
"Izumi?" Gumamku
Entah bagaimana, Izumi terlihat sangat marah, sampai-sampai matanya sekarang berwarna merah dan kedua tangannya mengepal kencang hingga gemetar.
*
"A... Ada apa, Izumi?" Tanyaku panik sambil melihat sekitar
Izumi hanya diam. Mulutnya yang datar perlahan tersenyum sinis dengan matanya menatap lekat laki-laki dan perempuan kembar tadi.
Aku menoleh melihat kedua orang yang sedang dilihat Izumi itu, namun aku tidak melihat keanehan dari mereka. Jadi aku kembali menatap Izumi dengan khawatir.
"Hey, ada apa?" Gumamku dan langsung menggenggam tangan kanan Izumi yang masih mengepal untuk membuatnya sedikit tenang.
Mulut Izumi bergerak dan mengeluarkan suara sangat kecil hingga aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Namun yang pasti, nada suaranya terdengar sangat marah. Tatapannya juga semakin tajam dan kepalan tangannya semakin kuat hingga keluar urat pada tangannya. Selain itu, pada bagian rahang dan lehernya juga keluar urat. Dia terlihat sangat kesal.
"Ada apa dengan Izumi? Aku sungguh tidak mengerti dengan Izumi ini. Apa yang salah dari kedua orang itu? Apa yang harus aku lakukan?" Pikirku panik
"Tenanglah, Izumi. Kau kenapa? Apa yang salah dengan mereka?" Bisikku
Meski aku sudah berkata begitu, Izumi masih tidak bergeming. Jadi tidak ada cara lain selain aku harus bertindak lebih lagi.
"Ayo sedikit nekat, Yurin. Ini demi kebaikanmu dan Izumi sendiri" Pikirku
Aku melepas genggaman tanganku ke Izumi, lalu mengarahkan tanganku ke kedua pipi Izumi dan mendekatkan wajahku padanya.
"Izumi, kau tidak mendengarkanku?" Tanyaku berbisik dengan mata menatap lekat mata Izumi.
Izumi tampak sedikit kaget begitu mata kami saling bertemu.
"Lihat mataku baik-baik, dan hilangkan rasa kesalmu, oke? Tidak apa-apa, tidak terjadi apapun. Jadi Izumi jangan kesal. Bagaimana bisa Izumi menampakkan wajah seperti itu padahal disini ada aku"
"ingat, kan? Kemarin Izumi sangat menantikan hari ini, jadi bagaimana bisa jadi hancur hanya karena 2 orang tak dikenal?"
Izumi terdiam, lalu mulutnya terbuka sedikit.
"Ma... af" Gumam Izumi bersamaan dengan bola matanya kembali menjadi biru.
"Fyuh, syukurlah tidak terjadi hal lebih buruk lagi" Pikirku lega, dan melepas tanganku dari pipi Izumi dan menjauhkan wajahku darinya.
Aku kembali melirik ke arah Izumi yang masih bengong.
"Jadi, kenapa kau sekesal itu melihat mereka?" Tanyaku
"Itu..." Gumam Izumi dan memalingkan wajahnya dariku
Aku hanya menghela nafas pelan melihat Izumi.
"Mungkin alasannya sedikit tidak masuk akal, hal yang norak atau yang lainnya, jadi dia ragu mengatakannya. Oke, anggap saja seperti itu" Pikirku
"Karena kau sudah tenang, jadi ayo ke tempat lain"
*
1 jam kemudian....
"Fyuh, akhirnya selesai membeli semua keperluannya. Ayo pulang" Ajakku
"Tunggu, kita bahkan belum bersenang-senang" Bantah Izumi dan menghadang ke depanku
"Sejak awal aku tidak ada niat bermain denganmu, jadi lupakan saja hal itu" Ucapku cuek
"Eeeeehhhh??!"
"Sudah, cepat pulang. Kalau lambat aku tinggalin, lho" Ucapku dan berjalan melewati Izumi yang tadi menghadang jalanku
__ADS_1
Begitulah, setelah kejadian tak terduga tadi, Izumi kembali menjadi normal dan tidak ada kejadian khusus lainnya lagi.
Setelah keluar dari toko, Izumi masih belum menyerah untuk mengajakku pergi ke suatu tempat terlebih dulu sebelum pulang.
"Sekali saja!! Setelah ini kau pasti tidak akan keluar lagi, kan? Soalnya sebentar lagi kau sudah mulai sekolah. Ini kesempatan terakhirku untuk bermain berkeliling di kota iniiiii!!"
Izumi terus memohon padaku. Karena aku merasa terganggu dia yang berisik, dan aku juga sedikit kasihan jadi kami pergi ke taman sebelum pulang ke rumah.
Taman Lily, sebuah taman yang cukup luas, tidak terlalu jauh dari toko alat tulis yang kami datangi tadi, itulah tempat tujuanku sekarang. Alasannya, karena itulah tempat yang paling indah, dibuka untuk umum, dan jarak paling dekat dengan posisi kami sekarang.
Setelah sampai di taman itu, Izumi langsung berlarian di taman rumput dengan tersenyum cerah.
"Izumi benar-benar terlihat seperti anak kecil. Atau mungkin seperti burung yang keluar dari sangkar?" Pikirku
Aku menatap dalam Izumi yang masih berlari-lari itu. Karena aku terus menatapnya, sepertinya Izumi jadi menyadari aku sedaritadi memperhatikannya.
"Ada apa, Yurin?" Tanya Izumi
"Ah, tidak. Bukan apa-apa" Jawabku
"Ngomong-ngomong, ternyata tempat ini lebih sepi dari bayanganku. Kukira akan lebih ramai karena ini masih musim libur, tapi ternyata tidak banyak ke sini. Ditambah lagi taman ini sangat luas, jadi sangat terasa sepinya" Pikirku
"Ah, lebih baik aku membeli minuman untukku dan Izumi. Mumpung dia lagi bermain" Pikirku
Aku pun pergi membeli minuman yang berada di seberang taman tersebut.
Setelah memesan 2 minuman coklat cup, sekarang aku sedang menunggu penjualnya yang sedang membuat minumannya.
"Karena bibi ini menjual disini, dia pasti tau kenapa taman ini sepi, kan. Coba aku tanya pada bibi ini" Pikirku
"Permisi, saya mau tanya. Kenapa taman ini rasanya sepi, ya?" Tanyaku
"Ah, sebenarnya belum lama ini ada anak kecil yang meninggal didalam taman itu karena tersesat. Anda tahu sendiri taman itu cukup luas dan banyak semak. Katanya anak itu terpisah dari ibunya saat bermain, dan malangnya anak itu malah jadi meninggal. Karena itu, orang-orang masih takut ke taman ini"
"Anda datang kesini dengan pacar anda? Lebih baik cari tempat lain" Ucap bibi itu bersamaan dengan menyerahkan 2 cup minuman yang kupesan.
"Ah, tidak. Saya pergi dengan teman saya... Dan terima kasih untuk info dan sarannya" Ucapku lalu menerima minumannya.
Aku kembali masuk kedalam taman dengan berlari sebisaku, karena takut minumannya tumpah. Setelah melihat sosok Izumi yang berdiri dari kejauhan, aku langsung berteriak.
"Izumi!!"
Izumi langsung menoleh kearahku dengan wajahnya yang datar.
"Izumi... kita... harus pergi dari sini..." Ucapku terengeh-engeh
"Kenapa?"
"Aku tadi dapat info saat membeli minuman ini... Katanya ada anak kecil meninggal di taman ini belum lama ini..."
"Oh..."
Aku langsung mendongak menatap Izumi dengan heran.
"Kau terlihat santai sekali meski sudah tahu ada yang mati"
"Memangnya kenapa dengan taman ini yang menjadi tempat anak kecil itu mati? Aku sama sekali tidak peduli"
"Lagi-lagi seperti ini" Pikirku
Aku jadi merinding oleh ucapan Izumi. Dia yang tak peduli akan apapun dan hanya memikirkan diri sendiri, terlihat sangat mengerikan bagiku.
"Tidak, hanya saja... Rasanya tidak nyaman menempati tempat yang sebelumnya menjadi tempat orang menghembuskan nafas terakhirnya" Gumamku
"Kau masih takut dengan hal seperti ini?" Tanya Izumi
__ADS_1
"Ini berbeda! Selama ini yang kutemui hanya hantu, sedangkan ini, masih terdapat jejak dari jasad anak kecil itu. Selain itu, tidak sopan kita tertawa ditempat orang mati"
"Aku tidak peduli dengan hal itu" Ucap Izumi cuek dan memalingkan wajahnya dariku.
"Kakak~"
Tiba-tiba muncul anak kecil dibalik pohon disamping aku dan Izumi. Seorang anak perempuan berambut pendek berwarna krim dan bermata coklat yang tampak imut dengan dress berwarna kuning berumbai yang dikenakannya. Anak itu kira-kira berumur 5 atau 6 tahun.
Aku tersentak begitu melihat anak itu.
"Anak kecil ini.... Hantu! Jangan-jangan anak kecil ini adalah anak yang meninggal itu?" Pikirku
Disaat aku masih kaget dengan kemunculan anak kecil itu, Izumi lebih dulu mendekati anak kecil itu dan berjongkok di hadapannya.
"Hey, kenapa kau disini?" Tanya Izumi lembut sambil membelai kepala anak kecil itu
"Kakak~ Ayo main dengan Shuri!~" Ucap anak kecil itu dengan ceria.
Aku pun ikut mendekati anak kecil itu dan berjongkok didepannya bersama Izumi.
"Jadi namamu Shuri? Nama yang cantik" Ucapku
"Iya~ Karena Ibu yang memberiku nama~"
"Tapi... Entah kenapa Ibu sangat lama menjemput Shuri pulang. Tapi tidak apa~ Ibu pasti datang menjemput Shuri, jadi Shuri mau main dulu~"
"Jadi memang benar anak ini...." Pikirku prihatin.
"Apa yang akan kau lakukan, Izumi? Sebelumnya kau bilang tidak peduli pada anak ini" Pikirku dan melirik ke Izumi
Izumi hanya menatap datar wajah anak kecil bernama Shuri itu. Dan seperti biasa, aku tidak bisa menebak apa yang dipikirkan Izumi saat ini.
Tak lama kemudian, Izumi berdiri dan langsung menggandeng tangan Shuri.
"Shuri mau main, kan. Jadi ayo main dengan kakak" Ucap Izumi
Mata Shuri langsung berbinar penuh akan semangat.
"Ya~ Ayo main~" Ucap Shuri ceria
"Ah, Izumi. Ini minumannya, aku membelikanmu" Ucapku dan mengulurkan tangan kananku yang memegang sebuah cup minuman.
Izumi menerima minuman yang kuberikan, namun Izumi tidak meminumnya dan hanya melihatnya saja.
"Ada apa, Izumi? Kau tidak suka coklat?" Tanyaku
"Aku suka kok, tapi..."
"Boleh kuberikan pada Shuri?" Tanya Izumi
"Hah??!" Aku kaget
Izumi yang sebelumnya tidak peduli dengan Shuri tiba-tiba menjadi sangat perhatian padanya??
"Iya, tidak apa sih. Tapi... Bagaimana denganmu?" Tanyaku
"Aku tidak apa walau tidak meminumnya" Ucap Izumi, lalu memberikan minuman itu pada Shuri.
"Waaah! Terima kasih, kak!"
Dan seperti yang dikatakan Izumi pada Shuri, Izumi benar-benar mengajak Shuri bermain, seperti Shuri adalah adik kandung Izumi sendiri.
"Ini pertama kalinya aku melihat Izumi seperti ini. Selama ini aku tidak pernah melihat Izumi terlihat akrab dengan roh. Bahkan, biasanya Izumi sering bertengkar dengan para roh. Tapi kenapa tiba-tiba Izumi seperti ini?" Pikirku
"Jika ini hanya karena sebatas Izumi menyukai anak kecil, seharusnya Izumi juga bersikap seperti ini pada Hana dan Niki, tapi nyatanya Izumi bahkan selalu bertengkar pada Niki"
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya kau pikirkan, Izumi?" Pikirku