Hantu Sekolah

Hantu Sekolah
Bintang Yang Menyinari Langit Malam


__ADS_3

"pemimpin"


"anda tidak lupa dengan sumpah anda kepada saya, kan?" tanya Kagusa


ketika mendengarnya, Izumi langsung tersentak. Izumi menghilangkan asap hitam yang berkumpul di sekitarnya dan menurunkan tangannya yang hendak menyerang Kagusa.


Izumi berdiri dan berjalan menjauh dari para roh yang ada disana.


saat sedang berjalan, Izumi merasakan lidahnya yang terluka sudah sembuh.


"pe... pemimpin Izumi!" teriak salah satu roh baik dan mencoba mengejar Izumi. namun, Kagusa menahan tangan roh itu


"tidak usah di kejar" ucap Kagusa


"tapi, bisa saja Izumi mencoba menyakiti dirinya lagi" ucap roh itu


"tidak akan. tidak perlu khawatir" ucap Kagusa


"dasar pemimpin. meski dia itu pemimpin kami, tapi tetap saja dia adalah anak kecil" pikir Kagusa


*


malam hari


aku berbaring diatas kasurku dengan menutup mata. tak lama setelah itu aku berbalik kekiri, lalu kenan, kembali lagi ke kiri dan seterusnya seperti itu.


"Yurin, kau harus tidur meski apapun masalahmu" batinku


"aku harus istirahat yang cukup agar bisa berfikir saat ulangan besok"


aku diam dan mencoba tidak berfikir apapun.


10 menit kemudian


"tidak bisa! aku masih tidak bisa tidur!!" batinku


"mungkin aku akan mengantuk jika aku keluar"


aku bangun dan berjalan ke pintu keluar.


"ternyata diluar lebih sejuk dibanding perkiraanku" gumamku


aku memandangi bintang-bintang dan bulan di langit malam. lalu aku mendengar ada yang memanggilku di belakangku.


"Yurin"


sontak aku langsung menoleh ke belakang. aku melihat Izumi sedang berdiri menghadapku, tapi matanya melihat ke arah lain.


"Izumi... itu, soal tadi siang---"


"maaf, aku yang salah"


ucapanku dipotong. aku yang berniat minta maaf duluan malah didahulukan Izumi.

__ADS_1


"apa?" tanyaku


"maaf, tadi siang aku berbohong dan teriak ke kamu..." ucap Izumi dengan suara kecil


"tidak, aku juga yang salah. aku asal ikut campur masalah para roh. maaf juga tadi aku marah dan membuatmu jadi marah" ucapku canggung


"situasi macam apa ini?!" pikirku


dan setelah itu, keadaan jadi hening


dalam kecanggungan, aku mencoba mencari alasan untuk memecahkan suasana ini.


"benar juga, cookie! aku berikan saja pada Izumi" pikirku


"tunggu sebentar" ucapku lalu langsung masuk ke dalam.


"ini, ambillah. anggap saja sebagai tanda permintaan maafku." aku menyodorkan 2 bungkus cookie ke Izumi.


"terima kasih" ucap Izumi


Izumi menerima cookie itu dan baru menyadari kalau aku memberinya 2 bungkus.


"kenapa ada 2?" tanya Izumi


"yah, aku tidak begitu berselera untuk memakannya. tapi kau tak perlu khawatir, cookie itu enak kok" ucapku


"tadi Yui memaksaku untuk mencicipi cookienya saat aku bilang tidak begitu berselera memakannya" batinku


ketika aku selesai berkata seperti itu, Izumi memasukkan sepotong cookie ke mulutku.


"ternyata Izumi juga sama saja dengan Yui" pikirku. aku tersenyum lalu menerima cookie yang diberikan Izumi


kami duduk di kursi teras dengan aku duduk di sebelah kiri dan Izumi di sebelah kanan. aku hanya melamun memandangi langit sambil memakan cookie. dan aku tak sadar selama aku melamun, Izumi sedang memperhatikanku.


"ada apa? kenapa melamun?" tanya Izumi


"aku hanya suka melihat bintang dan bulan di langit. seandainya bintang-bintang dan bulan itu tak ada di langit malam yang gelap ini, pasti terasa sangat hampa, kan?" ucapku yang masih memandangi langit


"kau suka cahaya?" tanya Izumi


"um... mungkin" ucapku ragu


"itu sangat cocok denganmu" gumam Izumi


Izumi mengangkat tangan kirinya. perlahan muncul bintik-bintik cahaya di atas telapak tangan Izumi. bintik-bintik cahaya itu melayang dan bertebaran di sekitar kami.


"Izumi! cahaya ini seperti kunang-kunang. cantik sekali" ucapku ceria.


aku mengenadahkan tangan kananku, lalu salah satu cahaya turun dan mendarat di tengah telapak tanganku. namun, tak lama setelah menyentuh kulitku, cahaya itu menghilang.


"Izumi, apa cahaya itu tidak bisa disentuh?" tanyaku


"cahaya itu adalah kekuatanku yang aku pecahkan menjadi serpihan kecil. sebelumnya aku sudah memasukkan kekuatanku ke tubuhmu, jadi kekuatanku dapat mengenali tubuhmu, dan tubuhmu bisa menyerap kekuatanku" jelas Izumi

__ADS_1


"jadi, cahaya itu bukan menghilang, tapi tubuhku yang menyerapnya?" tanyaku


"benar"


"bagaimana ini? bagaimana jika tubuhku malah jadi menyerap semua cahaya itu?" ucapku gelisah


"tenang saja. jika cahayanya habis, akan aku keluarkan lagi lebih banyak" ucap Izumi


"bukan itu maksudku. aku merasa jadi seperti mencuri kekuatanmu" ucapku


mendengar itu, Izumi malah tertawa.


"kau takut aku kehabisan kekuatan? ingatlah kalau aku ini pemimpin roh. semua cahaya ini hanya seperti semut bagiku" ucap Izumi


Izumi mengangkat kedua tangannya. cahaya itu muncul lebih banyak lagi. dan kali ini cahayanya memiliki warna kuning dan hijau.


"wah, cantik sekali!" ucapku ceria


"tapi, apa semua ini tidak terlalu banyak?" tanyaku


"anggap saja ini sebagai tanda permintaan maafku" ucap Izumi


aku terus memandangi cahaya-cahaya yang bertebaran itu dan mataku sudah mulai mengantuk.


"tidak. aku tidak mengantuk" pikirku dan mengusap mataku


namun aku tetap tidak bisa melawan rasa kantuk ini dan tanpa sadar malah tertidur.


"omong-omong, apa kau hari ini belajar dengan..."


"...giat..."


ketika Izumi menoleh untuk bertanya soal pelajaran ulangan, yang ia dapatkan malah Yurin yang tertidur.


Izumi tersenyum walau samar. ia mengangkat tangan kirinya dan membuat Yurin menyandar ke bahu kirinya.


Izumi menatap langit malam dengan tangan kirinya masih memegang kepala Yurin.


"langit malam jika tidak ada bintang... hampa, ya?" gumam Izumi


"hey, dulu aku tidak jauh beda dengan langit yang hampa itu. sangat luas, gelap, dan tidak ada apapun di sekelilingmu kecuali hawa dingin yang menyeramkan. bahkan mungkin aku jauh lebih buruk lagi"


"tapi untunglah kau muncul. kau seperti lautan bintang yang menghias langit malam yang hampa itu"


"karena itu, kau jangan pernah pergi dan hiasilah langit malam itu hingga matahari muncul dan malam pun berakhir"


"aah... kuharap kau mendengarnya, tapi aku takkan mengatakannya untuk kedua kalinya" ucap Izumi


Izumi mengusap kepala Yurin lalu menyandarkan kepalanya diatas kepala Yurin. cahaya yang ada di sekeliling mereka masih tetap melayang kesana kemari


"sudah semakin larut. dia bisa saja kena flu karena kedinginan" gumam Izumi


Izumi menggerakkan jarinya seakan menyuruh cahaya itu masuk ke tubuh Yurin. lalu cahaya itu langsung mengerumuni tubuh Yurin dan menghilang.

__ADS_1


Izumi menggendong Yurin masuk ke dalam rumah dan menaruhnya ke kasurnya, lalu menghilang


__ADS_2