Hantu Sekolah

Hantu Sekolah
Kehidupan Izumi : SMP


__ADS_3

*


2 hari kemudian, tes untuk masuk Sekolah Menengah Pertama dimulai.


Dalam seminggu itu kami terus datang ke sekolah itu untuk keperluan masuk sekolah.


Lalu, seminggu kemudian, sudah ada daftar orang yang diterima masuk sekolah.


Orang yang diterima seangkatan kami adalah 175 orang, masing masing kelas berisi 25 siswa.


Diantara 175 siswa itu, yang berada di peringkat 75 teratas akan diambil untuk masuk ke kelas khusus.


Aku dan para Tuan muda Hazuki termasuk di 75 siswa teratas itu. Mereka semua mau masuk kelas khusus itu, namun aku menolaknya dan masuk ke kelas umum.


Aku melakukan itu karena di kelas khusus pasti penuh dengan anak dari orang-orang penting, dan pasti mereka mengenaliku.


Aku memiliki trauma pada orang-orang yang mengenalku. Aku tidak ingin bertemu dengan mereka, karena selama ini orang yang mengenalku akan membenciku. Karena itu aku mencoba menghindari tempat yang kemungkinan besar bertemu dengan mereka.


Pada tes itu juga aku sengaja menjawab beberapa soal dengan jawaban salah, karena aku tidak ingin menarik perhatian diawal tes masuk sekolah. dan membuatku berada di urutan ke-9, dibawah Kirian dan Maeru.


Meski aku berada dibawah Maeru dan Kirian, tetap saja itu bukan berarti aku berada di posisi yang aman.


"Kau melakukan hal curang, kan?! Bagaimana bisa kau ada diatas kami?!" Teriak Rio


"Dasar manusia menjijikkan!"


Selain untuk menghindari orang-orang yang mengenalku di kelas khusus, tujuan utama aku tidak mau ke kelas khusus adalah untuk menghindari para Taun Muda Hazuki.


Memang bisa saja mereka marah hanya sebagai pelampiasan karena kematian ibu mereka. Tapi aku yang sudah berpengalaman telah di bully hingga 4 tahun, sudah tahu kalau penyiksaan ini akan terus berlanjut.


Aku juga makin menjaga jarak sebisa mungkin tidak bertemu siapapun.


Tapi itu tetap tidak bisa dilakukan, karena kami serumah.


*


Awal kami masuk Sekolah Menengah Pertama, Tuan Muda Hazuki sudah langsung menarik perhatian orang-orang, mau itu yang seangkatan dengan kami ataupun para kakak kelas.


"Lihat! Kakak adik Hazuki juga masuk sekolah disini!!"


"Kyaaa! Tidak sia-sia perjuanganku terus belajar saat di Sekolah Dasar!!"


"Melihat mereka yang berjalan bersama sangat menyilaukan!"


"Aku ingin tahu tipe wanita kesukaan Kirian. Dia sangat tampan~"


Disela semua orang memperhatikan mereka, aku mengambil kesempatan itu untuk lari dari kerumunan dan bersembunyi.


Aku duduk dibalik pohon sambil membaca buku hingga tanpa sadar aku tertidur.


Dan tanpa sepengetahuanku, disaat aku tidur itu ada banyak orang yang berlalu-lalang melihatku.


"Wah! Dia murid baru kelas 7? Bahkan saat tidur pun tampan sekali..."


"Dia Tuan Muda keluarga mana? Aku ingin kenalan..."


"Dia terlihat sangat elegan bahkan saat tidur"


Karena berisik, aku pun terbangun.


Begitu aku membuka mata, mereka semua langsung pura-pura tidak tahu dan kembali berjalan.


*


Setelah para murid baru berkeliling untuk pengenalan lingkungan sekolah, kami pun kembali ke kelas masing-masing.


Aku berada di kelas umum 7-1, sedangkan Kirian, Maeru, Rio dan Rusen di kelas khusus 7-1.


Karena aku berada di kelas pertama di kelas umum, jadi masih banyak orang yang kukenal didalam kelas.


Salah satunya adalah orang yang sebelumnya pernah membully ku saat masih di Sekolah Dasar, Kenzo.


"Hai, Arato! Tak kusangka takdir mempertemukan kita lagi!" Ucapnya sambil menyeringai


Wajahku langsung memucat karena teringat dengan masa lalu yang kelam dan menyakitkan darinya.


Selain dia masih ada beberapa orang yang suka membully ku dulu.


Bahkan, di SMP pun aku masih harus bertahan selama 3 tahun dari mereka semua, karena selama 3 tahun murid di kelas akan tetap sama dan tidak akan diacak.


*

__ADS_1


Hari kedua sekolah, Pembullyan dimulai.


Brak!


Kenzo menerjang mejaku hingga terbalik.


"Kyaaa!"


Para murid mulai heboh karena mereka segerombolan mengepungku.


"Guru! Panggil pak guru kesini!" Teriak salah satu laki-laki dikelas.


Langsung saja laki-laki itu ditangkap oleh rombongan Kenzo.


Buk!


Laki-laki itu langsung dipukul hingga tubuhnya terbentur dinding dibelakangnya.


"Hey, kalian tahu kami siapa? Jangan coba-coba melapor kalau tidak mau dipukul seperti dia!!"


Sejak itu, para murid di kelas hanya diam saja meski melihatku tersiksa. Dari raut wajahnya, aku tahu diantaranya ada yang kasihan padaku tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa.


Aku sedikit senang, setidaknya tidak semuanya membenciku.


Tapi tetap saja, perasaan senang itu tidak bisa menutupi rasa sakit dan traumaku yang sudah melekat bertahun-tahun ini.


Byur!


"Hahahahaha!! Dia basah!"


"Apa yang kau lakukan, Ian? Harusnya kau lebih hati-hati saat membawa ember berisi air~" Ucap Rusen


Kirian berjalan mendekatiku lalu mendekatkan wajahnya dengan tatapan sinis.


"Aah~ Aku 'tidak sengaja' menumpahkannya. Maafkan aku"


"Oh ya, aku baru ingat ada tugas yang harus kukerjakan. Izumi, kau pel air yang tumpah itu, ya"


"...."


Mau di sekolah ataupun dirumah, aku selalu mendapat siksaan fisik hingga mengenai mentalku.


Aku tidak bisa melakukan apapun untuk pertahanan diri.


Aku berpikir, jika aku melawan, itu hanya akan membuat masalah semakin besar. Karena itu aku hanya mengikuti apa yang diinginkan mereka tanpa perlawanan.


Jika aku memberontak, tidak ada yang akan ada di sisiku.


Tidak akan ada yang membelaku.


Jadi aku bersikap seperti air di sungai. Berjalan mengikuti arus tanpa perlawanan.


Meski begitu, bohong jika aku bilang kalau aku baik-baik saja setelah semua yang kulalui.


Aku sudah lelah hingga di titik tidak peduli bagaimana masa depanku nantinya.


Bahkan, saat sekitar 3 bulan kami sekolah, pernah ada pikiran gila di pikiranku.


*


"Arato! Kau sedang membaca buku?"


Kenzo langsung merampas buku yang kupegang lalu merobeknya tepat didepanku.


"Kau itu jenius~ Untuk apa masih baca buku? Lebih baik kau bersihkan sepatuku ini" Ucapnya sembari melempar potongan buku milikku ke meja.


Itu adalah salah satu buku favoritku, tapi rusak begitu saja ditangannya.


Tanpa sadar karena emosi, aku mengernyitkan dahiku.


"Apa? Kau marah?" Tanyanya


Brak!


Kenzo langsung menerjang kursi yang ku duduki hingga aku terjatuh.


"Memangnya kau punya hak untuk marah?! Kalau tidak suka, keluar saja dari sekolah ini! Sejak awal tempat ini bukan untuk orang berstatus rendahan sepertimu!!"


Seperti biasa, saat aku melirik ke sekeliling, murid lain pura-pura tidak tahu seolah tidak terjadi apapun di kelas.


Otakku kosong saat itu dan tanpa sadar aku bertanya padanya.

__ADS_1


"Apa... Kesalahanku hingga aku pantas mendapat semua ini?" Tanyaku


Kenzo langsung menyeringai sambil menatapku sinis.


"Kau bertanya karena sungguh tidak tahu?" Tanyanya


"Baiklah, akan aku beri tahu! Itu karena kau merebut semuanya milikku!! Kau terus berada di peringkat pertama yang seharusnya milikku, padahal kau sendiri orang rendahan! Kau tidak tahu malu sampai masuk ke sekolah ini!"


"Ah, aku hampir lupa mengatakannya. Aku sebelumnya pernah dengar, ayahmu meninggal bukan karena obat-obatan, melainkan karena kau yang membunuhnya"


"Kau orang yang membunuh ayah sendiri! Monster menjijikkan yang tega membunuh orang tuanya sendiri! Apa kau pantas bertanya alasan karma itu datang?"


Aku langsung tersentak begitu mendengarnya. Murid lain yang sebelumnya pura-pura tidak tahu sekarang perlahan melirik ke arahku sambil berbisik kecil.


"Eh? Apa benar? Saat SD aku memang pernah dengar mantan CEO meninggal mendadak"


"Tapi Arato Izumi itu tidak terlihat seperti anak yang seperti itu"


"Kita tidak tahu bagaimana dia sebelumnya. Bisa saja dia jadi kalem setelah insiden ayahnya untuk menghilangkan jejak"


"Wah, konspirasi yang mengejutkan!"


Mereka mulai berbisik-bisik satu sama lain, sedangkan aku langsung panik didalam kebingungan.


"Bagaimana... Bagaimana bisa dia tahu?! Yang tahu insiden itu hanya aku dan mama. Aku tidak pernah mengungkit soal papa selama ini, dan mama juga terus berada di rumah sakit. Dari mana dia tahu?!" Pikirku


Aku pun tersentak.


"Dokter! Dokter yang merawat mama satu-satunya orang luar yang tahu masalah itu. Apa dia yang membocorkannya?!" Pikirku


"Tidak. Dia sudah dibayar oleh bibi untuk menjaga rahasia apapun yang berhubungan dengan keluargaku. Dia tidak mungkin membocorkannya"


Kepalaku terus berputar mencoba mengingat apakah ada orang lain yang tahu masalah itu, tapi tidak ada lagi di ingatanku selain dokter itu.


"Apakah... Ada yang menguping saat aku mengatakannya pada dokter waktu itu?" Pikirku panik


"Sekarang kau mengerti kan, Arato? Kau memang pantas mendapat semua ini. Ini adalah karma untuk anak durhaka sepertimu" Teriak Kenzo


Setelahnya, rumor tentang aku yang membunuh ayah langsung menyebar di sekolah.


Di kelas semua orang menatapku dengan sinis sambil berbisik-bisik begitu melihatku.


Rumor itu bahkan masuk ke kelas khusus dan didengar oleh saudara angkatku.


"Tidak kusangka kau begitu menjijikkan hingga bisa membunuh ayah sendiri!!" Teriak Rusen


"Pergi dari rumah ini!! Setelah ayahmu, apa sekarang kau mengincar papa kami untuk kau bunuh?!"


"Jangan hancurkan image keluarga Hazuki! Kau pembawa sial!!"


Mentalku benar-benar hancur saat itu.


Di malam hari ketika Tuan Hazuki tidak pulang karena sibuk bekerja, aku dikunci diluar rumah oleh Kirian.


Semuanya menyalahkanku hingga aku juga ikut berpikir kalau aku salah seperti yang mereka katakan.


"Aku... Keberadaanku tidak diharapkan dimanapun..."


"Aku tidak ingin merasakan sakit lagi... Aku tidak mau terus seperti ini..."


Dengan telanjang kaki aku berjalan ke taman dan menemukan sebuah pisau kecil yang sebelumnya digunakan Akane dan Akihito untuk memotong daun.


Aku memungut pisau itu lalu mengarahkannya ke leherku sendiri.


"Ya. Ayo pergi dari dunia ini seperti yang semuanya inginkan"


"Aku adalah pembawa bencana. Keberadaanku hanya akan mengganggu yang lainnya"


Dengan yakin aku bersiap menusuk leherku sendiri, tapi seketika aku langsung ragu.


"Bagaimana... Dengan mama?"


"Jika aku tidak ada, mama akan sendirian"


"Mama sedang sakit. Kalau aku tidak ada, siapa yang akan menjenguknya?"


Tubuhku seketika gemetar hebat dan aku tersungkur karena kakiku sudah tidak kuat menahan tubuhku.


Air mataku mengalir tanpa bisa kukendalikan.


Aku sudah tidak kuat hingga aku ingin mati saja, tapi begitu teringat ibu, aku jadi ingin terus bertahan hidup.

__ADS_1


Kedua perasaan itu sedang beradu didalam diriku.


"Apa yang harus kulakukan?"


__ADS_2