
Izumi mendongakkan kepalanya dan menatap tajam Hana.
"Kau mengancamku?" Tanya Izumi
"Iya"
Izumi menghela nafasnya lalu menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal.
"Itu jika aku melanggar sumpah, kan. Tidak akan ada masalah jika aku mengikuti isi sumpah" Ucap Izumi santai
"Tentu saja. Aku juga tidak ingin ada masalah"
*
Setelah sumpah setia itu dilakukan, Niki pergi karena harus mengurus roh jahat, aku duduk di meja belajarku dengan sebuah buku yang kubaca, Hana tetap duduk rapi di lantai sembari memperhatikanku, lalu Izumi duduk santai di sofa dengan pergelangan kaki menyilang dan tangan yang dijadikan sandaran kepala.
Semuanya tampak tenang. Aku fokus membaca, Hana tetap santai duduk, dan Izumi yang sudah setengah tidur.
Namun suasana tenang itu tiba-tiba hancur.
"!!!"
Izumi yang merasakan adanya keanehan langsung terbangun dari tidurnya.
Dan benar saja. Begitu membuka mata, di depan Izumi langsung muncul pusaran dimensi yang seperti portal. Seperti sebelumnya, muncul banyak sekali serangan yang menyerang Izumi.
"Ada apa ini?!" Tanyaku kaget
Dengan cepat Izumi mengeluarkan kekuatannya dan membuat pelindung dengan tangan kirinya. Ia juga balik menyerang portal itu dengan menggunakan tangan kanannya. Lalu setelahnya portal itu menghilang.
"Kau tahu apa akibatnya jika mengganggu waktu istirahatku, hah?!" Ucap Izumi geram
"Yaah~ Bagaimana, ya~ Meski kita menjadi sekutu, bukan berarti aku memaafkan kesalahanmu~" Ucap Niki yang tiba-tiba muncul di depan Izumi.
"Aku tidak ada waktu menemani anak kecil bermain" Ucap Izumi lalu berbalik dan berjalan kembali ke sofa.
Namun, baru selangkah Izumi berjalan, Niki sudah menodongkan pedang dari kekuatannya ke samping kepala Izumi.
"Sudah kubilang aku tidak mau!" Ucap Izumi geram dan menatap Niki dengan kesal.
"Memangnya aku harus punya izin darimu jika menyerang?" Tanya Niki dan langsung menebaskan pedangnya ke leher Izumi.
Namun Izumi langsung menghilang entah kemana.
"Jangan salahkan aku jika kau menyesal menggangguku nanti!" Bisik Izumi yang sudah ada di belakang Niki.
"Sialan!"
Begitulah, kamarku pun sekarang menjadi medan perang mereka. Aku dan Hana pun terpaksa harus ke pinggir kamar agar tidak terkena serangan mereka.
"Hey, Hana, apa kau tidak bisa melerai mereka?" Tanyaku panik
"Tidak bisa. Mereka berdua adalah pemimpin roh. Aku tidak bisa melerai mereka jika hanya dengan kekuatanku" Ucap Hana sambil menggelengkan kepala.
Aku dan Hana pun hanya bisa melihat pertikaian mereka saja.
1 menit berlalu...
5 menit berlalu...
__ADS_1
10 menit berlalu...
15 menit berlalu...
....
30 menit kemudian.
Namun tidak ada tanda-tanda mereka akan menyudahi pertikaian ini.
"Mau sampai kapan mereka bertarung??!" Pikirku
"Hana, kita harus melakukan sesuatu"
"Tidak, kakak bisa terluka jika sembarang ikut campur. Itu juga akan berakibat pada kak Izumi. Dan jika aku ikut campur juga berbahaya untukku, karena kekuatan roh jahat itu sama saja seperti racun mematikan bagi roh baik"
"Kita cuma bisa menunggu sampai mereka kelelahan. Mereka juga takkan lenyap jika hanya pertarungan yang seperti ini"
"Tapi kapan mereka kelelahannya?! Jangankan lelah, bahkan sekarang mereka terlihat lebih bersemangat bertarung. Jika terus dibiarkan, mereka bisa terluka lebih parah lagi" Pikirku
"Akan kubunuh kau!" Teriak Izumi dengan banyak pedang merah yang siap menyerang dari samping Izumi
"Kata-kata itu ku kembalikan padamu!" Teriak Niki dengan pedang ungu yang tak kalah banyak dengan milik Izumi.
"Mereka benar-benar berniat saling bunuh!!" Pikirku
"Berhenti, kalian berdua!!" Teriakku
Niki mematung begitu mendengar teriakanku. Ia menoleh ke arahku dan tersenyum.
"Benar juga..." Gumam Niki
Serangan yang awalnya mengarah ke Izumi sekarang mengarahku.
"Niki! Apa yang kau lakukan?!" Teriak Hana dan berlari ke arahku.
"Gawat! Dia memanfaatkan Izumi yang terikat denganku!" Pikirku
Dengan cepat serangan itu meluncur ke arahku. Refleks aku langsung memejamkan mata.
"...."
"Aku tidak merasakan apapun..." Pikirku bingung
Perlahan aku membuka mataku. Aku kaget didepanku ada pelindung berlapis 3 berwarna merah yang menahan semua serangan itu.
Senjata yang tertancap di pelindung bagian luar itu retak dan hancur berkeping-keping, lalu pelindung itu menghilang.
"Apa..." Gumam Niki
"Hey, dia tidak ada hubungannya dengan pertarungan kita" Ucap Izumi yang sudah berada di belakang Niki.
"Kau pikir aku akan diam saja setelah tahu dia bisa dalam bahaya kapanpun oleh roh semacam kau?" Tanya Izumi
Sontak Niki langsung menoleh ke belakang. Namun Izumi lebih dulu memukul leher Niki hingga dia tak sadarkan diri.
"Haaah..."
Izumi menghela nafas dalam. Lalu semua kekuatan yang bagaikan kobaran api itu seketika hilang.
__ADS_1
Izumi memegang kerah baju bagian belakang Niki dan menyeretnya mengarahku.
"Kau tak apa, kan?" Tanya Izumi
"Iya... Bagaimana denganmu dan Niki?" Tanyaku
"Aku tidak apa-apa. Dan seperti yang kau lihat, dia pingsan. Mungkin dia baru akan bangun besok"
"Lalu..." Gumamku dan melihat ke seluruh tubuh Izumi.
"Tidak apa-apa dari mana??! Tubuhmu penuh luka!" Teriakku
"Padahal di pipi dan tanganmu ada beberapa goresan, tapi kenapa aku tidak sakit?" Tanyaku
"Hanya luka kecil. Kau hanya merasakan sebagian kecil dari ini. Makanya kau seakan tak merasakan apapun" Ucap Izumi santai
Izumi melirik ke Hana yang ada di sampingku.
"Hey, adikmu ini mau diapakan?" Tanya Izumi
"Aku akan membawanya dan menyuruh bawahannya untuk menjaganya"
"Hanya itu?"
"Memang apa lagi yang harus kulakukan?"
"Dia sudah membuat kekacauan. Bahkan hampir melukai Yurin, yang tak seharusnya dia lukai"
"Sudahlah, lagian aku juga tidak terluka, kan" Ucapku menenangkan mereka.
"Hana, cepat bawa Niki pergi" Bisikku ke Hana
Hana pun mengangguk. Ia mengangkat Niki yang terkapar di lantai dan langsung teleportasi.
Setelah mereka pergi, keadaan pun menjadi hening.
"Itu... Terima kasih, Izumi. Pelindung tadi kau yang memasangnya, kan. Sejak kapan kau memasang pelindung itu padaku?" Tanyaku gugup
"Ah, itu sejak Maeru menyerangmu. Setelah penculikan itu, aku langsung memasang pelindung padamu.
"Selama itu?!" Tanyaku kaget
"Iya"
"Kau selalu tidak memberi tahu apapun padaku. Aku jadi sedikit sedih" Gumamku
"Memangnya itu penting?" Tanya Izumi
"Tentu saja! Meski bagi Izumi itu tidak penting, tapi itu penting bagiku"
"Jika aku tahu lebih awal soal pelindung itu, aku akan berterima kasih lebih cepat lagi. Jika aku tahu kalau aku menjadi kelemahanmu, aku akan berhati-hati dan berusaha untuk tidak mengganggu Izumi"
"Lalu... Izumi juga tak mengatakan apapun soal dirimu. Padahal kau tahu apapun tentang diriku. Tapi aku sama sekali tidak tahu tentangmu. Bukankah itu tidak adil?" Tanyaku
"Ah..." Aku tersentak
"Apa yang aku katakan tadi?!" Pikirku
Aku melirik ke arah Izumi.
__ADS_1
"Gawat! Aku malah mengatakan hal yang sensitif pada Izumi!"