
*
**
Setelah kejadian Kagusa menyerang Kei itu, mereka jadi makin sering bertemu karena ketertarikan mereka ke Izumi.
"Jelaskan padaku, kenapa kau tertarik ke Arato Izumi?!" Teriak Kagusa
"Tidak ada hubungannya denganmu"
"Sudah kuduga, aku memang membencinya lebih dari yang kuduga" Pikir Kagusa kesal
"Enyahlah!!"
"Aku akan berpura-pura tidak mendengarnya"
"Dia ini!!"
Mereka jadi sering bertarung satu sama lain. Tapi begitu Izumi dikeroyok, mereka langsung berhenti bertarung.
"Ini bukan waktunya kita bertarung. Aku perlu memikirkan cara menyelamatkan Izumi"
"Dan mencari calon pemimpin roh jahat" Pikir Kagusa
"Dasar sok hebat, padahal tidak bisa apa-apa" Gumam Kei sambil mendengus.
"Kau bilang apa?!" Tanya Kagusa kesal
"Bukan apa-apa"
"Memang tidak ada yang bagus kalau bicara dengan roh jahat" Gumam Kagusa dan pergi
"Hari ini sampai disini saja dulu. Aku perlu mengerjakan tugas kepemimpinan"
*
Keesokan harinya, seperti biasa Kagusa mencari keberadaan Izumi diantara para murid-murid.
"Entah mengapa aku merasakan firasat buruk..." Pikir Kagusa
Begitu Kagusa melihat Izumi yang sedang berjalan kembali ke kelasnya...
"!!!"
Kagusa sangat kaget.
Kekuatan khusus pemimpinnya tiba-tiba aktif. Terlihat sesuatu seperti asap biru yang keluar diatas kepala Izumi.
"Arwah... Arwah Izumi terlihat di mataku. Artinya... Tak lama lagi... Izumi sungguh mati..." Gumam Kagusa dengan wajah memucat
"Kau bilang apa?!"
Kei tiba-tiba muncul di belakang Kagusa dan matanya melotot menatap Kagusa.
Kagusa langsung menjaga jarak dari Kei, tapi Kei langsung menangkap dan menarik kerah baju Kagusa.
"Cepat katakan padaku, apa yang kau lihat dari matamu itu!" Teriak Kei marah
"Menyingkir, br*ngsek!" Teriak Kagusa dan melepaskan diri
"Apa maksudmu Izumi mati?!" Teriak Kei
"..."
Kagusa tertunduk dengan wajah lesu.
"Aku melihat arwah Izumi sudah siap akan keluar dari tubuhnya. Kau pasti sudah tau kalau aku punya kekuatan untuk melihat manusia yang akan menjadi roh" Gumam Kagusa
"Tunggu! Kau bilang... Kekuatanmu itu melihat manusia menjadi roh?" Tanya Kei
"Ya"
"Kalau begitu, anak itu akan menjadi roh di sekolah ini?"
Kagusa tersentak.
"Benar juga. Aku tidak kepikiran karena saking kagetnya..." Gumam Kagusa
"Izumi jadi roh. Itu sebuah bantuan besar bagiku!!" Pikir Kagusa
"Aku perlu melihat masa lalunya untuk mengukur seberapa tingkatannya nanti saat jadi roh" Pikir Kagusa
Kagusa kembali menatap Izumi dan mata coklat keemasannya itu berubah menjadi hijau bersinar.
"Aku akan melihat... Kehidupan yang dijalani Izumi selama ini!"
Kagusa pun mengais kembali kenangan buruk Izumi yang tidak diketahui orang-orang.
...Izumi yang tidak mendapat kasih sayang dari sang ayah......
...Begitu mulai sekolah di usia muda, Izumi mulai diejek oleh teman sekelasnya karena mereka berpikir Izumi sangat sombong......
...Keluarganya yang hancur dan jadi miskin karena rencana perusahaan ayahnya bocor ke tangan perusahaan musuh......
...Izumi yang tak sengaja membunuh ayahnya karena ayahnya mau membunuh ibunya......
...Ibunya jadi membencinya karena insiden kematian ayahnya......
...Izumi yang tidak dianggap oleh keluarganya sendiri, dan diberi ke keluarga musuh......
...Dan berakhir terus disiksa oleh anak dari keluarga angkatnya....
Begitu Kagusa selesai melihatnya, refleks tubuhnya jadi gemetar.
"Kau kenapa tiba-tiba?! Apa lagi yang kau lihat dari anak itu?!" Tanya Kei
"Ini... Diluar ekspektasi terliar yang pernah kupunya..." Gumam Kagusa
"Kupikir... Kupikir tumbuh hidup dengan tidak pernah melihat ayah, hidup dalam kemiskinan, mengidap penyakit hingga ibu berkorban untukku dan hidup tanpa tujuan setelah ibu meninggal sudah seperti hidup dalam neraka. Tapi Izumi..." Pikir Kagusa
"Bukan hanya tidak pernah melihat ayahnya, ayahnya sendiri justru membenci dan mengabaikannya. Ibunya yang mencintainya tiba-tiba membencinya setengah mati. Hidup dengan terus tersiksa dan mempasrahkan diri untuk esok hari"
"Aku... Meski aku tersiksa, tapi sampai mati ibu tetap mencintaiku. Aku juga tidak pernah mendapat siksaan fisik dari siapapun. Tidak ada yang membenciku juga..."
"Arato Izumi... Bagiamana caranya kau bertahan hidup selama ini?..." Gumam Kagusa
"Bicara yang jelas!! Katakan apa yang sebenarnya kau lihat!" Teriak Kei
Kagusa mengangkat sedikit kepalanya dan menatap dalam Kei.
"Roh jahat ini terlihat tulus khawatir pada Arato Izumi. Tapi..." Pikir Kagusa
"Tidak ada alasan aku harus menuruti perkataanmu" Ucap Kagusa tegas
"Apa?!" Ucap Kei geram
"Yang pasti, Izumi tak lama lagi mati. Itu saja yang bisa aku katakan padamu, roh jahat"
"Br*ngsek!! Kalian roh baik selalu mencap kami roh jahat selalu berbuat jahat tanpa alasan!!" Teriak Kei marah
"Apa? Kau itu memang benar jahat makanya aku bilang begitu. Lalu kau juga salah, rekanku ada juga yang roh jahat dan aku tidak masalah dengan hal itu"
"Ya. Rekanku, pemimpin roh jahat sebelumnya yang kau lenyapkan itu" Sindir Kagusa
Tampak urat di sekitar leher dan tangan Kei bermunculan karena dia menahan marah.
__ADS_1
"Menyingkirlah! Aku banyak kerjaan, tidak sepertimu, tangan kanan pemimpin roh jahat tapi tidak ada kerjaan. Atasan dan bawahan sama saja" Lanjut Kagusa menyindir lalu pergi dari sana
Kagusa teleportasi kembali ke kastil kepemimpinan dan menemui tangan kanannya.
"Pemimpin, kau sudah kembali" Sambut tangan kanannya
"Kita ada kerjaan. Ini hal penting" Ucap Kagusa dengan buru-buru pergi ke ruang kerjanya.
"Memangnya ada apa?" Tanya tangan kanannya sambil mengikuti Kagusa dari belakang
"Aku sudah menemukan calon pemimpin roh jahat" Jawab Kagusa
"Apa?! Sudah? Artinya kita sudah bisa melenyapkan pemimpin roh jahat sekarang?!" Teriak si tangan kanan kaget
"Tidak. Aku juga masih tidak tahu secara pasti. Dan itu masih perlu makan waktu bertahun-tahun"
"Apa? Kalau belum pasti, kenapa pemimpin bilang begitu?" Tanya si tangan kanan kecewa
"..."
Kagusa tidak menanggapinya lagi.
Ditengah dia berjalan ke ruang kerjanya itu, Kagusa kembali teringat dengan masa lalu Izumi yang ia lihat sebelumnya.
"Izumi... Dia bisa dipastikan menjadi roh tingkat tinggi. Aku saja saat jadi roh langsung jadi roh tingkat menengah akhir, jadi Izumi nanti pasti menjadi roh tingkat atas. Dia benar-benar bisa jadi bantuan besar bagi wilayah ini yang sedang mengalami krisis" Pikir Kagusa
"Kalau dilihat dengan situasinya yang sekarang, kemungkinan besar dia akan jadi roh jahat. Karena itu aku langsung berpikir untuk menjadikannya pemimpin roh jahat nanti setelah bekerjasama dengannya. Dengan sifat bawaannya itu, dia bahkan bisa jadi pemimpin yang lebih baik dari rekanku yang telah lenyap" Pikir Kagusa
"Tapi meski begitu, bukan berarti tidak ada kemungkinan dia jadi roh baik. Izumi itu adalah anak yang baik. Bisa saja diakhir hidupnya dia menyesal atas kematian ayahnya dan jadi roh baik"
"Apapun itu, mau dia jadi roh baik atau jahat, aku akan mengajaknya bekerjasama denganku membangun kembali wilayah ini. Aku sudah berjanji dengan tuan pemimpin roh baik sebelumnya"
"..."
Kagusa terdiam dan berhenti berjalan tiba-tiba.
"Tuan pemimpin?" Tanya si tangan kanan bingung
"Aku berharap Izumi bisa jadi roh baik saja, karena dengan begitu aku bisa lebih mudah membimbingnya dengan baik. Tapi disisi lain, saat ini aku sedang sangat membutuhkan roh jahat yang bisa dipercaya. Dia benar-benar jadi bantuan besar untuk wilayah ini jika dia jadi roh jahat" Pikir Kagusa
Tiba-tiba Kagusa langsung tersungkur terjongkok dengan kedua tangan menutup wajahnya.
"Ada apa dengan anda, pemimpin?!" Teriak si tangan kanan panik
"Aku ternyata memang jahat. Aku sangat egois pada orang yang akan mati... Bisa-bisanya aku berpikir untuk memanfaatkannya padahal aku sudah tahu masa lalunya..." Gumam Kagusa
"Anda kenapa? Anda sangat aneh, pemimpin. Apa yang terjadi?" Tanya si tangan kanan tergesa-gesa
"Tidak, aku tidak apa-apa"
Kagusa kembali berdiri dan berjalan ke ruang kerjanya.
*
**
Esok harinya...
"..."
"..."
Kei dan Kagusa kembali bertemu di gedung sekolah.
"Haah... Padahal aku bermaksud melihat Arato Izumi, tapi sepertinya aku harus pergi" Gumam Kagusa dan bersiap pergi
"Tunggu!" Teriak Kei. Kagusa pun melirik Kei dengan tatapan tajam.
"Hah?! Apa lagi?" Tanya Kagusa jengkel
"Sok tau. Aku tidak menjadikannya bawahanku, tapi rekan!" Bantah Kagusa
"Intinya, kau mau membuat anak itu menjadi di pihakmu, kan? Sayangnya aku juga berpikir begitu"
Kagusa berbalik dan menatap Kei dengan garang.
"Jadi, kau mengajukan untuk bertarung denganku memperebutkan Izumi? Sayangnya aku tidak tertarik. Dia bukan barang yang bisa kita perebutkan sesuka hati. Aah, tentu saja kau yang roh jahat tidak kepikiran sampai situ"
"Aku tidak begitu!!" Gumam Kei menggeram.
"Maksudku, aku mau kita bekerjasama mengajak anak itu di pihak kita!"
Kagusa melipat kedua tangannya didepan dada dan menatap remeh Kei.
"Aku? Bekerjasama denganmu? Itu tidak mungkin!"
"..."
"Aku akui kalau pemimpin roh jahat yang sekarang itu tidak pantas untuk jadi pemimpin"
"Jadi?" Tanya Kagusa
"Aku akan membantumu melenyapkan pemimpin roh jahat sebagai bukti aku di pihakmu"
Kagusa terdiam dan makin menatap tajam Kei.
"Kupikir ini bukan sesuatu yang bisa kau katakan di tempat dimana semua roh bisa mendengarnya. Kau sangat mencurigakan"
"Aku sudah membuat pelindung kedap suara, jadi tidak ada yang mendengar pembicaraan kita"
Kagusa pun melihat ke sekelilingnya. Ia baru menyadari ternyata benar ada pelindung kedap suara.
"Aku tidak menyadarinya karena terlalu fokus ke dia" Pikir Kagusa
Kagusa melirik ke Kei.
"Dan sepertinya dia juga bukan tipe yang suka bercanda. Dia serius mengatakan itu" Pikir Kagusa
Kagusa pun kembali berbalik dan menatap Kei.
"Jadi, apa yang kau mau? Tidak mungkin semuanya gratis, kan. Apa bayaran untuk kau membantuku melenyapkan pemimpin roh jahat?"
"Jadikan aku rekanmu"
"... Ini permintaan yang sulit"
"Sebelum itu, aku mau tau apa yang membuatmu mau jadi rekanku?" Tanya Kagusa
"Aku menyadari kesalahanku, karena itu aku mau menebusnya. Aku akan membantumu melenyapkan Tuan-ku yang sekarang, dan menjadikan anak itu menjadi Tuan-ku yang baru"
Kagusa pun menatap bingung Kei.
"Dia belum mati. Bagaimana bisa kau tau dia akan jadi roh jahat? Bisa jadi dia jadi roh baik dengan kepribadiannya yang lemah lembut itu"
"Lemah lembut bukan berarti dia tidak pernah merasa marah. Justru orang yang seperti itulah yang rentan jadi roh jahat. Aku bisa yakin dia akan jadi roh jahat tingkat atas begitu jadi roh"
"..." Kagusa terdiam
"Yah, terserah kau saja" Ucap Kagusa cuek
Kagusa pun berjalan ke belakang meninggalkan Kei. Namun sebelum benar-benar pergi, Kagusa menatap Kei kembali.
"Kau masih belum bisa kupercaya. Tunjukkan padaku buktinya" Ucap Kagusa dan pergi.
*
__ADS_1
Esok harinya...
Kagusa dan Kei kembali bertemu.
Disaat mereka saling berhadapan, Kei menyerahkan beberapa lembar kertas ke Kagusa.
"?"
Dengan bingung Kagusa menerima kertas itu dan membacanya.
"!! Ini..." Gumam Kagusa tak percaya.
Kagusa langsung menatap Kei.
"Ini bukti yang kau minta kemarin. Bagaimana?" Tanya Kei
"Heh! Pemimpin roh jahat bekerjasama dengan wilayah lain untuk menghancurkan wilayahnya sendiri. Ini sangat konyol!"
"Tapi begitulah kenyataannya" Jawab Kei
"Kau merekayasa surat ini" Bantah Kagusa
"Disini ada cap pemimpin. Kalau cap pemimpin wilayah ini, kau mungkin tidak percaya karena aku bisa mendapatkannya dengan jabatanku sebagai ajudan pemimpin. Tapi untuk cap wilayah lain, tidak mungkin aku bisa merekayasanya" Balik bantah Kei
"Memang benar. Tidak mungkin dia bisa merekayasa cap wilayah lain. Dan sebagai pemimpin aku juga tau ini asli" Pikir Kagusa
"Apa... Pemimpin roh jahat benar berkhianat?..."
"Disini tertulis penyerangannya akan dilaksanakan 1 bulan lagi. Apa sempat jika aku membuat rencana serangan balik? Bagaimana jika wilayah tetangga ikut menyerang melihat perang saudara di wilayah ini?"
Otak Kagusa tak henti berpikir banyak kemungkinan yang dihadapi wilayah ini.
Ditengah Kagusa sedang berpikir keras, Kei memulai kembali pembicaraan.
"Aku bisa membantumu menghadapi ini jika kau mau aku jadi rekanmu"
Kagusa mengernyitkan dahinya.
"Bisa jadi ini jebakan, kan? Bisa saja kau berpihak di Tuan mu itu dan mau mengepungku"
Kei menatap dalam Kagusa.
"Kau sangat tidak percaya padaku, ya" Gumam Kei
"Kau lihat disana bilang kalau penyerangannya 1 bulan lagi, kan? Akan aku buat agar rencana itu gagal dalam waktu 1 minggu"
"Kalau begitu, aku pergi dulu"
Kei pun langsung pergi meninggalkan Kagusa. Dan Kagusa pun langsung pergi menemui tangan kanannya.
"Pemimpin, ada apa tergesa-gesa?" Tanya si tangan kanan
"Ada sesuatu yang gawat terjadi!" Ucap Kagusa serius sambil mengangkat lembaran kertas surat milik pemimpin roh jahat dengan pemimpin wilayah lain.
Kagusa dan tangan kanannya pun mulai berdiskusi serius.
"Jadi ajudan pemimpin roh jahat yang memberikannya, dan bilang akan membantu?" Tanya si tangan kanan
"Ya. Tapi aku masih tidak percaya. Jadi kita akan buat rencana untuk serangan balik kali ini. Kita buat sesegera mungkin dan jangan sampai ada yang tau selain kita" Ucap Kagusa
"Kenapa?"
"Aku mau melihat si tangan kanan br*ngsek itu benar-benar menyelesaikannya atau tidak. Jika dia benar berpihak ke kita dan dia berhasil, kita hanya membuat kegaduhan saja" Jawab Kagusa
"Jadi selama 1 minggu ini rahasiakan dari yang lain soal penyerangan ini. Lalu minta para bawahan untuk menjaga perbatasan lebih ketat lagi"
"Baik!"
Dengan begitu, Kagusa dan tangan kanannya membuat rencana serangan balik, tapi tidak ada yang sempurna.
Lalu, dihari ke-5 sejak Kagusa menerima surat dari Kei itu, di ruang kerja Kagusa...
"Pemimpin, memang benar cara yang paling baik itu melenyapkan pemimpin roh jahat. Dengan begitu penyerangannya juga akan batal" Ucap si tangan kanan
"Tidak ada jaminan kalau si br*ngsek itu lenyap sekutunya itu tidak menyerang kita. Dan lagi, pasti tidak mudah untuk kita melenyapkannya. Kau tahu sendiri kan dia punya banyak rekan bahkan dari wilayah lain" Bantah Kagusa
Kagusa mengacak-acak rambutnya dengan kesal.
"Kei... Awas saja jika ini cuma trik licikmu saja. Kalau kau main-main denganku, takkan kumaafkan" Gumam Kagusa kesal
Lalu, tiba-tiba Kei datang ke kastil kepemimpinan roh baik dan menemui Kagusa.
"Apa yang kau lakukan kesini?!" Teriak tangan kanan Kagusa
"Ini bukan tempat yang bisa kau masuki sembarangan!" Ucap Kagusa marah
"Wajahmu tampak kusut. Kau pasti banyak berpikir selama 5 hari terakhir ini" Ejek Kei
"Kalau cuma itu yang mau kau katakan, pergi dari sini!!" Teriak Kagusa
Lalu, Kei melempar beberapa surat lagi ke meja kerja Kagusa.
Kagusa mengambil kertas itu dan melirik tajam Kei.
"Apa lagi ini?"
"Baca saja"
Setelah membacanya, Kagusa tersentak dan refleks berdiri.
"Seperti yang kau lihat, penyerangannya kini batal"
"Bagaimana bisa" Ucap Kagusa dan menatap tajam Kei
"Aku mencuri cap milik Tuan dan meminta sekutu untuk membatalkan serangannya. Selesai" Ucap Kei sambil memperlihatkan cap milik pemimpin roh jahat.
Kagusa terdiam sambil terus menatap tajam Kei.
"Hei, kau tahu kan cap pemimpin itu sama berharganya dengan kristal hati? Aku mempertaruhkan diriku sendiri untuk menyelesaikannya, tapi kau masih tidak percaya?" Tanya Kei dan balik menatap kesal Kagusa
"Memang benar. Karena cap pemimpin itu untuk membuktikan kalau dia adalah pemimpin, jadi itu sangat berharga. Jika ada roh lain yang mencurinya, itu bisa jadi akhir dari suatu wilayah karena roh itu melakukan hal sewenang-wenang atas nama pemimpin" Pikir Kagusa
"Dan bagaimanapun, sepertinya aku berhutang budi padanya"
Kagusa menghela nafas dan kembali menatap Kei. Kini dia memasang ekspresinya yang biasa.
"Terima kasih. Berkatmu wilayah ini selamat" Ucap Kagusa
"Aku tidak butuh terima kasih darimu. Sesuai janji, kita jadi rekan sekarang"
"Omong-omong, anak itu masih hidup sampai sekarang. Katamu dia akan mati beberapa hari lalu, kan? Kau tidak mencoba membohongiku?"
Kagusa pun terkejut.
"Masih hidup?" Ucap Kagusa kaget
"Biasanya pengelihatanku itu sekitar 1 sampai 3 hari sebelum orang itu mati. Tapi sekarang sudah 6 hari sejak aku melihatnya... Tidak ada kesalahan juga, sudah pasti yang kulihat itu roh Izumi. Aku juga bisa melihat masa lalunya" Gumam Kagusa
"Apa memang pengelihatanku jadi lebih cepat seiring berjalannya waktu?"
"Bagaimana kalau mengeceknya dulu?"
"Benar. Aku perlu melihat langsung Izumi"
"Akan kupastikan kau berada di pihakku, Arato Izumi" Pikir Kagusa
__ADS_1