
*
**
"Nah, sekarang masukkan kristal hati merah itu"
Aku pun mengarahkan kristal hati merah itu ke dada. Dengan sendirinya kristal itu masuk ke tubuhku.
Aku bisa merasakan kekuatan yang besar menyelimuti tubuhku.
"Jadi ini rasanya, kekuatan pemimpin" Gumamku
"Sekarang kau sudah menjadi pemimpin di kedua jenis roh, dan aku akan menjadi tangan kananmu di roh baik. Lalu, aku juga merekomendasikan satu roh jahat yang akan jadi tangan kiri mu. Dia jugalah yang membantuku melenyapkan pemimpin roh jahat sebelumnya"
Wush...
Datanglah seorang roh dengan rambut dan mata merah.
Untuk beberapa saat aku dan dia saling menatap satu sama lain dalam diam.
Lalu dia tiba-tiba membungkuk di hadapanku.
"Maaf atas kelancangannya. Saya Kei yang menjadi tangan kanan pemimpin roh jahat sebelumnya" Ucapnya
"Kenapa kau membungkuk?" Tanyaku
"Karena anda atasan saya. Dan saya akan mengabdikan diri saya untuk anda, Tuan Izumi" Jawabnya
"Aku tidak perlu hal seperti itu. Aku tidak perlu tangan kanan ataupun tangan kiri"
"Apakah anda membuang saya, Tuan Izumi?" Tanya Kei
"Aku hanya memberi kebebasan untukmu" Jawabku
"Sekarang kau boleh berdiri" Lanjutku
Kei pun berdiri lalu berdiri tegap dengan tangan kanannya di dada.
"Kalau begitu, saya memutuskan untuk menjadi tangan kiri anda yang setia"
"Kau aneh. Baru bertemu tapi kau berani bilang seperti itu" Ucapku curiga
"Jangan khawatir. Kei tidak akan berkhianat" Ucap Kagusa
"Sebenarnya, saya dan Kagusa sudah mengawasi Tuan Izumi bahkan sejak Tuan masih hidup"
"Saya dan Kagusa memiliki selera yang mirip, tapi kepribadian kami bertentangan. Jadi Kagusa tidak langsung mengajakku bekerja sama, dan menawarinya pada Tuan lebih dulu"
"Aku tidak mengerti apa yang menarik dariku hingga kalian mau jadi bawahanku"
"Kau sangat logis dan memiliki jiwa kepemimpinan. Kau cocok menjadi pemimpin dan mengatur hal-hal. Hanya saja aura itu terpendam karena situasi yang buruk di sekitarmu. Itu yang membuat kami tertarik"
"Mereka tipe babu yang pemilih untuk roh yang akan jadi majikannya" Pikirku
"Selain itu... Kita bertiga mirip untuk beberapa hal. Jadi kita bisa bekerja sama lebih baik" Lanjut Kagusa
"Mirip?" Tanyaku
"Banyak hal yang terjadi. Meski kami berdua di zaman yang berbeda denganmu, tapi permasalahannya tidak jauh beda"
"...." Aku terdiam sebentar, lalu berjongkok di hadapan mereka.
"Tuan! Apa yang anda lakukan?!" Tanya Kei
"Aku, Arato Izumi sebagai pemimpin roh baik dan jahat yang baru, bersumpah akan berusaha keras membangkitkan kembali wilayah sekolah hingga mendapat kejayaan"
"Dan sebagai roh yang mendapat posisi ini langsung dari pemimpin roh baik sebelumnya, Ikawa Kagusa, aku tidak akan bermusuhan dengannya dan akan mendukungnya di situasi apapun"
"Aku akan percaya pada kalian berdua bukan sebagai atasan dan bawahan, tapi sebagai Izumi, Kagusa, dan Kei"
Kagusa dan Kei terdiam sambil menatapku tak percaya.
1 detik kemudian, mereka berdua tersenyum senang.
"Jadi, kau sudah menganggap kami teman?" Tanya Kagusa semangat
"Saya akan berusaha agar Tuan tidak kecewa sudah percaya pada saya!" Ucap Kei senang
Kagusa berjalan mendekatiku lalu mengulurkan tangannya.
"Berdirilah Izumi. Oh, bukan. Pemimpin"
"Aku tidak pantas dipanggil seperti itu olehmu" Ucapku sambil tersenyum tipis
"Ayolah~ Kau adalah pemimpin sekarang"
"Aku masih tidak terbiasa"
"Tolong dibiasakan. Karena roh lain akan memanggilmu seperti itu kedepannya"
__ADS_1
"..." Aku tidak menanggapi ucapan Kagusa
"Sekarang yang lain pasti sudah bisa merasakan kalau posisi pemimpin sudah berganti. Aku harus memanggil mereka" Gumam Kagusa
Kagusa menjentikkan jarinya.
Benar saja, roh bermunculan hingga memenuhi seluruh tempat di gedung sekolah, bahkan lapangan sekolah penuh dengan roh, hingga ke jalan raya.
Para roh terbagi 2. Di sebelah kananku semuanya roh baik, dan di sebelah kiriku adalah roh jahat.
Aku terdiam sejenak karena ini terlalu tiba-tiba.
Aku berjalan mendekati jendela dan membukanya.
Para roh itu serempak langsung berjongkok memberi hormat.
"Salam untuk pemimpin baru wilayah sekolah!!" Teriak mereka serempak
"..." Aku terdiam tidak bisa berkata-kata
"Hey, cepat beri salam juga, dan katakan apa yang mau kau katakan pada kami" Bisik Kagusa
"Hal ini... Situasi ini... Aku tidak pernah terpikirkan ini semua akan ada di jalan takdirku" Pikirku
Aku menarik nafas panjang, dan mulai bicara dengan wajah serius dan suara tegas.
"Halo, semuanya. Aku Arato Izumi, pemimpin baru roh baik dan jahat di wilayah ini. Pertama-tama, terima kasih untuk kalian semua sudah datang ke sini. Lalu..."
"Jangan berharap aturan dari pemimpin roh sebelumnya akan sama dengan peraturan dariku. Aku tidak akan segan jika kalian berani berbuat macam-macam!!" Ancamku
"Aturan dariku tidaklah sulit"
Aku menjentikkan jariku lalu muncul banyak serpihan kekuatan dan masuk ke setiap roh di sekolah, mau itu roh baik, jahat, bahkan ke Kagusa dan juga Kei.
Mereka semua tampak bingung sambil melihat sekeliling tubuh mereka masing-masing.
"Peraturan pertama yang kubuat..."
"Jangan pernah sesekali kalian berani membicarakan kehidupanku, baik didepanku secara langsung, ataupun di belakangku!!"
"Aku sudah memberikan segel ke kalian semua tanpa terkecuali. Jika kalian melanggar aturan yang kubuat dan masih membicarakannya, mau secara terang-terangan atau secara halus, segel itu akan aktif dan akan mengurung jiwa kalian di bawah tanah" Lanjutku
Aku sejujurnya sangat, sangat benci pada diriku sendiri. Dibanding siapapun, aku paling benci pada diriku sendiri. Jadi kalau mendengar ada yang membicarakan kehidupanku, mau itu hal baik atau hal buruk, aku jadi sangat marah.
Karena menurutku, semua yang kualami adalah hal buruk, dan tak seharusnya aku terlahir dan ada di dunia ini.
Aku benci.... Pada diriku yang begitu pengecut, penakut, dan menyedihkan.
Dan yang lebih parah lagi, aku tahu kalau aku sudah egois dan melakukan penyalahgunaan kekuasaan dengan memaksa mereka semua mengikuti keinginan pribadiku, tapi aku masih melakukannya tanpa terlihat menyesal.
*
Semuanya terdiam menunduk ketakutan mendengar teriakanku yang lantang pada mereka semua.
"Peraturan kedua...."
"Ikuti semua perintahku! Karena semua yang kulakukan juga demi wilayah ini!"
"Kalian tidak perlu loyal hingga ke titik terus menempel padaku. Cukup mengikuti apa yang kusuruh dan setelahnya kalian bisa melakukan hal yang kalian inginkan dengan bebas"
"Peraturan ketiga, ini untuk tambahan dari peraturan pertama dan kedua...."
"Jangan berkecil hati jika kalian ku kurung setelah melanggar kedua peraturan itu. Kalian mendapat hukuman dilihat dari seberapa parah kesalahan kalian. Dan jika sudah menyangkut keselamatan wilayah ini, aku takkan ragu melenyapkan kalian tanpa belas kasih"
"Tentu saja, jika kalian melakukan hal yang menguntungkan wilayah ini, aku juga akan memberi kalian hadiah"
Aku terdiam beberapa detik lalu melirik ke kiri, dimana tempat para roh jahat berkumpul.
"Kalian para roh jahat, aku tahu perasaan kalian karena selama 2 tahun, bahkan beberapa jam yang lalu aku juga sama seperti kalian. Kalian mau saling bertengkar antar kelompok, aku tidak terlalu mempermasalahkannya karena itu memang nafsu bawaan roh jahat"
"Tapi sekali lagi ku katakan, ikuti perintahku! Aku tidak akan meminta waktu kalian bekerja hingga 24 jam, dan setelah selesai kalian kerjakan, aku tidak mempermasalahkan apa yang kalian lakukan selanjutnya asalkan tidak menimbulkan masalah untuk wilayah"
Aku mengalihkan tatapanku ke kanan menatap gerombolan para roh baik.
"Dan untuk kalian roh baik, Jangan berharap aku akan memperlakukan kalian lebih baik dari roh jahat! Aku memperlakukan kalian semua sama tergantung sikap kalian terhadapku"
"Apa kalian mengerti?!" Teriakku tegas
"Ya, pemimpin!!" Jawab mereka serempak
"Lalu ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan pada kalian" Lanjutku
"Jangan panggil aku pemimpin, aku tidak butuh sikap formal kalian, cukup panggil namaku saja tanpa ada tambahan apapun"
Kagusa yang mendengarnya dari belakangku langsung tercengang membatu.
"A... Apa yang kau... Katakan..." Gumam Kagusa tak percaya
Aku melirik ke belakang menatap Kagusa.
__ADS_1
"Aku sudah bilang sebelumnya berkali-kali, aku tidak mau jadi pemimpin" Ucapku dengan suara kecil agar tidak ada roh lain yang dengar
Aku kembali menatap ke depan di hadapan para roh yang masih berjongkok sambil menunduk hormat di hadapanku.
"Hanya itu yang mau ku katakan pada kalian. Kalian boleh bubar"
"Baik, pemimpin!"
"Baik, Izumi"
Terdengar 2 panggilan yang bersatu dari teriakan mereka.
Aku terdiam dengan wajah bete. Sedangkan Kagusa terlihat pucat sambil menutupi wajahnya dengan tangan karena frustasi, terlalu banyak hal tak terduga hari ini.
"Pemim--- Izumi, jangan meledak, ya" Gumam Kagusa
"Baru saja selesai aku katakan tadi, s**udah kubilang panggil aku dengan namaku! Kalian tidak mengerti**?" Tanyaku
"Maaf, Izumi" Ucap mereka ragu
"Baiklah. Silahkan kembali melakukan aktivitas kalian"
Mereka pun mulai menghilang pergi teleportasi entah kemana dengan wajah pucat ketakutan.
Saat sudah sepi dan tersisa aku bersama Kagusa dan Kei, Kagusa angkat suara lebih dulu.
"Mereka masih tidak biasa memanggil pemimpin mereka dengan panggilan nama akrab. Selama ini mau di wilayah manapun, yang namanya pemimpin roh, ya dipanggil pemimpin. Jadi jangan marah kalau ada yang keceplosan tak sengaja memanggilmu pemimpin" Ucap Kagusa yang wajahnya masih terlihat pucat
"Entahlah. Aku tidak tahu bagaimana kedepannya. Tapi kalau mereka tidak bodoh, seharusnya hal itu tidak terulang lagi"
"Entah kenapa aku merasa tersinggung" Gumam Kagusa, teringat dia mau memanggil Izumi dengan pemimpin tapi tidak terselesaikan sebelumnya.
"...." Kei terdiam dengan wajah serius. Sepertinya dia sedang berpikir serius
"Tuan, jika saya memanggil anda Tuan tidak masalah, kan?" Tanya Kei
"Sudah kubilang, panggil aku dengan namaku tanpa tambahan apapun" Ulangku frustasi
"Tapi saya lebih nyaman berbicara formal"
"Aku lebih suka bicara santai"
Ya. Hidupku dulu sudah penuh dengan hal-hal formal. Berbicara dengan orang lebih tua harus menggunakan panggilan saya - anda. Saat makan harus tetap terlihat elegan dan diharuskan menggunakan garpu dan sendok, dan memotong daging menggunakan pisau. Cara berjalan yang tegap dan mantap, ataupun menahan emosi agar tetap terlihat tenang dimata orang lain.
Aku sudah lelah melakukan rutinitas yang sudah menjadi kebiasaan itu.
Meski masih ada beberapa kebiasaan itu masih menempel padaku, tapi aku ingin mereka tidak melihatku tinggi.
*
"Tapi selagi saya tidak memanggil Tuan dengan pemimpin, itu tidak masalah, kan?" Tanya Kei
"Kau tau? Malah kau yang memanggilku Tuan itu lebih menggangguku. Itu malah membuatku terlihat seperti pemilik dari seekor anjing penjaga yang setia"
"Saya tidak masalah menjadi apapun untuk Tuan" Jawab Kei polos
"Apa yang... Kau katakan?" Gumamku tak percaya
"Demi Tuan, bahkan jika anda ingin saya menaklukkan dunia, saya akan berusaha melakukannya karena anda Tuan saya. Karena itu, izinkan saya memanggil anda Tuan seperti seharusnya"
"Apa ada masalah pada otakmu? Kau tidak habis terbentur sesuatu, kan? Atau terkena serangan di kepala?" Tanyaku sambil melihat sekeliling tubuh Kei dengan seksama
"Tidak, Tuan"
"Kalau begitu, tidak ada alasan lain selain kau bodoh" Gumamku
"Saya tidak masalah menjadi bodoh seperti yang diharapkan Tuan" Ucap Kei dengan wajah serius nan polosnya
Aku tercengang tak percaya menatap Kei.
Aku menghela nafas panjang sambil memegang kepalaku pusing.
"Ya, ya, terserah kau mau memanggilku apa"
Aku kalah dari keloyalan Kei.
"Kalau begitu, aku juga boleh memanggilmu pemimpin kan, pemimpin?" Tanya Kagusa
Aku langsung menatap tajam Kagusa.
"Eh? Kenapa? Kei boleh, masa aku tidak boleh?" Ucap Kagusa polos
"Ya, pemimpin? Aku boleh kan memanggil anda pemim----"
Belum selesai Kagusa mengucapkannya, aku sudah mengacungkan jari tengah ku padanya dengan kesal lebih dulu.
"Jangan buat kepalaku pusing 2 kali" Ancamku
"Kenapa begituuuuuuuuuuuuuu??!" Teriak Kagusa tak terima
__ADS_1