Hantu Sekolah

Hantu Sekolah
Begadang


__ADS_3

Keesokan harinya...


"..."


"Seharusnya aku tidak usah meladeni Izumi..." Pikirku menyesal


Aku mengingat kembali kejadian semalam.


"Baiklah, aku akan menemanimu"


"Sungguh? Kalau begitu ayo begadang!"


"Tidak, tidak. Aku pasti akan ketiduran" Jawabku cepat


"Aku akan memberimu kekuatanku. Dengan begitu kau bisa begadang denganku tanpa mengantuk hingga besok malam"


"Tidak perlu!" Teriakku


"Yah, sekarang ayo mulai saja"


Aku dan Izumi pun mulai bercerita. Kami membicarakan soal para roh di sekolah, dan mengenai masalah kedepannya bagaimana.


"Izumi, apa kita tidak ada rencana? Aku merasa setelah penculikan itu tidak ada rencana yang dirancang lagi. Apa tidak masalah?" Tanyaku


"Untuk sekarang seperti itu. Situasi di sekolah juga sudah damai karena mereka berpikir aku sudah ditangkap, jadi kau bisa tenang soal sekolah. Tapi aku masih tidak tahu apa rencana roh lain terhadapmu"


"Kalau begitu, ada kemungkinan aku akan diculik lagi?"


"Iya. Karena itu, kau harus terus waspada. Karena trik yang mereka gunakan pasti tidak akan sama lagi. Dan tentu saja aku akan berusaha melindungimu"


"Lalu, bagaimana soal 'ikatan' itu? Bagaimana cara melepas ikatan kita berdua?" Tanyaku


"Bukankah sebelumnya aku pernah bilang? Ikatan milikmu akan lepas kalau kau membantuku. Dan ikatan milikku tidak akan lepas sampai Hana melepasnya atau ikatan milikmu lepas, yang artinya aku kembali ke langit dan tidak lagi di bumi"


"Aku tahu kalau untuk melepas 'ikatan' ku itu harus membantumu. Tapi yang aku maksud, aku harus membantu apa?"


"Lalu... Apa tidak bisa kau tetap menetap di bumi meski kita sudah tidak terikat?" Gumamku


Lalu, di tengah-tengah pembicaraan kami...


"Aah, lagi-lagi..." Gumam Izumi kesal


"Apa?" Tanyaku


Muncul pusaran portal di samping Izumi dan keluar banyak serangan disana. Izumi langsung mendorongku hingga aku terguling di pinggir kasur. Sekarang aku ada dibawah dan Izumi di atasku, lalu tangan kanan Izumi menjaga keseimbangan agar tidak menindihku dan tangan kirinya yang memeluk kepalaku.


Wajah kami juga sangat dekat sampai poni Izumi dapat menyentuh dahiku.


"Tunggu, tunggu! Bukankah posisi ini sedikit aneh?!" Pikirku dengan pipi memerah.


"Aku tahu dia berniat menolong dirinya sendiri dan aku dari serangan itu, tapi..."


Disaat jantungku sedang tidak karuan, untungnya Izumi langsung mengangkat kepalanya begitu serangannya selesai.


"Serangan seperti itu tidak berfungsi denganku, dan berhentilah menggangguku!!" Teriak Izumi


"Jika aku tidak mau berhenti? Harga diriku sudah berkali-kali hancur olehmu" Ucap Niki yang tiba-tiba muncul, dan disusul oleh Hana.


"Maaf, aku tak berhasil mencegahnya" Ucap Hana


"Bagaimana kalau kita tanding ulang? Kali ini aku takkan menyerang keturunan kakak laki-lakiku" Ucap Niki


"Baiklah!" Ucap Izumi geram


Izumi langsung bangun untuk bertarung lagi dengan Niki. Namun saat Izumi masih terduduk, aku langsung mencegahnya. Aku memeluk perut Izumi dengan erat supaya dia tidak bisa pergi. Dan Hana juga langsung menghalang jalan Niki dengan kekuatannya.


"Berhentilah bertengkar!" Teriakku


"Dia duluan yang menggangguku!" Teriak Izumi dan mencoba melepaskan diri


"Kau sendiri yang lebih dulu menyerang kakak kemarin!" Teriak Niki tak mau kalah


"Kalian berdua sama-sama salah! Tidak bisakah kalian tenang?!" Teriakku


"Tidak bisa!"


Setelah itu, dinding penghalang yang dibuat Hana pecah, dan Izumi juga bisa melepaskan diri dariku. Pertarungan pun tak bisa dihindari lagi.


"Kalian berhentilah!" Teriakku


Aku dan Hana mencoba berbagai cara untuk menghentikan mereka. Lalu...


"Ceklek"


Mama tiba-tiba masuk kamarku. Dan kami berempat langsung mematung.

__ADS_1


"Gawat! Sekarang Izumi dan Niki sedang bertarung!" Pikirku


"Ririn, ada apa dari tadi ribut sekali? Kau bicara dengan siapa? Ini sudah malam, tidurlah" Omel Mama


"Ah, benar juga. Mama tidak bisa melihat mereka" Pikirku


"I... Iya, Ma. Aku... Aku sedang telponan dengan teman-temanku..." Ucapku gugup sambil menunjukkan ponselku


"Cepat selesaikan pembicaraannya dan tidur"


Setelah Mama keluar dari kamarku, aku langsung menarik Izumi menjauh dari Niki sambil marah.


Aku membuat Izumi duduk di hadapanku, dan aku pun memarahinya.


"Sudah kubilang kau tenang dan duduk saja disini! Kau itu lebih dewasa dibanding Niki, tapi tingkahmu seperti anak kecil yang lebih muda dari Niki. Bagaimana bisa kau menyerang anak kecil seperti itu?!"


"Padahal seharusnya sekarang aku sudah tidur pulas, tapi aku malah dibuat ketakutan karena kalian!"


"Dan Niki juga! Kau jangan memancing emosi Izumi! Izumi tidaklah lemah. Pertarungan kalian tidak akan berakhir hanya dengan goresan saja!"


"Jika Izumi bersungguh-sungguh bertarung denganmu, aku yakin Izumi menang. Jadi tidak usah membuang kekuatanmu dengan sia-sia"


Blablablablablablabla


Aku terus mengomeli mereka berdua dan dilihat dari ekspresi mereka, sepertinya mereka menyesali perbuatan mereka.


"Ririn, kau masih belum tidur juga?" Tanya Mama dari kamar disampingku


"Aaah, iya Ma. Ini aku akan tidur..." Jawabku.


Aku kembali menatap Izumi dan Niki.


"Kalian dengar, kan? Jadi hentikan pertikaiannya dan pergilah"


"Sudah jam segini, jadi aku sudah harus tidur! Nanti Mama akan marah karena terbangun lagi" Ucapku sambil menunjuk jam yang sudah pukul 1 malam.


"Benar! Pergi sana!" Ucap Izumi sambil mengibas-ngibas tangannya mengusir Niki.


"Aku seharusnya bilang seperti itu! Aku adalah pemilik wilayah ini!" Ucap Niki


"Aku punya ijin dari kakakmu tuh~ Dan aku juga sudah janji untuk bergadang dengan Yurin, tapi kau malah mengganggu"


"Aku tidak pernah menyetujuinya" Ucapku cepat


"Tidak peduli siapapun, pokoknya semuanya pergi!" Ucapku


"Aku mau sama kak Yurin"


"Aku juga mau disini kalau kakak disini!"


Sekarang mereka bertiga mengerumuniku seperti aku adalah permen dan mereka semut.


"Sudah kubilang kalian pergilah..." Ucapku pasrah


"Ririn!" Bentak Mama dan membuatku kaget.


"Benar-benar deh, dasar!" Gumam Izumi


Izumi berdiri dan masuk ke kamar orang tuaku melalui dinding di belakangku.


"Apa yang kau lakukan, Izumi?!"


Aku langsung keluar dari kamarku dan masuk ke kamar orang tuaku.


Saat aku tiba, orang tuaku sudah tidur pulas dan Izumi berdiri disamping kasur mereka dengan santai.


"Kau..."


"Ibumu berisik sekali. Jadi aku buat mereka tidur layaknya orang pingsan"


"Lagi-lagi kau bertindak semaumu saja!" Ucapku marah


"Jika terus dibiarkan, orang tuamu bisa saja menyadari sesuatu tentangmu. Bagaimana jika orang tuamu tahu kalau kau bisa melihat hantu, bahkan terikat dengannya?" Tanya Izumi dengan ekspresi serius


"Itu..." Gumamku


"Kau juga tahu kan? Orang tuamu takkan sudi jika putrinya mengalami hal seperti itu. Mereka pasti akan berusaha membuatmu normal kembali apapun caranya"


"Dan cara termudah yang bisa dilakukan adalah, dengan memutus ikatan itu sendiri dengan paksa. Jika itu terjadi, kita berdua tidak bisa diselamatkan lagi"


Kami pun terdiam dan suasana berubah menjadi canggung.


"Dasar Izumi. Kenapa kau menanggapinya serius begini?" Pikirku


"Pokoknya, kau cepat kembali!" Ucapku lalu keluar dari kamar orang tuaku.

__ADS_1


Ketika aku masuk kembali ke kamarku, Izumi sudah duduk di pinggir kasurku bersama Hana, dan Niki duduk di depan Hana dengan kepala bersandar di lutut Hana.


"Kalian masih disini?" Tanyaku


"Tentu saja" Jawab Izumi


"Haah... Tidak peduli. Aku tidak akan menghiraukan kalian lagi"


Aku mematikan lampu dan tidur di kasurku.


Sruk... Sruk sruk...


"...."


"Mereka ini..." Pikirku


Sekarang mereka bertiga malah ikut tidur disampingku. Di samping kiri ada Izumi, dan di kanan ada Hana dan Niki.


"Kalian..." Gumamku


"Kakak tidur saja. Kan kakak tadi bilang tidak akan menghiraukan kami"


"Tapi kalian juga tidak usah ikutan tidur disini! Kasurku jadi terasa sempit karena kalian"


"Itu hanya perasaan kakak saja~" Ucap Hana


"Tidak peduli! Taunya aku mau tidur!" Pikirku


Aku berusaha untuk tidur, namun tidak bisa.


"Aku tidak bisa tidur...." Gumamku pasrah


"Ah, jangan-jangan kau menghirup kekuatanku tadi" Ucap Izumi


"Kapan? Saat kalian bertarung?" Tanyaku


"Bukan. Waktu Niki pertama kali menyerang. Saat itu wajah kita berdekatan, kan. Bisa saja kau menghirup kekuatanku"


"Tapi... Bukannya saat itu kau tidak mengeluarkan kekuatanmu?" Tanyaku


"Jika aku merasa terancam, aku akan menjadi sensitif dan kekuatanku akan keluar secara otomatis untuk perlindungan diri"


"Lalu khusus kekuatan yang keluar dari mulut dan hidungku adalah kekuatan untuk mentransfer kekuatanku ke makhluk lain, karena kekuatan yang keluar dari mulut dan hidungku tidak membahayakan mereka yang menerimanya"


"Karena tadi aku merasa terancam oleh serangan Niki, kekuatanku keluar sendiri dan tidak disengaja wajah kita jadi berdekatan. Saat itu ketika kau bernafas, bisa saja kau menghirup kekuatanku"


"Kekuatan yang keluar dari mulut dan hidungku itu mirip seperti energi. Kau akan bersemangat dan tidak akan lelah jika menghirupnya. Dan jika kau menghirupnya ketika sakit, kau akan sembuh keesokan harinya"


"Bagaimana ini?? Aku mau tidur..."


Aku merengek pelan karena aku ingin tidur tapi tidak bisa.


"Izumi... Kau bisa buat aku tidur, kan?" Tanyaku


"Eeemmm, kau terlanjur menghirup kekuatanku. Itu artinya, didalam tubuhmu ada kekuatanku. Jika aku sembarangan membuatmu tidur dengan kekuatanku yang normal, mungkin saja ada efek samping lainnya"


"Bisa saja kekuatanku yang ada didalam tubuhmu malah bertabrakan dengan kekuatanku untuk membuatmu tidur dan akhirnya terjadi ledakan didalam tubuhmu" Ujar Izumi.


"Jadi aku tidak akan bisa tidur hingga efek dari kekuatanmu hilang??!"


"Begitulah..." Jawab Izumi ragu


"Tapi, jika beberapa kali lagi kau menghirup kekuatanku, kau akan terbiasa dan akan kebal. Kau juga bisa mengontrol kekuatan itu sesukamu jika kau sudah terbiasa"


Aku terdiam dan menatap Izumi yang terlihat gugup dan panik.


"Dia mau menghiburku, ya. Tapi..." Pikirku


"Aku tidak mau peduli soal masa depan yang seperti itu. Sekarang aku mau tidur dulu...." Rengekku


"Sudahlah, kak Yurin~ Kak Izumi jadi tertekan dan merasa bersalah karena kakak seperti ini~" Ucap Hana dan memelukku


"Karena sudah terlanjur begini, bagaimana kalau kita main bersama saja?" Ucap Hana


"Tidak! Sejak awal aku dulu yang menemuinya!" Bantah Izumi


Izumi dan Hana sekarang saling menatap tajam dengan aku di tengah-tengah mereka.


"Tidak mau... Aku cuma mau tidur..." Ucapku pasrah


Namun ucapanku tidak dihiraukan mereka. Mereka bertiga malah jadi ribut sendiri.


*


Tidak tahu kapan, aku sudah tertidur tanpa kusadari. Saat aku bangun, ternyata hari sudah jam 12 siang. Dan tidak lupa, disampingku ada tiga pemimpin roh yang sedang tidur pulas.

__ADS_1


"Izumi... Hana... Niki... Aku akan terus mengingat kejadian semalam" Pikirku geram


__ADS_2