Hantu Sekolah

Hantu Sekolah
Selamat Tinggal Izumi


__ADS_3

Tiba-tiba Izumi mendekatkan tubuhnya padaku. Tangan kirinya memegang tangan kananku yang ada diatas batu, dan tangan kanannya memegang kepala bagian belakangku sambil sedikit menarik kepalaku mendekatinya.


Perlahan dia mendekatkan wajahnya ke wajahku.


Wajahku makin terasa panas. Refleks mataku langsung menutup sendiri karena gugup.


Aku mencoba menghindar dengan mundur ke belakang. Tangan kiriku juga mencoba mendorongnya menjauh.


Tapi Izumi tidak menghiraukannya dan terus maju.


"Ke... Kenapa tiba-tiba begini... Tidak seperti kau yang biasanya..." Gumamku


"Menyingkirlah, Izumi!..."


Karena tubuhku sudah terlalu ke belakang, jadi saat aku mencoba mundur lagi, aku jadi terguling.


Sekarang posisinya Izumi jadi di atasku. Tangan kananku masih dipegangnya, lalu tangan kanannya menjadi bantal di kepalaku.


"Apa ini?! Kenapa begini?!" Pikirku panik


"I... Izumi, itu... Menyingkir dan duduklah dengan benar lagi..." Gumamku


"Diamlah"


Begitu mendengarnya, entah mengapa tubuhku jadi membatu tidak bisa bergerak. Wajahku makin terasa panas padahal cuaca sedang tidak terik.


Wajah Izumi makin mendekat, bersamaan detak jantungku juga makin menggelegar.


"Bagaimana ini?! Tubuhku seketika jadi lemas dan detak jantungku tidak karuan. Kalau terus dibiarkan Izumi bisa..." Pikirku panik


Aku langsung menutup rapat mataku.


....


....


Tapi tidak terjadi apapun.


Perlahan aku membuka mata, mengintip keadaan Izumi.


Wajah Izumi terhenti didepan wajahku, namun tidak sampai tersentuh.


kedua mata Izumi terbelalak. Dan begitu aku membuka mata, dengan cepat Izumi langsung menarik kembali kepalanya. Dia juga langsung menyingkir dari atas tubuhku.


"Maaf, aku sudah selesai..." Gumam Izumi sambil mengalihkan wajahnya ke samping, dan menutupi setengah wajahnya dengan lengan tangannya.


Meski begitu, aku bisa melihat telinga Izumi yang putih pucat itu sekarang jadi sangat merah seperti habis di jewer.


"Izumi... Juga malu karena melakukan itu?" Pikirku


Setelah beberapa saat kami saling menenangkan hati, Kami kembali melanjutkan pembicaraannya.


"Jadi, kenapa kau tiba-tiba seperti itu?" Tanyaku


"Aku harus mulai dari mana, ya..." Gumam Izumi


"Itu, dari ceritaku tadi, kau tau kan perempuan yang baik padaku saat SMP"


"Ah, iya. Perempuan itu mantan pacar Maeru, kan? Yang dia berencana pacaran dengan Izumi karena dipaksa temannya. Namanya... Mawari?"


"Iya, itu dia. Saat awal-awal dia mendekatiku, aku merasa sesuatu yang mirip seperti itu saat bersamamu"


"Waktu itu, aku sempat menyukainya. Hanya saja perasaan itu tidak bertahan hingga 1 bulan. Makin lama perasaan itu makin pudar dan akhirnya hilang tanpa sisa"


"Jadi... Tadi aku hanya mengetes diriku sendiri... Jika denganmu..." Gumam Izumi


Jantungku kembali mulai berdegup kencang dibuat Izumi.


"Lalu... Setelah aku tahu kalau aku adalah anak diluar nikah dan juga efek hubungan orang tuaku tidak harmonis, aku berjanji pada diri sendiri tidak akan berhubungan dengan wanita hingga berumur 20 tahun, lalu antara aku dan si wanita harus saling menyukai tanpa paksaan"


"Kau tau itu, kan?" Tanya Izumi


"Iya..."


Izumi mengalihkan wajahnya sejenak. Dia tampak ragu, tapi kemudian kembali menatapku.


"Hari ini... Adalah hari peringatan kematianku yang ke-6 tahun, juga ulang tahunku yang ke-20 tahun"


Aku sedikit kaget, begitu mengetahui hari ini adalah hari ulang tahun Izumi.


"Hari ini Izumi ulang tahun?!" Tanyaku sedikit kaget


"Iya"


"Aku sudah menepati janji diriku sendiri. Mulai sekarang aku sudah tidak terikat janji itu lagi"


Izumi kembali mengalihkan wajahnya. Beberapa kali dia menarik nafas seakan mempersiapkan diri, lalu kembali menatapku dengan serius.


"Asahi Yurin... Aku... Menyukaimu..."


Dan... Jantungku tidak baik-baik saja. Kali ini debarannya lebih dahsyat ketimbang tadi.


Meski hanya beberapa kata, tapi kata-kata itu berhasil membuat perasaanku campur aduk antara senang, sedih, dan kaget secara bersamaan hingga aku tidak bisa mengatakan apapun.


"Aku tidak menyadarinya sebelumnya. Tapi saat kau bertanya terakhir tadi, aku langsung sadar. Selama ini sikap yang aku tunjukkan padamu adalah 'diriku sendiri', tidak dibuat-buat"


"Juga... Kau orang pertama... Yang melihatku dengan sorot mata lembut, baik, juga terus berpihak padaku, bahkan setelah tahu diriku yang asli"


"Meski kau tidak menyadarinya juga, kau sering menyelamatkanku. Termasuk juga sekarang"


"Aku... Tidak tahu bagaimana dengan dirimu, tapi yang pasti aku menganggapmu lebih istimewa dari yang lain..."


"Aku... Menyukai... Tidak, aku mencintaimu, Yurin"


"Aku tidak mengharapkan apapun, tapi setidaknya kau tahu, itu sudah cukup"


Lagi-lagi untuk ke sekian kalinya hari ini, aku tidak bisa menahan air mataku dan menangis. Seluruh wajahku terasa sangat panas.


"Ah... Lagi-lagi mataku..." Gumamku sambil mengusap air mata


Dan tentu saja, Izumi jadi panik karena aku menangis setelah dia mengutarakan isi hatinya.


"A... Apa aku terlalu buru-buru? Maafkan aku. Kalau kau tidak suka, aku bisa berusaha menghilangkan perasa----"


Tanpa menyelesaikan ucapannya aku langsung memeluk erat Izumi.


"Aku juga... Suka Izumi. Aku menangis karena terharu, bukannya tidak suka..." Gumamku


Izumi langsung tersentak.


Dia tersenyum lalu tertawa kecil. Dia membalas memelukku sambil mengelus kepalaku.


Setelah beberapa saat, aku pun selesai menangis dan kami kembali duduk dengan benar. Bedanya hanya tangan kananku dan tangan kiri Izumi saling berpegangan.


"Senang sekali rasanya..." Gumam Izumi

__ADS_1


"Andai saja aku masih hidup, aku akan menunggumu hingga lulus kuliah, lalu melamarmu"


"Dasar! Apa sih yang ada di pikiran anak umur 14 tahun?!" Gumamku lalu menjitak kepalanya


"Umurku 20 tahun, bukan 14..." Gumam Izumi sambil memegang kepalanya


Aku langsung terdiam sambil berpikir sejenak menatap langit biru diatas kepala kami.


"Izumi, sekarang kau sudah mengerti dengan perasaanmu sendiri, kan?" Tanyaku dengan mata masih menatap lekat langit biru


"Kira-kira seperti itu"


Aku menoleh ke Izumi dan menatap matanya dalam.


"Kalau begitu, aku kembali ulang pertanyaanku sebelumnya..."


"Apa kau bahagia... Selama bersama kami?"


"... Ya. Rasanya sangat menyenangkan. Perasaan itu tidak pernah aku rasakan selama hidup. Baru setelah menjadi pemimpin roh aku merasa begitu diperhatikan dan jadi prioritas, meski ada juga roh yang membenciku..."


"Dan kau juga... Dari awal saat aku bertemu denganmu... Aku tidak pernah merasakan itu"


"Apa itu artinya... Kehidupanmu yang jadi roh ini lebih baik daripada saat kau jadi manusia?"


"Bisa dibilang... Iya... Tidak ada kebahagiaan selama aku hidup. Tiap hari terus tertekan dan ketakutan akan hari esok yang tidak menentu. Itu sangat menyiksaku"


"...." Aku terdiam


"Izumi..."


Beberapa saat aku terdiam sambil menatap dalam matanya yang juga sedang menatapku.


"Mungkin tidak pantas aku berkata begini, tapi..."


"Izumi... Kematian ini juga adalah cara agar kau terbebas dari semua siksaan itu. Kau menjadi roh, dan bisa mencurahkan semua rasa marahmu juga pada mereka dengan cara meneror mereka..."


"Meski banyak juga yang mengganggu Izumi, tapi Izumi sendiri bilang kau Izumi senang selama bersama kami... Menjadi roh juga mungkin tidak buruk untuk Izumi"


"Seandainya... Seandainya Izumi sungguh bertahan hidup hingga sekarang... Izumi yang itu pasti tidak sama dengan Izumi yang ada di hadapnku sekarang"


"Jika kau masih hidup, bisa saja sampai sekarang kau terus merasa tersiksa dan terus ketakutan, juga merasa trauma akan segala hal"


"Jadi... Maksudku... Bukankah menjadi roh ini adalah jalan tengah yang terbaik untuk Izumi?"


"Karena jadi roh, Izumi bisa mencurahkan emosi Izumi yang tertahan selama ini. Izumi akhirnya bisa merasakan diperhatikan oleh yang lain. Juga merasakan kebahagiaan yang tidak bisa Izumi rasakan saat masih hidup"


"... Bahagia..." Gumam Izumi


"Iya. Inilah yang terbaik untuk Izumi. Meski... Meski Izumi hidup sekalipun, kita belum tentu bisa bertemu. Izumi juga selamanya takkan tahu kalau ada makhluk yang namanya Kagusa dan Kei, yang bisa jadi teman Izumi"


Perlahan aku mengulurkan tanganku dan mengusap pipi Izumi.


"Jadi, Izumi... Jangan dendam ke kakak angkatmu itu, karena meski mereka yang menyiksamu, tapi dia jugalah yang menyelamatkan Izumi. Kita bisa bertemu dan berbincang seperti sekarang pun berkat kakak angkatmu"


Izumi terdiam dengan matanya yang terbelalak.


Seketika aku merasa kalau yang aku katakan itu keterlaluan untuk Izumi.


"Ah, maaf. aku terlalu banyak bicara..."


Izumi tersenyum tipis, lalu menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak, Yurin... Yang kau katakan itu benar..."


"Aku sangat senang bisa bertemu denganmu, bertemu dengan semuanya...."


Izumi langsung mengulurkan kedua tangannya ke kepalaku, lalu menariknya hingga dahiku menyentuh dahi Izumi.


"Aku sangat... Sangat bahagia... Terima kasih sudah mau ada di sampingku selama 1 tahun ini..."


"Sungguh... Terima kasih..."


Wush....


Angin terasa berhembus lebih kencang. Aku menutup kedua mataku sambil menikmati angin sejuk itu.


Namun... Di depanku terasa silau seakan ada cahaya.


Aku kembali membuka mataku, dan aku kaget.


"Izumi... Tubuhmu..."


Tubuh Izumi perlahan berubah jadi cahaya dan mulai transparan.


Izumi sendiri juga sedikit kaget melihat dirinya sendiri, lalu dia kembali tenang dan duduk di hadapanku dengan senyumnya yang lembut.


"Yurin, aku... Sudah harus pergi... Kau berhasil 'membantuk' ku untuk kembali" Gumam Izumi dengan matanya yang sendu


"Mem...Membantu..." Gumamku


Seketika aku langsung tersentak. Aku menyadari, kalau ini adalah kali terakhir aku bisa bertemu Izumi.


"Benar. Alasan aku ada disini karena aku tidak merasakan kebahagiaan. Dan meski menjadi roh pun, aku tidak menyadari perasaan itu karena tertutupi oleh bayangan masa lalu saat aku masih hidup. Kau berhasil menyadarkanku akan hal itu"


Lagi dan lagi untuk ke sekian kalinya aku kembali menangis, namun kali ini tangisanku makin menjadi.


"Tidak... Padahal... Padahal baru saja Izumi merasakan kebahagiaan dan senang, tapi sudah harus pergi? Ini tidak adil!!"


Izumi tersenyum lembut, lalu mengusap pipiku yang basah oleh air mata.


"Itu sudah cukup bagiku. Aku tidak bisa menjadi lebih serakah dari ini"


Tangisanku makin deras. Aku langsung memeluk erat Izumi dengan sesak di dada.


"Hiks... Aku... Aku mau bersama Izumi lebih lama lagi... Aku tidak mau berpisah dengan Izumi!..." Teriakku terisak-isak


"Kumohon... Tetaplah disini...Tetaplah disini sedikit lebih lama lagi..." Teriakku


Izumi tidak langsung menjawabnya dan hanya mengelus kepalaku.


"Aku juga... Tidak ingin kembali seperti ini begitu saja..." Gumam Izumi


"Tapi, sudah tidak ada waktu untukku lagi. Maafkan aku, Yurin..."


"Tidak... Tidak... Tidak!!!"


Aku terus menangis terisak-isak. Izumi menyudahi pelukannya dan menatapku dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan menangis, Yurin... Dan... Sesudah ini pun jangan bersedih karena aku tidak ada... Kau harus berjanji"


"Tidak, Izumi... Jangan pergi!!!"


Izumi menggelengkan kepalanya.


Izumi melihat tangan dan kakinya mulai menghilang menjadi serpihan cahaya yang naik ke langit.

__ADS_1


"Aku sudah tidak punya banyak waktu lagi..."


Izumi kembali menatapku, dan mengelus pipiku.


"Hiduplah dengan baik dan bahagia, Yurin. Lihat dan rasakanlah sesuatu yang baik. Gantikan aku merasakan semua itu, sesuatu yang tidak bisa aku rasakan semasa hidup... Hiduplah bersama orang yang kau cintai dan terus cintai dia"


Izumi berusaha menahannya, tapi air mata Izumi akhirnya tidak terbendung dan turun. Suara Izumi pun berubah jadi sendu.


"Aku... Akan terus... Terus melihatmu... Kau tidak sendirian, dan aku tidak akan membiarkan jika ada orang yang berbuat jahat padamu"


"Dan... tolong jangan temui aku dengan cepat, oke. Meski aku sangat ingin bersamamu, tapi aku tidak mau cepat bertemu denganmu"


"Kau harus berjanji padaku, Yurin..."


Aku langsung kembali memeluk Izumi sambil terus menangis kencang.


Dan... Tubuh Izumi sendiri pun sudah banyak yang menghilang hingga menyisakan bagian perut hingga ke atas tubuhnya saja.


Disela aku menangis itu, Izumi langsung memanggil Kagusa dan Kei.


"Kagus, Kei!!" Teriak Izumi lantang


Wush...


Kedua roh itu pun datang di hadapan Izumi.


"Ada apa Iz---"


Kagusa dan Kei langsung tersentak tak percaya melihat Izumi.


"Tu... Tuan..." Gumam Kei


Izumi tersenyum lembut ke mereka berdua.


"Aku... Pergi lebih dulu, ya. Terima kasih dan maaf untuk semuanya..."


Kagusa dan Kei langsung memasang wajah sendu seakan siap menangis.


Kagusa menundukkan kepalanya sekilas, lalu kembali menatap Izumi sambil tersenyum lembut.


"Ya. Selamat tinggal, Izumi. Hari-hari bersamamu... Takkan pernah kulupakan..."


Izumi menundukkan kepalanya, seakan menahan air matanya, lalu kembali menatap Kagusa dan Kei.


"Kagusa, aku kembalikan lagi semua yang kau berikan padaku. Aku kembalikan kristal hati juga wilayah yang sudah kau berikan padaku"


"Posisi pemimpin roh baik dan jahat... Aku serahkan pada kalian. Dan... Aku titipkan Yurin pada kalian hingga dia lulus SMA"


"Keinginan anda andalah perintah untuk saya, Tuan! Saya akan menjalankan perintah terakhir anda dengan baik!!" Teriak Kei sambil menahan agar tidak menangis.


Izumi tersenyum melihatnya, lalu dia kembali beralih padaku.


"Yurin, aku serahkan buku milikku padamu. Tolong jaga dengan baik..."


Aku mengusap air mataku dan tersenyum lembut pada Izumi.


"Ya... Akan kujaga dengan baik... Karena itu milik Izumi"


Untuk terakhir kalinya, Izumi tersenyum tanpa ada beban sedikit pun di wajahnya.


"Aku... Bisa tenang pergi dari dunia ini..."


"Kalian harus baik-baik saja"


Tubuh Izumi pun menghilang sepenuhnya menjadi cahaya. Ditengah segumpal cahaya yang mulai menyebar menjadi serpihan kecil itu, muncul 2 kristal berwarna merah dan biru, lalu kedua kristal itu turun ke hadapan Kagusa dan Kei.


Kami bertiga tidak bisa menahan air mata. Tangisan kami pecah begitu Izumi menghilang sepenuhnya.


Hatiku sangat sakit. Aku masih tidak bisa percaya hal ini, semua ini terlalu tiba-tiba. Tapi... Aku harus kuat! Izumi bisa kecewa padaku jika aku tidak mengikuti kemauannya.


Setelah menenangkan diri beberapa saat, aku mengusap mataku lalu mendongak menatap langit biru yang membentang luas di angkasa.


"Aku harus kuat. Aku bisa, walau tidak ada Izumi disampingku"


"Selamat tinggal... Izumi..."


...*...


...**...


...Hantu Sekolah, selesai....


...----------------...


...----------------...


Hiks... Akhirnya "Hantu Sekolah" selesai juga... ;'D


Butuh perjuangan bagi author karena author cuma amatiran yang nulis cerita hanya untuk senang-senang, ditambah banyak masalah di real life. Maaf kalo ada kata-kata yang kurang bisa dimengerti, ada kesalahan atau cerita yg aneh. Juga terima kasih untuk kalian semua. Author seneng kalian mau baca cerita ini...


Lalu mengenai "Hantu Sekolah", bagaimana menurut kalian? Apakah ini ending yang sesuai, atau tidak?


Untuk ending cerita ini, tergantung pandangan kalian dari sudut pandang Izumi atau Yurin. Jika kalian lihat dari sudut pandang Yurin dan di genrenya yang romantis, tentunya ini sad ending, karena mereka gak bisa bersama lagi. Tapi jika kalian ngeliat dan ngerasain di posisi Izumi, ini adalah happy ending. Secara, tempat Izumi yang seharusnya bukan di bumi, dan akhirnya dia gak perlu ngerasa tersiksa menjadi roh, dan ngerasain 'bahagia' yang sesungguhnya (anggap aja Izumi masuk surga ya gais ya :v)


Dan... Mungkin kalian juga ada yang mikir kayak:


"Lho? Kok udah tamat? Nasib ibunya Izumi gimana?"


"Di episode awal waktu Izumi dan Yurin belum terikat, Yurin kan gak bisa komunikasi sama Izumi, jadi yang dilihat Yurin Izumi cuma ngomong gaje, gak kedengeran. Memangnya yang diomongi Izumi apa?"


"Di cerita kehidupan Izumi, ayah Izumi kan meninggal dibunuh Izumi, tapi seharusnya gak ada yang tahu soal itu karena yang diketahui orang-orang ayahnya meninggal karena kecanduan obat-obatan. Kok bisa kabar Izumi yang bunuh bisa bocor?"


"Kok rasanya ada yang kurang yah, gak tau apa, tapi rasanya masih ada yang mengganjal... Kayak masih ada yang terlewatkan gitu..."


Naah, jika kalian ada yang mikir gitu atau mirip-mirip begituan, kalian perlu baca episode spesial "Hantu Sekolah".


Tapi... Kalo kalian fun fun aja tanpa masalah dengan ceritanya... Yah... Tetap baca episode spesialnya :D


Iyap, benar sekali!! Setelah ini masih ada episode spesial yang menceritakan hal-hal yang masih mengganjal itu, juga hal-hal lainnya yang gak diceritain di cerita utama.


Jadi... Tolong jangan pergi dan menghilang begitu aja, ya ;')


Nanti aku sad sama kayak Yurin ditinggal pergi Izumi tiba-tiba ;'D


Lalu... Bagaimana pendapat kalian mengenai rilisnya season 2 Hantu Sekolah?


Author rencananya mau berhenti sampai sini aja untuk cerita Hantu sekolah. Tapi rasanya agak kasihan di Yurin dan genre romansanya kurang. Jadi author udah buat beberapa plot twist dan diselipin ke beberapa episode jaga-jaga semisal bakal ada season 2. Author perlu pendapat kalian, bagusnya Hantu sekolah ending disini atau mau lanjut lagi dengan "Kebangkitan Izumi".


Dan tentunya, kalau mau lanjut season 2 nya mungkin akan makan waktu agak lama dan genrenya akan berubah drastis, dari yang kehidupan normal jadi fantasi, juga mungkin akan ada beberapa konspirasi lainnya yang bakal terkuak.


Jadi, menurut kalian gimana baiknya? Tolong beri pendapat kalian yah ^v^


Oke, sekali lagi terima kasih untuk kalian semua yang sudah baca, dan mendukung Author ini. Sampai jumpa lagi di Episode Spesial Hantu Sekolah!


Salam dari Author, Augne Ahara.

__ADS_1


__ADS_2