
*
**
Jam istirahat berbunyi.
Dan benar saja, baru saja guru keluar, Kirian, Maeru, Rio dan Rusen sudah mengepungku.
"Apa maksudmu melakukan itu, hah? Kau mau mempermalukanku?" Tanya Kirian sambil mencengkeram kerah bajuku.
Aku tidak mengeluarkan ekspresi apapun.
"Pukul saja aku, dan cepat pergi" Pikirku
Melihat aku tidak menunjukkan reaksi apapun, amarah Kirian makin memuncak.
Bruk!!
Dia langsung membenturkan tubuhku ke dinding.
"Jangan macam-macam denganku!! Aku bisa melakukan apapun padamu. Camkan itu!!"
"Ayo pergi semuanya!"
Mereka berempat pun pergi dengan kesal, dan aku masih dalam posisi tadi.
"..."
"Tidak akan... Bisa... Jika seperti ini terus...." Gumamku
*
Baru hari pertama masuk SMA, tapi rasanya ini jauh, jauh lebih parah dari kehidupanku di SD ataupun SMP.
Sejak mereka tahu hubunganku dengan Kakak beradik Hazuki itu buruk, mereka semua menatapku dengan sinis.
"Jangan melawan Maeru. Meski aku tidak tahu masalah apa diantara mereka, tapi kita harus mendukung Maeru" Bisik mereka
"Iya. Aku tidak mau dikucilkan karena membelanya" Bisik yang lain
Orang-orang di kelas terus berbisik-bisik membicarakan hubunganku dengan kakak beradik Hazuki hingga kepalaku terasa sakit.
Aku akhirnya pergi ke toilet untuk membasuh wajah.
Aku mengusap wajahku menggunakan air dan menatap pantulan diriku di cermin.
"3 tahun. Hanya 3 tahun lagi, dan setelahnya aku tidak akan bertemu mereka lagi" Gumamku
"Selama itu... Aku harus bertahan..." Gumamku dan mengepalkan tangan dengan erat.
Teng... Teng... Teng...
Bel pertanda jam istirahat selesai pun berbunyi.
Aku berjalan kemabli ke kelas.
Begitu aku kembali, di kursi dan mejaku penuh dengan sampah. Orang di kelas hanya melirik ke arahku, dan sebagian lainnya diam-diam tertawa.
Maeru berjalan mendekatiku dan menaruh tangannya ke pundakku.
"Lho? Siapa yang menaruh sampah disini?" Tanya Maeru
"Kasihan sekali~ Padahal di hari pertama sekolah~" Gumam Maeru sambil menatapku tajam, seakan menikmati kejadian ini.
"Hihihihi"
"Hahahaha!"
"...." Aku hanya diam saja dan memberesihkan semua sampah itu.
Tak lama setelahnya, guru selanjutnya masuk.
*
**
Saat makan malam...
"Bagaimana hari pertama sekolah kalian?" Tanya Tuan Hazuki
"Sangat mengesalkan. Ada seorang bocah ingusan mempermalukanku didepan semuanya!" Ucap Kirian kesal
"Siapa yang berani melawan Kirian? Artinya dia memandang rendah keluarga Hazuki"
Kirian langsung menyeringai.
"Bocah itu adalah anak yang papa pungut dari keluarga Foren"
Tuan Hazuki melirik ke arahku.
"Arato Izumi" Panggil Tuan Hazuki datar
"Apa yang kau lakukan pada Kirian?"
"Terserah. Aku tidak peduli bagaimana kau memandangku. Sejak awal juga kau memang tidak memperhatikanku, tidak ada alasan aku harus mengikuti perintahmu" Pikirku
Aku hanya diam saja tidak menanggapi pertanyaan Tuan Hazuki hingga emosinya sedikit tersulut.
Brak!!
"Arato Izumi, aku sedang bicara padamu!!"
Tuan Hazuki menggebrak meja sambil berteriak.
"...Saya tidak melakukan apapun..." Gumamku
"Katakan yang sejujurnya padaku, dasar anak terkutuk!!" Teriak Tuan Hazuki
Aku langsung tersentak.
__ADS_1
"Memangnya anda akan percaya jika saya bicara? Meski saya mengatakan yang sebenarnya, anda pasti lebih percaya pada anak anda ketimbang saya. Jadi kenapa tidak bertanya padanya saja?" Ucapku datar
Emosi tuan Hazuki makin tersulut oleh ucapanku.
"Kau sekarang jadi makin kurang ajar!! Memang tidak salah kau dari keluarga Arato! Kalian semuanya memang tidak ada adab!" Teriak Tuan Hazuki
Tanpa sadar bibirku menyeringai mendengar itu.
Aku melirik ke arah Tuan Hazuki.
"Maaf, saya sejak lahir tidak pernah mendapat kasih sayang dari ayah saya. Ibu saya juga sekarang seperti ini. Jadi memang tidak salah ucapan anda kalau saya kurang ajar, karena saya memang tidak diajari"
Aku berdiri lalu berjalan keluar dari ruang makan.
"Saya tidak lapar. Jadi saya permisi kembali ke kamar lebih dulu. Kalian bisa lanjutkan makan sambil berbincang"
Tubuh Tuan Hazuki gemetar karena menahan amarah.
*
Begitu masuk ke kamar, aku baru menyadari kalau yang aku lakukan tadi adalah kesalahan besar.
"Apa yang tadi kulakukan?" Pikirku
"Aku jadi tersulut emosi karena paman menyebutku anak terkutuk" Pikirku
Aku meremas rambutku dengan kuat hingga beberapa helai rambutku tercabut.
Perasaan bersalah mulai menyelimuti diriku.
Tapi di satu sisi yang lain, aku merasa apa yang kulakukan tidaklah salah.
"Memangnya... Apa yang salah dari ucapanku tadi? Aku hanya mengatakan kenyataan..." Gumamku
"Jika dibanding dengan ucapan paman yang menyebutku anak terkutuk, yang aku ucapkan itu bukanlah apa-apa. Untuk apa aku merasa bersalah?" Gumamku
Aku yang sebelumnya hanya diam saja saat di bully, sekarang mulai merasa tidak adil dan memberontak.
Aku melepas genggamanku yang meremas rambutku dan mendongak.
"Yang kulakukan... Tidaklah salah..." Gumamku
*
Keesokan harinya, di sekolah.
Saat pelajaran dimulai, aku aktif dalam belajar sama seperti biasanya.
Aku tidak lagi berniat menyembunyikan kejeniusanku.
Karena jika aku menyembunyikannya, itu sama saja seperti aku mengalah dari para Tuan Muda Hazuki itu.
Dan apapun yang kulakukan, akhirnya sama saja mereka pasti akan menyiksaku apapun alasannya.
Tapi, meski aku mulai keluar dari zona pertahananku yang biasanya, aku masih merasa takut pada mereka.
Bagaimanapun, aku adalah korban dan mereka pelaku. Hal itu masih melekat kuat di otakku.
*
"Izumi! Kau mulai berlagak ya sekarang!" Teriak Rio
"Ayolah~ Jangan buat kami harus melakukan kekerasan~" Gumam Rusen
Seperti biasa, mereka mengepungku, dan kali ini di toilet.
Aku hanya memalingkan penglihatanku ke bawah menghindari tatapan mereka.
Kirian langsung mencengkeram kerah bajuku.
"Kau itu padahal lemah tapi sok kuat. Jangan melawan!!" Teriak Kirian lalu memukulku.
Melihat Kirian mulai memukulku, 3 lainnya ikut memukulku juga.
Beberapa menit mereka memukuliku, mereka akhirnya pergi begitu saja meninggalkanku yang terbaring di lantai.
Aku bangun lalu menatap telapak tanganku yang gemetar.
"Aku... ingin membalasnya. Tapi... Kenapa tangan ini tidak bisa melakukannya..." Gumamku
*
Dipukul bagaikan makanan sehari-hari bagiku. Jadi meski sudah dipukuli seperti itu, itu tidak membuatku menyerah di sekolah.
Hingga kini kami sudah menjalani kehidupan SMA selama sebulan.
Kekerasan mereka padaku pun makin meningkat dari sebelumnya.
Di pagi hari saat aku baru datang ke sekolah, sama seperti biasanya, mereka menatapku sinis sepanjang jalan.
Dan begitu aku tiba di mejaku, hanya mejaku saja yang penuh dengan coret-coretan penuh kutukan untukku.
...Mati sana!...
...Monster mengerikan!...
...Pergi dari sekolah ini!...
...Pembunuh!...
...Dasar sampah beruntung...
...Tidak ada yang mengharapkanmu...
...Menjijikkan!...
Semua itu tertulis di mejaku.
"...." Aku hanya diam sambil menatap mejaku, sedangkan yang lainnya sibuk cekikikan menahan tawa.
__ADS_1
"Ini bukan apa-apa, Izumi. Ini cuma tulisan. Hanya tulisan" Pikirku
Aku duduk di kursiku dan tidak menanggapi hal ini.
*
Seminggu kemudian, di pagi hari saat aku ingin duduk di kursi ku, tiba-tiba kursinya ambruk begitu ku duduki.
"Hahahaha! Jenius apanya kalau seperti itu saja dia tidak tahu!"
Sekelas mentertawakanku.
Aku melihat ke potongan-potongan kursi ku, dan ternyata semua baut di kursi ku dilonggarkan oleh mereka. Makanya begitu ku duduki kursinya jadi terlepas.
Tak lama setelahnya, guru masuk ke kelas.
Keadaan kelas masih kasak-kusuk dan kursiku juga masih berbentuk potongan-potongan yang terpisah.
"Kamu yang di belakang sana. Ada apa?" Tanya bu guru
"Kursinya rusak, bu guru" Jawab seorang murid sambil tertawa
"Bagaimana bisa rusak? Haah... Kalau begitu cepat ganti dengan kursi yang baru"
Akhirnya, aku mengganti kursiku.
Tentu saja, pembullyan mereka hari ini tidak berhenti hanya sampai merusak kursiku saja.
Di jam istirahat, Maeru melempar bukunya padaku.
"Hey, kau! Tuliskan pr matematika punyaku. Kalau tidak...."
Kirian langsung merebut tas ku dan mengambil buku pemberian ibu.
"Aku tahu kau sangat menyayangi buku ini. Cepat tuliskan pr matematika punyaku dengan benar, lalu akan aku kembalikan buku ini setelahnya"
Aku tidak punya pilihan lain selain menurutinya. Barang pemberian ibu padaku yang tersisa hanyalah buku itu saja.
Disaat para siswa lainnya sibuk berbincang dengan teman mereka sambil makan, aku hanya duduk sendirian sambil mengerjakan pr Kirian.
*
Teng... Teng... Teng...
Jam istirahat pun usai.
Kirian dan yang lainnya pun masuk ke kelas, dan menghampiriku.
"Mana pr ku?" Tanya Kirian dengan lagak sombong
Aku menyodorkan bukunya. Dengan cepat dia langsung mengambil dan mengecek isi yang kutulis.
"Hm... Bagus, tulisannya juga mirip denganku. Kalau begitu kedepannya kau harus menuliskannya untukku"
"Buku... Milikku..." Gumamku
"Aaah~ Maksudmu yang ini?" Tanya Kirian sambil menunjukkan buku ku.
"Kembalikan"
"Tidak mau!"
"Kubilang kembalikan!" Gumamku kesal
"Pfft. Memangnya apa yang bisa kau lakukan? Kalau mau buku ini kembali, kalahkan aku dulu!!"
"Kau sendiri yang bilang" Pikirku
Dengan cepat aku langsung menyerang Kirian.
"A... Apa yang kau lakukan?!" Teriak Kirian
Tentu saja, Maeru, Rio dan Rusen tidak tinggal diam melihat itu. Murid yang lain mulai kasak-kusuk mengelilingi kami.
"Kau gila!!" Teriak Rio dan menarikku menjauh dari Kirian
Tapi aku tidak menyerah. Aku menarik baju Kirian dan menyeretnya bersamaku.
"Waaaa!!" Para murid lain sibuk berteriak melihatnya
"Bukunya... Tidak boleh rusak!" Pikirku
Dengan cepat aku merampas balik buku milikku dan melepas cengkraman di baju Kirian.
Aku langsung memeluk buku itu biar tidak rusak.
"Kau gila! Dasar monster!!"
Mereka langsung mengeroyokku hingga akhirnya guru masuk ke kelas.
"Ada apa di belakang ramai sekali?" Tanya bu guru
"Ada yang bertengkar" Jawab seorang murid
"Apa?! Siapa yang bertengkar?!" Teriak bu guru sambil berjalan ke belakang kelas
Begitu melihat ternyata Maeru ikut terlibat dalam pertengkaran itu, bu guru langsung tersentak dengan tubuh kaku.
"Ini pasti karena kau duluan yang memancing emosi kan, Arato? Apa yang kau lakukan?!"
"Dia tiba-tiba menyerangku saat aku melihat bukunya, bu!!" Teriak Kirian
"Tidak boleh seperti kepada sesama teman, apalagi kalian bahkan serumah!! Kau tidak menghormati keluarga Hazuki yang sudah menjagamu! Apalagi sekarang malah membuat keributan di kelas!" Teriak bu guru
"Sekarang, cepat berdiri di luar kelas! Kau tidak boleh masuk ke kelas hingga pelajaran ini selesai!"
"Pffft! Kasihan sekali~"
"Itu pantas untuknya~" Bisik para siswa
__ADS_1
Aku berdiri lalu berjalan keluar kelas tanpa perlawanan.
"Tidak apa. Asalkan buku ini aman, semuanya tidak masalah" Pikirku