
Izumi menghela nafas, dan kembali menatapku serius.
"Akan aku mulai..."
"Cerita kehidupanku"
*
**
*Cerita Izumi
Namaku adalah Arato Izumi, seorang anak laki-laki dari pasangan kaya raya dan merupakan seorang tuan muda berbakat.
Ayahku bernama Arato Kirein. Dia adalah seorang CEO di sebuah perusahaan besar, seorang anak tunggal yang tak memiliki saudara dan saingan hak waris. Sangat terkenal karena dia sangat bagus dalam memimpin perusahaan dan kecerdasannya yang diatas rata-rata. Ia bertindak tegas, adil dan jujur. Dia juga memiliki postur tubuh yang bagus, punya rambut dan mata berwarna hitam pekat serta berkulit putih agak coklat. Dari fisik maupun jabatan, ia tak terkalahkan.
Lalu ibuku bernama Liliana Foren, seorang putri sulung dari keluarga konglomerat kaya raya yang masih memiliki darah bangsawan Eropa dari ayahnya, atau kakekku. Ia adalah calon pewaris dari semua kekayaan ayahnya dan sejak kecil telah dididik untuk terus bersikap anggun, sopan, dan ramah, layaknya seorang lady, serta diberi pelajaran khusus untuk jadi pewaris. Ia memiliki hobi membaca buku dan juga sangat pintar. Memiliki rambut pirang, bermata biru dan berkulit putih pucat. Seorang wanita sempurna yang didambakan banyak pria.
Dan aku lahir diantara mereka yang sejak awal sempurna.
Dari segi fisik, aku memiliki rambut hitam pekat dan bentuk fisik yang cepat tumbuh mewarisi ayahku, lalu bermata biru dan berkulit pucat mewarisi ibuku.
Dari segi psikologis, aku punya jiwa pemimpin dan kecerdasan dari ayahku, lalu punya jiwa yang tegar, pemikir, dan ambisius dari ibuku.
Sejak aku lahir, aku sudah dilimpahi berbagai macam kemewahan dari orang tuaku. Aku juga diberi cinta dan kasih sayang yang banyak dari ibuku.
*
"Uwek.... Uwek.... Uwek...."
"Anaknya lahir dengan sehat. Selamat, bu!"
Sang suster menyerahkan aku yang baru lahir pada ibunya setelah dibersihkan.
"Anakku, Izumi... Mama senang kau lahir dengan baik..."
Setelah aku lahir, ibu 24 jam terus berada disampingku, terus menjaga dan tidak membiarkanku menangis. Ibu akan jadi panik setiap kali aku menangis.
"Uuu... Uwek! Uwek! Uwek!"
"Ada apa, Izumi? Apa ada yang sakit? Ada yang tidak nyaman? Sayang, jangan menangis~"
Setiap kali aku menangis, ibu selalu menggendongku hingga aku berhenti menangis dan terlelap tidur.
Ibu juga tiap hari rutin membawaku ke perpustakaan rumah karena ibu suka membaca buku disana. Karena itu ibu membawaku kesana agar ibu bisa membaca sambil mengawasiku.
Terkadang, ibu juga membacakanku buku dongang hingga aku tertidur disana.
Hal itu terus terjadi hingga akhirnya aku berumur 3 tahun dan mulai bisa berbicara.
"Ma... Ma!"
__ADS_1
"Pintarnya anak mama~ Coba panggil lagi~"
"Mama!"
"Ya, ada apa Izumi?" Tanya ibu dan langsung menggendongku
"Mama! Buku!"
"Izumi mau mama bacakan buku cerita?"
"Bukan! Izu maw baca buku cendili!"
"Baca? Tapi Izumi masih kecil"
"Izu maw baca cendili!!" Teriakku
"Baiklah, akan mama ajarkan"
Karena 3 tahun berturut-turut aku terus berada di perpustakaan, dengan alami aku jadi tertarik pada buku dan ingin lebih mendalaminya.
Dengan bantuan ibuku, aku mulai mengenal huruf dan angka. Dan dalam waktu 1 bulan, aku sudah bisa membaca.
"Kancil... dan... seligala!!" Teriakku
"Astaga~ Izumi jenius~ Padahal berbicara saja masih belum lancar tapi sudah bisa membaca~" Ucap ibu kagum
"Hehe~ Apa Izu pintal?"
"Waaaaa~!"
Begitulah, kehidupanku sangat nyaman selama berada di sisi ibu. Ibu mengajarkanku semuanya, bahkan untuk hal sepele, seperti cara berjalan, duduk, makan, memberi salam, dan lainnya.
Di usiaku yang akan memasuki 4 tahun, aku pun mulai memberontak dan melemparkan berbagai pertanyaan pada ibuku.
"Mama, papa dimana? Izu tidak pelnah melihat papa selama ini"
"Izumi sayang~ Papa sedang kerja. Papa kerja untuk mama dan Izumi"
"Tapi kenapa tidak pelnah menemui Izu? Izu lihat anak-anak lain semuanya pelgi belsama mama papanya, tapi Izu cuma sama mama saja"
"Papa tidak sayang dengan mama dan Izu?"
"Izumi~ Kan mama sudah bilang, papa sedang bekerja untuk mama dan Izumi. Papa sayang kok dengan Izumi"
"Tapi kenapa papa tidak pelnah menemuiku? Selama ini Izu main dengan mama saja!!" Teriakku
"Izumi~ Papa sibuk"
"Papa tidak sayang dengan Izu!!" Teriakku
Aku mendapat banyak cinta dan kasih sayang dari ibuku, namun tidak dari ayahku. Bahkan untuk wajahnya pun aku tidak pernah melihatnya sejak lahir.
__ADS_1
Aku berlari keluar dari perpustakaan, lari menjauh dari mama dan asal berjalan saja di rumah yang sangat besar itu.
Lalu ditengah aku yang sedang berjalan itu, aku tidak sengaja mendengar perbincangan 2 orang pelayan rumah.
"Tadi pagi saat matahari belum muncul, aku tidak sengaja bertemu tuan besar. Beliau sangat rupawan, mirip dengan tuan muda. Lalu saat aku membungkukkan badan padanya, dia bilang tidak perlu membungkuk. Bukankah beliau sangat baik pada pelayan rendahan seperti kita?"
"Ya! Beliau juga sangat kompeten dalam bekerja. Beliau selalu pergi subuh dan pulang tengah malam. Setelah kembali pun masih mengerjakan tugasnya. Beliau sangat pekerja keras, tidak heran beliau bisa jadi sukses seperti sekarang"
"Benar, benar~"
Setelah mendengar itu, aku jadi merasa bersalah telah asal menuduh ayahku dan berteriak pada ibu. Aku langsung berjalan kembali ke perpustakaan dan meminta maaf pada ibu.
"Mama, maafkan Izu sudah belteliak tadi. Izu belsalah" Ucapku sambil sedikit membungkukkan badan.
"Iya, tidak apa. Selanjutnya jangan ulangi, ya. Izu harus jadi anak yang baik"
"Ya!"
Setelahnya, aku terus rutin pergi ke perpustakaan dan membaca banyak buku bersama ibu. Meski di umurku yang bahkan belum menginjak 4 tahun, aku sama sekali tidak bermain dan hanya membaca buku saja.
Hal itu membuat ibu khawatir, takut aku jadi tumbuh dewasa belum pada waktunya.
Ibu pun melakukan berbagai cara agar aku bermain layaknya anak-anak pada umumnya.
"Izumi, mama belikan mainan baru, lho~"
"Tidak mau. Izu malas belgelak"
"Izumi, ayo pergi ke mall bersama mama. Apapaun yang Izumi mau akan mama belikan"
"Cuaca panas. Izu tidak mau kelual"
"Ayo ke taman bermain, Izumi"
"Tidak. Disana kotol dan belisik"
Semuanya sudah ibu coba, tapi aku bersikeras pada pilihanku untuk tetap di rumah dan membaca.
Akhirnya, ibu hanya punya 1 cara terakhir.
"Izumi, apa Izumi mau sekolah?"
"Sekolah?" Tanyaku
"Iya. Sekolah adalah tempat untuk belajar. Disana Izumi bisa belajar bersama anak-anak lainnya yang seumuran dengan Izumi. Ada guru yang membimbing pembelajaran juga. Menyenangkan, bukan?"
"Iya! Izu mau sekolah!"
Melalui persetujuan kedua orang tuaku dan juga diriku sendiri, akhirnya saat umurku baru 4 tahun 1 bulan, aku pun dimasukkan ke Sekolah Dasar elit yang berisikan anak-anak dari orang ternama dan punya pengaruh dalam dunia bisnis.
Awalnya pihak sekolah tidak menyetujui untuk memasukkanku ke Sekolah Dasar karena alasan umurku yang masih terlalu muda. Namun mereka berubah pikiran setelah melihat aku sudah bisa membaca dan menulis , dan memang sangat minat untuk sekolah.
__ADS_1
Akhirnya aku pun diterima di sekolah itu.