
aku terus berjalan. selagi aku berjalan, aku mengunjungi toko buah dipinggir jalan dan membeli satu keranjang buah apel. setelah itu, aku melanjutkan perjalanan dan rumah sakit besar pun sekarang sudah ada didepan mataku.
"wah, besar sekali" pikirku
aku masuk kedalam dan bertanya pada suster
"permisi, ruang 035 dimana ya?"
suster itu balik bertanya "nona ada hubungan apa dengan pasien?"
"ternyata memang benar ditanya, ya" pikirku
"Izumi, anak dari pasien itu adalah seniorku" jawabku
"oh, jadi dia seniormu? bagaimana keadaannya sekarang?apa dia masih sering terluka? sudah sangat lama dia tidak berkunjung ke sini lagi. yah, aku juga bisa mengerti perasaannya" ucap suster itu
"dulu Izumi sering terluka? dan apa maksudnya dia mengerti perasaan Izumi?" pikirku
"um... senior baik-baik saja. sekarang dia ada urusan. jadi dia hanya memberi alamat rumah sakit ini saja" ucapku bohong
"baiklah, ruang 035 ada di lantai dua bagian kiri. maaf mengganggu waktu nona" ucap suster itu
aku berterima kasih pada suster itu lalu pergi ke lantai dua. aku mencari-cari ruangannya dan akhirnya ketemu, ruang 035. aku langsung mengetuk pintu itu
"silahkan masuk"
terdengar suara halus seorang wanita yang menjawab ketukan pintuku. aku membuka pintu dan memberi salam kepada wanita itu.
aku melihat ke dalam ruangan itu. disana ada Izumi yang sedang berdiri di pinggir jendela dan sekarang sedang menatap ke arahku. lalu, ada seorang wanita dengan rambut berwarna pirang yang panjang terurai dengan bola mata biru dan kulit putih pucat sedang duduk di ranjangnya sambil menatap bingung ke arahku.
"wanita itu adalah ibu Izumi? dia sangat cantik. matanya juga sangat indah seperti mata Izumi" pikirku
aku berjalan masuk, menutup pintunya, lalu berjalan menghampiri wanita itu dan duduk di sampingnya.
"maaf, sepertinya anda salah ruangan. saya tidak mengenal anda" ucap ibu Izumi
__ADS_1
"perkenalkan tante, nama saya adalah Yurin. saya adalah teman---" ucapanku terhenti. entah kenapa rasanya suaraku seperti dikunci sesuatu.
"a... ada apa?" pikirku
ibu Izumi seperti sedang menungguku melanjutkan ucapanku.
aku melihat ke arah Izumi untuk meminta pertolongan. namun entah aku melakukan kesalahan apa, Izumi menatapku dengan mata dingin dan tajam.
lalu, dari mulutku keluar suara yang tidak aku ketahui
"saya adalah... teman... dari... laki-laki 'itu'." ucapku
"ah, ternyata kau adalah temannya. perkenalkan, nama tante adalah Liliana. senang bertemu denganmu, Yurin" ucap ibu Izumi dengan senyum mengembang.
"ah, iya tante" ucapku
"suaraku sudah kembali normal" pikirku
"oh, ya. aku sempat membeli buah apel saat perjalanan kemari. aku akan kupaskan kulitnya untuk tante" ucapku dengan menunjukkan sekeranjang buah apel
"ibu Izumi terlihat sangat senang. sepertinya selama ini dia kesepian. karena itu dia sekarang merasa senang karena aku datang" pikirku
selama aku mengupas kulit apelnya, aku dan ibu Izumi sedikit berbincang-bincang
"Yurin, kau adalah temannya, kan? sekarang dia ada dimana? kenapa dia tidak berkunjung kesini hingga bertahun-tahun?" tanya ibu Izumi
"'dia' yang dimaksud ibu Izumi adalah Izumi, kan? apakah ibunya tidak tahu kalau sekarang anaknya sudah tiada?" pikirku
"dia... sekarang sedang sibuk. karena itu dia menyuruhku untuk menemui tante" ucapku
"ternyata dia masih ingat padaku. kupikir dia sudah melupakanku karena sudah menghilang begitu lama" ucap ibu Izumi lega
aku merasa sangat bersalah kepada ibu Izumi. tapi aku juga tak sanggup mengatakan kenyataannya
"jadi 'dia' yang menyuruhmu kemari? apakah 'dia' juga yang menyuruhmu membawakanku apel? dulu setiap 'dia' datang juga selalu membawakanku apel" ucap ibu Izumi senang
__ADS_1
"i... iya" ucapku ragu
setelah mendengar itu, aku jadi semakin yakin kalau 'dia' yang dimaksud ibu Izumi adalah Izumi. tapi kenapa ibunya memanggil Izumi dengan 'dia'? tidak mungkin kalau ibunya sampai melupakan nama anaknya sendiri, kan?
setelah selesai mengelupas beberapa buah apel dan memotongnya menjadi kecil, aku teringat kalau aku belum belajar apapun untuk ulangan nanti. aku pun mengeluarkan buku dan membacanya.
"apakah kau suka membaca?" tanya ibu Izumi
"tidak terlalu. aku tadi teringat sebentar lagi akan ada ulangan. jadi aku ingin membacanya sedikit" ucapku
"'dia' setiap datang juga selalu membawa buku dan membaca disini. 'dia' sangat suka membaca. terkadang, 'dia' bahkan tertidur saat sedang membaca. 'dia' sangat mirip denganku yang suka membaca" ucap ibu Izumi sambil tertawa.
"ibu Izumi selalu membicarakan 'dia'. sepertinya ibu Izumi sangat merindukannya." pikirku
"aah~ seperti apa ya 'dia' sekarang? terakhir 'dia' datang umurnya mungkin kira-kira sepertimu. sekarang 'dia' pasti sudah menjadi laki-laki dewasa, kan? padahal dulu dia sangat imut. apa 'dia' jadi tidak datang ke sini lagi karena sibuk dengan pacarnya ya?" ucap ibu Izumi sambil senyum dan memegang pipinya.
"ngomong-ngomong, kapan 'dia' akan datang lagi?" tanya ibu Izumi
"aku... aku tidak tahu. 'dia' terus sibuk hingga aku juga kesulitan menghubunginya" ucapku
"sayang sekali..." ucap ibu Izumi sedikit kecewa
aku diam-diam melirik ke arah Izumi. Izumi hanya menunduk dengan tangan dilipat didepan dada dan masih menyandar di dinding dekat jendela. satu detik kemudian, aku lihat setitik air matanya jatuh ke pipinya.
aku kasihan pada ibu dan anak ini. ibunya sangat merindukan Izumi, tapi dia tak bisa melihatnya meski Izumi ada di sampingnya. Izumi pasti sangat terluka dan sedih sekarang. jadi wajar jika sekarang dia menangis.
"aku akan pura-pura tidak melihat Izumi saja sekarang. jika dia tahu aku melihatnya, dia mungkin akan malu" pikirku
"oh ya tante, bagaimana keadaannya sekarang? apakah anda merasa tidak nyaman?" tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan
"aku baik-baik saja. beberapa hari yang lalu adalah hari yang sulit. tapi karena sekarang aku ada teman bicara, aku sudah tidak apa-apa" ucap ibu Izumi senyum
"syukurlah" ucapku
aku dan ibu Izumi terus berbicara hingga matahari mulai terbenam.
__ADS_1