
*
**
Aku masih duduk terdiam ditengah hutan. Meski aku sudah berhenti menangis, tapi hatiku masih terasa sakit.
Aku melamun sejenak, lalu menatap Kagusa dan Kei yang berdiri tak jauh dariku.
Dan perlahan, tubuh mereka berdua juga ikut mulai transparan.
"Kagusa, Kei, tubuh kalian kenapa ikut transparan?!" Teriakku
Mereka melihat diri mereka sendiri, lalu menjawabku.
"Kau tidak terikat lagi dengan Izumi, Yurin. Meski kau punya kekuatan indra ke-6, tapi itu belum cukup untukmu bisa melihat roh. Jadi otomatis, kau tidak bisa lagi melihat kami"
"Setelah ini pun, mungkin kau tidak akan bisa melihat kami lagi"
"Jadi... Aku benar-benar kembali ke kehidupan normal ku" Pikirku
Tak lama kemudian, aku benar-benar tidak bisa melihat mereka lagi dan aku hanya sendirian ditengah hutan yang luas ini.
*
**
Aku pun kembali ke rumah, dan mencari buku milik Izumi.
Buku yang awalnya kosong tidak berisikan tulisan apapun, sekarang penuh dengan tulisan khas Izumi.
Aku membaca tulisan-tulisan itu.
...25 Maret 2009...
...Hari ini ulang tahunku yang ke-8 tahun. Hari ini aku mendapat hadiah buku ini dari Mama, dan juga hari pertama aku bertemu Papa. Tapi... Kejadian selanjutnya berbanding terbalik dengan yang kuinginkan....
...*...
...3 April 2009...
...Mama terus mengamuk begitu melihatku. Aku sangat takut dan kebingungan......
...*...
...15 Juli 2009...
...Lagi-lagi aku dikeroyok oleh rombongan preman kelas. Mata mereka saat menatapku sangat menyeramkan. Aku tidak mengerti alasan mereka memukuliku....
...*...
...27 Januari 2010...
...Aku dipaksa kakek untuk pindah dan tinggal bersama keluarga Hazuki. Aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk melawan....
...*...
...25 Maret 2010...
Hari ini ulang tahunku yang ke-9 tahun, juga bertepatan dengan Nyonya Hazuki meninggal dunia. Anak-anaknya marah mengira aku pembawa sial di keluarga mereka.
...*...
...16 Juni 2010...
...Sudah cukup!! Aku sudah tidak tahan dengan semua ini!! Aku hanya ingin hidup tenang, tapi kenapa itu sulit sekali?! Aku tidak bisa terus seperti ini. aku ingin menghilang sepenuhnya dari dunia ini....
...*...
...1 Juni 2012...
...Aku berencana bunuh diri sebelumnya, tapi aku masih bisa mengendalikan akal sehatku dan akhirnya aku bisa bertahan sampai sekarang. Lalu, tadi aku bertemu perempuan aneh berambut biru. Dia dengan ramah mengajakku berbicara. Selama ini tidak ada orang sepertinya selain Mama....
...*...
...28 Juli 2013...
...Aku suka perempuan itu. Tapi aku juga tidak suka dia. Perasaan yang sebelumnya sangat lembut sekarang mulai terasa hampa. Aku tidak mau berdekatan dengannya lagi....
...*...
...5 Maret 2014...
...Aku dipaksa Tuan Hazuki untuk masuk SMA bergengsi. Masalahnya, kepala sekolah itu adalah ayah Hazuki Maeru. Aku bisa melihat jalanku di masa depan sangat gelap dan penuh duri yang menyakitkan....
...*...
...25 Agustus 2014...
...Aku sudah lelah dengan kehidupan mengerikan ini. Tidak ada hal baik dalam hidupku. Siapapun... Tolong selamatkan aku... Tapi... Apakah ada... Yang mau menolongku?...
...*...
...1 Desember 2014...
...Aku tidak peduli lagi bagaimana dengan masa depanku. Aku hanya ingin pergi dari rumah terkutuk ini....
...*...
...15 Januari 2015...
...Lagi-lagi... Aku mendapat banyak luka dari para Hazuki. Seluruh tubuhku terasa nyeri dan sakit. Kulitku juga penuh luka dan lebam hingga aku tidak mau melihatnya....
...*...
...5 Maret 2015...
...Besok ulangan. Awalnya aku ingin berusaha semaksimal mungkin seperti di tahun sebelum-sebelumnya. Tapi untuk besok, aku tidak peduli lagi. Semua kesialan ini berawal dari aku yang selalu di peringkat pertama. Aku akan menjadi peringkat terakhir. Dengan begitu, mereka... Mungkin tidak menargetkan aku lagi......
...*...
...17 Maret 2015...
...Mama, aku minta maaf jika mengecewakan Mama di tahun ini. Aku... Aku bisa berusaha di tahun depan. Tapi untuk sekarang... Aku hanya ingin bertahan hidup... Selama aku masih hidup, mungkin... Aku bisa berusaha. Dan... Orang-orang tidak menyakitiku.......
...*...
...25 Maret 2015...
Hari ini ulang tahunku yang ke-14. Semoga tidak ada hal buruk terjadi.... Kepalaku sangat pusing karena luka sebelumnya terinfeksi. Semoga aku tidak pingsan lagi kali ini...
...*...
Dan, itulah akhir dari tulisan di buku Izumi. Padahal masih banyak sisa kertas yang masih kosong...
Aku kembali membalik tiap lembar kertas itu yang terdapat tulisan Izumi. Dan jika ku perhatikan lagi, hampir di setiap kertas itu ada noda darah. Di sisi lain juga kertasnya berwarna agak kuning dan sedikit mengkerut berbentuk bulat kecil, juga tinta penanya sedikit meluber seperti terkena percikan air.
Aku bisa membayangkan Izumi menulis di buku ini dengan penuh luka dan kesakitan. Dia tidak punya tempat untuk mencurahkan apa yang dia pikirkan, hanya buku ini penyelamat dia untuk bercerita hingga berlinang air mata.
Aku terdiam sebentar untuk menenangkan hatiku yang kembali kacau. Lalu kembali melihat buku itu, namun aku melihat ke bagian belakang buku.
Dan benar saja, tidak seperti di halaman depan yang rapi. Di halaman belakang sangat berantakan dan penuh coretan. Dan hampir di seluruh kertas hingga sampul belakangnya bernoda darah hingga tulisannya jadi sedikit kurang jelas.
Aku melihat tiap tulisan singkat itu.
...*...
...Sakit... Sakit sekali......
...Kenapa? Apakah aku terlalu serakah jika aku ingin hidup normal? Mengapa? Kenapa harus aku dari sekian banyak orang?...
...Aku sangat tersiksa... sangat sakit......
...Aku ingin mati saja...
__ADS_1
...Tidak ada orang yang melihatku sebagai manusia. Keberadaanku lebih buruk dari hewan sekalipun.......
Aku sungguh tidak mengerti... Aku berusaha tidak membuat kesalahan, tapi kenapa.... Semuanya... Membenciku...
...Kumohon! Tolong jangan pukul aku lagi... Aku mungkin terlihat biasa saja, dan kalian mungkin berpikir aku sudah terbiasa dipukul. Tapi aku masih manusia! Aku juga manusia seperti kalian!! Sudah terbiasa disakiti, bukan berarti aku tidak bisa merasakan sakit... Aku terus, terus, terus, terus!!! Merasa sakit sepanjang waktu... Kenapa tidak ada yang bisa mengerti perasaanku......
...Aku juga manusia... Aku juga ingin dicintai... Apakah aku begitu serakah mengharapkan belas kasih dari kalian semua?...
...Aku ingin berteriak. Namun mulutku seakan terkunci. Jika aku bersuara... Kalian pasti akan memukuliku lebih banyak lagi......
...Aku... Ingin mempunyai teman... Aku tidak mau terus sendirian. Tapi itu tidak mungkin....
...Jika seandainya suatu saat aku mati, apakah ada orang yang menangis dan mengenangku? Tidak. Tidak akan ada. Bahkan mereka akan berpesta atas kematianku seperti sebuah kemenangan....
...Aku tidak peduli dengan kehidupanku. Semuanya terasa hampa. Apa alasan aku hidup? Aku tidak tahu...
...*...
Aku kembali menangis melihatnya. Tulisannya penuh ungkapan perasaan Izumi yang menyayat hati ditambah buku yang penuh darah menambah kesan sakit yang Izumi tahan selama ini. Izumi sangat hebat bisa bertahan selama ini dan bisa mempertahankan akal sehatnya.
Aku langsung memeluk buku itu dengan mata yang kembali basah.
"Maaf, Izumi... Seandainya aku tahu lebih cepat..." Gumamku
"Izumi... Bahagia selama itu bersamamu. Tolong jangan khawatir"
"Terima kasih... Telah bersama Izumi 1 tahun ini... Kehidupannya sangatlah gelap. Meski tidak rela, tapi dengan Izumi tidak lagi menjadi roh, ini juga jalan terbaik bagi Izumi"
Samar-samar aku mendengar suara Kagusa. Ternyata meski aku tidak bisa melihatnya, tapi aku masih bisa mendengar suaranya.
Aku langsung menghapus air mataku, lalu menegakkan kembali kepalaku sambil tersenyum tipis.
"Terima kasih, Kagusa..."
Aku langsung berdiri dan berjalan keluar.
"Kau mau kemana?" Tanya Kagusa
"Rumah sakit" Jawabku
*
Aku mendatangi rumah sakit, tempat dimana Liliana, ibu Izumi dirawat.
Seperti sebelumnya, aku membawakan buah apel untuk ibu Izumi.
"Izumi... Setidaknya, aku membantumu untuk kembali terhubung dengan ibumu" Pikirku
Tok, tok, tok
"Silahkan masuk"
Aku pun membuka pintu ruang rawat Liliana. Liliana sedang duduk diatas ranjangnya seperti biasa.
"Ah, ternyata Yurin!"
"Halo, Tante. Bagaimana kabar Tante?" Tanyaku
"Oh, aku baik-baik saja sekarang. Ayo duduk disamping Tante"
Aku pun mengikuti instruksinya untuk duduk di kursi di samping ranjang.
Aku terdiam sebentar, lalu memulai pembicaraan.
"Begini, Tante. Sebenarnya aku datang karena ada yang ingin aku sampaikan"
"Ya? Apa itu?"
Aku sedikit ragu, tapi aku membulatkan tekat dan menatap dalam mata Liliana.
"Sebelum itu, apa tante tahu dengan Izumi?" Tanyaku
"Ah, tentu saja aku tah---- Eh?... Siapa dia?"
"Tante tahu kan siapa Izumi?" Tanyaku
"Si... Siapa dia? A... Aku tidak mengenalnya" Gumam Liliana gugup
"Itu adalah nama 'Dia'. 'Dia' bernama Izumi"
"Oh... Be... Begitu? Jadi, apa yang ingin kau sampaikan padaku?"
"Ini soal 'Dia' yang lama menghilang dan tidak menemui Tante"
Liliana langsung kaget bercampur senang. Mata birunya langsung terbelalak dan bibir merah pucatnya langsung tersenyum.
"Benarkah? Jadi kenapa dia tidak datang selama ini? Kenapa?" Tanya Liliana penasaran. Saking semangatnya, dia sampai mengulurkan tangannya untuk memegang bahuku.
"Dia... Telah meninggal 6 tahun lalu" Jawabku hingga membuat Liliana tersentak karena syok. Dia menarik kembali tangannya perlahan dan masih tidak percaya dengan yang ia dengar barusan.
"A... Apa..." Gumamnya
"Dia... Sudah meninggal..." Gumamku sambil menundukkan kepala
Sontak Liliana langsung memegang kedua bahuku dan mendekatkan wajahnya padaku.
"Apa yang kau katakan?! Kau sedang bercanda, kan?! Tidak mungkin!!! Dia masih muda!!!" Teriak Liliana
"Tapi begitulah kenyataannya, Tante!" Ucapku tegas
Tangan Liliana langsung lemas. Dia langsung tertunduk dengan wajah pucat.
Aku terdiam sebentar, lalu kembali memulai pembicaraan.
"Tante, 'Dia' itu adalah anak Tante, Arato Izumi!"
"Tante... Tau hal itu, kan?" Tanyaku
Liliana langsung menatapku tajam.
"Kau dari tadi terus mengatakan omong kosong! 'Dia' itu masih hidup, dan juga bukan anakku! Aku tidak memiliki anak!!"
Aku langsung mengambil buku milik Izumi dari tas ku dan menunjukkannya ke Liliana.
"Tante pernah lihat kan buku ini?" Tanyaku
"Ini..." Gumamnya
"Tante yang memberikannya pada Izumi di ulang tahunnya ke-8 tahun, 12 tahun yang lalu"
Wajah Liliana makin pucat dan raut mukanya makin kusut. Dia langsung mencengkeram kuat kepalanya dan berteriak kencang.
"Aku tidak memiliki anak! Rambut hitam itu, mata biru dan kulit putih pucat itu.... Dia bukan anakku!!"
"Tante... Mengingatnya" Gumamku
"Yang Tante sebut itu ciri-ciri Izumi. 'Dia' yang menemui Tante berambut coklat, tapi tante bilang hitam"
Liliana langsung tersentak.
Perlahan Liliana mengangkat kepalanya dan menatapku tanpa ekspresi dengan mata terbelalak tak percaya.
"Apa... Yang sebenarnya kau katakan..." Gumamnya
"Aku... Sebelumnya berhubungan dengan hantu Izumi, anak Tante yang selalu datang ke sini dulu. Dan ucapanku saat pertama kali bertemu Tante itu bohong. Sejak dia tidak datang kesini lagi, dia sudah meninggal. Namun meski begitu, dia tetap rutin datang kesini dalam bentuk hantu"
"Apa bukti dari yang kau katakan?!"
Aku menyodorkan buku itu.
"Silahkan baca, ini berisi penderitaan 'Dia' selama ini tanpa Tante ketahui"
Dengan ragu Liliana mengambil buku itu dan menatap lama sampul bukunya.
__ADS_1
Liliana membuka buku itu perlahan. Saat membukanya, dia kaget karena buku itu penuh bercak darah.
"Itu asli darah 'Dia'. Setiap hari 'Dia' menulis diary sebagai tempat untuknya bercerita soal kehidupannya. Dan tentunya, kondisi tubuhnya tidak selalu baik"
Liliana tampak ragu, namun akhirnya membacanya.
Dia tampak kaget, dan tak henti terus membacanya dengan berlinang air mata.
Aku terus menunggu hingga Liliana selesai membaca bagian depan buku. Setelah selesai, aku membalik ke halaman belakang buku.
Liliana menangis makin menjadi, dan tanpa sengaja dia menjatuhkan buku itu karena tangannya gemetar hebat.
Liliana mencengkeram kepalanya sambil menunduk menyesal.
"Kenapa... Dia tidak pernah bercerita padaku? Tidak. Kenapa aku tidak menyadarinya?...."
"Dia... Padahal setiap datang kesini dia selalu terluka, tapi kenapa aku tidak pernah menanyakan keadaannya?..."
"Aaaaaaanrrghhh....."
Liliana berteriak kencang dan makin menundukkan kepalanya hingga hampir menyentuh pahanya.
"Izumi... Izumi... Izumi, Izumi, Izumi..." Gumam Liliana
"Tidak mungkin... Dia... Izumi?...."
Liliana kembali mengambil buku itu dan menatap lekat buku itu.
"Ini sungguh buku yang sebelumnya kuberikan padanya... Tidak... Pasti ada yang salah... Aku pasti salah ingat... Ya!! Ingatanku pasti salah!!"
Aku hanya menatap Liliana prihatin. Walau bagaimanapun, Liliana adalah ibu Izumi. Jadi diantara mereka berdua masih ada ikatan batin. Walau Liliana lupa, tapi dia pasti masih merasakan adanya Izumi di kehidupannya. Dan begitu tahu Izumi meninggal, dia pasti tidak bisa menerimanya begitu saja.
"Izumi sudah menceritakan semuanya padaku, Tante. Tante tidak salah ingat, memang benar buku ini Tante beri untuk Izumi sebagai hadiah ulang tahunnya ke-8 tahun, tepat 12 tahun yang lalu"
Liliana kembali memegang kepalanya terus mencoba mengingat. Beberapa detik kemudian air matanya kembali mengalir.
"Izumi... Anakku Izumi..." Gumam Liliana
Dengan cepat Liliana kembali melihat sekeliling sampul buku itu, dan membaca sekilas isinya.
Liliana kembali menangis kencang dan memeluk erat buku itu.
"Izumi... Anakku... Bagaimana bisa aku melupakanmu..."
"Kau terus sendirian dan tersakiti di umurmu yang masih kecil... Ini semua salah Mama..."
"Ini salahku karena terlalu lemah... Seharusnya aku hanya perlu fokus membesarkanmu setelah kematian Kirein, tapi aku malah makin terlarut dalam kesedihan. Ini salahku..."
Liliana terdiam dan hanya menangis sambil mengingat-ingat saat dimana Izumi rutin datang ke rumah sakit menjenguknya.
"Aku... Padahal selama ini aku tahu 'Dia' adalah Izumi. Selama ini aku tahu anak laki-laki yang selalu datang kesini itu adalah anakku sendiri, tapi aku tidak mau percaya itu dan pura-pura tidak tahu..."
"Anakku yang sangat kusayangi membunuh suamiku yang kucintai didepan mataku sendiri... Kenyataan itu membuatku hancur dan akhirnya membenci Izumi..."
"Aku tahu Izumi tidak bermaksud membunuh ayahnya. Aku tahu Izumi melakukan itu demi menyelamatkanku. Aku tahu walau Izumi tidak membunuh Kirein, Kirein tetap akan mati dalam waktu dekat dengan kondisi tubuhnya yang buruk itu. Aku juga tahu anak laki-laki itu Izumi"
"Tapi aku pura-pura tidak tahu semua itu, dan terus berbohong pada diriku sendiri kalau semuanya salah Izumi. Begitu melihat 'Dia', aku tidak mau percaya kalau dia Izumi"
"Karena kesalahanku yang tidak bertanggung jawab, lagi-lagi Izumi yang menerima dampaknya..."
"Izumi.... Padahal kamu begitu baik selama ini, tapi kenapa kehidupanmu sangat menyedihkan..."
"Coba saja... Mama tidak melakukan 'kesalahan', kau tidak akan merasakan kejamnya dunia ini..."
Aku mengusap pelan punggung Liliana.
"Tante, kehidupan Izumi memang sulit, tapi sekarang dia sudah tenang. Dia.... Sekarang tidak merasakan sakit lagi..." Gumamku
Liliana kembali menangis.
"Ini kesalahanku. Aku sungguh tidak bertanggung jawab pada Izumi..." Teriak Liliana terisak
"Kalau begitu... Bagaimana kalau Tante menemui Izumi?" Tanyaku
"Menemui... Izumi?"
*
Aku mengajak Liliana ke kuburan, tempat dimana Izumi sebelumnya mengajakku untuk datang ke kuburannya. Tentunya setelah mendapat izin keluar dari dokter yang merawat Liliana.
Setelah berjalan masuk sedikit dari tempat pemakaman umum, aku berhenti berjalan.
"Ini kuburannya, Tante..."
Liliana langsung berjongkok dan mengusap batu nisan itu dengan tangan gemetar hebat. Matanya juga kembali berkaca-kaca.
"Izumi, ini Mama..." Gumam Liliana
"Mama... Sungguh meminta maaf. Mama... Semuanya salah Mama... Mama tidak merawat Izumi dengan baik, malah membuat Izumi makin terluka..."
"Semuanya... Karena Mama yang seenaknya menyalahkan Izumi..."
"Maaf... Mama telat menyadarinya.... Mama juga telat datang kesini...."
Liliana kembali menangis kencang sambil memeluk batu nisan yang tampak usang itu.
Aku kembali mengelus pelan punggung Liliana mencoba membuatnya tenang.
"Izumi tidak pernah menyalahkan Tante. Bagi Izumi, Tante adalah prioritas. Beberapa kali Izumi mencoba bunuh diri, tapi begitu teringat Tante, ia mengurungkan niatnya dan tetap bertahan. Izumi begitu menyayangi Tante"
"Sekarang pun... Izumi pasti senang akhirnya Tante mengingat dan menemuinya. Tapi, Izumi mungkin juga jadi sedih begitu melihat Tante menangis seperti ini"
Liliana pun mengatur nafasnya dan mencoba menghentikan air matanya. Setelah ia cukup tenang, Liliana kembali menatap batu nisan di depannya.
"Mama... Datang untuk menemui Izumi. Sekarang gantian, sebelumnya Izumi terus yang menemui Mama..."
"Mama sungguh bangga... Memiliki putra sebaik Izumi. Semoga tenang, Mama akan menjadi lebih kuat lagi kedepannya, jadi jangan khawatir"
Aku tersenyum sendu melihat adegan ini.
Aku mengambil buku Izumi di tas dan menyodorkannya pada Liliana.
"Ini, Tante..." Gumamku
Liliana hanya diam sambil menatap buku itu.
"Izumi sebelumnya memang memintaku menyimpan buku ini. Tapi sepertinya lebih baik Tante yang adalah ibunya, yang menyimpan buku ini"
Liliana menggeleng pelan, dan memegang kedua tanganku sambil sedikit mendorongnya kembali kearah tubuhku.
"Aku tidak pantas menyimpannya. Aku memang ibunya, tapi aku tidak berperan selayaknya ibu untuk Izumi. Dan lagi, Izumi sudah memintamu menyimpannya, jadi tolong kau jaga buku itu"
"Dan... Terima kasih... Telah bersama Izumi. Anak itu sejak masih kecil sudah di bully oleh teman-temannya. Kau pasti orang yang penting bagi Izumi hingga ia bisa bercerita banyak hal padamu, dan mempercayakan barang berharganya. Kau sungguh baik, Yurin. Aku berhutang budi padamu"
"Tidak, Tante. Aku hanya melakukan hal yang seharusnya kulakukan"
Liliana tersenyum lembut.
"Syukurlah... Setidaknya masih ada orang yang perhatian padamu meski orang di sekelilingmu membencimu, Izumi..."
"Ayo kita kembali ke rumah sakit, Yurin. Dokter nanti akan marah aku keluar terlalu lama"
"Ya"
Kami pun berdoa untuk Izumi, lalu bersiap kembali pergi ke rumah sakit.
Kami berjalan kembali dengan Liliana yang berjalan terlebih dahulu.
Tiba-tiba, aku merasakan aura yang familiar datang. Sontak aku menoleh ke belakang.
Samar-samar, aku melihat bayang-bayang Izumi yang sedang berdiri dibawah pohon dekat kuburannya, dengan senyum lembut khas Izumi ia menatap kepergian kami.
Aku mematung untuk sesaat, lalu membalas senyumannya dan kembali berjalan mengikuti Liliana.
__ADS_1
"Izumi... Aku juga akan berusaha. Aku akan semakin kuat!!"