
*
**
Di ruang kerja Marquis Arca...
"...."
Sekarang Marquis Arca sedang duduk di kursinya dengan mata menatap tajam surat yang dikirimkan Raja padanya.
...Untuk Marquis Arca....
...Untuk permintaan kunjungan dari kepala keluarga Marquis Arca yang sebelumnya, aku minta maaf tidak bisa menemuimu karena sekarang sedang sibuk. Lain kali jika aku punya waktu luang, aku akan mengundangmu ke istana. Lalu, aku memerintahkanmu pergi ke utara besok untuk berjaga....
Itulah isi surat yang dikirim Raja pada Marquis Arca.
"Akhir-akhir ini... Raja bersikap aneh...".
"Dia menolak tiap aku mau berkunjung dan terus memberi tugas mengawasi bagian utara kerajaan".
"..."
Marquis Arca terdiam sebentar, lalu berdiri berjalan ke rak buku di sisi kanan ruangan.
Ia mencari sebuah buku dan mengambilnya.
"Yah, tidak ada yang gratis di dunia ini. Jika berani beri tugas banyak, artinya Raja juga sudah mempersiapkan harga yang cocok"
*
**
Sesuai permintaan Raja, Marquis Arca dan pasukanya pergi ke bagian utara kerajaan esok harinya.
Selama di perjalanan dan telah menetap 1 bulan disana, musuh dan hewan buas liar terus menyerang mereka tak henti.
Banyak pasukan dari Marquis Arca yang mati ataupun luka-luka, tak terkecuali Marquis Arca yang terluka setelah penyerangan terakhir dari musuh.
Mereka semua yang terluka pun dirawat. Para pasukan yang terluka itu pun perlahan sembuh. Namun berbalik untuk Marquis Arca. Bukannya makin membaik, Marquis Arca makin lama kondisi tubuhnya makin buruk. Ia yang awalnya hanya mengalami cedera akibat tusukan pedang di kakinya, kini ia jadi lumpuh hingga tak bisa berjalan.
Sang dokter sadar nyawanya terancam. Jadi ia menjelaskan semuanya pada Marquis dengan bersujud di hadapannya memohon ampun.
"Ma... Maafkan saya, Tuan komandan! Se... Sepertinya di pedang musuh telah dilumuri suatu racun yang efeknya muncul secara perlahan... Karena itu... Anda lumpuh akibat dari racunya..." Gumam sang dokter ketakutan.
"Apa?! Kenapa kau baru bilang sekarang setelah beberapa hari berlalu?!" Teriak Marquis Arca marah besar.
"Sa... Saya tidak menemukan adanya racun di luka anda sebelumnya. Sepertinya ini semacam racun jenis baru yang akan bereaksi setelah beberapa hari..." Jawab sang dokter dengan nada suara gemetar.
"Kalau begitu, cepat keluarkan racunnya sekarang!"
"Sudah tidak bisa. Racunnya telah menyebar ke seluruh tubuh anda dan bercampur dengan darah... Seperti yang saya katakan sebelumnya, itu adalah racun jenis baru, jadi untuk sekarang belum ada obatnya..."
"Jadi maksudmu... Aku akan lumpuh hingga penawar racunnya ditemukan?!" Tanya Marquis Arca dengan mata melotot menatap sang dokter.
"I... Iya, Tuan komandan..."
"Cepat buat penawar racunnya jika kau tidak mau mati ditanganku!!"
1 hari... 1 minggu... 1 bulan... hingga kini sudah 1 tahun berlalu tapi penawar racun itu belum kunjung ditemukan.
Akhirnya dokter itu pun mati dibunuh Marquis Arca karena dianggap gagal.
Dan 1 bulan kemudian, datang surat dari Raja yang menyuruh Marquis Arca kembali ke ibukota dan datang menemuinya begitu tiba.
Begitu melihat surat itu, Marquis Arca sangat senang.
"Raja, kau harus membayar semua penderitaanku ini dengan harga yang sesuai"
Esok harinya, Marquis bersama seluruh pasukannya kembali ke ibukota. Setelah perjalanan selama beberapa hari, Marquis Arca segera menemui Raja di istana.
"Selamat datang, Marquis. Sepertinya selama 1 tahun ini kau kesulitan, ya"
Begitu Marquis datang dengan menggunakan kursi roda, Raja menyambut kedatangan dengan ketus. Marquis tampak kesal, tapi ia tetap menundukkan kepalanya di hadapan Raja.
"Saya datang sesuai perintah Yang Mulia. Saya telah melakukan yang terbaik hingga berakhir seperti ini. Jadi saya harap apa tang saya dapatkan sesuai dengan yang saya korbankan"
"Pfft... Hahahahahaha!!"
Raja tertawa keras hingga seisi ruangan yang luas itu hanya terdengar suara tawanya.
"Yang terbaik? Pembersihan yang terakhir kali 2 bulan yang lalu pasukanmu gagal" Ucap Raja mengejek.
Marquis Arca mengernyitkan dahinya kesal.
"Itu karena saya lumpuh dan tidak bisa memimpin pasukan," jawab Marquis Arca.
"Tetap saja, intinya kau gagal, kan?" Bantah Raja.
Raja menatap tubuh Marquis Arca dari atas hingga bawah dengan seksama.
"Omong-omong, Marquis, kupikir ini sudah saatnya kau pensiun dari gelar komandan, juga Marquis. Seorang kepala keluarga sekaligus komandan pasukan ksatria istana Raja, tapi lumpuh seperti ini? Orang-orang akan meragukan kekuatan militer ksatria istana."
Marquis Arca tersentak mendengarnya.
"Apa maksud Anda, Yang Mulia?! Saya tidak memiliki penerus untuk gelar Marquis! Dan juga, saya masih bisa mengangkat pedang dan bertarung!" Teriak Marquis Arca.
"Tidak. Aku akan mengangkat jabatan wakil komandan menjadi komandan dalam waktu dekat ini." Ucap Raja cepat.
"Lalu, selain tidak punya istri dan anak, kau juga tak punya kerabat karena sebelumnya kau telah membunuh semua saudaramu, kan? Artinya gelar maupun semua kekayaan wilayah Marquis Arca akan dialihkan ke istana," lanjut Raja.
Marquis Arca tersentak dengan wajah pucat.
"Yang Mulia, anda bercanda, kan? Setelah semua kesetiaan yang saya berikan pada Anda, Anda tidak mungkin melakukan itu, kan?" Gumam Marquis Arca.
"Aaah, sudah waktunya aku pergi untuk rapat dengan para dewan. Kalau begitu, sampai sini dulu pertemuan kita, Marquis."
Raja bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah pintu. Begitu Raja melewati Marquis Arca, ia membisikkan sesuatu.
"Kudengar kau terkena racun jenis baru, ya? Semoga lekas sembuh" Bisik Raja sambil tertawa kecil.
Marquis tersentak lalu menatap tajam ke Sang Raja.
__ADS_1
"Apa maksud Anda, Yang Mulia" Ucap Marquis Arca menahan marahnya.
"Bukan apa-apa~"
Raja pun meninggalkan Marquis sendirian di ruangan yang luas itu.
*
**
Karena dokter yang sebelumnya merawat Marquis di perbatasan wilayah utara telah dibunuh, akhirnya dokter pribadi Marquis yang merawatnya. Namun masalahnya, dokter ini tidak paham karena ini racun baru yang obat penawarnya belum ditemukan.
Seiring berjalannya waktu, keadaan Marquis Arca kian memburuk. Ia yang awalnya lumpuh tidak bisa berjalan, kini ia bahkan tidak bisa menggerakkan ujung jarinya.
Dalam waktu 1 bulan, Marquis Arca hanya bisa berbaring di atas kasur dengan tubuhnya yang makin kurus. Untuk bicara pun ia kesulitan.
Karena hal itu, perbincangan di kalangan bangsawan pun heboh dengan hal ini.
"Kau dengar? Katanya Marquis Arca sakit terkena racun jenis baru yang belum ada obatnya"
"Iya. Sekarang beliau bahkan tidak bisa bangun dari kasurnya"
"Marquis tidak memiliki anak, istri, maupun saudara. Kerabatnya juga semua sudah mati. Siapa penerus wilayah Marquis jika Marquis yang sekarang mati?"
"Jangan-jangan... Wilayah Marquis akan diambil alih oleh kerajaan?"
"Bisa jadi. Jika memang Marquis tidak punya kerabat, maka pasti wilayah Marquis diambil kerajaan"
"Marquis Arca itu salah satu dari beberapa bangsawan yang punya kekayaan melimpah. Kerajaan akan untung besar jika semua aset Marquis diambil alih"
"Perang baru saja akan dimulai~"
Ya. Perang dingin baru saja akan dimulai. Tak lama setelah rumor. Marquis Arca yang sekarat karena terkena racun, sekarang keluarga kerajaan, terutama Raja diam-diam menjadi bahan rumor dan gosip yang dibuat oleh para pendukung Marquis Arca.
"Raja memanfaatkan posisi Marquis yang tak memiliki penerus untuk mengambil alih hak Marquis. Sejak awal Raja lah yang mengutus orang untuk meracuni Marquis."
"Benar. Rasanya aneh Beliau tiba-tiba disuruh Yang Mulia ke perbatasan Utara tanpa sebab apapun, lalu diserang dengan racun yang tidak diketahui. Untuk ukuran raja, tidak sulit menyuruh alkemis menciptakan racun baru yang berbahaya, kan?"
"Iya. Keluarga kerajaan merencanakan semua ini untuk mengambil harta kekayaan Marquis. Padahal beliau sangat setia pada Yang Mulia Raja."
Namun, hal itu dibantah oleh pendukung kerajaan.
"Apa yang kau katakan? Kerajaan tidak semiskin dan sebusuk itu hingga mengincar harta bangsawan. Memang benar keluarga Marquis itu kaya, tapi jika dibanding dengan harta kerajaan, itu bukanlah apa-apa. Apa kalian tidak ingat betapa baiknya keluarga kerajaan pada para rakyatnya selama ini?"
"Lagian juga, urusan di perbatasan Utara itu memanglah tanggung jawab Marquis sebagai komandan ksatria."
"Hati-hati jika bicara! Kalian bisa saja dituduh sebagai pengkhianat kerajaan dan mati jika bicara seperti itu di sembarang tempat!!"
*
Semua orang berspekulasi.
Banyak rumor yang beredar, mulai dari hal yang masuk akal, tidak masuk akal, hingga ke sesuatu yang mistis.
Bersamaan dengan hal itu, kondisi Marquis Arca kian memburuk. Jangankan berdiri, sekarang ia bahkan sudah kesulitan untuk berbicara dan menggerakkan tubuhnya bak mayat hidup.
Lalu, Raja datang ke rumah Marquis tanpa pemberitahuan lebih dulu.
"Halo, Marquis. Lama tak bertemu, ya"
"..."
"Oh, ya. Kau tak perlu menyapaku. Aku tau kau kesulitan bicara~" Ucap Raja dan berjalan mendekati kasur Marquis.
"Ada... apa... Anda... kesini?..." Gumam Marquis Arca.
"Apa salah jika aku menemui pengikutku yang sedang sakit parah? Kau tidak senang aku kesini?" Tanya Raja.
"Katakan saja... apa... mau Anda!" Gumam Marquis kesal.
"Seandainya saja aku tidak mempertimbangkan kau yang adalah temanku waktu masih muda, aku sudah membunuhmu atas kelancangan ini" Ancam Raja.
"Yah, seperti katamu... Ada yang mau ku minta darimu untuk terakhir kalinya..."
"Beri aku semua kuasa dan kekayaanmu" Lanjut Raja
"Mati saja... Kau!" Gumam Marquis Arca marah.
"Pfft! Dibanding aku, justru kau yang diambang kematian!" Teriak Raja dan tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha! Oke, tidak masalah kau tidak mau. Aku juga tidak kekurangan uang hingga harus mengemis pada teman sendiri"
Sang Raja berbalik lalu berjalan keluar kamar.
"Aku sudah tidak ada keperluan lagi denganmu. Selamat tinggal--"
"--Ayah"
"!!"
Blam!
Marquis Arca tersentak saat melihat wajah Raja yang berbalik melihatnya saat akan keluar kamar. Wajah sang raja berubah menjadi wajah anaknya yang ia bunuh sebelumnya.
"Wajah itu... Kei... Aku yakin itu. Tapi, bagaimana bisa? Tidak mungkin. Aku pasti salah lihat" Pikir Marquis Arca.
"Tidak. Ayah tidak salah lihat"
Marquis kaget dan langsung melihat ke sumber suara yang berada di samping kanan kasurnya.
"K... Kei... den..."
"Harus berapa kali ku katakan, namaku Kei, bukan Keiden! Yah, itu bukan yang terpenting sekarang"
"Aya--- bukan, Marquis Arca, bagaimana rasanya selama 1 tahun ini? Apa kau tersiksa" Tanya Kei
"Jadi... Kau!!"
"Benar. Semuanya aku yang melakukannya. Dari penyerangan itu, racun, juga soal raja, aku yang kendalikan"
"Bagaimana, Marquis? Kekayaan, kekuasaan, jabatan, juga martabat yang sangat kau cintai itu akan segera pergi darimu. Hal yang kau dambakan semuanya akan pergi"
__ADS_1
"Dasar... anak... kurang ajar!!"
"Memangnya Anda pernah mengajari saya" Tanya Kei sambil tersenyum mengejek
Kei melihat ke arah lukisan Marquis saat masih muda bersama ayah, ibu, dan 2 saudaranya yang sudah meninggal. Lukisan itu ada di sebelah kiri Kei.
"Ah, benar juga. Untuk pertama dan terakhir kalinya kau mengajariku untuk saling bunuh demi kekuasaan itu" Gumam Kei
Kei kembali menatap tajam Marquis di depannya.
"Aku kesini cuma mau bilang..."
Kei mendekatkan kepalanya ke telinga Marquis dan membisikkan sesuatu.
"Kau sampah tak berguna, yang membunuh semua keluarganya dengan alasan takut bersaing seperti anak kecil yang egois. Selamanya kau takkan bahagia dengan pola pikir egois seperti itu..."
Marquis sangat marah hingga matanya seakan akan keluar saking lebarnya ia membuka mata.
"Kau... sudah mati... jangan ikut campur... urusan manusia!!"
"Benar, aku sudah mati. Tapi dendamku tidak."
Kei mengenadahkan tangannya lalu muncul bola api dari tangannya.
"Kali ini, sekarang giliranku yang membunuhmu"
Blar!!
Api dengan cepat membakar rumah megah itu.
"Api!! Ada api!! Cepat selamatkan diri kalian masing-masing!!"
"Kyaaa! Cepat keluar!!"
Para pelayan di rumah itu sibuk menyelamatkan nyawa mereka sendiri dan tidak terpikirkan oleh mereka tuan mereka sendiri yang terbaring tidak bisa bergerak dari kasur.
Marquis sendiri tidak tahu kalau semua pelayannya melupakannya. Dia berpikir pelayannya cuma telat sedikit untuk menyelamatkannya.
"Dasar pelayan si*lan! Aku akan memarahi mereka setelah aku pindah ke mansion yang lain!!" Pikir Marquis Arca.
Tapi makin lama, api makin membesar dan membakar kasurnya.
"Tidak! Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi!!"
Marquis Arca pun memaksa diri untuk bangun dan lari dari kamarnya.
Tapi...
"Kakak... mau kemana...?"
"Adik... kau mau pergi begitu saja setelah membunuhku?..."
"!!!"
Arwah dari 2 saudara Marquis yang ia bunuh dulu kini muncul dan menahan Marquis untuk tidak bergerak.
 Lalu muncul sosok ayah, ibu, juga banyak wanita simpanan juga anak-anaknya yang telah ia bunuh memenuhi kamar itu.
"Dasar anak durhaka! Beraninya... Kau membunuh ibumu sendiri..."
"Aku tidak akan pernah rela kekuasaan dan jabatanku diambil alih oleh anak seperti kau!"
"Ayah... Kenapa... Padahal Ayah yang membuatku ada di dunia, tapi kenapa Ayah membunuhku yang baru saja lahir..."
"Dasar laki-laki sampah! Kau berjanji akan menikahiku, tapi sampai akhir kau tidak pernah menikahiku, bahkan membunuhku..."
"Mati kau!"
"Aku akan sangat senang jika kau lebih tersiksa lagi..."
Kamar itu pun jadi berisi teriakan semua roh itu yang mengutuk Marquis Arca.
Api pun mulai membakar baju Marquis dan membuat para roh itu makin semangat.
"Mati kau!!"
"Api ini adalah amarah dari kami semua yang ingin melenyapkanmu!!"
"Arg! Aaarghhhh!!!"
*
**
Rumah Marquis pun terbakar seutuhnya. Tidak ada sisi rumah yang tidak terbakar.
Saking besarnya, api menyala hampir 1 hari dan membakar semua bagian rumah itu hingga ke pagarnya. Untungnya api berhasil dipadamkan sebelum merambat ke rumah warga.
Lalu untuk Marquis sendiri, pencarian tidak bisa dilakukan karena rumah itu sekarang jadi tumpukan abu yang menggunung. Sudah tidak mungkin lagi mencarinya disana.
Dari kesaksian para pelayan dan orang sekitar, sudah dipastikan kalau kebakaran terjadi di kamar Marquis di lantai 3 karena ada lilin yang terjatuh dan menyambar gorden di dekatnya. Dan Marquis sendiri meninggal karena tidak bisa bergerak karena penyakitnya dan terbakar.
Kasus kebakaran itu pun segera ditutup karena dianggap kecelakaan dan tidak diperpanjang lagi.
*
**
Di malam harinya...
Kei duduk di paling atas dari tumpukan abu dari kebakaran rumah Marquis.
"..."
"Aku lupa..."
"Aku lupa kalau aku masih ada skandal yang belum hilang bahkan setelah aku mati..."
"Tuduhan kalau aku melakukan hal aneh ke Freya belum hilang, tapi semua yang tau kejadian itu sudah mati"
"Dasar Kei... Bodoh!"
__ADS_1