
"Wah~ Ada siapa ini yang datang?~"
Aku pun melirik ke depan, tempat sumber suara itu muncul. Suara yang terdengar kasar dan menyebalkan.
Dari depan gang yang gelap itu, tiba-tiba muncul 3 orang preman di depanku.
*
"Apa yang adik lakukan ditempat seperti ini?~" Goda salah seorang dari mereka
"Haah?? Aku tidak punya keperluan dengan kalian! Aku juga bukan adik dari siapapun!!" Ucapku kesal
"Jangan galak begitu~ Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar?" Ucap preman yang berada di tengah. Preman itu terlihat lebih sangar dari 2 lainnya.
Aku berusaha pergi dari gang itu, tapi dia mendekatiku dengan memasang ekspresi yang mencurigakan.
Begitu dia berdiri di depanku, dia langsung memegang daguku dan mengangkatnya untuk melihat wajahku.
"Ternyata kau cantik juga" Ucapnya
Plak!
Begitu dia baru saja menyelesaikan ucapannya, aku langsung menepis tangannya dari daguku.
"Bos!!" Teriak 2 preman lain yang ada di belakangnya.
"Oh? Dia bos nya?" Pikirku tak peduli
"Kau!! Beraninya memukul tangan Rex yang kuat ini!!" Teriaknya murka
"Maaf, sepertinya aku salah masuk gang. Permisi, ya" Ucapku santai lalu berjalan berbalik keluar.
"Tunggu!!"
Namun, tidak semudah itu.
Preman yang dipanggil bos dan sepertinya bernama Rex itu langsung memegang pundakku dengan kasar untuk menahanku tidak pergi.
"Kau seharusnya tahu konsekuensinya jika mengganggu Rex, penguasa gang ini" Bisiknya
"Permisi, om. Jika anda mempermasalahkan tindakan kasarku tadi, seharusnya anda juga bisa berpikir kalau tindakan anda sendiri juga tidak pantas!" Ucapku kesal
"Om katamu?? Aku baru berusia 22 tahun!!" Teriaknya
"Tidak peduli" Pikirku
"Heh, apa kau tidak tahu denganku, hah? Semua orang takut denganku!" Ucapnya dengan tatapan tajamnya
"Apa sih, cuma penguasa gang sempit dan kotor ini saja bangga" Pikirku kesal
"Entahlah, saya tidak tahu. Mungkin karena anda tidak sehebat itu jadi anda tidak populer. Bahkan langsung marah hanya karena dipukul sedikit oleh gadis kecil ini. Tidak punya sopan santun lagi"
"Kau!!"
Preman itu langsung melayangkan tinjunya pada wajahku. Refleks aku menunduk menghindari pukulannya, dan berlari menjauh ke samping.
"Apa yang kalian berdua lakukan?! Cepat kepung gadis itu!!" Teriak bos mereka
Sekarang mereka bertiga sudah menghadang semua jalur untuk pergi dari gang ini. Hal itu membuatku semakin marah karena mereka sudah membuang-buang waktuku untuk hal tak berguna. Ditambah lagi Izumi yang masih belum menampakkan batang hidungnya.
Si Izumi ini kemana sih??! Kenapa dia lama sekali??! Ditambah lagi om-om cabul ini buat ulah denganku. Mengesalkan sekali!!" Pikirku
"Om-om sekalian, tolong biarkan saya pergi. Saya akan marah jika waktuku terbuang sia-sia seperti ini"
"Sudah terlambat! Aku sudah terlanjur kesal dengan sikap sombong dan aroganmu!" Teriak bos preman
"Kata-kata itu seharusnya saya yang katakan, bukan anda. Saya bisa laporkan anda ke polisi"
Preman itu tersenyum dan tertawa terbahak-bahak.
"Kau takkan bisa keluar dari sini!! Tidak ada siapapun yang akan datang ke sini karena ini tempat yang sepi" Teriaknya sambil tertawa kencang
"Naah, mari kita beri pelajaran tikus yang sombong dan tidak tahu diri ini"
Perlahan mereka bertiga berjalan mendekatiku.
Sebelum mereka semakin mendekatiku, aku mengambil sebuah balok kayu terlebih dahulu yang ada di sampingku.
"Izumi!! Jika kau masih sayang pada jiwamu, cepat datang ke sini!!" Teriakku kesal
Izumi pun muncul di sampingku.
"Ah, kau disini. Aku mencarimu dari tad---"
Buk!
Aku memukul kepala Izumi menggunakan balok kayu yang aku pegang.
__ADS_1
Dan aku kembali lupa, kalau aku dan Izumi terikat. Jadi kepalaku juga ikut sakit.
"Lama sekali!! Gara-gara kau lama, aku jadi terjebak disini! Mana lagi ikatan ini membuatku semakin kesal" Teriakku
"Ya mana aku tau kau datang ke tempat menjijikkan seperti ini. Kau juga sebelumnya tidak memanggil namaku" Gumam Izumi sambil memegang kepalanya.
"Bos, kenapa gadis itu bicara sendiri sambil teriak-teriak?" Tanya salah satu preman
"Heh, apa kau akhirnya menjadi gila?"
Aku melirik ke para preman itu dengan tatapan tajam.
"Hey, emosiku masih belum turun tapi kau masih ngajak ribut?" Teriakku kesal
"Yu... Yurin..." Gumam Izumi tak percaya
"Aku mau pulang, jadi ayo cepat kita pergi dari sini, Izumi"
"Dasar gadis gila!"
Mereka pun berlari mendekat dan bersiap memukulku.
Buk!!
Dengan keras aku memukul kepala bagian kanan bos preman itu sebelum dia sempat melayangkan tinjunya. Karena aku memukulnya terlalu keras, balok kayu yang terlihat kuat itu pun terbelah menjadi dua.
Bos preman itu pun ambruk hanya dengan satu pukulanku.
"Bos!!" Teriak 2 preman lainnya
Mereka berdua pun mengalihkan tatapannya kepadaku dengan tajam.
"Dasar sialan!!" Teriaknya dan berlari mendekatiku dengan memegang pisau yang mereka keluarkan dari balik jaket mereka.
"Izumi, kau hanya mau diam saja?" Tanyaku dingin
"Aah, aku jadi tidak bisa berpikir akibat pukulan yang tiba-tiba dan melihat pemandangan yang luar biasa" Gumam Izumi merasa tak bersalah
"Tapi... Sepertinya sekarang aku harus bergerak" Gumam Izumi dan menatap tajam mereka berdua.
Seketika, Izumi berlari sangat cepat bagaikan angin dan menerobos salah satu tubuh preman itu dan menghilang.
Ya, Izumi merasuki tubuh salah satu preman itu dan mengendalikannya.
Sriing...
Preman yang Izumi rasuki itu langsung berhenti berlari dan mengarahkan pisaunya pada leher rekannya yang berlari disampingnya.
"..."
Preman yang Izumi rasuki itu hanya diam dan menatap tajam orang yang ada di depannya itu. Perlahan preman yang Izumi rasuki itu berjalan semakin mendekati rekannya, yang membuat preman itu semakin panik.
"Ada apa? Kau seharusnya mengarahkan pisau itu ke gadis itu..." Ucapnya ketakutan
"Cepat serahkan semua hartamu padaku, kalau tidak aku akan menyayat lehermu!" Ancam preman yang Izumi rasuki
"Hei, Izumi. Aku tidak perlu uang mereka. Aku cuma mau hal ini cepat selesai. Dan lagi, aku tidak mau melihatmu dari tubuh orang menjijikkan itu" Ucapku
"Dia sudah membuat masalah dengan orang yang salah. Dia harus membayar atas perbuatannya"
"Cukup hajar dia sedikit saja sudah cukup. Aku cuma mau pulang secepatnya"
"Apa kau tahu seberapa bahayanya posisimu saat ini?? Bahkan untuk semua hartanya pun tidak cukup untuk membayar kompensasi perbuatannya padamu!"
"Kalau begitu, kau juga bersalah, Izumi!! Kau sendiri sangat lama muncul sampai aku berada di posisi ini!" Teriakku
"Kau sendiri juga pergi tanpa bilang. Malah datang ke tempat aneh seperti ini. Padahal mau aku bantu, tapi malah tidak mau"
"Kalau kau memang mau membantuku, selesaikan ini dengan cepat!"
"Mereka itu mau melukaimu, mana bisa aku membiarkan mereka begitu saja!"
"Ya makanya aku bilang cukup hajar mereka sedikit saja, setelah itu kita pulang" Ucapku kesal
"Sedikit katamu? Kau sendiri memukul orang itu sampai kayu itu terbelah dan dia pingsan"
"Aku tidak sengaja karena terlalu emosi dan insting pertahanan diri"
"Kalau begitu aku juga seperti itu"
"Jangan buat masalah, Izumi!"
Aku dan Izumi pun kembali ribut. Dan preman itu mengambil kesempatan untuk balik menyerang rekannya yang sekarang dirasuki Izumi.
Preman itu mengeluarkan senjatanya dan mengarahkannya pada rekannya yang sekarang sibuk berdebat denganku.
"Kau dasar pengkhianat!! Mati saja kau!!" Teriakknya
__ADS_1
"Kalau cuma menghajar mereka sedikit saja itu tidak akan cukup, Yurin!" Teriak preman yang Izumi rasuki. Lalu tanpa menoleh, dia bisa menangkap tangan rekannya yang menghunuskan pisau padanya.
"Lihat, dia bahkan bisa bilang 'mati' pada rekannya sendiri. Dia memang tidak pantas hidup"
"Kau jangan membunuhnya. Yang akan kena masalah itu aku" Ucapku
"Baiklah"
Izumi melalui salah satu preman itu langsung memelintir tangan dari rekan preman yang ia rasuki hingga ia jatuh.
"Aku hanya tidak perlu membunuhnya, kan?"
"Jangan berlebihan, Izumi"
"Aargh... Lepaskan tanganku, brengs*k!!"
"Hmmm~"
Izumi menarik tangan preman itu ke belakang sambil memelintirnya dan mendorong punggungnya menggunakan kaki.
"Aaarghh!!"
Kratak... krak...
"Kau mematahkan tangannya. Padahal aku sudah bilang jangan berlebihan"
Padahal ini pertama kalinya aku melihat hal mengerikan seperti ini pada manusia, namun anehnya aku sama sekali tidak merasa takut saat melihatnya. Mungkin ini karena aku sering melihat hal yang lebih mengerikan lagi saat melihat para roh bertarung.
"Yang penting dia tidak terbunuh~ Lagian, dia masih punya satu tangan lagi"
Izumi melepaskan tangan preman itu dan dia langsung ambruk sambil meringis kesakitan.
"Apa perlu lidahnya yang kotor itu dipotong?"
"Sudah berapa kali kubilang, jangan berlebihan!" Ucapku tegas
"Kau!!" Teriaknya
Preman yang tangannya Izumi patahkan itu langsung memungut pisau miliknya dan berlari mengarah rekannya.
Dan kali ini, Izumi sama sekali tidak menghindari serangan itu dan membiarkan pisau itu menusuk perut orang yang ia rasuki
Sebelum preman itu menusuk perut rekannya, Izumi keluar dari tubuh preman yang akan tertusuk itu. Izumi keluar dan menembus tubuh preman yang menyerang.
"Bodoh!" Bisik Izumi
Preman itu langsung tersentak karena hawa dingin dan mematikan yang tiba-tiba muncul.
Izumi langsung melayang mendekat lalu berdiri menghadang pengelihatanku menggunakan tubuhnya dan menutup kedua telingaku.
Crat!
Preman itu pun tertusuk dan ambruk.
"Apa-apaan yang barusan itu" Gumamnya
"Hawa membunuh yang mengerikan..."
Akhirnya, preman itu pun ambruk setelah menusuk rekannya.
Setelah keadaan menjadi sunyi, Izumi menurunkan tangannya dari telingaku dan memelukku.
1 detik kemudian, aku sudah berada di gang dekat tempatku tinggal.
"Eh?"
Aku sedikit kaget karena kami tiba-tiba teleportasi.
Izumi melepas pelukannya dariku dan sekarang menatapku sekujur tubuhku dengan serius.
"Kau tidak terluka, kan? Apa ada yang sakit?" Tanya Izumi
"Aku tidak apa. Tapi kalau ditanya soal sakit..." Gumamku
"Dimana??" Tanya Izumi khawatir
"Disini..." Ucapku sambil menunjuk dahiku
"..." Izumi terdiam
"Itu... Karena pukulanmu ke kepalaku tadi, kan?" Tanya Izumi
"Iya..." Gumamku
"Lupakan. Apa yang aku khawatirkan, sih" Ucap Izumi lalu berbalik meninggalkanku
"Hei, kau mau meninggalkanku begitu saja??!"
__ADS_1
"Tidak dengar~ tidak dengar~"
"Izumi!!"