku jadi berdegup lebih cepat dari biasanya karena panik.


Maeru terlihat berpikir untuk sejenak, lalu kembali menatapku sambil tersenyum.


"Jadi begitu. Sekarang aku mengerti maksud dari kata-katamu. Ternyata sama persis dengan yang diucapkan Mawari" Lanjut Maeru


Aku kembali tersentak untuk kedua kalinya.


"Apa dia tau?" Pikirku panik


"Apa? Sama persis?" Tanya Rusen tidak percaya


Maeru menatap Rusen dan mencoba meyakinkannya dengan kata-kata sederhana.


"Iya. Kau masih kecil, Ruu. Jika kau sedikit menggunakan otakmu, kau akan mengerti" Ucap Maeru sambil melirik ke arahku.


Aku jadi merasa terancam karena Maeru seakan dia bisa melihat semua didalam diriku.


"Aku... Sudah ngantuk. Jadi aku kembali ke kamar dulu. Kalian lanjutkan saja pembicaraannya" Ucapku dan bersiap berdiri


Namun, Maeru langsung menahan tanganku.


"Kenapa buru-buru begitu? Kita baru saja memulai ceritanya"


"Aku sudah mengantuk" Ulangku


Maeru menoleh ke Kirian.


"Ian, Rio, Ruu, ceritanya kita lanjutkan besok saja. Malam ini aku mau tidur dengan Izumi"


"Apa?!" Teriak mereka bertiga


"Eru, kau daritadi aneh sekali!" Teriak Rio


"Jarang-jarang bisa bertemu Izumi. Aku hanya mencoba mengakrabkan diri dengannya"


"Tidak. Kau akan terganggu jika bersamaku, jadi aku akan kembali ke kamar" Ucapku


"Tidak akan" Ucap Maeru yakin


"Oke, pertemuan malam ini berakhir. Aku akan tidur dengan Izumi, jadi kalian kembalilah"


Dengan ragu mereka bertiga keluar dari kamar. Sesekali mereka melirik ke Maeru memastikan dia mungkin berubah pikiran.

__ADS_1


"Kau yakin, Eru?" Tanya Kirian kembali memastikan


"Sangat yakin"


"Baiklah"


Ceklek.


Mereka bertiga pun keluar. Keadaan jadi terasa canggung.


Firasatku mengatakan aku harus pergi secepatnya.


"Aku juga akan pergi sekarang" Ucapku dan berjalan menuju pintu.


"Izumi" Ucap Maeru cepat


Aku menoleh ke belakang melihat Maeru.


"Kau menghindariku?" Tanyanya sambil tersenyum dan tatapan yang tajam.


"Aku..." Gumamku


Maeru berjalan mendekatiku, refleks aku berjalan mundur.


Dengan cepat Maeru langsung menggenggam erat tangan dan menarikku.


"Kenapa kau menghindariku? Apa karena merasa bersalah sudah merebut pacarku?" Tanyanya


Genggaman Maeru jadi makin kuat hingga membuat tanganku pucat.


"Hahahaha! Apa kau tersiksa di kelas umum? Aku sangat senang!!" Teriak Maeru


"Kau pantas mendapatkannya. Seluruh alam semesta harus membencimu! Kau adalah sampah yang beruntung karena kejeniusanmu!"


Aku menatap mata Maeru yang tajam seakan bisa menusukku dalam ketakutan.


Aku tidak bisa mengeluarkan suaraku seakan terkunci dan aku tidak bisa bergerak seakan sedang diikat.


Dengan satu tangannya yang lain, Maeru mengelus pipiku dengan lembut.


"Izumi~ Aku sangat menyayangimu seperti adikku sendiri"


"Kau tahu, Izumi? Sebelumnya aku ada seorang adik laki-laki yang sangat lucu"


"Tapi begitu dia lahir, mama meninggal"


"Aku berpikir, seharusnya adikku meminta maaf pada mama karena sudah membunuh mama dengan kelahirannya. Jadi saat pemakaman mama diadakan dan papa sibuk fokus pada para tamu, aku membanting adikku yang masih baru berumur sehari dan pergi seolah dia terjatuh dari kasur"


"Tidak ada siapapun yang tahu aku telah membunuhnya. Bukankah aku sangat hebat? Adikku bisa langsung meminta maaf pada mama secara langsung"


Seketika bulu kudukku berdiri mendengarnya.


"Bukankah kasus keluargaku mirip dengan Ian, Rio dan Ruu? Mama kami kehilangan nyawa karena adik kami"


"Aku bisa mengerti perasaan mereka bertiga" Lanjut Maeru sambil menekan jari jempolnya di pipiku hingga kukunya yang panjang menyayat kulitku.


Maeru melepas genggaman tanganku dan menyingkirkan tangannya yang lain dari pipiku.


Dia berbalik lalu berjalan ke kasur dan duduk di pinggirannya.


"Jadi Izumi, kami semua itu menyayangimu seperti adik kami sendiri. Beginilah cara kami memperlakukan adik kami"


"Asalkan kau tidak membuat ulah, kami tidak akan menyakitimu"


"Nah, sekarang ayo kesini" Ucap Maeru sambil menepuk kasur.


"Ini tidak benar! Maeru lebih berbahaya dan menyeramkan dibanding Kirian, Rio dan Rusen lebih dari yang kuduga" Pikirku


"Aku... Tidak boleh macam-macam dengannya" Pikirku


Aku terdiam sejenak, lalu memasang senyum terpaksa.


"Iya, aku akan kesana"

__ADS_1


__ADS_2