Hantu Sekolah

Hantu Sekolah
Ke Rumah Sakit


__ADS_3

1 minggu telah berlalu sejak kami masuk sekolah semester 2. Semuanya tampak tenang meski sesekali teman sekelasku bercanda mengenai hantu sekolah. Dan ketika itu juga aku berusaha agar Izumi bisa menahan diri untuk tidak membuat ulah.


Dan tidak lupa, aku dan Kagusa setiap hari selalu bertukar informasi tentang kegiatan Izumi secara diam-diam dan sesingkat-singkatnya agar Izumi tidak tahu.


Selama 1 minggu sekolah ini tidak terdapat masalah apapun.


Lalu hari ini, di minggu pagi...


Izumi menemuiku setelah aku mandi. Begitu datang dia langsung menggerutu karena banyaknya tugas yang harus dia kerjakan.


"Haah... Mengesalkan sekali si Kagusa itu! Dia terus menyuruhku melakukan tugas padahal aku sendiri belum selesai mengerjakan tugas yang aku kerjakan. Padahal dia tahu aku kelelahan tapi dia tidak membantu sama sekali!!" Gerutu Izumi


"Maaf, Izumi. Tapi sepertinya aku tahu alasan kenapa Kagusa seperti itu" Pikirku kasihan


Ya, itu karena aku dan Kagusa baru bisa diskusi saat Izumi sibuk. Kagusa pasti sengaja memberi Izumi banyak tugas dan tidak membantunya.


"Dan Kagusa juga, semoga nanti kau tidak dilenyapkan Izumi" Pikirku


"Semangat, Izumi. Kau adalah pemimpin, jadi tidak boleh mengeluh dengan pekerjaanmu"


"Kagusa, aku akan sedikit membantumu" Pikirku


"Tetap saja... Rasanya sangat melelahkan. Setelah pergi dari sini juga aku masih harus mengerjakan tugas lainnya yang tak ada habisnya. Jika aku manusia, mungkin aku sudah sakit karena kelelahan" Gumam Izumi lalu membaringkan tubuhnya ke kasurku dengan mata memejam.


Aku pun teringat sesuatu.


"Omong-omong, Izumi, bagaimana kabar ibumu? Apa ibumu masih sakit?" Tanyaku


Izumi membuka matanya dan melirik ke arahku.


Izumi terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab pertanyaanku.


"Ya, ibuku masih sakit dan berada di rumah sakit. Tapi ibu sudah melewati masa krisisnya, jadi tak masalah"


"Memangnya sejak kapan ibumu sakit?" Tanyaku


"Beberapa saat setelah ayahku meninggal" Jawab Izumi santai


"Izumi pernah bilang kalau ayahnya meninggal saat Izumi masih kecil. Lalu jika dihitung umur Izumi itu 19 menuju 20 tahun. Artinya ibunya sakit lebih dari 10 tahun" Pikirku


"Aaah, karena itu Izumi terlihat santai. Dia sudah terbiasa dengan kondisi ibunya saat ini" Pikirku


Aku melirik ke arah Izumi. Dia terlihat cuek dan sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun setelah mengatakan hal menyedihkan seperti itu.


"Izumi..." Gumamku


"Ya?"


"Aku boleh menjenguk ibumu?" Tanyaku


Izumi terdiam dengan memasang ekspresi bingung.


"Untuk apa?" Tanyanya


"Aku kan sudah lama tidak menjenguk tante. Hari ini juga aku senggang"


Izumi kembali terdiam. Kali ini dia berpikir dengan memasang ekspresi serius.


"Kau tidak mungkin lupa saat kita ke rumah sakit, kan? Mungkin saja ada roh rumah sakit yang mengganggu seperti waktu itu" Ucap Izumi


"Aku kan pergi bersama Izumi, sang pemimpin yang kuat. Kau juga pasti akan melindungiku, kan?" Ucapku yakin


Izumi langsung tersenyum dan tertawa kecil. Izumi pun bangun dan duduk di sampingku.


"Baiklah. Jangan sampai kau menyesal setelahnya"


*


1 jam kemudian, aku sudah siap untuk pergi ke rumah sakit. Tapi sebelum itu, aku harus bilang ke Yui dulu agar dia tidak khawatir.


"Yui" Panggilku


"Oh, kau mau pergi kemana?" Tanya Yui dengan matanya menatap lekat dari kepala hingga ujung kaki ku


"Um, menemui ibu temanku yang sakit"


"Teman? Siapa?" Tanya Yui


"Kau tak mengenalnya, jadi percuma meski ku beritahu. Sudah, ya, aku mau pergi"


"Ririn!!"


Aku langsung pergi begitu saja untuk menghindari Yui bertanya lebih banyak lagi.

__ADS_1


"Aku tidak bohong, kok. Memang benar aku menemui ibu temanku. Yah, meski teman yang aku maksud bukan manusia" Pikirku


Aku berjalan ke sebuah gang yang sepi dan Izumi langsung muncul di hadapanku.


Izumi langsung mengangkat kedua tangannya dengan ekspresi takut bercampur khawatir.


"Itu... Karena jarak dari sini ke rumah sakit cukup jauh, jadi... Seperti sebelumnya, berpegangan tangan saja tidak cukup..." Gumam Izumi


Aku sedikit tersenyum melihat tingkah Izumi.


"Sepertinya dia tau akibatnya jika tidak minta izin" Pikirku


"Tapi, karena aku sendiri yang meminta duluan, aku juga tidak akan memarahinya meski dia langsung saja memelukku"


"Iya, tak apa kalau hanya beberapa detik"


"Maaf, dan setelah ini jangan pukul aku..." Gumam Izumi yang masih ragu-ragu


"Iya, iya. Cepat pergi, kau mau mengulur waktu?" Tanyaku


"Baiklah. Kau sudah janji, ya"


Tangan Izumi langsung merangkul tubuhku yang kecil, dan kami pun langsung berpindah ke tempat lain begitu aku mengedipkan mata.


"Ini..."


Aku melihat lingkungan di sekitarku.


"Kenapa di kuburan lagiiii??!" Teriakku kaget


"Yaaah, tidak ada tempat sepi lain selain disini. Apa boleh buat. Sudah ya, aku akan menunggumu di ruang rawat Mama" Ucap Izumi dan langsung menghilang begitu saja


"Izumiiiii!!" Teriakku


"Aaah, jadi karena ini dia meminta maaf sebelumnya" Pikirku


Aku pun berjalan keluar dari area kuburan dengan perasaan kesal karena lagi-lagi ditinggal di tempat menyeramkan seperti ini.


Padahal ini kali kedua aku datang ke rumah sakit itu, tapi seorang perawat langsung bisa mengenaliku begitu melihatku.


"Kamu yang waktu itu menemui ibu dari kamar 035, kan" Tanya seorang suster.


"Ah, waktu itu aku bertanya pada suster ini saat ingin masuk ke ruang rawat ibu Izumi" Pikirku


"Baguslah. Ibu itu terlihat kesepian karena tidak ada yang menjenguknya"


*


Setelah sedikit berbincang dengan suster itu, aku pun masuk ke ruang rawat ibu Izumi dengan tanganku membawa sebuket bunga dan buah.


"Kamu datang lagi, Yurin" Ucap ibu Izumi ceria


"Iya, tante" Jawabku


Lagi-lagi seperti sebelumnya, Izumi berdiri di samping jendela dengan tangan dilipat didepan dada dan punggungnya menyandar ke dinding. Namun kali ini ekspresinya biasa saja.


Aku pura-pura seakan tidak melihat Izumi dan mendekati ranjang ibu Izumi, Liliana.


"Bagaimana keadaan tante? Oh ya, ini buket bunga untuk tante"


"Terima kasih. Sekarang tante sudah lebih baik dari sebelumnya"


"Bagaimana dengan sekolahmu?"


"Sekolahku baik-baik saja saat ini, tidak ada hal buruk"


"Baguslah. Omong-omong, bagaimana kabar 'dia'? 'dia' masih belum menjengukku juga hingga saat ini"


Aku tersentak.


"Um, senior sekarang sangat sibuk. Dan sepertinya juga dia tidak bisa datang lagi karena kesibukannya"


"Sibuk? Memangnya dia melakukan apa?"


"A... Aku dengar, 'dia' memimpin sebuah organisasi yang cukup besar. Karena itu dia selalu tidak memiliki waktu senggang"


"Wah, hebat sekali! Meski begitu, aku masih berharap dia tiba-tiba datang memberi kejutan padaku"


"Iya. Mungkin saja itu terjadi"


*


Sekitar 10 menit setelah aku berbincang dengan ibu Izumi, Izumi tiba-tiba berjalan mendekatiku.

__ADS_1


Aku mengedipkan mataku seakan bertanya "Ada apa?" pada Izumi.


"Aku pergi sebentar ya karena ada sesuatu yang harus aku lakukan. Tidak akan lama" Ucapnya


"Aku mengangguk kecil meng-iyakannya"


Setelah memastikan Izumi benar-benar pergi, aku pun berencana untuk bertanya tentang 'dia' pada ibu Izumi.


"Tante, ngomong-ngomong soal senior, sebenarnya apa hubungan tante dan senior-ku itu?" Tanyaku


"Hubungan kami?" Tanya ibu Izumi balik


"Iya. Senior tidak pernah membahas itu sebelumnya"


"Hmmm... Hubungan kami...." Gumam ibu Izumi dan berusaha berpikir.


"Tante Liliana ketika sedang berpikir begitu sangat mirip dengan Izumi" Pikirku terkagum akan parasnya yang indah


Setelah beberapa detik berpikir, ibu Izumi tersenyum lembut dan menjawab pertanyaanku.


"Sejujurnya aku juga tidak tahu apa hubungan kami. Entah bagaimana, kami bisa dekat seperti itu"


"Tidak tahu?" Pikirku kaget


"Bagaimana... Dengan paras senior dulu? Aku sedikit penasaran" Tanyaku sedikit gelisah


"Dulu 'dia' masih terlihat imut dengan rambut coklat dan mata birunya. Tingginya juga saat itu sedikit lebih tinggi dari badanmu. 'Dia' begitu menggemaskan 5 tahun lalu. Ah, tidak. Sepertinya sudah 6 tahun ya"


"Bagaimana dengan penampilannya sekarang?"


"Senior... Tidak terlalu banyak berubah dari yang tante katakan. Hanya saja dia jadi lebih dewasa..." Gumamku


"Rambut coklat? Itu bukan Izumi. Tapi jika dilihat dari waktu dan ciri-ciri lainnya, itu memang menuju ke Izumi" Pikirku


"Tapi jika misalkan itu memang benar Izumi, kenapa ibunya tidak tahu hubungan mereka itu apa?" Pikirku bingung


"Baiklah, ini pertanyaan terakhir"


"Tante, apa nama senior" Tanyaku


Ibu Izumi tersentak oleh pertanyaanku yang tiba-tiba dan tak masuk akal ini.


"Nama? Bukankah seharusnya kau tahu namanya?"


"Senior punya banyak nama panggilan. Aku hanya ingin tahu nama yang mana yang senior beritahu pada tante"


Ibu Izumi terdiam dengan pandangannya yang menjadi kosong.


Beberapa detik kemudian, ibu Izumi perlahan membuka mulutnya.


"Namanya... adalah..."


"~~~~"


Aku tidak bisa mendengar suara ibu Izumi dengan jelas karena beliau mengatakannya terlalu kecil.


"Um, apa tante bisa mengulangnya?"


Tok tok tok....


Aku dan ibu Izumi serempak melihat ke pintu. Muncul seorang suster dengan membawa makanan dan obat.


"Nyonya Liliana, sekarang saatnya makan siang dan minum obat"


"Sepertinya tidak baik kalau aku disini lebih lama lagi. Tante juga perlu istirahat" Pikirku


"Kalau begitu, aku juga akan pulang ya tante. Jaga kesehatan tante dan semoga lekas sembuh"


"Iya. Yurin juga hati-hati di jalan"


*


Di rumah sakit terdapat banyak hantu, bahkan sepertinya lebih banyak daripada hantu sekolah. Dan entah bagaimana, aku merasa sedang diperhatikan oleh para hantu rumah sakit ini. Mereka juga seakan menyingkir dari hadapanku jika posisi mereka didepanku dan memperhatikanku dari kejauhan.


Namun meski begitu, aku tidak terlalu menghiraukan mereka.


Setelah keluar dari gedung rumah sakit, aku mencari gang yang terlihat sepi karena aku tidak ingin kembali ke area kuburan lagi.


"Ngomong-ngomong, Izumi pergi kemana, sih? Tidak cukup dia meninggalkanku sendirian di kuburan, sekarang dia bahkan menelantarkanku di tempat yang masih asing bagiku. Padahal dia bilang hanya pergi sebentar" Gumamku kesal


"Wah~ Ada siapa ini yang datang?~"


Aku pun melirik ke depan, tempat sumber suara itu muncul. Suara yang terdengar kasar dan menyebalkan.

__ADS_1


Dari depan gang yang gelap itu, tiba-tiba muncul 3 orang preman di depanku.


__ADS_2