
1 jam kemudian di kamar Yui, Yui terbangun dari pingsannya.
"Aku... belum mati..." Gumam Yui
"Bersyukurlah aku masih berbaik hati tidak membunuhmu" Ucap dingin Izumi
Yui terdiam dengan dahinya mengkerut dan wajahnya sedikit pucat.
"Yui..."
Aku memegang tangan Yui yang sekarang gemetar dan sedikit mengelus tangannya.
"Yui, Izumi itu tidaklah sejahat yang kau kira. Buktinya, sampai sekarang aku masih hidup dan kau juga tidak dibunuhnya"
"Karena itu, jangan melenyapkan Izumi. Dan lagi, jika Izumi lenyap, aku juga akan terkena imbasnya"
"Apa... maksudmu?" Tanya Yui
Aku melirik ke arah Izumi dan Izumi mengangguk kecil.
"Yui, aku dan Izumi terikat suatu hubungan yang membuat kami bagaikan satu tubuh. Jika Izumi terluka, aku juga akan terluka. Jika aku terluka, maka Izumi juga akan terluka"
"Jika Izumi lenyap, aku akan mati, dan jika aku mati, Izumi akan lenyap. Kira-kira seperti itu"
Yui tersentak.
"Bagaimana bisa?!"
Aku pun menjelaskan secara singkat awal mula aku dan Izumi terikat.
"Jadi itu terjadi saat aku pergi keluar untuk beli bahan makanan, dan kau tak sengaja memecahkan gelas yang membuat darahmu mengenai buku Izumi..." Gumam Yui
"Iya"
"Lalu Yui, kau sendiri juga bagaimana bisa melihat Izumi?" Tanyaku
"Tidak. Sejujurnya aku tidak bisa melihat Izumi. Aku hanya bisa merasakan hawa keberadaannya dan mendengar suaranya. Aku sama sekali tidak tahu bagaimana bentuk Izumi"
"Aku bertarung dengannya tadi juga hanya mengandalkan instingku saja yang bisa merasakan gerakan apa yang akan dia lakukan"
"Kalau begitu.... Sejak kapan.... Kau bisa merasakan hawa keberadaan Izumi?"
"Aku juga tidak yakin kapan pastinya bisa merasakan hawa Izumi secara utuh. Sepertinya baru saat masuk semester 2 ini"
"Secara utuh? Kalau begitu, sejak dulu kau bisa merasakannya namun tidak utuh?" Tanyaku
Yui mengangguk.
"Sebenarnya, sejak aku masih kecil, aku sudah bisa merasakan hawa keberadaan hantu, dan mengobrol dengan mereka. Beberapa dari mereka juga aku bisa melihat wujud mereka"
__ADS_1
Aku terkejut mendengar pengakuan Yui.
"Aku bisa seperti ini karena ayahku juga bisa merasakan hantu. Yang mengetahui hal ini hanya kami berdua saja, ibuku tidak tahu sama sekali tentang indra keenam kami"
"Saat masih kecil dan tidak tahu apa-apa, aku sering bermain bersama para hantu yang ada di rumahku. Karena hal itu, ibu, para kerabat dan tetangga berpikir aku anak yang aneh karena suka berbicara sendiri dan bermain sendirian"
"Sebelum kecurigaan mereka semakin besar, ayah mulai mendidikku"
"'Kau jangan katakan pada siapapun soal indra keenammu jika ingin hidup normal ditengah masyarakat, termasuk pada ibumu. Jangan berbicara pada hantu jika ada orang lain, dan bersikaplah seolah kau tak melihat mereka. Dengan begitu, para hantu pun takkan mengganggumu', itu yang dikatakan ayahku padaku"
"Ayahku juga memberiku senjata roh untuk perlindungan diriku pada roh jahat jika ada yang ingin menyakitiku. Tak hanya itu, saat SMP juga aku mengetahui kalau aku memiliki kekuatan indra keenam yang dapat melukai roh. Karena itu, aku berguru untuk menjadi pembasmi roh jahat"
"Walau begitu, dari aku kecil hingga SMP, aku jarang bertemu roh jahat, karena itu aku tidak terlalu mendalami hal tersebut dan berpikir semuanya baik-baik saja"
"Namun ketika masuk SMA, aku baru pertama kali merasakan keberadaan hantu yang sangat banyak berkumpul di satu tempat dan mereka berpusat ke Ririn"
"Memang para hantu itu bukan roh jahat. Namun aku merasakan ada satu roh yang auranya sangat mengerikan seakan bisa membunuh semua orang di sekolah dalam sekali jentikan jarinya. Begitu merasakannya, aku langsung bisa tahu kalau roh itulah yang sedang di rumorkan oleh para murid"
"Lalu, Ririn pun mulai bertingkah aneh setelah bilang menemukan buku di kolong mejanya. Dan aku sangat kaget begitu tahu buku yang ditemukan Ririn adalah buku si penunggu sekolah itu"
"Sejak itu, aku kembali berlatih menggunakan senjata roh dan mempertajam indra keenamku secara diam-diam"
Aku tersentak.
"Jadi, Yui sering sekali keluar dan selalu buat alasan yang aneh karena pergi untuk berlatih? Termasuk akhir-akhir ini?" Tanyaku
"Iya"
Aku teringat, saat libur semester ketika aku dan Yui pergi bermain, Izumi juga ikut denganku.
"Kalau begitu, saat kita pergi bersama waktu libur semester, apa kau merasakan keberadaan Izumi? Saat itu dia mengikutiku"
"Ya, samar-samar aku merasakannya. Karena itu aku berlatih dengan ayahku ketika libur dan akhirnya bisa seperti ini"
"Entah bagaimana, aku merasa kemajuannya cukup pesat. Tak hanya Izumi, sekarang aku bisa merasakan hawa keberadaan roh jahat yang sebelumnya tidak bisa aku rasakan"
"Itu karena aku"
Izumi tiba-tiba menyela omongan Yui.
"Apa maksudmu?" Tanya Yui
"Hampir setiap hari aku berada disamping Yurin, dan Yurin serumah denganmu. Tanpa sadar, tubuhku pasti mengeluarkan kekuatanku meski sedikit dan kau menghirupnya. Aku adalah roh terkuat disini, jadi efeknya akan sangat terasa. Kau juga pasti menghirupnya tak hanya sekali atau dua kali saja"
"Ditambah lagi, beberapa kali aku membuatmu tidur dengan kekuatanku" Ucap Izumi
"Memang benar beberapa kali aku tiba-tiba merasa sangat ngantuk dan tertidur seketika. Begitu bangun, aku lupa apa yang terjadi sebelum aku tertidur. Jadi itu ulahmu" Gumam Yui
"Jangan salah paham! Aku melakukannya karena Yurin!"
__ADS_1
"Siapa yang salah paham, dasar hantu! Dan lagi, kenapa kau ada disini? Cepat pergilah! Aku cuma mau bersama dengan Ririn!" Teriak Yui
"Haaah?! Apa yang membuatku harus mengikuti perkataanmu?!" Tanya Izumi sinis.
Aku merasakan seakan ada sambaran petir diantara mereka berdua.
"Em, kalian berdua...." Gumaku
"Situasi ini... Deja vu..." Pikirku
Aku teringat kembali saat-saat dimana Izumi bertengkar dengan Hana dan Niki, dan aku selalu menengahi pertengkaran mereka.
"Hantu! Pergilah dari sini dan kembali ke sekolah!"
"Tempat ini juga masih termasuk wilayah para hantu sekolah!"
"Kalau begitu jangan dekati aku dan Ririn! Apakah kau mesum, memasuki kamar perempuan!"
"Tidak hanya aku, banyak roh laki-laki lainnya yang berkeliaran bebas di kamar manusia perempuan. Dan itu memang hal wajar untuk para hantu selagi itu wilayahnya!"
"Jadi kau ingin bilang kalau semua hantu mesum?"
"Tidak ada hantu yang berpikir hal seperti itu!!!" Teriak Izumi
Aku hanya diam saja, menyimak keributan mereka berdua. (Sudah terbiasa dengan pertengkaran seperti ini)
*
1 jam kemudian...
"Baiklah~ Kalian berdua sudah puas saling kenalnya, kan?" Tanyaku ceria
"Siapa yang kenalan?!" Teriak Izumi dan Yui serempak
"Yurin, ayo kembali ke kamarmu! Disini menyesakkan karena ada orang gila"
"Ririn, kita punya banyak hal yang harus diceritakan satu sama lain, kan? Kalau begitu cepat usir hantu itu agar tidak mengganggu kita"
"Mereka masih belum akur juga" Pikirku
"Baiklah! Aku harus membuat mereka akur!" Pikirku semangat
Aku pun menggenggam tangan Yui dan Izumi lalu menarik mereka ke kamarku.
"Kenapa, Ririn?" Tanya Yui
"Kita mau cerita, kan? Kalau begitu ayo cerita. Karena Izumi mau di kamarku, jadi kita ceritanya di kamarku. Dengan begini, aku mengabulkan permintaan kalian berdua"
"Tapi aku tidak mau ada dia!" Teriak Izumi dan Yui bersamaan sambil menunjuk satu sama lain
__ADS_1
"Ya~ Ya~ Kalian berdua akan semakin dekat~" Ucapku ceria
"Tidak sama sekali!!" Teriak mereka yang lagi-lagi serempak