Hantu Sekolah

Hantu Sekolah
Kembali ke Rumah Sewa


__ADS_3

Hari ini sudah hari sabtu di minggu kedua libur. Jadi hari ini aku akan kembali ke tempat sewa karena sudah mau masuk sekolah semester 2.


Aku berangkat sejak pagi sekitar jam 6 lebih dengan diantar orang tuaku. Dan tentu Niki dan Hana berpamitan denganku karena mereka tidak bisa masuk ke wilayah Izumi.


"Hiks... kami tidak bisa bertemu kak Yurin lagi setelah ini. Ini semua gara-gara kak Izumi yang jahat!!" Teriak Hana dengan memeluk erat perutku.


Aku teringat kembali kejadian kemarin ketika aku, Hana, Niki, dan Izumi berkumpul.


*


Kemarin malam...


"Senin nanti kau sudah akan sekolah, jadi kapan kau akan kembali ke rumah sewa mu?" Tanya Izumi


"Besok. Karena itu sejak pulang dari pergi beli alat tulis kemarin, aku sudah sibuk menyiapkan barang-barang" Jawabku


"Kak Yurin, nanti aku dan Niki boleh datang, kan?" Tanya Hana


"Iya, tidak ap---"


"Tidak boleh!"


Izumi langsung memotong ucapanku dan menolaknya dengan tegas.


"Kenapaaaaaaa??" Teriak Hana


"Disana itu wilayahku. Kalian tidak ada hak masuk ke wilayahku" Ucap Izumi tegas.


"Kau ngajak berantem?? Kau sendiri asal masuk ke wilayah kami!!" Teriak Niki


"Kalau soal itu jangan salahkan aku, tapi salahkan kakakmu sendiri. Dia yang mengizinkanku masuk ke wilayah kalian. Waktu itu kau lihat sendiri kan dia memberiku 'tanda izin' masuk wilayah kalian"


"Aku tidak memintanya dan dia sendiri yang memberi tanpa meminta imbalan balik. Jadi kenapa kau marah padaku?" Tanya Izumi


"Kakak sudah bersikap baik padamu. Bagaimana bisa kau bahkan tidak mengabulkan satu permintaannya" Ucap Niki dengan menahan amarahnya


"Kau lupa kalau aku ini masih termasuk roh jahat? Aku hanya melakukan sesuatu yang menguntungkan bagiku dan semua roh di wilayahku. Di syarat 'sumpah setia' kita juga tidak menyebut kita harus mengabulkan permintaan satu sama lain. Yang disebut hanyalah 'jangan berkhianat'. Jadi tidak ada alasan bagiku mengikuti permintaan kalian" Ucap Izumi santai


Mendengar hal itu, Niki langsung mendekati dan menarik kerah baju Izumi.


"Kau!! Dasar tidak tahu terima kasih!" Teriak Niki


"Heey, kalian berdua! Hentikan ini!" Teriakku


"Baiklah. Kalau begitu silahkan datang ke wilayahku, tapi aku tidak akan memberi kalian 'tanda izin' masuk wilayahku. Jadi kalau ada roh wilayahku yang menyerang kalian, aku tidak memiliki tanggung jawab menolong kalian" Ucap Izumi santai dan sama sekali tidak melawan Niki


"Itu sama saja dengan kau berkhianat!!" Teriak Niki tersulut emosi


"Aku tidak memberi kalian izin masuk wilayahku, dan aku juga tidak menyuruh bawahanku untuk menyerang kalian. Jika memang ada yang menyerang kalian saat di wilayahku, itu sepenuhnya insting mereka sendiri dan bukan dariku. Jadi aku tidak berkhianat sama sekali, tapi kalianlah yang memang cari mati"


Tanpa basa basi, Niki langsung melayangkan tinjunya ke wajah mulus Izumi, namun langsung Izumi tahan. Izumi juga langsung menepis tangan Niki yang mencengkeram kerah bajunya.


"Kenapa? Kau marah? Sudah kubilang kalau mau protes, ya protes ke kakakmu yang tidak meminta imbalan apapun dariku"


"Yah, meski dia minta imbalan pun pasti tidak akan aku beri sih..." Gumam Izumi


"Aku... Aku sama sekali tidak terpikirkan sampai ke sini. Saat itu aku hanya ingin memberi hadiah sebagai tanda pertemua pertama kita..." Gumam Hana dengan mata berkaca-kaca


"Yah, kau sendiri juga hanyalah anak kecil yang bodoh. Memang tidak seharusnya anak kecil sepertimu menjadi pemimpin wilayah besar. Dan hati-hati tertipu oleh pemimpin wilayah lain yang rohnya sudah dewasa, yaa~"

__ADS_1


"Kak Izumi jahat!!!" Teriak Hana sambil menangis


*


"Yah, entahlah. Aku juga tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah di kejadian semalam. Keduanya tidak ada yang bisa dibenarkan ataupun disalahkan" Pikirku sambil menatap keluar jendela dari dalam mobil


Setelah beberapa jam di perjalanan, akhirnya kami sudah sampai. Mereka istirahat selama 1 jam di rumah lalu kembali pulang setelah menemui nenek pemilik rumah sewa itu.


Suasana di rumah ini sunyi sekarang, karena hanya ada aku sendiri. Yui juga belum datang. Yui bilang, dia akan tiba disini saat malam hari agar bisa langsung tidur setelah sampai.


Karena aku merasa bosan, jadi aku hanya membereskan barang-barangku saja setelah tiba di rumah ini. aku juga belum melihat Izumi setelah terakhir ketemu kemarin malam.


*


Setelah selesai membereskan barangku, aku membaringkan tubuhku ke kasur dan menatap langit-langit kamar.


Aku teringat kembali kejadian saat aku dan Izumi di taman Lily. Di hari itu Izumi menunjukkan banyak ekspresi yang sebelumnya jarang dikeluarkannya, baik itu ekspresi senang ataupun sedih. Hal itu kembali menghantuiku.


"Hari itu Izumi benar-benar terlihat berbeda. Ekspresinya terlihat lebih jelas dari biasanya pada hari itu. Tapi setelah kejadian yang besar itu, Izumi terlihat biasa saja seakan hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Aku benar-benar tidak mengerti dengan pola pikir Izumi" Pikirku


Aku membalik badanku ke samping dan tatapanku sekarang teralih ke meja belajarku. Aku menatap tumpukan buku di atas meja itu, yang salah satu diantaranya adalah buku Izumi.


"Apa aku perlu mengecek kembali isi buku itu?" Pikirku


Syuuuuush....


Tiba-tiba terasa hawa dingin di dekatku.


"Hawa ini... Teleportasi" Pikirku lalu melihat ke belakang


Ketika aku berbalik, aku melihat sosok roh yang tak asing bagiku.


"Tidak ada alasan khusus, aku hanya ingin menemuimu" Ucap Kagusa dengan senyum cerianya.


"Lalu, dimana Izumi? Kau tidak membantunya?" Tanyaku


"Aah, Izumi sekarang tidak disini, dia ke perbatasan hidup dan mati"


"Apa? Kenapa dia pergi kesana?" Tanyaku


"Memburu monster. Sejak beberapa hari kemarin Izumi memburu monster terus untuk meningkatkan tingkatannya di kalangan roh"


"Tapi kenapa tiba-tiba? Apa terjadi sesuatu sebelumnya?" Tanyaku


"Tidak tahu. Dia selalu pergi entah kemana sejak kau pulang ke rumah orang tuamu" Ucap Kagusa sambil menaikkan bahunya


"Kalau begitu, apakah ini berhubungan dengan masalah Shuri?" Pikirku


Lalu aku tersentak.


"Eh, tunggu... Kau tidak tahu Izumi pergi kemana selama ini??!" Tanyaku kaget


"I... Iya... Dia langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun pada kami" Ucap Kagusa gugup


"Izumi... Setidaknya beritahu bawahanmu selama ini kau kemana saja. Jangan membuat mereka khawatir karena kecerobohanmu" Pikirku


"Izumi bersamaku selama dia tidak di sekolah" Ucapku


"Apaaa??!" Teriak Kagusa kaget

__ADS_1


Aku pun menceritakan kejadian-kejadian saat Izumi di rumahku secara garis besar ke Kagusa.


"Jadi Izumi bersekutu dengan wilayah utara, wilayah yang besar itu..." Gumam Kagusa


"Iya. Dan... Dia terus bertengkar dengan pemimpin roh jahatnya, Niki"


"Bertengkar??!"


"Aaarghh... Seharusnya aku menghentikannya ketika ada tanda-tanda dia akan pergi dari sekolah" Gumam Kagusa


"Aku juga tidak mengerti dengan Izumi. Dia juga terkadang seperti sengaja menyulut emosi Niki" Ucapku


"Kalau soal itu, kau tahu sendiri dia kan roh baik dan jahat. Terkadang dia sendiri sulit mengendalikan emosinya. Emosinya sangat mudah naik-turun" Ucap Kagusa


"Jadi memang wajar Izumi seperti itu... Tapi... Rasanya Izumi agak beda setelah bertemu Shuri" Pikirku


"Eem... Ketika Izumi bersama kalian, dia seperti apa? Maksudku, apa dia terlihat berbeda dari sebelumnya akhir-akhir ini?" Tanyaku


"Dia sama seperti biasanya, makanya aku kaget ternyata dia sudah melakukan banyak hal dibelakang kami"


"Memangnya dia seperti apa biasanya?" Tanyaku


"Hmm? Dia hanya diam saja dengan memasang wajah kaku dan menatap kami dengan tajam. Dia biasanya begitu. Tidak ada hal khusus juga yang dilakukannya. Dia selalu melakukan tugasnya, dan akhir-akhir ini dia fokus menaikkan tingkatan" Jelas Kagusa


Aku terdiam dan mencoba membayangkan situasi yang dimaksud Kagus.


Setelah mendengar penjelasannya dan menggunakan imajinasiku, aku dapat memperkirakan yang dimaksud Kagusa adalah Izumi mode dewasa yang lebih mirip seperti patung batu es yang tampan.


Dilain sisi, aku kembali mengingat Izumi selama ini. Saat bersamaku dia lebih mirip seperti anak kucing yang selalu minta di elus, lalu bertengkar dengan anak kucing lainnya (Niki) hanya karena iseng.


Lalu aku berpikir. Bukankah Izumi terlalu pilih-pilih untuk bersikap pada setiap orang? (lebih tepatnya roh, bukan orang) Semua hal yang dimiliki Izumi itu tidak bisa dimengerti. Sifatnya yang misterius dan tidak bisa ditebak, wajahnya yang kelewat tampan, kepintarannya melampaui rata-rata, kekuatannya yang sangat besar, status kepemimpinannya, hingga tragedi kematiannya.


Tidak ada apapun yang kuketahui soal Izumi.


Pertama-tama, ayo tanya hal yang memang terjadi terlebih dahulu. Jangan terlalu menggebu-gebu bertanya banyak hal.


"Kagusa, akhir-akhir ini aku merasa kalau emosi Izumi terlalu mudah naik-turun. Seperti katamu tadi, itu efek dia yang memiliki 2 jenis roh. Namun aku rasa emosinya terlalu mudah berganti dalam waktu dekat hingga terasa mengerikan. Apa itu hal yang wajar?" Tanyaku


"Ah, benarkah?" Tanya Kagusa


"Iya. Terkadang aku jadi takut ketika Izumi seperti itu..." Gumamku


Kagusa berpikir dengan memasang wajah serius.


"Apa... Terjadi sesuatu saat dia bersamamu?" Tanya Kagusa


"Sebenarnya... Ada... Memangnya ada apa?" Tanyaku gugup


"Izumi seperti itu untuk pertama kalinya adalah saat awal dia menjadi pemimpin. Dia sangat mudah untuk bersikap baik ataupun kejam kepada kami. Hal itu dikarenakan Izumi masih kesulitan mengontrol antara roh baik dan roh jahatnya"


"Sampai sekarang sebenarnya Izumi masih sering kehilangan kendali dirinya sendiri, namun tidak sesering dulu. Sekarang Izumi sudah kembali menunjukkan tanda-tanda dia akan kehilangan kendali dirinya sendiri"


"Itu artinya sudah terjadi hal besar bagi jiwa Izumi"


Seketika aku merasa merinding di leherku.


"Hal besar? Tapi yang mana? Hal besar itu masalah Shuri atau ketika kami bertemu anak kembar itu? Aku tidak tahu yang mana antara 2 itu karena itu terjadi di hari yang sama" Pikirku


Kagusa menatapku yang sedang serius berpikir.

__ADS_1


"Memangnya apa yang sudah terjadi dengan Izumi?" Tanya Kagusa


__ADS_2