
*
Perang terus dilakukan hingga banyak penduduk wilayah sekolah protes pada Izumi karena perang tak henti-henti.
Meski begitu mereka masih menurut pada Izumi jika memang perintah Izumi untuk perang.
Hingga setelah 10 bulan menjadi pemimpin wilayah sekolah, Izumi berhasil meluaskan wilayah sekolah hingga menjadi kokoh dan sulit disentuh wilayah lain.
Wilayah yang awalnya kecil kini menjadi wilayah dengan benteng pertahanan super kuat dan ditakuti. Izumi yang awalnya diremehkan sekarang disegani para pemimpin wilayah lain.
Tidak ada yang berani berbuat macam-macam pada wilayah sekolah. Karena kalau wilayah sekolah sampai memendam kebencian, wilayah itu akan lenyap hanya dengan jentikan tangan Izumi.
Wilayah yang kuat.
Tapi, tentunya di wilayah yang kuat pun juga memiliki kelemahan...
"Dasar munafik!! Jangan berbuat baik padaku setelah apa yang kau lakukan pada wilayahku! Kalau kau memang baik, kembalikan wilayah kami!! Kembalikan semua arwah roh yang lenyap karena perang yang sudah kau lakukan!!"
"Kembalikan roh kekasihku yang lenyap karena perang sebelumnya!!"
"Tuanku hanya satu, dan itu bukanlah kau!! Selamanya aku tidak akan pernah mengakuimu sebagai atasanku!!!"
Para roh, terutama roh jahat dari wilayah yang kami taklukkan perlahan mulai memberontak.
Situasi seperti ini membuatku merasa sangat tertekan, karena ini mirip dengan diriku saat masih hidup, dimana aku tidak diakui oleh siapapun. Aku merasa sangat depresi ditambah dengan trauma lama yang kembali kambuh.
Menjadi pemimpin di wilayah yang besar juga berarti lebih banyak tugas yang perlu ku emban.
Aku mulai berfikir untuk diriku sendiri.
"Apa yang sebenarnya kuinginkan? Sejak awal aku menjadi pemimpin karena permintaan Kagusa. Semua hal yang kulakukan juga tidak lebih hanya sebatas rasa tanggung jawab yang perlu kulakukan saja"
"Kenapa... Aku masih berada disini?"
Aku mengalami depresi berat untuk beberapa saat.
Aku tahu penyebab aku seperti ini karena aku memikirkan diriku sendiri. Karena itu, aku memutuskan untuk tidak memikirkan apa yang kuinginkan. Semakin kupikirkan, malah aku yang semakin sakit.
Akhirnya aku memutuskan kalau yang kuinginkan adalah semua kebaikan untuk wilayah sekolah.
Aku berusaha keras membuat mereka patuh padaku, namun mereka makin melunjak.
Akhirnya...
Klang!!
"Lihatlah! Sebelumnya dia menjanjikan kebebasan untuk kita, tapi akhirnya kita terjebak di penjara!"
"Apa yang kita harapkan dari pemimpin roh wilayah penakluk? Kita bagaikan semut baginya!!"
Aku menatap tajam mereka semua yang masuk di penjara.
"Aku sudah bilang, aku tidak akan segan pada kalian yang tidak mematuhiku!!" Teriakku penuh amarah
"Itu semua juga berawal dari kau yang seenaknya memperlakukan kami seperti budak!!" Jawab yang lainnya
Aku yang sudah tertelan amarah tanpa sadar telah membangkitkan roh jahatku yang tertidur. Saat aku baru saja bersiap untuk melenyapkan mereka, Kagusa menahanku lebih dulu.
"Urusan kita masih banyak, Izumi. Ayo pergi sekarang. Biarkan Kei menyelesaikan sisanya"
Kagusa menepuk-nepuk pelan bahuku. Dan di tiap tepukannya itu dia mengalirkan kekuatan roh baiknya untuk membuat roh jahatku tenang.
Berkatnya aku masih bisa mengendalikan akal sehatku.
"Ya. Ayo pergi"
*
__ADS_1
Di kelas kosong yang telah diisolasi, aku duduk di kursi tempatku menimba ilmu saat masih hidup.
Aku duduk dengan wajah kupendam di kepalan tangan, tertunduk dengan banyak pikiran yang menyiksa.
Ditengah itu, Kagusa datang menemuiku, dan duduk di kursi depanku sambil menatapku penuh prihatin.
"Ada masalah apa lagi?" Tanyanya
"..." Untuk sesaat aku terdiam beberapa detik sebelum menjawab pertanyaannya.
"Apa... Yang kulakukan itu salah?" Tanyaku
"Aku hanya ingin wilayah ini mendapat kejayaannya, seperti yang aku katakan padamu dan Kei saat awal aku menjadi pemimpin sebelumnya. Tapi yang kulakukan itulah malah menyakiti banyak roh yang kutaklukkan"
"Aku masih saja egois. Aku hanya mementingkan diri sendiri tanpa melihat perasaan yang lain"
Kagusa terdiam sejenak sambil terus mendengarkan keluhanku tanpa menyela.
Kagusa mengelus sejenak kepalaku.
"Pasti sulit. Sejak kecil sudah tersiksa, tidak diakui bahkan oleh keluarga sendiri, akhirnya malah dibunuh di usia baru saja 14 tahun oleh keluarga musuh yang mengadopsimu. Saat menjadi roh pun masih dilimpahi beban berat"
Aku tersentak karena dia tanpa aba-aba mengusap kepalaku dan mengatakan hal itu seperti seorang kakak yang menenangkan adiknya yang sedih.
Refleks aku mendongak menatap Kagusa.
Kagusa menarik kembali tangannya dan menatapku dengan sendu.
"Akulah yang salah. Aku yang memberimu beban yang begitu besar di pundakmu. Akulah yang egois, memaksamu menjadi pemimpin padahal kau tidak mau"
"Kau mengerti, Izumi? Kau tidak salah. Dan masalah para roh itu, merekalah yang tidak bersyukur. Mereka terus membandingkanmu dengan pemimpin lama mereka dan mencari-cari kesalahanmu"
Sekali lagi, Kagusa mengusap kepalaku. Namun kali ini dia memasang wajah ceria.
"Tidak usah dengarkan mereka. Lakukanlah hal yang kau mau. Kau adalah pemimpinnya, pemilik seluruh wilayah ini. Apa lagi yang kau ragukan? Tidak ada hal yang tidak boleh kau lakukan"
Aku selalu merasa, seandainya aku tidak bertemu dengan Kagusa, aku pasti tidak akan menjadi diriku yang sekarang.
Dia yang menyadarkanku disaat aku sedang tersesat didalam kegelapan balas dendam. Menolongku disaat kritis. Memberi kekuatan yang besar. Selalu membantu, mendukung, menyemangati, dan menasehatiku. Dan tentunya dia tidak memandangku rendah.
Hal yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.
Ketimbang teman, sepertinya aku lebih menganggap Kagusa seperti saudara laki-laki, seorang kakak yang berusaha memberi yang terbaik untuk adiknya.
*
Di sisi lain aku yang dibenci para bawahanku, aku juga masih jadi buronan oleh orang-orang di sekolah, terutama kepala sekolah.
Aku memang tidak meneror orang-orang sekejam dulu, tapi aku masih rutin muncul di kelasku sebagai nafsu aku yang masih memiliki sisi roh jahat.
Karena aku masih ada di sekolah, orang-orang masih merasa takut. Esensi sekolah yang sangat baik juga mulai menurun karena banyaknya rumor-rumor yang beredar tentang sekolah itu yang angker.
Karena itu kepala sekolah sangat berusaha keras mengusirku dari sekolah. Banyak orang yang telah dipanggil kepala sekolah untuk mengusirku, namun masih saja mereka tidak berhasil.
Hingga tidak terasa sekarang aku sudah akan memasuki usia 18 tahun. Hampir 4 tahun aku telah menjadi roh, dan segitu juga perjuangan kepala sekolah untuk mengusirku pergi dari sekolah.
Semua orang yang sebelumnya dibawa kepala sekolah bisa aku atasi dengan mudah, ataupun yang sulit dan merepotkan.
Namun, dibandingkan dengan semuanya, kali ini orang yang dibawa kepala sekolah jauh lebih merepotkan dari yang sebelumnya.
Drap... Drap... Drap...
Tampak 3 orang, 2 pria dan 1 wanita sedang berjalan menelusuri koridor sekolah yang tampak sepi.
Sekelompok orang tersebut adalah pembasmi roh yang kali ini berusaha mengusir Izumi.
"Ada dimana?"
__ADS_1
"Di kelas ini adalah kunci utamanya. Aku bisa merasakan aura jahat yang terpancar" Ucap si wanita
"Ayo kita selesaikan pekerjaan kita. Putriku, Ayui menyuruhku pulang cepat"
"Hubunganmu dengan putrimu sangat bagus ya. Tapi kenapa kau setuju memasukkan putrimu ke sekolah ini?" Tanya si wanita
"Ayui juga punya kekuatan yang mirip denganku. Dia juga sudah belajar menjadi pembasmi roh. Selain itu, Ayui jugalah yang sejak awal berinisiatif masuk sekolah ini. Terlepas dari roh yang bergentayangan, sekolah ini sangat bagus di pendidikan. Sebagai ayah, aku juga mendukungnya"
"Begitu. Selain sekolah yang memang bagus, kau setuju memasukkannya ke sini saat SMA nanti juga untuk memastikan roh itu sepenuhnya sudah tersegel, ya"
"Ya. Para roh jahat terus membuat ulah pada manusia. Itu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Dan aku juga percaya pada Ayui"
"Kau masih marah karena 'kejadian itu'?"
"..."
"Ayo sekarang kita selesaikan tugas kita"
Kriiiiitt....
Suara pintu kelas yang dibuka itu sangat nyaring karena sudah lama tidak digunakan sejak 'hantu sekolah' meneror sekolah.
Meja dan kursi di kelas tampak berantakan dan sangat kotor dipenuhi debu dimana-mana. Kaca yang retak, dan juga ada yang bolong seperti ada yang melempar kerikil ke jendela. Papan tulis juga tampak miring karena salah satu paku yang menggantungnya terlepas. Di papan tulis itu juga sangat jelas terlihat tulisan "MATI!" dengan noda darah.
3 orang yang datang sebagai kelompok pembasmi roh itu mengelilingi seisi kelas, mengamati tiap lingkup kelas dengan seksama.
Hingga salah seorang dari mereka, si wanita itu menemukan sebuah buku usang di meja sudut ruang kelas.
"Kalian, aku menemukan sesuatu" Ucapnya sambil mengangkat buku itu.
Sontak saja kedua pria itu mendekati si wanita.
"Mungkin ada petunjuk didalamnya. Ayo buka dan baca"
Mereka bertiga bersama-sama membuka dan membaca isi buku itu.
Namun belum sempat mereka membaca 1 baris pada tulisan di buku itu, roh Izumi yang marah datang menghampiri mereka lebih dulu.
"Siapa yang memberi izin pada kalian untuk sembarangan memegang dan membuka buku milikku?!"
"Dia datang!"
Itulah pertama kalinya dimana mereka saling bertemu dan menjadi musuh bebuyutan.
*
Kelompok pembasmi roh itu makin sering datang ke sekolah untuk mengusirku. Melihat aku yang kuat sepertinya malah membangkitkan semangat mereka untuk makin berusaha untuk mengusirku.
Sejak awal mereka semua sangat kuat.
Si wanita yang memiliki rambut merah darah bergelombang dan bermata biru itu memiliki indra keenamnya sangat sensitif. Dia dengan mudah bisa melacak keberadaan roh jahat hanya dengan mengandalkan insting. Dia juga ahli dalam bidang senjata khususnya menembak (P.S. si wanita ini juga guru Ayui)
Pria pertama yang memiliki rambut biru tua dan bermata hitam keabuan, dia sebagai peramu yang meracik obat serta racun untuk menyerang roh. Selain itu dia juga memiliki jenis kekuatan pelindung.
Lalu yang terakhir merupakan ayah dari Ayui, memiliki rambut coklat susu dan mata hijau. Ia memiliki jenis kekuatan penyihir dan senjata. Ia juga merupakan ketua dari kelompok pembasmi ini.
Mereka bertiga memiliki jenis kekuatan lebih dari 1. Mereka juga saling melengkapi kekurangan masing-masing. Dan lagi, kekuatan dan kekompakan mereka tidak main-main, membuatku yang tidak pernah terganggu dengan pembasmi roh selama ini jadi tertekan dibuat mereka.
Sering terjadi pertarungan diantara kami.
"Musnahlah, kau roh jahat!! Jangan ganggu manusia lebih dari ini!!"
Disisi lain...
"Lenyaplah kau tirani br*ngsek!! Kembalikan wilayah kami!!"
Tidak ada tempat yang aman untukku. Semuanya adalah musuh.
__ADS_1
Aku terkepung oleh pembasmi roh yang terus bersiaga menyegelku, dan juga oleh para bawahanku yang memberontak.