
"tapi melihat ini, aku jadi ikut sakit!" ucapku
Izumi langsung kaget
"nah, sekarang lukanya akan aku obati" ucapku
"tidak mau" kata Izumi
"apa?" tanyaku
"tidak perlu repot-repot mengobatiku" ucap Izumi
"lukanya harus diobati! kau terluka karena melindungiku. tentu saja aku harus tanggung jawab" ucapku
"kau tak perlu tanggung jawab" kata Izumi
"baiklah. tidak perlu mengobati lukanya, karena lukanya baik-baik saja" ucapku kesal sambil menggenggam erat tangan Izumi yang terluka
"a... apa yang kau lakukan?!" teriak Izumi kesakitan
"sakit, kan?" tanyaku
"kalau begitu lukanya harus diobati. kalau masih tidak mau diobati, lukanya akan kubuat semakin besar, bahkan tanganmu nanti aku potong lho~" ucapku seram
meski Izumi tidak mengatakan apapun, tapi di matanya terlihat sedikit takut melihatku.
akhirnya Izumi menurut untuk diobati lukanya. aku meneteskan obat luka di kapas dan mengoleskannya ke luka Izumi. meski dia tak bersuara, aku tahu kalau Izumi menahan sakitnya.
"maaf, sakit ya?" tanyaku
"tidak" ucap Izumi memalingkan wajahnya
aku tahu dia bohong. aku mengoleskan obat ke lukanya lebih berhati-hati sambil meniup luka itu. beberapa menit setelahnya, luka Izumi sudah selesai diobati dan akhirnya ditutup perban.
"balutan perbanmu bagus juga..." kata Izumi melihat tangannya
"aku sedikit belajar tentang pengobatan saat di SMP dulu" ucapku
"ah, aku lupa! aku masih harus belajar untuk ulangan nanti!" teriakku dan langsung berdiri. aku berlari kearah meja belajarku dan lupa soal kakiku yang memar. jadinya aku terjatuh.
"ada apa?" tanya Izumi
"tak apa. kakiku hanya memar karena jatuh saat berlari tadi di rumah sakit" ucapku
"kalau begitu, harus diobati" ucap Izumi
"tidak usah. aku harus segera belajar" ucapku
"harus diobati!" paksa Izumi
"aku tak punya waktu untuk itu" ucapku
"karena kau sudah mengobatiku, sekarang aku harus mengobatimu" ucap Izumi
"tidak usah. nanti aku akan obati sendiri" ucapku
"kapan kau akan mengobatinya?" tanya Izumi
"em... besok malam?" ucapku
Izumi langsung terlihat kesal dan memegang kakiku yang memar.
__ADS_1
"akan aku obati" ucap Izumi
"hah?" tanyaku
"kakimu memar karena tadi aku memaksamu berlari, dan akhirnya kau jatuh. sebagai laki-laki dan pemimpin roh di sekolahmu, aku harus bertanggung jawab soal memar itu" ucap Izumi
"kau tak perlu bertanggung jawab" ucapku
"kenapa rasanya kami hanya mengulang kata-kata kami tadi? tapi situasi kami sekarang terbalik..." pikirku pasrah
"baik. memarnya tak perlu diobati karena memar itu baik-baik saja" ucap Izumi dan menekan memar di kakiku dengan keras.
"apa yang kau lakukan?! kau gila!" teriakku
"sakit kan?" tanya Izumi dengan senyum liciknya
"kalau begitu, memarnya harus diobati. kalau masih tidak mau diobati, kakimu akan aku patahkan lho~" ucap Izumi dengan muka menyeramkan
"mama... tolong aku..." ucapku ketakutan
Izumi memegang pergelangan kakiku yang memar. tak lama setelahnya, pergelangan kakiku tidak sakit lagi dan bekas memarnya hilang.
"kau menggunakan kekuatanmu?" tanyaku
"sedikit" jawab Izumi
"dasar bodoh! kau baru saja bangun dari pingsan karena terlalu banyak menggunakan kekuatan. sekarang kau malah menggunakan kekuatanmu untuk menyembuhkanku? itu berbahaya!" ucapku
"tidak berbahaya, karena aku hanya menggunakan kekuatanku sedikit" kata Izumi
"daripada memarku, lebih baik kau gunakan untuk lukamu itu" ucapku
"harus kubilang berapa kali kalau luka ini tidak sakit?" tanya Izumi
"aku yang hanya merasakan sebagian dari itu saja sudah merasa sakit, apalagi kau yang terluka!"
saat itu, Izumi tersentak. pupil matanya sekilas mengecil seperti terkejut lalu kembali seperti normal.
"tidak usah bahas lagi. mau bagaimanapun, aku sudah mengobati kakimu dengan kekuatanku, dan kekuatanku itu tak dapat ditarik kembali" ucap Izumi
"meski misalnya bisa aku ambil sekalipun, aku takkan mengambilnya kembali" pikir Izumi
"baiklah. terima kasih karena sudah menolong dan mengobatiku tadi. sekarang aku harus belajar" ucapku
aku berjalan ke meja belajarku meninggalkan Izumi yang duduk di sofa.
aku membuka bukuku dan membacanya. tapi... aku sama sekali tidak mengerti
"bagaimana angka ini seperti ini? aku lupa!!" pikirku teriak
kedua tanganku memegang erat kepalaku dan berusaha fokus. tapi tetap saja aku tak bisa mengingatnya.
"aaah... bagaimana ini?" gumamku
"kenapa?" tanya Izumi
"aku sudah lupa dengan pelajaran ini..." ucapku yang masih berusaha fokus.
"bagian mana yang kau tak mengerti?" tanya Izumi dan berjalan kearahku
"sa... satu bab ini..." ucapku ragu
__ADS_1
"bodoh. bagaimana bisa aku punya ikatan dengan manusia bodoh sepertimu?" ucap Izumi
"diamlah! kalau kau terus ribut aku takkan bisa fokus!" ucapku kesal
"aku juga jadi tidak bisa fokus dan mengerti pelajaran karena saat itu kau tiba-tiba menghilang. karena itu, aku tidak bisa tenang belajar saat di sekolah" ucapku
sesudah aku bicara itu, Izumi sudah ada di belakangku. dia memegang pundakku lalu berkata,
"wah, kau khawatir denganku?" tanya Izumi tersenyum
"aku khawatir dengan nyawaku! jika kau lenyap di dunia ini, aku juga ikut lenyap" aku mengelak bertatapan dengan Izumi
"ngomong-ngomong..."
"apa kau mau aku ajari?" tanya Izumi
"kau mau mengajariku?" tanyaku menoleh ke Izumi
"ya" jawab Izumi
"apa alasannya?" tanyaku
"karena kau kesulitan. dan anggap saja itu bayaran tadi telah menemani ibuku" ucap Izumi
"apa kau bisa diandalkan?" tanyaku ragu
"tentu saja! soal seperti ini walau aku memejamkan mata pun masih bisa aku jawab" ucap Izumi bangga
"memangnya jawaban yang kau jawab itu benar?" tanyaku
"kalau itu aku juga tidak tahu" kata Izumi sambil tertawa
"lupakan. aku akan belajar sendiri" ucapku lalu kembali menghadap kedepan dan baca buku
"tidak, tidak, tidak! tentu saja jawaban yang aku jawab itu benar!" ucap Izumi tergesa-gesa
"haaah... walau kau ajarkan pun belum tentu aku bisa. tiga hari lagi ulangan sudah dimulai, tapi aku baru sekarang belajar. memangnya aku bisa mempelajari semuanya dalam waktu sesingkat ini?" ucapku
"kau mau yang simpel? aku tahu caranya" ucap Izumi
"bagaimana? bagaimana?" tanyaku tertarik
"saat ulangan dimulai, aku akan memberi tahumu jawaban yang benar. kau hanya tinggal isi saja" ucap Izumi
"tidak!" aku menolak ide buruk Izumi
"kenapa?" tanya Izumi
"aku tidak mau curang!" ucapku
"meski aku mendapat nilai sempurna pun aku takkan bangga jika yang kudapat dari otak orang lain. aku lebih memilih dapat nilai pas-pasan jika itu hasil belajarku sendiri" ucapku tegas
"lagian... jika misalkan saat itu Izumi tidak ada, bagaimana? aku pasti akan sangat kebingungan" ucapku
"hahahahaha" Izumi tertawa
"benar-benar murid teladan, ya" ucap Izumi
"apanya yang murid teladan?!" tanyaku cemberut
"kau mau mendapat nilai bagus dengan usahamu sendiri, kan?" tanya Izumi
__ADS_1
"iya" jawabku cepat
"kalau begitu, jawabannya adalah aku yang mengajarimu" kata Izumi yakin