
Peringatan!
Episode ini mungkin kurang berkenan karena mengandung unsur berdarah
*
"Cepat minta maaf ke Ian!" Teriak Rio
"Ma... af..."
Suaraku sangat kecil hingga hampir tidak terdengar.
"Kau ini! Keraskan suaramu!" Teriak Rusen emosi dan tanpa sengaja mendorong Rio
Akhirnya....
Jleb!
Cutter itu menusuk tepat di dada kananku.
Deg... Deg... Deg...
"Agh!"
Aku langsung tersungkur dengan darah terus mengucur di dadaku. Darahnya juga keluar melalui mulutku.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Ba... Bagaimana ini?!"
Samar-samar aku mendengar suara panik mereka.
"Sa... Kit... Sakit sekali..." Pikirku
"Tolong... Siapapun..."
Perlahan aku menatap mata mereka berempat.
"Jangan... Jangan lihat kesini!!" Teriak Kirian panik
"Sakit sekali..." Pikirku
Dengan tangan gemetar dan berlumur darah, aku berusaha menggapai kaki mereka.
"Singkirkan tanganmu!!"
Rusen langsung menendang tanganku.
"Agh... Bertahan... Harus bertahan... Jangan tutup matamu..." Pikirku
Tapi tetap saja. Pengelihatanku mulai buram dan mataku jadi sangat berat.
"Jangan tutup matamu!"
Mataku pun tertutup dan aku sudah tidak bergerak lagi. Tapi aku masih sekarat, belum mati.
"Dia... Mati?" Tanya Rusen
"Tidak bisa dibiarkan seperti ini! Mayatnya harus disingkirkan segera!" Ucap Kirian
Kirian dan Maeru langsung mengangkat dan memindahkanku ke lemari di ruangan yang sudah tidak digunakan lagi. Sementara Rio dan Rusen membersihkan semua darahku yang berceceran di lantai.
Mereka juga memasukkan semua kain dan pel yang digunakan mereka untuk membersihkan darah itu bersamaku di ruangan itu.
Selain itu, mereka juga membawa tas ku dan cutter yang menusukku itu juga. Namun mereka ketinggalan 1 buku pemberian ibu yang masih ada di kolong meja.
"Bagaimana ini? Bagaimana jika ketahuan kita yang melakukannya?" Tanya Rusen panik
"Diam. Setidaknya, kita tidak akan ketahuan secepat itu" Bisik Maeru
Disaat-saat terakhir itulah, amarah besar yang tertahan selama ini meledak.
Semua amarah, kebencian, dan rasa sakit itu mulai menyelimuti diriku.
"Aku tidak akan pernah... Memaafkan kalian semua! Semuanya!!"
Aku menatap tajam penuh dendam kearah mereka berempat.
"Ayo cepat pergi dan pulang ke rumah! Jangan sampai ada yang melihat kita pulang sore ini!"
Mereka berempat pun menutup pintu lemarinya.
*
Namaku adalah Arato Izumi.
Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke-14 tahun.
Dan juga merupakan hari kematianku.
Hari ini juga... Adalah hari dimana aku menjadi roh jahat dan langsung berada di tingkat atas.
*
**
Keesokan harinya...
Teng... Teng... Teng...
"Eh, kalian mencium bau sesuatu tidak?"
"Tidak. Memangnya bau apa yang kau cium?"
"Entah. Seperti bau amis sesuatu"
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak menciumnya"
"Eh, omong-omong, tumben si Arato tidak datang ke sekolah"
"Aku tidak tahu ternyata kau sangat perhatian padanya~" Sindir yang lain
"Apa sih. Aku cuma menantikan jagoan kita menyiksanya"
"Hahahaha!"
Saat itulah, aku menampakkan diri untuk pertama kalinya di kelas.
Aku duduk di kursiku seperti biasanya, namun tidak ada yang melihatku.
Lalu seseorang melirik ke mejaku.
"Eh, barusan aku seperti melihat ada Arato di mejanya. Tapi kok tidak ada?"
"Matamu yang salah. Dia kan tidak sekolah"
"Benar juga..."
Mereka memalingkan wajahnya kembali ke depan, dan aku kembali menampakkan diriku sedang duduk di kursiku.
*
Sekarang sudah jam 8, dan para murid di kelas mulai sibuk meeting dengan anggota ekskul mereka masing-masing untuk persiapan menyambut tahun ajaran baru.
Ditengah kesibukan mereka, tiba-tiba jendela kelas bagian belakang terbuka sendiri dan membuat angin kencang masuk ke kelas, membuat semua kertas-kertas mereka terbang berhamburan.
"Kenapa jendelanya tiba-tiba terbuka? Kertasnya jadi terbang kemana-mana. Merepotkan!"
"Kuncinya mungkin sudah longgar. Nanti kita laporkan saja pada pak Kaisen"
"Iya"
Mereka menutup jendelanya dan kembali melanjutkan kegiatan mereka masing-masing.
Hingga akhirnya jam 10...
2 orang siswa laki-laki dari kelasku pergi ke ruangan tidak terpakai itu untuk mencari apakah ada papan tidak terpakai disana untuk kepentingan ekskul.
Begitu mereka masuk ke ruangan gelap itu, samar-samar mereka melihat ada cairan yang keluar dari lemari di sudut ruangan.
"Eh, kau lihat? Ada sesuatu disana"
"Iya. Lihat yuk"
Karena penasaran, mereka mendekati lemari itu dan kaget.
"Cairan merah. Apa isi lemari itu?"
"Ayo kita buka!"
Betapa kagetnya mereka begitu melihat jasad ku yang sedang duduk dengan mata tajam melihat kearah mereka.
"I... Itu... A... Arato... Izumi..."
"Dia... Dia bukannya bolos sekolah, tapi..."
Sontak mereka berdua berjalan mundur menjauh.
Tiba-tiba...
Blam!!
Pintu ruangannya tertutup dengan sendirinya.
Refleks mereka menatap ke arah pintu, dan dikagetkan aku yang sudah berdiri tepat di belakang mereka dengan bersimbah darah.
"AAAAAAAAAAAA!!!"
Mereka langsung teriak histeris dan lari dari roh ku.
Salah satu dari mereka karena panik tanpa sengaja menginjak darahku yang tercecer di lantai dan terpeleset.
Sayangnya, tepat didepannya ada sebuah besi panjang dan runcing yang biasanya digunakan sebagai gagang bendera.
Dan benar saja...
Jleb!
Dia langsung mati karena besi itu menusuk kepalanya hingga tembus.
Seorang siswa sisanya menjadi satu-satunya saksi orang yang menemukan jasadku, dan juga saksi dari kematian temannya dengan jelas.
Matanya terbelalak menatap temannya yang sekarang kepalanya tertancap di besi runcing dan mengeluarkan darah sangat banyak.
"AAAAAAAAA!!!"
Dengan cepat dia langsung lari dan keluar dari ruangan itu dan tidak henti berteriak histeris.
Dia berlari sangat cepat menuju lantai 1 dengan bercak darah dari darah temannya yang muncrat terkenanya.
Karena terlalu terburu-buru, saat akan turun tangga, kakinya terkilir dan terjatuh hingga kepalanya terbentur sangat keras.
Kebetulan, ada seorang guru yang lewat didekat murid itu.
Guru itu langsung lari mendekati murid itu.
"Kau tidak apa-apa? kenapa? Apa merah-merah di bajumu?" Tanya bu guru panik
"A... Arato Izumi!!! Di... Dia mati di ruangan tidak terpakai di lantai 3!! Te... Temanku juga... Mati disana karena tertusuk besi!!"
"A... Apa yang kau katakan?" Tanya bu guru
__ADS_1
"Argh!!"
Si murid langsung berteriak kesakitan sambil memegang kepalanya. Tak lama setelahnya dia pingsan.
"Siapapun disana!! Cepat kemari!!" Teriak bu guru panik
Sekelompok siswa pun datang mendekat.
"Bawa di ke UKS. Ibu mau ke lantai 3 dulu"
Bu guru itu langsung pergi ke ruang guru dan mengajak beberapa guru ke lantai 3, tepatnya ruangan tak terpakai itu.
Ada 5 guru yang mendatangi ruangan tak terpakai itu, termasuk bu guru tadi.
Betapa kagetnya kelima guru itu melihat 2 murid mereka mati mengenaskan di satu tempat.
Salah satu guru itu langsung kembali dan menyuruh seluruh siswa kembali ke rumah lebih awal.
Guru itu pun memindahkan jasadku dan murid itu, menghubungi kepala sekolah, keluarga Hazuki, serta keluarga murid itu.
Para guru itu mengembalikan jasad kembali ke keluarga masing-masing.
Setelah kembali, mengantarkan jasad itu, terjadilah kecelakaan beruntun. Di kecelakaan itu, semua guru itu terlibat dan mati di tempat.
Esok harinya, para murid dan para guru lainnya berduka untuk kelima guru dan 2 murid yang meninggal.
Padahal hari ini adalah hari pengumuman hasil ujian.
Setelah para murid dan guru berduka, pengumuman hasil ujian pun ditempel.
Ada 2 nama yang dicoret dari kertas itu karena sudah meninggal dan tidak sempat membuat kertas pengumuman baru karena terlalu mendadak. Meski dicoret, tapi tulisan aslinya masih bisa dibaca.
Arato Izumi, berada di urutan pertama.
Namun...
Pertama di urutan paling belakang, dan Hazuki Kirian berada di urutan pertama di angkatan.
Para murid pun heboh.
"Si jenius malah di peringkat terakhir?"
"Ssttt!! Dia sudah meninggal..." Bisik yang lain
Aku pun muncul di disana dan berdiri dibelakang para murid-murid yang bergerombol.
"Kalian semua... Manusia sangat mengesalkan!!" Gumamku kesal
Tak lama setelahnya, datang kabar kalau laki-laki yang menemukan jasadku pertama kali itu meninggal di rumah sakit. Penyebabnya karena bunuh diri.
Tapi sebenarnya...
Aku datang ke rumah sakit tempat laki-laki itu dirawat.
"A... Arato... Izumi..." Gumamnya panik
Aku menundukkan kepala dan berjalan mendekatinya perlahan.
"Pe... Pergi! Jangan ganggu aku!!" Teriaknya histeris
"Heey~" Gumamku
Aku mendongakkan kepala dan menatap tajam dia dengan mata merah menyala.
"Manusia serakah! Ingin mengganggu, tapi tidak mau diganggu!"
"AAAAAAAAAAA!!!!!"
"Berteriak! Berteriaklah lebih kencang lagi~ Hahahahaha!!!!"
Aku mendekati kasurnya.
"Sekeras apapun kau berteriak,orang luar tidak akan mendengarnya~"
Aku langsung masuk kedalam tubuhnya dan mengontrolnya.
Aku langsung mencekeknya seakan dia mencekek dirinya sendiri.
"Mati~ Mati~ Mati~"
"Kkggghhhh...."
"Aghhhh..."
Krek!
Tulang lehernya patah dan dia mati seketika.
"Lemah sekali!" Gumamku kesal
Aku pun kembali ke sekolah setelah dia mati.
*
Tentu, semua insiden kematian itu semua karena aku. Laki-laki pertama mati karena aku yang menata besi itu hingga pas kena kepalanya. Aku sengaja membuat laki-laki yang satunya terjatuh hingga harus ke rumah sakit sebelumnya, dan membuat dia mengadu pada guru, dan guru itu mengajak guru lainnya menemui jasadku dan laki-laki satunya.
Kelima guru itu mati kecelakaan juga karena aku menutupi pandangan sang sopir hingga terjadi kecelakaan.
Sebenarnya aku bisa saja membiarkan mereka hidup dan membuat Kirian, Maeru, Rio dan Rusen ketahuan sebagai pelaku.
Tapi aku lebih memilih membunuh semua para saksi.
Karena apa?
Karena aku ingin. Hanya itu.
__ADS_1