
*
**
*Kembali ke waktu sekarang.
Suasana di hutan terasa tegang. Sejak tadi Izumi terus memasang wajah datarnya tanpa ekspresi apapun, dan aku yang kaget mendengar ceritanya.
"Begitulah hingga akhirnya aku menyegel diriku sendiri kedalam buku itu, dan akhirnya dikeluarkan olehmu setahun kemudian" Gumam Izumi dan terus menundukkan kepala
Aku tidak bisa berkata-kata. Kehidupan Izumi penuh tragedi dari yang kubayangkan.
Dirinya yang terlihat ceria di hadapanku, suka bertingkah usil dan menyebalkan, ternyata menyembunyikan jati dirinya yang suram dengan baik.
Aku bisa membayangkan seberapa keras Izumi berusaha dan bertahan selama 14 tahun dia hidup, ditambah 6 tahun ia menjadi roh.
Tidak ada kebahagiaan yang Izumi dapat selama itu, baik saat dulu menjadi manusia, ataupun menjadi roh.
Baru sekarang, aku mengerti ucapan Izumi soal buah sebelumnya.
(P.S. Ada di episode 56 : Buah yang Dimakan Ulat)
Aku jadi teringat kembali kejadian itu.
Jika dipikir lagi, saat itu Izumi sudah mengatakan kehidupannya padaku secara tidak langsung.
*
"Misalkan buah itu memiliki perasaan dan bisa berpikir, kira-kira apa yang dia pikirkan tentang hewan yang hinggap di tubuhnya?"
"Eh? Bu... Buahnya berpikir hewan itu menyebalkan?"
"Benar. Dia akan marah pada hewan yang seenaknya memakan dirinya. Tapi jika dibanding dengan hewan itu, dia akan lebih marah pada dirinya sendiri karena dia bahkan tidak bisa berbuat apa-apa pada hewan yang memakannya meski dia mengetahuinya"
'Buah' yang dimaksud dalam pembicaraan itu adalah ibarat dari Izumi saat masih hidup. Lalu 'hewan' itu adalah orang-orang yang menyiksa Izumi, terutama kakak angkatnya.
Disini Izumi mengatakan, kalau dia memang memendam amarah dan kebencian pada kakak angkatnya yang terus menyiksanya. Namun dibanding itu, Izumi lebih benci pada dirinya sendiri yang takut untuk melawan kakak angkatnya, dan membiarkan dirinya hancur tanpa perlawanan.
"Tapi, memangnya apa yang bisa buah lakukan? Buah itu bahkan tidak diizinkan bergerak seenaknya dan bergerak jika ada angin yang berhembus saja. Memangnya apa yang bisa dia lakukan pada hewan yang mengerumuninya?"
Disisi lain, hidup Izumi selama ini bagaikan dikekang. Semua yang Izumi lakukan adalah hasil dari perintah kakek dan ayah angkatnya. Hidup Izumi sepenuhnya diatur dan digerakkan oleh ayah angkatnya itu, dan Izumi tidak bisa membantahnya. Izumi yang tidak bisa menggerakkan dirinya sendiri, sudah pasti tidak bisa melawan kakak angkatnya yang tak henti menyiksanya.
"Buah hanya bisa berharap jika hewan itu pergi dari dirinya. Namun kenyataannya, semakin buah itu lezat, maka semakin banyak hewan yang mengerumuninya. Buah itu sangat membenci hewan yang memakannya seenaknya. Hewan itulah yang merusak hidup buah itu hingga buah itu menjadi busuk"
Tidak ada yang bisa Izumi lakukan selain berdoa berharap kakak angkatnya akhirnya berbaik hati melepas dirinya. Namun itu hanyalah angan-angan belaka.
Karena kejeniusan Izumi, kakak angkatnya merasa terancam dan makin ingin menghancurkan Izumi dengan berbagai cara. Izumi makin memendam amarah setelah semua siksaan yang didapatnya. Sedikit demi sedikit penyiksaan itu menghancurkan Izumi, hingga akhirnya Izumi terbunuh di tangan mereka.
"Di luarnya tampak mulus dan terlihat manis. Siapa yang akan menyangka didalamnya terdapat banyak ulat yang menggerogoti buah ini?"
Selama ini, Izumi terus berusaha terlihat baik-baik saja di mata orang lain. Namun sebenarnya ia terus menahan rasa sakit itu sendirian.
"Bukankah buah ini sangat kasihan? Dia terlihat lezat dimata buah lainnya hingga bisa membuat buah lain iri, namun kenyataannya, buah ini bahkan lebih buruk dari buah lainnya"
Disisi lain orang-orang yang mengolok Izumi, sebenarnya Izumi selama ini mendengar pujian penuh iri yang membahas soal kejeniusan, asal usul keluarga, dan juga ketampanannya yang melebihi orang lainnya.
Namun, semua itu tidak berarti bagi Izumi, karena Izumi tidak mendapat kebahagiaan atas semua itu. Malah kehidupan orang yang merasa iri pada Izumi itulah yang lebih baik ketimbang kehidupan Izumi sendiri.
"Kesalahan dari buah ini hanya satu, yaitu dia terlalu manis dan enak sehingga menggoda para hewan untuk mengerumuninya. Seandainya buah itu biasa saja, hewan yang mengerumuninya takkan sebanyak ini"
Izumi tidak memiliki masalah dengan sikapnya. Hal yang membuat Izumi mendapat semua itu hanya satu, yaitu Izumi terlalu 'sempurna' bagi semua orang, jadi orang-orang berusaha mencari kesalahan dan kelemahan Izumi untuk menjatuhkannya.
__ADS_1
Izumi menyalahkan takdirnya yang terlahir ditengah keluarga kelas atas dengan kekayaan berlimpah, berpenampilan menarik, juga dengan kejeniusannya, namun bersamaan dengan kehancuran dan perpecahan di keluarganya, yang membuatnya terjun ke dasar jurang kehidupan.
Izumi berpikir, jika saja dia terlahir di keluarga biasa namun harmonis, kehidupannya akan lebih tenang dan bahagia.
*
Refleks kedua tanganku menutup mulutku, dan mataku mulai terasa panas.
"Mengenai foto yang kau temukan itu, seperti yang kau tahu, itu adalah fotoku bersama kakak angkatku, Kirian, Maeru, Rio, Rusen, dan pria dewasa itu adalah ayah angkatku, Tuan Hazuki"
"Dan pria yang sepertinya adalah guru baru saat kita melihatnya di sekolah waktu itu, dia adalah Hazuki Kirian, satu-satunya kakak angkatku yang tersisa. Begitu melihatnya, amarahku langsung memuncak. Ditambah dia yang berpenampilan rapi dan kehidupannya terlihat nyaman, aku tidak bisa menahan emosiku"
"Dulu saat kau diculik Maeru, yang Maeru ucapkan itu benar. Aku adalah monster pembunuh, yang keberadaannya tidak pernah diharapkan"
"Kejadiannya sudah berlalu beberapa tahun lalu, tapi aku masih saja terlarut dalam dendam tak berujung"
"Aku membunuh banyak manusia hanya karena nafsu. Meneror semua orang di sekolah sambil tertawa kencang"
"Aku adalah produk gagal yang ada di dunia ini dengan kedok 'anak jenius' yang memuakkan"
"Tidak seharusnya aku ada di dunia ini. Jadi memang tidak heran kehidupanku seperti itu, itu adalah konsekuensi untuk aku yang sudah hidup"
"Tidak ada yang mengharapkan keberadaanku. Semuanya menganggapku----"
"Berhenti mengatakan omong kosong!" Teriakku dan langsung memeluk erat Izumi
"Jangan seenaknya! Siapa bilang tidak ada yang mengharapkanmu?! Jadi kau tidak menganggap aku, Kagusa, Kei, dan semua bawahanmu selama ini?!" Teriakku
"Izumi juga berhak bahagia! Orang yang sudah terlahir di dunia artinya memang ditakdirkan ada, begitu juga Izumi!"
Rahang Izumi mengeras dan kedua tangannya mengepal erat.
Langsung saja, aku mengelus kepala bagian belakang Izumi sambil menepuk lembut punggungnya. Mataku tidak bisa menahan air mata lagi mendengarnya seakan sangat pasrah pada kehidupannya.
"Pasti sangat sakit, kan? Kau sangat hebat, bisa menahan semua itu sendirian selama ini"
Izumi tersentak. Tubuhnya seketika terasa kaku.
"...."
"Kau... Kau tidak membenciku? Bahkan setelah tahu masa laluku?" Tanya Izumi
"Mana mungkin aku akan membencimu!"
"Aku... Sudah membunuh banyak orang. Apa kau tidak takut padaku?"
"Itu wajar jika Izumi marah pada mereka semua! Jika aku jadi Izumi, tidak hanya orang kelas, tapi seluruh orang di sekolah kuhabisi semua. Tidak, bahkan semua orang yang kukenal akan kuhabisi"
Aku kembali mengelus kepala Izumi dan memendamkan wajahnya ke bahuku.
"Itu tidak mengherankan jika Izumi marah pada mereka semua. Tak kusangka orang-orang begitu tega dan kejam pada Izumi"
"Sekarang aku bisa mengerti kenapa Izumi takut dan tidak ingin aku tahu masa lalumu. Izumi takut aku akan menghindar dan membencimu seperti yang lain, kan?"
".... Ya... Kupikir... Aku tidak bisa bertingkah seenaknya lagi jika kau tau. Semua manusia yang mengenalku akan membenciku. Jadi kupikir hal itu berlaku padamu juga"
"Dasar bodoh!!"
Aku mengakhiri pelukannya dan menatap mata biru Izumi dengan lekat sambil memegang erat kedua bahu Izumi.
"Setelah semua waktu yang kita habiskan, kau pikir aku akan membencimu? Karena alasan tidak mendasar orang-orang yang membencimu sebelumnya?!" Teriakku
__ADS_1
Aku makin mengencangkan peganganku di bahu Izumi dan menundukkan kepala.
"Ah, maaf. Aku sedikit kesal kau seakan menganggapku sama seperti yang lain, tapi aku bisa mengerti. Apalagi kita sudah begitu dekat, aku bisa mengerti kau takut jika hubungan kita tiba-tiba merenggang"
Aku kembali mengangkat kepalaku dan menatap serius Izumi dengan mata memerah karena tak bisa menahan tangis.
"Tapi Izumi, ingatlah kalau aku terus berada di pihakmu apapun yang terjadi! Aku percaya padamu!!"
Aku kembali memeluk Izumi dan mengusap kepalanya.
"Walau kau tidak percaya pada yang lain, setidaknya ingatlah aku, Kagusa dan Kei akan terus ada untukmu"
"Aku yakin akan sangat sulit meyakinkan Izumi. Dia sudah terlalu banyak dibenci dan dilukai orang-orang. Meski dia tahu aku, Kagusa dan Kei akan ada untuknya, pasti dia masih tidak bisa menerima kami sepenuhnya" Pikirku
"Dia tahu, jika dia sudah terlanjur membuka hati untuk orang, dan orang itu mengkhianatinya, lukanya berkali-kali lipat lebih sakit dibanding yang lain. Untuk menghindari hal itu, dia tidak akan mempercayai siapapun kecuali diri sendiri"
"Aku tau hal itu. Tapi tetap saja.... Aku ingin Izumi percaya padaku..."
Aku memeluk Izumi makin erat.
"Kau bisa mengeluarkan keluh kesahmu padaku sekarang. Keluarkan semua hal tidak menyenangkan itu, aku akan mendengarkannya dengan baik"
"Kau pasti ingin mencurahkan isi hatimu selama ini, kan? Tapi selalu kau tahan karena tidak ada tempat yang cocok. Kuharap aku bisa jadi tempat yang tepat untukmu"
Lagi-lagi Izumi tersentak. Badannya tiba-tiba mulai gemetar, dan dia langsung memelukku erat.
"Kenapa... Kenapa? Kenapa semua hal sulit itu tertuju padaku? Kenapa orang-orang membenciku? Padahal aku sudah berusaha sebaik mungkin. Tapi kenapa?!..."
Suara Izumi yang awalnya datar, sekarang berubah jadi terisak dan sedikit gemetar. Izumi yang tadinya dari awal bercerita terus menggunakan wajah datarnya tanpa ekspresi, sekarang menangis di bahuku.
"Selama ini aku terus menahan ego ku. Membunuh dan membuang hatiku agar tidak merasa sakit dan terus menggunakan otak, terus berpikir logis dan tidak mementingkan keinginan diriku sendiri"
"Aku lelah berpura-pura baik-baik saja seakan tidak ada masalah apapun! Aku juga ingin berteriak jika aku marah. Aku juga ingin tersenyum dan tertawa saat aku senang. Bukan tersenyum disaat aku sedih!!"
"Aku tidak mengerti, apa yang mereka irikan dari diriku ini hingga mereka melakukan itu?! Jika bisa memilih, aku tidak akan memilih menjadi diriku yang sekarang!"
"Aku tidak pernah mendapat kasih sayang dari Papa. Mama juga ikut membenciku setelah Papa mati. Kakek yang tidak menganggapku dan membuangku ke keluarga musuh. Lalu keluarga angkat yang tak henti menyiksaku dengan alasan yang tidak jelas"
"Aku terus sendirian dan tidak ada tempat untukku bersandar. Semua tempat terasa berbahaya, tidak ada rumah untukku merasa nyaman dan berbagi cerita. Semua mata yang tertuju padaku sangat tajam dan seram seakan mereka sedang melihat penjahat yang menjadi buronan berbahaya"
"Aku mendapat hukuman dan meminta maaf hingga bersujud tanpa tahu perbuatan apa yang membuatku pantas melakukannya. Aku terus berusaha bertahan hidup meski semuanya seakan mengusirku dari dunia"
"Mereka semua melakukannya seakan berpikir itu tidak akan menyakitiku. Aku sangat benci mereka yang seenaknya berbuat apapun padaku!"
"Aku ingin membalas! Tapi aku yang dulu tidak memiliki kekuatan untuk melawan mereka. Aku terus menahannya!! Terus menahannya hingga bertahun-tahun! Itu sama sekali tidak mudah!!"
"Aku tahu mereka awalnya tidak berpikir untuk membunuhku, dan aku tahu aku terbunuh karena ketidaksengajaan. Tapi bagiku, itu sama saja! Meski saat itu aku tidak tertusuk, tapi di masa depan aku tetap akan mati di tangan mereka karena penyiksaan yang mereka lakukan. Aku sangat marah, mereka terus menyiksaku selama 4 tahun, tapi tidak mendapat balasan apapun"
"Meski sudah bertahun-tahun berlalu, tapi... Semua itu masih terukir jelas di diriku. Tubuhku tidak pernah lupa hal apa saja yang sudah mereka lakukan padaku, dan seberapa sakit yang terus kutahan"
"Aku... Tidak tahan dengan semua itu... Aku tidak kuat dengan semuanya... Setiap saat hariku penuh ketakutan dan gelisah sepanjang waktu. Malam hariku dipenuhi pikiran penyiksaan apa lagi yang akan aku dapat keesokan harinya..."
"... Aku... Aku tidak pernah berharap orang-orang bersikap baik padaku. Setidaknya, aku berharap orang-orang mengabaikanku..."
Izumi makin mengeratkan pelukannya dan memendamkan wajahnya ke bahuku..
"Begitu aku keluar dari buku itu setelah kau membuka segelnya, kupikir kau sama seperti orang lainnya, karena itu aku menerormu. Aku bahkan sempat berpikir untuk membunuhmu juga karena kau bisa melihatku"
"Tapi syukurlah kau terikat padaku meski itu sebuah ketidaksengajaan. Setelah terikat itu, aku tahu ternyata kau masih tidak tahu apapun soal diriku. Karena itu, aku memanfaatkanmu untuk menjadi tempat pelampiasan emosi yang terpendam selama ini"
"Maaf... Karena perbuatan baik yang kau lihat dariku itu juga sebenarnya tidak sepenuhnya baik. Dan... Terima kasih untuk semuanya"
__ADS_1