
"Hanya sekali saja, dan ini terakhir kalinya kau bisa bertemu dengannya" Tegas kakek
"Ya!"
"Baiklah, akan kuizinkan"
*
Keesokan harinya saat aku datang ke rumah sakit setelah kembali dari sekolah, seperti yang dijanjikan, bibi datang ke rumah sakit yang aku sebutkan sebelumnya.
Di tempat sepi aku melihat tubuh bibi yang membelakangiku sedang gemetar.
"Bibi... Menangis?" Pikirku
"Um... Bi... Bibi?"
Bibi langsung tersentak. Bibi mematung terlebih dulu sebelum akhirnya menoleh menatapku.
"Izumi, kau sudah pulang dari sekolah?" Tanya bibi
"Iya..." Jawabku ragu
"Astaga, ada apa dengan pipimu? Kenapa bengkak begini? Kau bertengkar?" Tanya bibi
"...." Aku hanya diam saja tidak menanggapi pertanyaan bibi.
"Bukan itu yang paling penting. Sekarang kau pergilah obati pipimu lebih dulu"
Bibi menggandeng tanganku lalu mengajakku untuk mengobati pipiku.
Bibi menungguku hingga aku selesai diobati.
Setelah selesai diobati, aku berencana untuk langsung menemui ibu.
"Um... Bibi, Aku... Mau menemui mama..." Gumamku
"Sepertinya tidak bisa sekarang" Jawab bibi merasa bersalah
"Kenapa?" Tayaku
"Penyakit ibumu jadi makin parah. Sekarang ibumu tertidur karena tadi entah kenapa mengamuk"
Aku hanya diam sambil menundukkan kepala.
"Tidak usah khawatir, karena bibi akan berusaha untuk membuat ibumu bertahan, bagaimanapun itu"
Saat itu, entah kenapa aku jadi sedikit tenang dengan ucapan bibi.
Mungkin itu karena selama ini tidak ada yang mensupport diriku selain ibu, jadi begitu aku mendapat perhatian dari orang lain, aku jadi merasa sangat senang.
Bibi kembali menemui dokter untuk menanyakan kondisi ibu, lalu setelahnya bibi sudah harus kembali karena kakek sudah mengutus orang untuk menjemput bibi.
"Mungkin ini menjadi terakhir kalinya kita bertemu. Izumi baik-baik ya, harus terus bertahan walau di kondisi seperti ini"
"Untuk tambahan, ini bibi kasih uang untuk Izumi. Lalu Izumi tidak perlu khawatir soal biaya rumah sakit, karena sepenuhnya biaya itu akan keluarga Foren tanggung"
"Terima kasih telah menolongku dan mama" Ucapku sambil membungkukkan badan
"Kau adalah keponakanku, dan ibumu adalah kakakku. Tentu aku akan menolong kalian walau sedikit"
"Kalau begitu, bibi pergi dulu"
Bibi pun pergi dan aku tidak pernah melihatnya lagi setelahnya.
*
Kehidupanku setelahnya tidak jauh berbeda dengan beberapa hari sebelumnya.
Di rumah yang besar aku selalu sendirian hingga aku tidak takut lagi berjalan sendirian di lorong yang gelap.
Di sekolah aku masih terus di bully dalam berbagai bentuk. Mereka memukuliku, membuang atau merusak barang milikku, mencoret mejaku, mengataiku, atau bahkan memfitnahku.
Aku menahan semuanya dihadapan orang-orang. Namun begitu aku sendirian, aku akan langsung menangis sambil bertanya-tanya, "Apa kesalahanku pada mereka hingga aku jadi seperti ini?".
Pertanyaan itu terus menghantuiku setiap saat, namun aku tidak kunjung mendapat jawabannya.
__ADS_1
Selain fisik yang terluka, aku juga jadi punya trauma dengan orang-orang yang terus membully ku.
Hal itu terus berlanjut hingga aku akan menginjak umur 9 tahun.
Saat aku akan memasuki umur 9 tahun, orang yang kakek utus datang padaku.
"Tuan muda Izumi, Tuan besar memanggil anda"
"Aku bukan seorang tuan muda...." Gumamku
Aku pun dibawa kembali ke kediaman Foren dan berhadapan dengan kakek.
Begitu melihatku, kakek langsung memasang wajah dingin seperti saat ia pertama kali melihatku.
"Arato Izumi, aku memanggilmu kesini sepenuhnya karena permohonan dari putriku, Rosaline, yang khawatir dengan keadaanmu karena terus tinggal sendirian setelah wanita itu sakit"
"Anggap saja ini kebaikan hatiku karena kau masih memiliki darahku"
Aku terus menundukkan kepala menatap ujung sepatuku.
"Ya... Saya... Mengerti..." Gumamku
"Aku tidak punya banyak waktu untukmu, jadi aku langsung saja masuk ke inti pembicaraannya"
"Aku akan menyerahkanmu pada keluarga Hazuki"
Aku pun tersentak.
"Hazuki... Keluarga Hazuki... Kalau tidak salah, itu keluarga yang sebelumnya adalah musuh bisnis Papa" Pikirku
"Terima kasih untuk kebaikan hatinya, tuan besar. Tapi saya baik-baik saja walau sendirian. Anda yang terhormat tidak perlu mengkhawatirkan saya yang kecil ini"
Brak!!
"Aku sudah berbaik hati meminta pada Keluarga Hazuki untuk menjadi walimu, tapi kau menolaknya?! Kau tidak menghargaiku, hah?!" Teriak kakek
"Bukan begitu. Saya hanya tidak ingin merepotkan tuan lagi" Gumamku
"Aku tidak ingin... Bertemu ataupun datang ke tempat ini lagi..." Pikirku
"Kalau kau tidak mau merepotkanku, maka kau harus masuk ke keluarga Hazuki. Karena setahun ini tidak ada yang mengurusmu, aku jadi mendapat berbagai rumor buruk karenamu!!" Teriak kakek
"Tidak akan!!"
"Rumah yang kau tempati itu adalah rumah milikku yang aku hadiahkan pada wanita itu 13 tahun yang lalu. Aku bisa mengambilnya kembali kapan saja"
"Turuti saja semua kata-kataku. 15 hari lagi dia akan datang, jadi selama 15 hari ini kau tinggal disini"
Aku tidak bisa melakukan apapun.
Aku hanyalah anak berumur 9 tahun, sedangkan dia adalah kakek kandungku sendiri yang sangat membenciku. Jangankan melawan, untukku mengutarakan pendapat saja aku tidak bisa.
Dan meski aku tinggal di kediaman Foren yang sangatlah luas ini, tapi aku sama sekali tidak bisa bebas berkeliaran seperti adik sepupuku, Kinshiki.
Aku hanya diperbolehkan berada di lantai satu di bagian belakang agar aku tidak berpapasan Kinshiki.
Kakek memang tidak mengatakannya secara langsung kalau dia tidak ingin aku bertemu Kinshiki, tapi aku cukup peka dengan hal itu, jadi aku langsung mengerti maksud dari tindakan kakek.
Di hari pertama aku tinggal disana, tidak ada hal khusus karena di kediaman sangatlah luas, jadi tidak banyak aku bertemu dengan orang-orang.
Di hari kedua, mulai ada rumor 'Tuan Muda yang diasingkan kembali'.
Lalu di hari ketiga, hal yang dikhawatirkan kakek terjadi.
Kinshiki yang tidak sengaja mendengar rumor itu, secara diam-diam mencariku di seluruh kediaman yang besar ini.
Di pagi hari, ia menemukanku di koridor bagian belakang lantai 1.
"Kak Izumi! Jadi kakak sungguh ada disini?" Teriaknya senang
Aku tertegun karena selain takut pada kakek, aku sendiri juga sebenarnya tidak ingin bertemu dengannya.
"Kakak, kenapa kakak tidak mencariku saat datang kesini?" Tanya Kinshiki
"...."
__ADS_1
Aku hanya diam saja tidak menanggapi pertanyaannya sambil perlahan berjalan mundur menghindarinya.
"Kakak, kenapa kakak mundur seperti itu? Ayo main denganku. Aku kesepian karena mama pergi mendatangi papa di luar negri"
"Tidak... Aku... Sedang tidak ingin bermain..." Gumamku sambil terus berjalan mundur.
Entah kenapa aku merasa sangat tidak nyaman dengan kehadiran Kinshiki. Aku refleks ingin menjauh darinya begitu berpapasan dengannya.
Karena saking tertekannya, aku sampai berkeringat dingin, detak jantungku jadi cepat dan tanganku sedikit gemetar dan dingin.
"Kenapa kakak terlihat ketakutan seperti itu?" Tanyanya
"Aku... Harus pergi sekarang..." Gumamku dan langsung pergi meninggalkannya.
"Kakak! Tunggu!" Teriaknya dan lari mengejarku
Karena dia mengejarku, aku jadi lari menghindarinya. Lalu....
Bruk!
Kinshiki terjatuh saat sedang mengejarku, dan kebetulan tak lama setelahnya kakek bersama kepala pelayan lewat didepan kami.
Pelayan itu langsung membantu Kinshiki berdiri, tapi kakek masih berdiri di tempat sambil menatapku dingin.
"Arato Izumi, Apa yang kau lakukan pada Kinshiki?" Gumam kakek marah
"Eh? Kakak tidak melakukan apapun, kakek..." Jawab Kinshiki
"Aku bertanya dengan orang ini, Shiki!" Teriak kakek
Kakek berjalan mendekatiku dan langsung menamparku hingga terjatuh.
"Aku tanya apa yang kau lakukan pada cucuku, Kinshiki"
Aku tersentak, dan kembali teringat dengan ayahku.
"Semuanya... Tidak ada yang menganggapku..." Pikirku
Aku hanya diam tidak menjawab pertanyaan kakek.
"Aku bertanya padamu!!" Teriak kakek dan menendangku
"Kakek... Kakak---"
"Kau kembalilah ke kamarmu, Kinshiki! Sudah berapa kali kubilang jangan main ke lantai 1!" Teriak kakek
"Kepala pelayan! Cepat antar Kinshiki kembali ke kamarnya!"
Kepala pelayan itu langsung menggandeng tangan Kinshiki.
"Ayo, Tuan Muda Kinshiki. Saya akan antar anda kembali ke kamar" Ucapnya dan langsung membawa Kinshiki pergi.
"Tidak! Kakak! Aku mau main dengan kakak!!" Teriak Kinsiki
"Dia bukanlah kakak Tuan Muda, tolong lupakan kejadian hari ini"
Kinshiki terus berusaha melepaskan diri, tapi tidak bisa. Dan kepala pelayan setelahnya tidak menanggapi Kinshiki yang terus berteriak.
Setelahnya, kakek langsung menyeretku saat aku masih terbaring di lantai.
Kakek melemparku kedalam gudang rumah yang berdebu dan juga berantakan.
Gudang itu adalah tempat yang aku gunakan sebagai kamar di rumah ini.
"Aku muak melihatmu! Kau begitu mirip dengan pria br*ngsek itu tapi memiliki mata biru dariku. Kau sangat menjijikkan hingga aku ingin menghancurkanmu"
"Aku berubah pikiran. Kau sama sekali tidak boleh pergi kemanapun mulai saat ini. Dari sekarang hingga 12 hari kedepan kau akan aku kurung disini. Kau tidak boleh keluar sebelum aku menyuruhmu keluar"
"Jangan berbuat macam-macam. Karena jika ada kejadian lagi setelah ini, aku akan melakukan tindakan. Camkan itu!"
Kakek pun keluar dari gudang dan mengunci pintunya.
Sama seperti sebelumnya, aku memasang wajah datar dihadapan orang-orang, namun begitu aku sendirian, aku kembali menangis.
"Aku sama sekali tidak mengerti..."
__ADS_1
"Aku berusaha tidak melakukan kesalahan, tapi kenapa kesalahan itu terus tertuju padaku?"
"Kenapa... Harus aku?"