
Hari terus berlalu dan tidak terasa 10 hari sudah berlalu sejak hari libur semester.
Esok hari, di hari kamis aku berniat untuk membeli keperluan sekolahku seperti pena, buku, dan lainnya.
Karena itu, sekarang aku sedang berbicara dengan orang tuaku.
"Pa, Ma, Yurin besok mau pergi beli alat sekolah, ya"
"Iya. Mau Mama temani? Mama dan Papa juga sudah libur kerja"
"Tidak, biar Yurin sendiri saja yang pergi" Ucapku
"Kalau Mama ikutan pergi, pasti pulangnya lama karena Mama kebanyakan mampir kesana kemari untuk beli bahan makanan atau mengobrol" Pikirku
"Kalau tidak mau dengan Mama, bagaimana dengan Papa?" Tanya Papa
"Tidak perlu, Yurin bisa sendiri" Jawabku
"Papa memang tidak banyak pergi kemana-mana, tapi..."
Aku teringat kejadian ketika aku akan pergi ke rumah temanku untuk kerja kelompok saat SMP. Saat itu Papa mengantarku menggunakan motor.
Ngeeeeeeeeng!
"Papa terlalu ngebut!!"
"Tak apa. Yurin pegangan saja yang kuat"
Begitu sampai du rumah temanku...
"Hoek..."
Itu adalah pertama dan terakhir kalinya aku diantar Papa menggunakan motor.
*
"Kalau pergi dengan papa, pasti Papa akan ngebut sampai-sampai aku jadi mual. Pergi dengan Papa itu sama saja dengan uji adrenalin. Jadi lebih baik tidak usah" Pikirku
"Yurin kan sudah besar. Dan lagi sudah 6 bulan Yurin tidak dengan Mama Papa, jadi tidak usah khawatir" Ucapku
Mama dan Papa menghela nafas dengan wajah sedikit sendu.
"Iya, Yurin kami sudah besar. Mama jadi ingin Yurin kembali menjadi kecil dan imut tanpa perlu memikirkan apapun dan hanya menikmati kebahagiaan" Ucap Mama dan memelukku
"Aduuuh~ Kenapa malah tiba-tiba begini?~ Itu kan tidak mungkin terjadi~" Ucapku
"Karena Yurin sudah besar, jadi tidak apa Yurin pergi sendiri"
"Tidak, Mama akan tetap ikut!" Ucap tegas Mama
"Yah, pokoknya sudah pasti aku akan membeli peralatan sekolah yang telah habis, namun aku mau pergi sendiri. Karena sepertinya akan makan waktu lama jika aku membujuknya, lebih baik aku mencari alasan agar cepat selesai" Pikirku
"Sebenarnya... Yurin sudah janjian dengan teman untuk pergi bersama" Gumamku memelas
"Teman?" Tanya Mama dan Papa serempak
"Iya, teman..." Jawabku sedikit panik
"Karna aku akan pergi dengannya, tidak mungkin kan Mama atau Papa ikut. Jadi biarkan Yurin pergi sendiri"
Mama dan Papa terdiam sebentar, lalu akhirnya mereka mengizinkanku juga.
"Baiklah, tapi hati-hati ya"
"Iyaaaa~"
*
Di kamar....
"Kau benar-benar akan mengajak perempuan itu pergi?" Tanya Izumi yang duduk di sampingku
"Maksudmu Yui? Tentu tidak. Itu hanya alasanku saja biar bisa pergi sendiri" Jawabku santai kemudian membalik halaman buku yang sedang kubaca.
"Dari mana kau belajar membohongi orang tua?" Tanya Izumi dengan sedikit serius
"Entahlah. Lagian mereka khawatirnya sedikit berlebihan. Aku saja baik-baik saja selama berpisah dengan mereka, jadi tidak ada cara lain selain aku sedikit berbohong, kan"
"Kau tahu kan tidak baik berbohong? Bagaimana kalau kau melakukan apa yang kau katakan?"
__ADS_1
Aku sedikit bingung dan langsung menoleh melihat Izumi.
"Apa maksud...." Gumamku
"!!!!"
Sedetik kemudian, aku baru sadar dengan maksud perkataan Izumi.
"Kau mengerti, kan?" Tanya Izumi dengan senyum liciknya
"Tidak, tidak, tidak, tidak!! Aku tidak mau lagi pergi denganmu!!" Teriakku
"Yang kutahu, teman baikmu yang rumahnya paling dekat denganmu hanya perempuan itu. selain dia, ada aku yang merupakan hantu, yang dapat pergi kemanapun dan memiliki waktu yang senggang"
"Kau tidak mau mengganggu waktunya, bukan? Kalau begitu jawabannya hanyalah pergi denganku"
"Tidak mau!! Sejak awal rencanaku pergi sendiri! Lagian, kau itu pemimpin roh, bagaimana bisa kau melempar tanggung jawabmu ke bawahanmu?"
"Meski terlihat seperti itu, sebenarnya aku juga sedang melaksanakan tugasku"
"Melakukan perjanjian dengan wilayah yang besar, mengamati bawahanku ketika aku tidak berada di tempat, melindungimu yang terikat denganku, dan terakhir yang paling penting... Akhirnya aku bisa bersenang-senang" Ucap Izumi dengan tersenyum cerah
"Kau terlihat seperti atasan serakah yang seenaknya memperkerjakan anak buahmu dan membayarnya dengan gaji kecil" Gumamku
"Yurin, kau tidak tahu saja betapa banyak usahaku selama ini hanya untuk bawahan dan wilayahku selama ini. Jika dilihat lagi, waktu istirahatku itu saja sangat tidak sebanding dengan usahaku"
"...." Aku terdiam
"Hawa di sekitar sini langsung berubah dingin. Lebih baik aku mengalihkan pembicaraan ke arah lain sebelum suasananya semakin buruk" Pikirku
"Yah, pokoknya aku akan pergi sendiri. Kau lakukan saja hal yang harus kau lakukan"
"Iya, dan hal yang akan aku lakukan adalah ikut denganmu~"
"Kau tidak usah ikut, Izumi"
"Ikut. Kalau kau tidak mengizinkan, aku tinggal masuk lagi ke tubuhmu"
"...."
"Baiklah..."
*
Keesokan harinya, jam 10 pagi...
"Hati-hati ya, Ririn. Jangan pulang terlalu larut" Ucap Mama khawatir
"Iya, Ma. Aku akan pulang secepatnya~" Jawabku sambil tanganku melambai pelan.
"Enak sekali, mendapat perhatian lebih dari orang tua" Ucap Izumi santai yang sekarang berdiri di sampingku.
Aku melirik ke arah Izumi.
"Kalau dipikir lagi, Izumi bilang ayahnya meninggal ketika dia masih kecil. Lalu ibunya juga sakit parah. Meski perkataan Izumi barusan terdengar seperti candaan, tapi sepertinya di dalam lubuk hati terdalamnya juga merasa seperti itu. Bagaimanapun, Izumi di hadapanku sekarang ini tetaplah anak laki-laki berumur 14 tahun" Pikirku
Aku kembali menatap mata Mama.
"Kalau begitu, Yurin pergi dulu Ma"
*
Saat di perjalanan, Izumi masuk ke dalam tubuhku tanpa kusadari.
"Hmmm... Apa tak masalah kalau aku mengatakan ini, ya?" Pikirku
"Soal apa? Katakan saja" Ucap Izumi yang membuatku sedikit kaget
"Izumi!! Sudah kubilang jangan masuk tubuhku!" Pikirku teriak
"Oke, oke. Tapi katakan dulu apa yang mau kau katakan. Tidak mungkin kan kau mengatakannya langsung dari mulut. Supirnya akan merasa aneh padamu"
Aku berpikir sebentar, mempertimbangkan aku harus mengatakannya atau tidak.
"Izumi, apa kau merindukan ayahmu?" Tanyaku ragu
"Tidak"
"Kalau begitu, Ibumu?" Tanyaku kembali
__ADS_1
"Itu juga tidak" Jawab Izumi spontan
"Bukankah kau menyayangi ibumu?"
"Iya, tapi untuk sekarang aku tidak merindukannya. Mama ku juga masih hidup dan aku masih bisa melihatnya kapanpun" Jawab Izumi
"Jadi sekarang kau tidak ada perasaan apapun terhadap orang tuamu?" Tanyaku
"Iya" Jawab Izumi singkat
"Tapi kau terlihat seperti anak yang ingin mendapat kasih sayang orang tua, ditambah lagi, kan... Eem, kondisi orang tuamu tidak baik. Aku jadi sedikit kaget dengan jawabanmu"
"Hahahaha, apa aku terlihat seperti itu? Sepertinya aku harus menunjukkan roh jahatku padamu untuk menyingkirkan pikiran seperti itu"
"Baiklah, baiklah. Jangan tunjukkan sesuatu yang mengerikan seperti itu. Omong-omong, cepat keluar dari tubuhku, kita sudah hampir sampai"
Perlahan, wujud Izumi muncul dan duduk di sampingku.
"Haah, memang lebih nyaman berada diluar, meski sebenarnya lumayan nyaman di tubuhmu" Gumam Izumi dan menyandar ke sandaran kursi mobil.
"...." Aku terdiam sebentar
"Meski terlihat tidak terima aku berkata seperti itu, tapi Izumi tidak menyangkal perkataanku dan hanya sedikit menggertak" Pikirku
"Izumi ini memang penuh akan misteri. Sampai sekarang pun aku juga masih tidak bisa menebak isi hati Izumi seperti apa. Padahal awalnya kupikir dia anak yang isi hatinya lumayan mudah dibaca karena tingkahnya yang menyebalkan dan sedikit kekanak-kanakan. Tapi semakin mengenalnya, aku merasa hal yang kulihat darinya seakan hanya setetes dari air di sungai" Pikirku
Aku melamun tenggelam oleh pikiranku sendiri. Namun lamunan itu pecah karena sopir menghentikan mobilnya.
"Nona, kita sudah sampai" Ucapnya
"Terima kasih"
Aku pun membayar ongkos perjalanannya, dan keluar dari mobil itu bersama Izumi.
*
Di dalam toko alat tulis...
"Hmmm..."
Sudah beberapa menit aku di toko itu, tapi masih bingung menentukan yang mana yang akan kubeli.
"Izumi, menurutmu aku harus beli yang mana? Yang ini atau yang itu?" Bisikku sambil menunjuk 2 buah pena dengan merk yang berbeda.
"Terserah kau. Kau yang menggunakannya, tapi kenapa bertanya padaku?" Ucap Izumi ketus
"Aku tahu yang ini enak digunakan, tapi aku baru lihat ada pena dengan merk itu, jadi aku sedikit penasaran. Jadi aku berpikir untuk meminta pendapatmu" Bisikku
"Lebih baik kau beli pena yang sudah pasti enak digunakan. Dengan begitu, kau takkan kecewa setelah membelinya" Ucap Izumi
"Benar juga. Kalau begitu---"
Tak!
Ucapanku terputus, karena tanganku tidak sengaja terbentur dengan tangan seseorang disamping kananku ketika aku ingin mengambil pena itu.
Refleks aku langsung menoleh melihatnya.
Orang tersebut adalah laki-laki yang umurnya kurang lebih sepertiku. Memiliki rambut hitam keabuan dan bermata hijau. Ia tampak tampan dan keren ditambah dengan jaket hitam yang digunakannya.
"Ah, maaf...." Gumamku sambil menarik kembali tanganku
Laki-laki itu melirik ke arahku sekilas, lalu pergi setelah mengambil sekotak pena yang juga ingin kubeli.
"Ada apa? Kau terlihat kesal" Ucap seorang perempuan tak jauh dari laki-laki itu. Perempuan itu memiliki rambut panjang berwarna hitam keabuan dan bermata hijau, mirip seperti laki-laki itu.
"Tidak, bukan apa-apa" Jawab laki-laki itu, lalu pergi bersama perempuan tersebut.
"Anak kembar?" Pikirku
"Yah, tidak peduli. Yang penting aku sudah minta maaf padanya, meski itu tak sepenuhnya salahku" Pikirku lalu mengambil sekotak pena yang akan kubeli dan menoleh ke Izumi.
"!!!"
Aku kaget.
"Izumi?" Gumamku
Entah bagaimana, Izumi terlihat sangat marah, sampai-sampai matanya sekarang berwarna merah dan kedua tangannya mengepal kencang hingga gemetar.
__ADS_1