
"jadi, apa yang kalian lakukan? apa di wajah 'makhluk itu' ada sesuatu sampai kau memegangnya?" tanya Izumi
aku langsung cepat-cepat melepas tanganku dari pipi Kagusa dan berdiri menghadap Izumi
"eh? gawat! jangan-jangan pemimpin... cemburu karena nona Yurin memegang pipiku?" pikir Kagusa
"ah, aku tadi menemukan Kagusa tidak sadarkan diri disini, jadi aku membangunkannya" ucapku gugup
"padahal tidak perlu dibangunkan. dia sedang bertapa untuk meningkatkan kekuatannya dan levelnya, makanya dia tak sadarkan diri" ucap Izumi
"apa??!! bukan pemimpin yang membangunkanku?!" pikir Kagusa
"astaga! maaf, aku tidak tahu. aku baru tahu kalau para roh ada kalanya harus bertapa untuk meningkatkan kekuatan..." ucapku merasa bersalah
"jadi lain kali kalau kau menemukannya tak sadarkan diri, jangan sentuh dia. karena kalau disentuh, dia akan terbangun dan dia gagal bertapa" ucap Izumi
"baik. maafkan aku, Kagusa" ucapku memohon maaf
"ah, itu... i, iya" ucap Kagusa gugup
"bukan pemimpin yang membangunkanku. kalau begitu, artinya nona Yurin yang membangunkanku?" pikir Kagusa
"tidak, tidak. walau nona Yurin ada ikatan dengan pemimpin, tapi nona Yurin kan tidak memiliki kekuatan pemimpin" pikir Kagusa
tiba-tiba Kagusa teringat sesuatu
"benar juga. semalam pemimpin bilang kalau beliau menyalurkan kekuatannya pada nona Yurin. karena itu saat non Yurin menyentuhku, aku terbangun" pikir Kagusa
"kau ragu saat menjawabnya. kau marah padaku karena aku mengganggumu?" tanyaku dengan mata berkaca-kaca
"yah, tentu saja kau akan marah. para roh seperti kalian kan berlomba-lomba untuk menjadi kuat, tapi malah ada manusia yang mengganggu" gumamku
"tidak! Yurin, aku tidak marah padamu!!" teriak Kagusa
"justru aku berterima kasih kau sudah membangunkanku" pikir Kagusa
"pemimpin! bantu aku agar nona Yurin tidak menangis!!" pikir Kagusa dan menatap Izumi
saat Kagusa menatap Izumi, Kagusa berharap dia dan Izumi bisa bekerjasama, dan ternyata pikiran itu hanyalah khayalan belaka. Kagusa yang menatap Izumi malah disambut dengan tatapan tajam dari mata Izumi.
"apa salahku, pemimpin??!! andalah yang mengarang cerita dan bilang aku bertapa atau apalah itu. kenapa aku yang disalahkan karena nona Yurin sedih??!" pikir Kagusa berteriak
"rasanya aku ingin menangis dengan situasi saat ini" pikir Kagusa pasrah
"Yu.. Yurin, aku tidak marah padamu. jadi jangan khawatir" ucap Kagusa gelisah
__ADS_1
"tak apa. kau tak perlu pura-pura baik-baik saja, Kagusa" ucapku
"bagaimana ini??!!!" pikir Kagusa berteriak
"jika nona Yurin nanti menangis, pemimpin pasti akan menghukumku lagi dan pasti lebih dari ini. tapi nona Yurin takkan mendengar perkataanku jika aku bilang aku baik-baik saja" pikir Kagusa
"tapi jika aku mengatakan kenyataannya, aku juga pasti akan dihukum karena membuka kedok pemimpin yang telah berbohong..." pikir Kagusa
"apa yang harus aku lakukan??!" pikir Kagusa kebingungan
akhirnya Kagusa membulatkan tekad.
"aku akan mengatakan yang sebenarnya. apapun yang akan aku pilih, akhirnya aku tetap akan dihukum. lebih baik aku mengatakan yang sebenarnya. dengan begitu hubunganku dengan nona Yurin takkan bermasalah" pikir Kagusa
"Yurin, kau tak usah merasa bersalah. aku justru berterima kasih padamu" ucap Kagusa
"apa maksudmu?" tanyaku dengan suara kecil
"tidak usah didengar. ayo pergi" ucap Izumi
"tapi..." ucapku ragu
"ayo kita keluar dulu. disini banyak debu. jika terlalu lama disini, Yurin bisa terkena flu" ucap Kagusa.
"jadi apa maksudmu kau berterima kasih padaku?" tanyaku
"sebenarnya aku tadi tidak bertapa atau apapun itu. aku yang tak sadarkan diri juga tak ada hubungannya dengan meningkatkan kekuatan" ucap Kagusa
"aku tidak sadarkan diri karena aku dihukum Izumi. seharusnya aku sadarkan diri 1 minggu lagi, tapi karena Yurin menyentuhku dengan kekuatan Izumi, aku jadi terbangun lebih cepat" jelas Kagusa
setelah mengatakan hal itu, Kagusa merasa leher belakangnya merinding.
"apa? dihukum Izumi? menyentuhmu dengan kekuatan Izumi?" tanyaku
"itu... katanya semalam kau terkena demam, jadi Izumi membagi kekuatannya padamu agar sembuh. karena itu di tubuhmu ada sebagian kekuatan Izumi"
"lalu, ada suatu hal setelahnya lalu aku... dihukum Izumi..." ucap Kagusa gugup sambil melirik ke Izumi
Izumi menatap Kagusa dengan tajam hingga Kagusa merasa merinding.
"Yurin, ayo pergi" ajak Izumi
"tunggu sebentar, Izumi. aku tidak bisa tenang jika tidak mendengarnya sampai selesai"
"memangnya itu hal apa sampai kau dihukum?" tanyaku
__ADS_1
"aku bisa lenyap dari dunia ini jika mengatakannya" pikir Kagusa
"um, itu tidak penting. yang pasti kau tidak menggangguku. justru kau sudah menolongku" ucap Kagusa
"iya, menolong roh yang suka bicara sembarangan" ucap Izumi santai
"Izumi, kau tidak boleh seperti itu!" ucapku kesal
"Kagusa kan temanmu, bagaimana bisa kau melakukan itu pada temanmu sendiri?" ucapku
"kau bahkan sampai berbohong dan membuatku salah paham. bukankah seharusnya kau harus minta maaf?" tanyaku
"pemimpin mana yang minta maaf pada bawahannya?" tanya Izumi
"aku sedang bicara dengan Izumi, temanku yang selalu menolongku dan temannya Kagusa yang paling mengerti dirinya, bukan dengan Izumi sang pemimpin roh sekolah ini" ucapku
"apa yang kau bicarakan?" tanya Izumi
"aku yakin kau mengerti maksudku" ucapku
"aku menghukumnya karena memang dia duluan yang menentangku. aku terus bersabar tapi dia semakin membuatku kesal. memang sudah seharusnya aku menghukumnya" ucap Izumi dengan raut wajah kesal
"memangnya Kagusa melakukan kesalahan apa sampai dihukum hingga pingsan selama 7 hari?!" tanyaku kesal
"kau tidak perlu memikirkan hal ini! ini urusanku dan dia bawahanku! ini adalah hal wajar jika pemimpin menghukum bawahannya. dia saja tidak protes saat aku menghukumnya!" ucap Izumi kesal
"um, anu... Yurin, Izumi, kalian tenang dulu..." ucap Kagusa
"tapi kau tidak perlu berbohong dan membuatku salah paham, kan?" ucapku kesal
ucapan Kagusa diabaikan oleh Izumi dan Yurin
"aku tidak sengaja mengatakannya karena tadi terlalu kesal setelah melihat makhluk itu bangun" ucap Izumi dengan nada suara sedikit tinggi
"Kagusa bukan 'makhluk itu'! Kagusa juga punya nama!" teriakku
"memangnya kenapa dengan namanya?! aku bisa memanggilnya dengan sebutan apapun!" ucap Izumi dengan suara tinggi
"bagaimana bisa kau mengatakan itu pada temanmu sendiri?!" tanyaku dengan berteriak
"dia bukan temanku! dia saja yang terus menempel padaku!" teriak Izumi
"jika saja saat itu aku tidak bertemu dengannya, aku juga takkan seperti ini!" teriak Izumi
"sudah cukup! aku tidak mau melanjutkannya lagi!" teriakku lalu pergi
__ADS_1