
"Kau bukan anakku! Jangan berani-berani memanggilku mama!!"
"Rambut itu!! Kau mengambilnya dari Kirein!! Kembalikan Kirein padaku!!"
Aku langsung tersentak.
Aku tidak terlalu sedih pada kematian ayahku, karena sejak awal kenang-kenanganku dengannya hanyalah penyiksaannya terhadap ibu dan ia yang menelantarkanku.
Tapi kalau ibu, aku akan sangat takut meski aku melakukan kesalahan kecil.
Sama sekali tidak pernah terpikirkan olehku kalau ibu akan sangat marah seperti ini hingga ibu juga ikut menelantarkanku seperti ayah.
"Ma... Mama.... Ini Izumi. Mama tenangkan dulu diri mama..." Gumamku sangat panik
"Pergi!!!"
Baru kali ini aku mendengar teriakan ibu sekeras ini selama hidupku. Dan teriakan itu tertuju padaku.
Hidupku yang hancur sekarang kembali hancur didalam kehancuran.
Aku selama ini terus bersandar pada ibu dan menganggap ibu adalah segalanya bagi hidupku. Namun ibu membuangku ditengah kekacauan ini.
Dalam kepanikan, aku jadi semakin bingung, sedih, kaget, dan tidak percaya dengan kenyataan ini.
"Mama... Ini Izumi anak mama..." Gumam panik dan tanpa sadar air mataku mengalir.
"Tidak! Tidak! Aku tidak mempunyai anak!" Teriak ibu sambil menutup kedua telinganya.
Perlahan, aku kembali berjalan mendekati ibu dan berjongkok di hadapannya.
"Apa mama melupakan Izu?" Tanyaku
Ibu menatapku lekat lalu berteriak kencang.
"Kenapa.... Kenapa aku melahirkanmu waktu itu?" Gumam ibu
"Kenapa kau harus ada di dunia ini?"
"Sejak awal kehadiranmu tidak seharusnya ada! Kau tidak seharusnya lahir!!"
"Seandainya... Seandainya saja kau tidak ada..." Gumam ibu dan jatuh pingsan.
Kata-kata yang diucapkan ibu itu sangat memukul batinku yang rapuh.
Setelah mengantar ibu ke rumah sakit dengan bantuan tetangga, aku langsung mengurung diri di kamar.
Aku sama sekali tidak nafsu makan dan tidak bisa tidur karena rasa takut akan dibuang oleh ibu.
Aku bahkan bolos sekolah beberapa hari setelah kejadian itu.
Setelah sekitar seminggu aku menenangkan diri, aku datang ke rumah sakit menemui ibu.
Ibu sedang duduk termenung diatas ranjang rumah sakit sambil menatap keluar dari jendela.
Ibu tampak tenang saat itu. Namun begitu melihatku, ibu langsung mengamuk.
"Pembunuh! Apa yang kau lakukan disini?! Pergi dari hadapanku!!" Teriak ibu
"Pergi! Pergi! Pergi! Pergi!!"
"Kembalikan... Kembalikan Kirein padaku..."
Setelahnya, seorang suster datang dan menyuruhku untuk keluar dulu.
Lalu dokter yang merawat ibu datang mendekatiku.
"Apa kamu anak dari pasien Liliana?"
"Iya, itu saya"
"Ada yang ingin kubicarakan padamu"
Dokter itu pun mengajakku ke ruangannya.
"Sebelum aku mengatakan apa yang ingin kukatakan, ada yang ingin kutanyakan terlebih dahulu"
"Silahkan tanyakan" Gumamku
"Apa ada suatu masalah besar di keluargamu?" Tanya sang dokter
"Iya..." Gumamku
"Apa itu berhubungan dengan ayahmu?"
"Iya... Papa baru saja meninggal sekitar 2 minggu yang lalu..." Gumamku
"Apakah... Kau yang membunuhnya?"
__ADS_1
Aku terdiam sejenak.
"Apa... Salah jika aku ingin melindungi mama?" Tanyaku sambil menundukkan kepala
"Jika aku tidak melakukan apapun saat itu, papa akan membunuh mama. Daripada papa, aku lebih memilih mama terus bersamaku"
"Dan aku juga sama sekali tidak punya niat membunuh papa. Aku hanya ingin menolong mama" Gumamku sambil menangis
"Apa anda bermaksud bilang seharusnya saya membiarkan mama mati dibunuh papa dihadapanku?! Lalu setelahnya dengan pasrah aku membiarkan papa membunuhku karena berpikir aku tidak berguna?!" Teriakku
"Aku melakukannya untuk perlindungan diri. Apa aku salah?!" Teriakku
Dokter itu berdiri lalu mendekatiku. Setelah berada di hadapanku, ia berjongkok dan mengelus kepalaku.
"Aku tidak bermaksud menyalahkanmu. Kau juga sekarang pasti sedang sangat kesulitan di umurmu yang masih sangat kecil untuk masalah sebesar ini"
"Aku mengerti tindakanmu itu memang memiliki dasar. Kau tidak salah"
Dokter itu menungguku hingga aku tenang. Setelahnya, dia langsung masuk ke inti pembicaraannya.
"Ibumu mengalami stres berat akibat kematian ayahmu, dan sekarang dia mengalami gangguan jiwa. Ibumu awalnya tampak biasa saja, namun ketika dia termenung terlalu lama, dia langsung mengamuk sambil terus berteriak memanggil nama Kirein"
"Selain gangguan jiwa, ia juga punya penyakit dalam karena tubuhnya sejak awal memang lemah, lalu ditambah pola makan dan tidur yang sangat buruk. Meski ia terlihat baik-baik saja, tapi itu bisa sangat berbahaya"
"Apa... Yang harus kulakukan?" Tanyaku
"Pertama-tama, bawa keluargamu yang dewasa kemari. Aku bisa menjelaskan padanya lebih lanjut"
Setelahnya, aku pulang dan bertanya pada tetangga.
"Apa? Keluarga? Kau masih mempunyai kakek dari pihak ibumu. Kau datangi saja dia dan beri tahu keadaan ibumu"
"Tapi, aku tidak tahu dimana tempatnya"
"Akan aku beri alamatnya"
Aku pergi menemui kakekku yang aku sendiri tidak tahu bagaimana rupanya. Aku pergi jauh sendirian di umurku yang masih 8 tahun.
Setelah sekitar 1 jam perjalanan, aku berjalan mencari rumah kakek. Dan beberapa menit setelahnya, aku melihat sebuah rumah yang sangat besar dan megah, yang didepannya bertuliskan 'Foren'.
Aku pun berjalan kesana dan menekan tombol bel disamping pagarnya.
Lalu seorang satpam didekat sana menghampiriku
"Siapa?"
"Saya Arato Izumi"
"Maaf, tapi tuan besar tidak ada di kediaman"
"Aku akan menunggunya!"
"Maaf, tolong kembalilah nanti"
Tiiiin!
Datang sebuah mobil mewah. Begitu melihatnya, satpam itu langsung membukakan pagar dan tegap memberi hormat.
Seorang pria tua keluar dari mobil itu. Rambutnya sudah dipenuhi dengan uban dengan mata biru seperti milikku.
"Hm? Siapa dia?" Tanya pria tua itu
"Dia bilang namanya adalah Arato Izumi, tuan besar"
"Arato Izumi?!"
Pria itu langsung berjalan mendekatiku dengan kesal.
"Anda adalah ayah dari Liliana Foren, kan?" Tanyaku
"Melihatmu mengatakannya, artinya sudah pasti kau anaknya yang itu" Gumamnya
"Anda... Anda adalah kakekku, kan?" Tanyaku
"Bukan! Jangan sembarangan bicara!" Teriaknya
"Dulunya Liliana memang anak kesayanganku, tapi sekarang tidak lagi. Dia adalah aib keluarga Foren!" Teriaknya
"Kakek, kumohon tolong mama. Mama sedang sakit"
"Sudah kubilang aku bukan kakekmu!" Teriak kakek dan langsung mendorongku hingga jatuh.
"Aku hanya mempunyai satu putri, dan dia bukanlah ibumu! Aku juga hanya punya satu cucu, dan itu bukan dirimu!!"
"Sekarang pergi dari sini! Jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ini!!"
Tap... Tap... Tap... Tap...
__ADS_1
Lalu datang seorang wanita berambut merah dan bermata biru sambil menggendong anak laki-laki yang memiliki rambut biru tua dan bermata biru cerah.
"Ayah, selamat datang. Aku dengar tadi ayah berteriak, ada apa?" Tanyanya
"Rose..." Gumam kakek
Aku melirik kearah wanita itu.
"Apa dia adalah adik ibu?" Pikirku
Wanita itu adalah Rosaline Foren, adik dari ibu dan merupakan bibiku. Lalu anak laki-laki di gendongannya itu adalah anaknya yang merupakan adik sepupuku, Meguru Kinshiki.
Wanita itu menatapku.
"Ayah, siapa dia?"
"Bukan siapa-siapa. Kau dan Kinshiki masuklah kedalam lebih dulu. Aku akan mengurusnya"
"Eh, tunggu. Mata dan rambut itu, apa mungkin kau Izumi? Putra dari kak Lili?" Tanyanya
"Dia siapa, ma?" Tanya anak laki-laki di gendongan bibi
"Dia kakak sepupu Shiki. Cepat beri salam padanya"
"Halo, kakak!"
Aku sedikit tersentak mendengar anak laki-laki itu memanggilku kakak.
Aku sangat menginginkan seorang adik, namun entah mengapa aku sama sekali tidak merasa senang dipanggil kakak olehnya.
Wanita yang merupakan bibi ku itu berjalan mendekatiku lalu membungkuk membantuku berdiri dan mengusap kepalaku.
"Izumi, ada apa kau kemari? Bagaimana keadaan ibumu?" Tanyanya
"Rose! Kau adalah penerus keluarga ini. Bersikaplah lebih anggun"
"Tidak ada siapapun disini, ayah. Izumi juga adalah bagian dari keluarga ini. Dia datang kesini pasti ada alasan"
"Jadi, ada apa kau kemari?"
"Mama... Sedang sakit. Dokter menyuruhku membawa orang dewasa menemuinya" Gumamku
"Kau kan bisa meminta ayahmu menemui dokternya. Tidak mungkin kan ayahmu tidak tahu?" Tanya bibi
"Papa... Meninggal 2 minggu yang lalu. Ibu sakit juga masih ada hubungannya dengan papa" Gumamku
"Astaga... Aku kira itu hanya rumor belaka yang bilang ayahmu meninggal. Ternyata itu sungguhan? Rasanya itu tidak mungkin..."
Brak!!
Kakek memukul keras pintu mobil yang ada disampingnya dengan kesal.
"Dasar wanita itu! Bahkan sampai sekarang pun dia masih saja melakukan hal tidak berguna!" Gumam kakek kesal
"Mau sampai kapan ayah akan terus seperti ini pada kak Lili? Kakak sedang sakit, ayah. Kita harus menolongnya"
"Aku tidak akan pernah sudi dengan sukarela membantunya seperti itu! Tidak akan pernah!! Bahkan setelah dia mati pun aku tidak akan memaafkannya!!" Teriak kakek
"Ayah!!" Teriak bibi
"Mau bagaimanapun dan sampai kapanpun kak Lili akan tetap jadi kakakku, dan Izumi juga tetap jadi keponakanku dan cucu ayah. Jadi, untuk kali ini saja bantu kakak dan Izumi"
"Kak Kirein juga baru saja meninggal. Keadaan kak Lili dan Izumi pasti sedang buruk"
"Walau begitu mereka sekarang tidak ada hubungannya dengan kita!"
"Kalau begitu, aku dan Kinshiki juga akan keluar dari keluarga ini!" Teriak bibi
"Rosaline! Apa yang kau lakukan?!"
"Dengan keadaanku yang sekarang, meski aku tidak mendapat warisan ayah sekalipun, kami bisa hidup dengan baik"
"Selama ini aku dan kakak hidup terus mengikuti kemauan ayah. Tapi begitu kakak memberontak sekali, ayah langsung membuangnya. Ayah juga pasti akan seperti itu juga padaku, kan?"
"Jadi, kalau satu keinginanku yang ini tidak bisa dikabulkan ayah, lebih baik kami pergi saja dari rumah ini. Dengan begitu, aku juga bisa pindah ke luar negri mengikuti suamiku disana"
Kakek terdiam lalu menghela nafas.
"Mana mungkin aku membuangmu. Kau adalah satu-satunya milikku"
"Kalau begitu aku ingin ayah menyetujui untuk aku menemui kakak"
"Tidak bisa. Aku akan mengutus orang untuk menemui dokter itu besok. Kau tidak perlu pergi kemanapun"
"Sekali saja. Hanya sekali saja, aku ingin bertemu kakak. Kami sudah tidak bertemu 9 tahun sejak kakak menikah. Setelah itu aku tidak akan bertemu dengannya lagi"
"Hanya sekali saja, dan ini terakhir kalinya kau bisa bertemu dengannya" Tegas kakek
__ADS_1
"Ya!"
"Baiklah, akan kuizinkan"