
keesokan harinya, saat aku bangun, aku sudah berada di kamar. aku lupa apa yang terjadi semalam. apakah aku berjalan masuk ke kamar dan tidur, atau aku tidur di luar dan Izumi yang menaruhku kembali ke kamar. bahkan aku sempat berpikir kalau Izumi yang muncul itu hanyalah mimpi. tapi ketika aku melihat meja belajarku sudah tidak ada cookies lagi, aku yakin kalau itu bukan mimpi.
"tubuhku rasanya sangat segar. apa tubuh ini menyerap semua cahaya dari kekuatan Izumi semalam?" pikirku
"Izumi berlebihan sekali. nanti aku akan bicara dengannya" pikirku
aku bangun dari kasur dan bersiap untuk berangkat sekolah. saat masih pagi sekali, aku dan Yui sudah siap untuk sekolah.
"bagaimana, Yui? apa kita pergi sekarang?" tanyaku
"kita pergi sekarang saja. lebih baik lebih cepat datang daripada terlambat" ucap Yui
"tapi jika pergi sekarang, mungkin masih belum ada orang" ucapku ragu
"kalau memang begitu, aku akan bermain ke kelasmu agar kau tidak kesepian!" ucap Yui yakin
aku tersenyum menanggapi ucapan Yui. akhirnya kami pun berangkat sekolah.
setelah datang ke sekolah, perkiraanku memang benar. baru beberapa orang yang sudah datang ke sekolah. di ruang ujianku dan Yui belum ada orang yang datang. dan sesuai janji Yui, setelah menaruh tasnya di ruang ujiannya, dia datang ke ruang ujianku.
"Ririn, aku mau melihat kelas kalian. karena sekarang masih sangat pagi, sepertinya disana belum ada orang yang datang. ayo kesana sekarang!" ucap Yui semangat
kami pun akhirnya pergi ke kelasku, kelas 10-2 yang tak terlalu jauh dari ruang ujianku sekarang. sesuai dengan perkiraan, belum ada orang yang datang di kelas itu.
"jadi seperti ini ya rasanya jadi Ririn" ucap Yui yang duduk di kursiku sambil memperhatikan sekeliling kelas.
"tidak ada yang istimewa kok di meja itu" ucapku
Yui tak menanggapi perkataanku. Yui malah sibuk memeriksa mejaku.
"ada apa?" tanyaku
"tidak apa-apa kok, aku hanya ingin melihat-lihat saja" jawab Yui
Yui lanjut mengecek mejaku, lalu beralih ke meja Mesha yang ada di sebelah mejaku.
"hmm~ seperti ini, ya~" gumam Yui
"seperti ini apa?" tanyaku
"meja di kelas kalian lebih bagus dibanding yang kelas kami! bukankah itu namanya tidak adil?!" teriak Yui
__ADS_1
"karena itu kau mengecek mejaku dan meja mesha?" tanyaku
lagi-lagi Yui tak menanggapi perkataanku. ia berdiri dan berjongkok di depan dinding di belakang kursiku. Yui menyentuh dan memperhatikan dinding dan lantai disana dengan teliti dan serius.
"tuh, kan. dinding dan lantai kelas kalian juga lebih bagus dibanding kelas kami" ucap Yui
Yui yang masih berjongkok di depan dinding itu pun beralih ke kursi milikku. Yui sedikit mengangkat kursi itu untuk melihat bagian bawah di kaki kursi dengan serius.
"kursinya juga sangat bagus. Ririn, kau pengkhianat!" ucap Yui
"jangan marah padaku. jika kau ingin protes, lakukan saja ke kepala sekolah" ucapku
"kau gila? tidak mungkin kan aku melakukan itu!" gerutu Yui
kami terus bercerita. karena merasa sudah terlalu lama di kelas itu, kami pun keluar dari kelas itu dan pergi ke ruang ujianku. kami melanjutkan cerita hingga orang di ruangan itu cukup ramai.
"sekarang orang di ruang ujianmu sudah cukup banyak, jadi kau takkan kesepian. aku kembali ke kelasku dulu ya" ucap Yui lalu berjalan keluar.
"walau orang di kelas ini jadi ramai, tapi hanya sedikit yang aku kenal. orang yang datang kebanyakan dari kelas lain" pikirku
karena aku jadi bosan setelah Yui pergi, aku pun mencoba untuk belajar lagi untuk ulangan nanti. lalu, sekitar 30 menit kemudian, bel tanda ulangan akan dimulai pun berbunyi.
beberapa jam setelah mengerjakan banyak soal, akhirnya ulangan hari ini pun selesai. seperti di hari-hari sebelumnya, banyak orang yang mengeluh dengan soal ulangan yang sulit. aku sendiri juga sebenarnya sedikit kesulitan. aku mengisi semua soal dan aku rasa sepertinya sebagian besar isianku benar, namun aku tidak terlalu yakin.
disaat aku sedang merenungkan jawaban ulanganku tadi sambil berjalan menuruni tangga, aku melihat Kagusa yang sedang berjalan bolak-balik di dekat taman di samping gedung sekolah dari jendela. dia terlihat seperti sedang mencari sesuatu dengan wajah panik.
aku pun mendekat dan menyapanya.
"hai, Kagusa. kau sedang mencari apa?" tanyaku
"Yurin?!" teriak Kagusa kaget
begitu melihatku, Kagusa langsung bersujud di depanku.
"maafkan aku!! itu bukanlah salah Izumi, tapi salahku. jadi tolong jangan marah padanya!!" teriak Kagusa
"a... apa yang kau lakukan?! cepat bangun!" ucapku gugup
"dia itu memang seperti itu. dia sulit untuk mengendalikan emosinya. Izumi juga tidak bermaksud membuatmu marah!" lanjut Kagusa yang tidak menghiraukan ucapanku
"baik, baik. aku akan mendengarkannya setelah kau bangun" ucapku mencoba mengangkat kepala Kagusa agar dia tidak bersujud lagi
__ADS_1
"Izumi juga sangat menyesal kemarin sampai-sampai dia ingin menyakiti dirinya sendiri. para roh baik lainnya sampai kesulitan untuk menghadapinya!" lanjut Kagusa
"apa yang aku katakan tidak dia dengar, ya?" pikirku kesal
"sudahlah, aku tidak marah padanya. kami juga sudah berbaikan" ucapku
"apa? kapan?" tanya Kagusa dan mengangkat kepalanya karena penasaran
"kalau ingin mendengar kelanjutannya, kau bangun dulu. aku sangat tidak nyaman melihatmu seperti itu" ucapku
Kagusa akhirnya bangun. kami pun duduk di kursi taman, dibawah pohon-pohon yang rindang.
"jadi, kapan kalian baikannya?" tanya Kagusa
"tadi malam. Izumi tiba-tiba datang dan minta maaf padaku" ucapku
"wah, meski aku sudah menduganya, tapi tetap saja aku kaget..." ucap Kagusa
"tunggu, apa?! tadi malam?!" teriak Kagusa
"iya" jawabku singkat
"memangnya kenapa?" tanyaku
"sebenarnya semalam aku ingin datang ke rumahmu untuk menggantikan Izumi untuk minta maaf padamu. tapi saat aku ingin ke sana, ada penghalang yang membuatku tidak bisa masuk ke rumahmu dan di sekelilingnya" ucap Kagusa
"itu pasti Izumi yang memasangnya" gumam Kagusa
"lalu, setelah itu apa yang kalian lakukan?" tanya Kagusa
"emm... aku memberinya cookie, lalu... Izumi mengeluarkan cahaya yang sangat banyak... aku tidak ingat lagi setelahnya" ucapku sambil berpikir keras.
setelah mengatakannya, Kagusa terlihat berpikir sejenak, lalu terlihat sudah paham dengan situasi yang aku maksud.
"baiklah, aku mengerti" ucap Kagusa
"kalau begitu, sekarang giliranmu menjelaskan maksud perkataanmu tadi" ucapku
"ah, itu... seperti yang kau ketahui, Izumi adalah campuran dari roh baik dan roh jahat. terlebih lagi dia adalah pemimpin di kedua jenis roh itu. jadi karena itu, emosi Izumi itu tak terkendali dan menyesuaikan dengan perasaanya sendiri sedang bagaimana, apalagi jika Izumi marah. jika dia sedang marah, ia akan marah hingga ia puas. ia kesulitan untuk menahan amarahnya karena roh jahatnya" ucap Kagusa
"saat bersamamu, dia sering terlihat sangat mudah kesal, bukan? selain karena efek dari kehidupannya dulu, itu juga pengaruh dari roh jahatnya. jadi untuk kedepannya, mohon maklumi perilaku Izumi itu" ucap Kagusa
__ADS_1
"jika dipikir lagi, memang benar sih Izumi sering terlihat kesal hanya karena hal sepele. kupikir itu karena memang temperamennya yang sangat mudah marah. ternyata itu karena pengaruh roh jahat, ya..." pikirku