
Setelah semua hal rumit itu selesai, aku pulang ke rumah.
Dan setelah sejam aku berada dirumah, aku menyadari sesuatu.
"Yui tidak ada. Dia pergi kemana, ya?" Pikirku
Bersamaan aku yang berpikir seperti itu, Kagusa datang menemuiku.
"Hai, Yurin. Sepertinya nanti malam aku tidak bisa datang kesini gara2 Izumi. Jadi laporannya kita lakukan sekarang saja"
"Baiklah, jadi..."
Aku menceritakan bagaimana Izumi yang menggerutu soal pekerjaannya hingga aku yang dihadang para preman.
"Preman itu sungguh tidak sayang pada nyawanya. Dia tidak tahu siapa yang ada di belakang gadis kita ini. Kasihan sekali, tak lama lagi, mereka akan menjadi roh karena satu kesalahan fatal mereka"
"Aku sudah melarang Izumi untuk melakukan hal berlebihan. Jika dia masih berani melakukannya, aku akan marah"
"Seram..." Gumam Kagusa
"Lalu, bagaimana dengan Izumi saat bersama kalian?" Tanyaku
"Kali ini pun tidak ada yang khusus. Izumi dan aku hanya diskusi mengenai keberlangsungan wilayah ini dan untuk rencana kedepan. Setelahnya dia sibuk mengunjungi wilayah perbatasan untuk mengawasi agar tidak ada musuh yang masuk. Dan seperti yang kau tau, dia lari begitu saja dari tugasnya dengan alasan lelah"
"Memangnya, tugas apa saja yang diemban para pemimpin, dan sesulit apa hingga Izumi yang itu kelelahan" Tanyaku
"Yaah, para pemimpin harus memperhatikan dan mengurus seluruh wilayah kekuasaannya, mendidik para bawahan dan bekerjasama dengan mereka untuk melawan musuh, memperkirakan hal apa yang akan terjadi di masa depan baik itu mengenai para bawahannya ataupun wilayah, berdiskusi dengan roh kepercayaannya, memimpin perang wilayah, merancang strategi perang, dan banyak lagi"
"Itu tugas umum para pemimpin"
"Tunggu! Jika itu tugas umum, artinya ada tugas khusus, kan?" Tanyaku
"Ditambah lagi, Izumi itu menjadi pemimpin sendirian, di roh baik maupun jahat! Jadi wajar jika dia kelelahan"
"Apa, sih? Izumi itu tidak sendirian. Dia selalu melempar tugasnya padaku dan Kei. Apalagi Kei itu, dia terlalu menurut pada perkataan Izumi sampai dia dikuras habis oleh Izumi" Ucap Kagusa santai
"Benarkah?" Tanyaku kembali memastikan
"Benar! Ah, omong-omong, aku sudah mau kembali ke sekolah. Nanti Izumi bisa curiga aku pergi terlalu lama. Sampai jumpa lagi, Yurin"
"Ya"
Kagusa pun menghilang dari pandanganku.
"Ah, benar juga. Tadi aku lupa menaruh sepatuku ke rak sepatu karena terburu-buru masuk" Pikirku
Aku pun berjalan keluar kamar dengan tidak mengeluarkan suara sama sekali.
Begitu aku membuka pintu, aku dikagetkan oleh Yui yang ada di depan pintu kamarku.
"Ah, hai Ririn" Ucap Yui gugup
"Yui? Kenapa kau di depan pintu kamarku? Dan lagi, tadi kau pergi kemana?"
__ADS_1
"Aaa... Aku salah masuk kamar. Karena kelelahan, aku jadi salah mau masuk ke kamarmu"
"Salah masuk? Kelelahan?" Tanyaku
"I... Iya"
"Memangnya kau habis dari mana dan ngapain sampai kelelahan?" Tanyaku
"Aku? Aku... tadi pergi ke rumah temanku. Iya! Kerja kelompok! Kami kerja kelompok. Aku pergi tak lama setelah kau pergi"
"Kerja kelompok tiba-tiba?"
"Aku lupa kalau hari ini ada kerja kelompok. Aku baru teringat saat teman kelompokku menelponku"
"Sudah, ya. Aku agak ngantuk jadi mau tidur dulu" Ucap Yui gugup dan langsung pergi ke kamarnya
"Yui... Rasanya jadi aneh" Pikirku
"Kalau dipikir lagi, setiap aku pergi keluar sendirian, saat aku pulang Yui selalu tidak ada di rumah dan dia pulang paling cepat sejam setelah aku pulang"
"Setiap aku bertanya dia dari mana dan ngapain setelah pulang seperti sekarang, dia selalu menggunakan alasan bertemu teman kelasnya dengan ekspresi panik. Sudah jelas dia berbohong"
"Pasti ada sesuatu yang Yui sembunyikan padaku, sama sepertiku yang menyembunyikan kenyataan aku bisa melihat dan berkomunikasi dengan hantu pada Yui"
*
Di malam hari...
Syuuush...
"Izumi, akhirnya kau datang juga!" Ucapku kesal
"E... Eh?" Izumi kaget karena aku langsung mengeluarkan aura hitam begitu dia datang.
Aku berdiri, berjalan mendekati Izumi dan menarik kerah bajunya.
"Sekarang coba jelaskan padaku kenapa kau pergi tadi?!" Tanyaku dingin
"Ke... Kenapa kau marah?" Tanya Izumi
"Cepat jawab!!" Bentakku
"Aku... sedang mengancam para roh di rumah sakit itu agar tidak mengganggumu seperti sebelumnya kau ke rumah sakit..."
"Karena itu saat aku di rumah sakit para roh itu terlihat menghindariku. Tapi..." Pikirku
"Tetap saja, pada akhirnya aku diganggu oleh para preman itu!! Kau juga sangat, sangat, sangat lama datang dan meninggalkanku sendirian!!"
"Aku sudah mencarimu di seluruh ruangan di bangunan rumah sakit itu dan di sekitarnya karena kupikir kau tersesat. Aku sama sekali tak terpikirkan kau pergi ke tempat menjijikkan itu! Dan aku juga tak bermaksud meninggalkanmu"
"Tetap saja, ini salahmu yang lama datang!!"
"Aku sudah melarangmu datang ke rumah sakit. Dan aku juga bilang jangan menyesal nanti, tapi kau tak dengar dan sekarang menyesalinya"
__ADS_1
"Tetap saja salah Izumi!! Kau seharusnya melindungiku terus!" Bentakku
"Iya, iya. Baiklah, ini salahku. Maaf"
Akhirnya, aku menang di pertengkaran kecil ini karena Izumi yang mengalah.
*
Setelah amarahku soal kejadian tadi siang mereda, pikiranku sekarang sudah bisa kembali berjalan.
"Omong-omong, Izumi. Kau masih belum memberitahuku 'dia' yang dimaksud ibumu itu siapa"
Izumi tersentak oleh perkataanku.
"Dia?" Tanya Izumi
"Iya, orang yang selalu ibumu bicarakan. Awalnya kupikir 'dia' itu kau, tapi sekarang aku jadi agak ragu"
"Apa kau punya saudara, Izumi?" Tanyaku
Izumi terdiam dengan matanya yang kosong.
"Izumi?"
Izumi kembali tersadarkan begitu kupanggil.
"Tidak, aku tidak punya saudara. Aku anak tunggal"
"Dan mengenai soal 'dia', aku juga bingung bagaimana menjelaskannya"
"Hubungan Izumi dan ibunya benar-benar ambigu. Keduanya sama-sama tidak tahu bagaimana keterikatan mereka berdua sebagai orang tua dan anak" Pikirku
"Intinya, 'dia' itu adalah aku, tapi juga bukan diriku"
"Maksudmu?"
"Ah, sudah saatnya aku ke perbatasan menemui Kei. Aku pergi dulu"
Izumi langsung pergi begitu saja tanpa menjelaskan lebih lanjut.
"Teka-tekinya semakin lama semakin banyak, baik itu mengenai Izumi ataupun sikap Yui" Pikirku
Aku pun kembali berpikir.
"Mengenai Yui, aku sama sekali tidak tahu dan tidak ada petunjuk mengenai hal yang dia sembunyikan. Dan aku juga tidak ada niat mengetahuinya lebih banyak lagi karena Yui pasti punya alasan menyembunyikannya dariku" Pikirku
"Tapi untuk masalah Izumi ini, walau aku tidak tahu tapi Izumi dan ibunya sudah memberiku petunjuk"
"Secara kasar, aku bisa menyimpulkan kalau 'dia' itu memang benar Izumi walau aku tidak tahu bagaimana ceritanya 'dia' itu juga bukan Izumi"
"Dan aku sedikit bingung. Apa alasan Izumi menyembunyikan jati dirinya dariku? Padahal kami sudah sedekat ini dan sama-sama punya ikatan yang menyangkut nyawa" Pikirku
Aku menghela nafas dan menatap buku Izumi yang ada di meja belajarku.
__ADS_1
"Jangan terburu-buru, Yurin. Izumi juga pasti punya alasan pribadi tidak memberi tahunya. Tunggu saja sampai dia memberi tahu sendiri"
"Ayo fokus pada kehidupanmu sendiri"