Hantu Sekolah

Hantu Sekolah
Shuri Si Hantu Taman Yang Bebas


__ADS_3

Setelah sekitar belasan menit Izumi bermain dengan Shuri, akhirnya Izumi mendatangiku yang duduk sendirian sambil memperhatikan mereka dari bangku di bawah sebuah pohon.


"Maaf, aku tadi meninggalkanmu sendirian" Ucap Izumi


"Ternyata dia sadar kalau dia meninggalkanku" Pikirku


"Iya, tak apa. Tapi kenapa kau sangat baik padanya? Kau sampai mengajaknya main dan memberi minumanmu padanya"


"Apa aku tidak boleh bersikap baik?" Tanya Izumi cemberut


"Bukan begitu, hanya saja... Selama ini yang kulihat hubungan Izumi dengan para roh tidak sebaik itu..." Ucapku panik


"Yah, kalau soal itu, aku hanya merasa seharusnya aku bersikap seperti ini padanya" Ucap Izumi santai lalu menyandar pada sandaran bangku.


"Izumi yang ini bisa berpikir begitu?" Pikirku sambil menatap kedua tanganku.


Aku pun tersentak begitu melihat cup minuman yang kupegang.


"Aku lupa memberinya ke Izumi" Pikirku


"Izumi, ini" Ucapku lalu menyodorkan cup minumanku


"Kenapa?"


"Ambillah"


"Itu kan punyamu"


"Tak apa, Izumi pasti lelah setelah mengajak Shuri bermain, jadi minumlah"


"Tidak apa-apa?"


"Iya"


Izumi pun menerima cup minumanku dan bersiap untuk meminumnya. Saat itulah aku baru menyadari, aku belum membuang sedotan yang kugunakan.


"Ah, tunggu Izumi, jangan minum dulu! Sedotan itu---"


Dan aku terlambat. Izumi sudah meminum minuman itu lebih dulu menggunakan sedotan bekasku. Dan lagi, Izumi tidak henti meminumnya hingga habis.


"Haaah~ Ternyata enak sekali~ Terima kasih. Ngomong-ngomong, apa yang mau kau katakan tadi?" Tanya Izumi


"Sudah terlambat..." Gumamku


"Eh? Kenapa?" Tanya Izumi


"Itu... Sedotan itu bekas mulutku..." Gumamku


Izumi langsung mematung setelah mendengar ucapanku.


"Apaaaa??! Kenapa kau tidak bilang daritadi?!" Teriak Izumi


"Itu karena kau terlalu cepat meminumnya. Dan lagi, seharusnya kau berpikir karena minuman itu awalnya milikku, artinya sedotannya bekas mulutku" Gumamku


"Aku... Tidak terlalu berpikir ke situ" Gumam Izumi sambil menutup mulutnya menggunakan punggung telapak tangan kirinya dan telinganya juga memerah.


"Sudahlah, lagian itu sudah terjadi" Ucapku


"Um... Maaf" Gumam Izumi


"Iya, lagian aku juga lupa membuangnya tadi. Akan aku maafkan karena ini juga salahku"


Lalu, entah sejak kapan, Shuri sudah ada didepan kami.


"Kakak~ Ayo main sama-sama~"


Shuri menarik tanganku dan Izumi bersamaan di kedua tangannya.


Kami bertiga pun bermain bersama ditengah lapangan rumput yang segar.


*


Ditengah-tengah saat kami bermain bersama, Shuri terus tertawa riang, namun tak lama kemudian, tawanya berubah menjadi tangisan.

__ADS_1


Aku dan Izumi pun tersentak.


"Shuri, ada apa?" Tanyaku


"Hiks, Shuri sangat senang... bermain dengan kakak-kakak..."


"Shuri mau terus main dengan kakak-kakak, tapi sepertinya tidak bisa... Hiks..."


Aku kembali melirik ke Izumi. Izumi hanya menatap dalam Shuri dengan wajah datarnya. Lalu kemudian Izumi membelai kepala Shuri.


"Disini memang bukan tempat yang bagus untuk Shuri. Dan sepertinya setelah ini, mungkin akan lama untuk kita bertemu lagi. Tapi ingatlah, kalau Shuri pernah bermain disini dengan kakak, itu pasti sudah cukup membut Shuri bahagia. Jangan berpikir sesuatu yang sulit dipikir untuk Shuri. Nilailah sesuatu sesuai yang Shuri lihat"


"Dan jika Shuri berada di tempat Shuri seharusnya, Shuri bisa lebih leluasa bermain dengan bebas, Shuri juga bisa melihat kakak"


"Sungguh? Shuri bisa melihat kakak?" Tanya Shuri


"Iya. Jadi jangan khawatir"


"Hiks... Hiks... Huwaaaaaaaa!" Tangisan Shuri semakin menjadi bersamaan dia yang langsung memelukku dan Izumi.


"Shuri... Shuri akan terus melihat kakak..." Ucap Shuri terisak-isak


"Iya, iya"


Izumi kembali mengelus kepala Shuri dengan lembut. Dan perlahan, tubuh Shuri bersinar.


"Ibu terlalu lama menjemputku. Sepertinya aku sudah harus pergi..." Ucapnya


"Iya, Shuri harus pergi dari sini dan berbahagia di tempat lain" Ucap Izumi dan masih terus mengelus kepala Shuri


"Selamat tinggal, kakak-kakak"


Dan pada akhirnya, Tubuh Shuri pecah dan menjadi serpihan cahaya dan melayang.


*


"Izumi..." Gumamku


Izumi hanya diam. Sejak Shuri kembali ke langit, Izumi tidak mengeluarkan suara apapun.


"Sejak awal seharusnya aku tidak mengajak Izumi kesini. Ini kesalahanku" Pikirku


"Yurin..."


Aku pun tersentak dan menatap wajahnya yang datar seperti biasa.


"Jangan salahkan dirimu tentang kau yang mengajakku ke taman ini. Justru pilihan tepat kau mengajakku kesini" Ucap Izumi


"Kenapa?" Tanyaku


"Shuri sebenarnya..."


"bukan mati karena tersesat di taman ini, tapi karena dibunuh" Ucap Izumi dan membuatku kaget


"Di... Dibunuh?!" Tanyaku kaget


"Siapa... yang membunuh anak kecil yang bahkan belum bisa menghitung dengan benar itu?" Tanyaku


"Ibunya sendiri" Jawab Izumi yang membuatku semakin kaget


"Apa alasan ibunya membunuh anaknya sendiri? Dan lagi... Shuri bilang sedang menunggu ibunya" Tanyaku


"Shuri adalah anak diluar nikah ibunya dengan seorang pria. Karena itu, ibunya membenci Shuri. Dan untuk tambahan, Shuri sebenarnya tahu kalau ibunyalah yang membunuhnya, namun ia berusaha menyangkalnya dan berpikir itu hanya kecelakaan"


"Shuri masih berada disini karena ingin tahu kebenaran tentang ibunya. Saat ini, keberadaan Shuri sangatlah lemah hingga hampir seperti roh netral yang tidak memiliki kekuatan. Tapi jika dia sudah memastikan kalau ibunya yang membunuhnya dalam beberapa waktu kedepan, keadaannya bisa saja berubah"


"Shuri bisa saja berubah menjadi roh jahat untuk membalas dendam pada ibunya. Karena itu, untuk mencegahnya aku berusaha membebaskannya dari dunia ini selagi kekuatannya lemah"


"Darimana... Kau tahu soal itu?" Tanyaku


"Aku memang belum mendapat kekuatan khusus pemimpin, tapi ini juga bisa disebut 'kekuatan khusus pemimpin'. Hanya saja, kekuatan ini lemah karena bukan milikku. Intinya, aku menggunakan kekuatan khusus, dan kekuatan itu adalah 'Mata Kebenaran', yang bisa melihat masa lalu roh"


"Jadi kau melihat masa lalu Shuri. Dan karena itu... Kau sangat perhatian pada Shuri" Ucapku

__ADS_1


"Iya" Jawab Izumi


Perlahan, Izumi tersenyum dengan wajahnya yang sendu.


"Aneh sekali! Bisa-bisanya aku peduli pada roh lain, padahal aku sendiri masih terjebak di dunia ini"


Deg...


Perkataan Izumi menusuk hatiku.


"Benar! Bagaimana bisa aku berpikir Izumi hanya memikirkan dirinya sendiri sebelumnya? Nyatanya saja saat ini Izumi menyelamatkan roh yang memiliki kemungkinan menjadi roh jahat" Pikirku


"Salah, aku benar-benar salah menilai Izumi. Aku bahkan tidak tahu apapun tentangnya" Pikirku


"Izumi yang penuh akan misteri..."


"Aku tidak bisa menganggapnya enteng"


*


Hatiku tidak nyaman karena kejadian ini. Setelah kami selesai berbincang di taman itu, Izumi langsung membawaku teleportasi ke dekat rumahku agar tidak lama dalam perjalanan pulang. Setelah mengantarku pulang, Izumi langsung pergi untuk kembali ke sekolah, jadi aku hanya termenung di meja belajarku sendirian.


"Hari ini benar-benar hari yang besar...." Pikirku lalu menatap langit di luar melalui jendela


"Berkat semua kejadian hari ini, aku jadi semakin bingung dengan Izumi"


"Izumi yang terlihat normal, tiba-tiba menjadi sangat marah hanya karena melihat 2 anak kembar, lalu menjadi kekanak-kanakan setelah amarahnya reda hingga kami berada di taman. Dan setelah aku kembali menemuinya sehabis membeli minuman, dia langsung bersikap dingin, dan begitu bertemu Shuri, dia menjadi sangat perhatian"


"Bukankah sikap Izumi sangat cepat berubah hingga terlihat seperti orang yang berbeda? Terkadang ia bertingkah seperti anak kecil, namun sedetik kemudian berubah menjadi sangat dingin dan menyeramkan. Aku tidak tahu apakah itu efek karena ada 2 jenis roh pada Izumi, atau bagaimana. Tapi perubahan emosinya terlalu mengerikan hingga membuat merinding"


"Mau itu Izumi yang terlihat seperti anak kecil yang kekanakan dan menyebalkan, ataupun Izumi yang terlihat dewasa dengan wajah dingin dan menyeramkan, keduanya tetaplah Izumi, aku tahu soal itu. Tapi sebenarnya...."


"Izumi, yang mana antara semua sifatmu itu yang sebenarnya sifat aslimu? Dan rahasia apa dibalik dirimu yang terlihat sangat kokoh itu?"


Aku terdiam sebentar mengingat kejadian di taman.


"Tidak ada yang aneh sih dengan kejadian di taman itu mengingat Izumi yang berkata dia melihat masa lalu Shuri. Bisa saja sebelum bertemu Shuri, Izumi tidak tertarik padanya. Tapi setelah bertemu dan melihat masa lalunya, Izumi jadi ingin menolongnya, kan" Pikirku


Setelah beberapa saat aku mengingat kejadian di taman, aku pun tersentak.


"Tunggu dulu!" Gumamku


Aku menemukan sesuatu yang mengganjal dari perbincanganku dan Izumi.


"*Kau terlihat santai sekali meski sudah tahu ada yang mati"


"Memangnya kenapa dengan taman ini yang menjadi tempat anak kecil itu mati? Aku sama sekali tidak peduli*"


"*Tidak sopan kita tertawa ditempat orang mati"


"Aku tidak peduli dengan hal itu*"


"Jika dilihat sekilas, perkataan Izumi terdengar sangat kejam seakan dia tidak peduli Shuri mau mati atau apapun itu, yang penting dia bisa menikmati keindahan taman itu"


"Tapi jika dilihat dari sisi lain.... Izumi yang seperti itu tidak merasa takut, jijik, atau tidak suka dengan Shuri yang baru saja meninggal, justru Izumi ingin terus disana untuk menemani Shuri" Gumamku


"'Memangnya kenapa dengan taman ini yang menjadi tempat anak kecil itu mati', katanya"


"Aku tidak tahu yang Izumi maksud di perkataannya itu tentang jasad Shuri atau roh Shuri. Kata itu berarti Izumi yang hanya mementingkan diri sendiri dan tidak punya rasa sopan jika memang maksud perkataan Izumi tentang jasad Shuri yang meninggal di taman"


"Tapi jika maksud Izumi itu adalah roh dari Shuri, Izumi sejak awal berniat untuk menghibur Shuri walau itu adalah tempat Shuri meninggal"


"Izumi bilang, tidak peduli meski kami mau tertawa ditaman itu. Jika diingat lagi, tadi kami memang tertawa ditaman bersama Shuri. Jadi sepertinya di semua perkataan ketus Izumi itu tidak ada maksud buruk. Sejak awal dia sudah tau kalau Shuri meninggal ditaman meski tidak kuberi tahu, dan sejak awal juga dia berniat menolongnya"


Aku kembali terdiam, mencoba berpikir kembali.


"Tunggu, jika teoriku ini disambung dengan sikap Izumi hari ini, ini bisa menjadi sesuatu yang memang berhubungan!"


"Izumi yang awalnya seperti anak-anak, berlarian di lapangan rumput, tiba-tiba berubah sikap setelah melihat Shuri. Kalau begitu, apa terjadi sesuatu juga antara Izumi dan anak kembar itu? Apa yang Izumi lihat dari mereka hingga dia sangat marah?"


Aku kembali terdiam dan mencoba mengatur nafasku untuk membuat tenang.


"Perkataan ataupun perbuatan Izumi tidak bisa langsung dinilai hanya dengan sekali lihat. Izumi itu sangat cerdas hingga disebut jenius, jadi bukan hal yang terlalu sulit baginya untuk memainkan kata saat berbicara dan terus menyembunyikan rahasianya"

__ADS_1


Aku membungkukkan tubuhku dan menaruh kepalaku diatas kedua tanganku yang dilipat diatas meja dan kembali menatap langit diluar.


"Sampai sekarang, aku juga masih tidak mengerti dengan Izumi"


__ADS_2