Hantu Sekolah

Hantu Sekolah
Kehidupan Izumi : Jiwa yang Memberontak


__ADS_3

*


**


Semester 2 kelas 9 pun dimulai.


Keseharianku di sekolah dan di rumah tidak berbeda dengan sebelumnya.


Teman kelas yang membullyku, kakak angkat yang menyiksaku, adik angkat yang pura-pura tidak tahu, wali yang cuek, guru yang pilih kasih, dan ibu yang melupakanku.


Aku menjalani semuanya sendirian.


Hingga pada akhirnya kami lulus Sekolah Menengah Pertama. Begitu pulang dari sekolah, aku langsung menemui ibuku dengan masih memakai seragam sekolah dan wig berwarna coklat yang kubeli sebelumnya.


Tok, tok, tok.


"Masuklah"


Aku masuk ke ruang rawat ibu dengan membawa rapor, piagam, dan hadiah yang kuterima dari pihak sekolah.


"Ma--- Tante, aku datang lagi"


"Iya~ Aku sudah menunggumu sepanjang waktu"


Ibu menatap ke semua barang yang kupegang.


"Apa yang kau pegang itu?" Tanya ibu


"Ah!" Aku sedikit tersentak, lalu dengan bangga memamerkannya pada ibu.


"Aku dapat peringkat pertama lagi seangkatan. Sejak dulu posisiku tak pernah tergeserkan!"


"Wah~ Hebat sekali~" Teriak ibu sambil bertepuk tangan kecil


"Kamu hebat sekali~ Coba saja aku punya anak sepertimu~"


Aku hanya menghela nafas mendengar ucapan ibu.


"Aku kan memang anaknya mama" Pikirku


"Omong-omong, kau terus datang kesini, bagaimana dengan orang tuamu?" Tanya ibu


Aku terdiam sejenak, lalu menjawab pertanyaan ibu.


"Papa... Sudah meninggal, lalu mama sedang sakit"


"Begitu?" Tanya ibu prihatin


"Apa tidak masalah kamu kesini disaat mama mu sedang sakit?" Tanya ibuku


"Tidak masalah. Karena mama yang menginginkan aku ke sini" Jawabku ceria


Ibu langsung tersenyum ceria. Namun, tak lama kemudian, wajahnya perlahan kembali datar dan tampak serius seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Tante?" Tanyaku


Ibu tersentak dan kembali menatapku dengan senyumnya seperti biasa.


"Ya? Kenapa?" Tanya ibu


"Tidak..." Gumamku

__ADS_1


Ibu hanya menatapku untuk beberapa saat, lalu kembali tersenyum.


"Kenapa hanya berdiri disana? Ayo kesini dan duduk"


Aku berjalan mendekati ranjang ibu dan duduk di kursi disampingnya.


Aku menaruh semua barang yang kupegang ke meja beserta tas yang kudukung.


Aku mengambil buah yang kutaruh didalam tas untuk diberikan pada ibu. Tanpa sengaja, aku menjatuhkan tas ku dan membuat buku didalamnya berserakan.


Ibu melihat buku yang dia beri padaku saat ulang tahunku ke-8 sebelumnya.


"Buku itu..." Gumam ibu


Aku tersentak, berpikir mungkin ibu bisa mengenaliku lagi.


"Apa mama ingat dia memberinya padaku? Bagaimana jika mama kembali mengamuk begitu teringat pada 'Izumi'?" Pikirku


Tanganku jadi sedikit gemetar karena takut. Dengan cepat aku mengambil buku itu dan menyembunyikannya dibalik badan.


"Kenapa... Kamu sembunyikan?" Tanya ibu


"Em... Tante... Mengenal buku ini?" Tanyaku


"Entah kenapa buku itu terasa familiar. Sepertinya aku pernah melihatnya sebelumnya. Dimana, ya..." Gumam ibu sambil memiringkan kepalanya.


Aku jadi sedikit lega karena ibu tidak mengingatnya dengan jelas.


"Lupakan saja. Tante tidak usah memikirkan sesuatu yang sudah tante lupakan. Lebih baik tante fokus di pengobatan agar cepat sembuh" Ucapku sambil menyodorkan buah itu dengan 1 tangan lainnya masih menyembunyikan buku tadi.


Ibu tersenyum manis mendengar ucapanku.


"Kamu anak yang baik ya, Izumi"


"Barusan... Mama memanggil aku... Izumi?" Pikirku kaget


Refleks aku berjalan mundur menjauh.


"Siapa?..." Tanyaku


Ibu baru menyadari apa yang dia ucapi tadi, dan tersentak.


"Eh? Siapa yang aku sebut tadi? Tiba-tiba nama itu terbesit di otakku. Siapa dia?"


Wajahku memucat karena takut ibu mengingatnya dan tidak ingin bertemu denganku lagi.


Dengan cepat aku langsung mengalihkan pembicaraan dengan tergesa-gesa.


"Ah, tante, aku akan mengupaskan kulit apelnya dulu. Tante mau memakannya atau mau aku buatkan jadi jus?" Tanyaku


"...." Ibu terdiam sejenak dengan ekspresi sedikit kecewa.


"Aku... mau memakannya saja..." Gumam ibu


"Baiklah. Tunggu sebentar, tante"


Aku hanya tersenyum tipis menatap ibu.


*


Setah sekitar sejam aku berada di rumah sakit, aku pun kembali ke rumah keluarga Hazuki.

__ADS_1


Walau aku kembali ke rumah keluarga Hazuki, tapi aku tidak langsung masuk kedalam. Begitu sampai di depan gerbang rumah, aku langsung pergi kemanapun kaki ku ingin melangkah, asalkan tempat akhirnya bukan rumah keluarga Hazuki.


Setelah berjalan sekitar 10 menit, aku menemukan tempat yang sepi dengan aliran sungai kecil dan pepohonan disampingnya. Suasana yang sangat cocok untukku.


Aku duduk menyandar ke sebuah pohon sambil menatap pantulan bayangan awan di air sungai.


Aku melamun untuk sesaat dan pikiranku mulai kacau.


"Air yang tenang. Tapi itu pasti dalam..." Pikirku


"Kalau aku... masuk ke sana... Apa yang terjadi?"


"Pasti mati, kan? Karena aku tidak bisa berenang. Tidak ada yang akan menolong juga..." Pikirku


Perlahan aku merangkak mendekati pinggiran sungai dan menatap pantulan bayangan diriku di air.


Aku mencelupkan satu tanganku ke air, tepat mengenai bayangan wajahku.


"Aku jadi penasaran... Aku ingin mencobanya..." Gumamku


Aku sudah bersiap akan masuk ke air, namun entah bagaimana aku merasa bayangan diriku di air seakan sedang bicara dengan diriku.


'Kau mau mati? Kau sudah lelah dengan dunia?'


Aku tersentak. Bukannya kabur, aku malah menatap bayangan diriku makin lekat.


"Kamu...." Gumamku sambil menatap bayanganku dengan serius


'Ketahuilah, mati bukan solusi untuk masalah yang kau hadapi sekarang. Ketika kau mati karena kau bunuh diri, kau akan menyesalinya'


'Pikirkan baik-baik. Sejak awal yang kau inginkan bukanlah kematian. Kau sudah menahan semuanya selama ini, tapi kau mau menyerah begitu saja? Perjuanganmu selama ini akan jadi sia-sia begitu kau mati'


Aku menatap bayanganku makin dalam.


"Kamu... Sebenarnya siapa?" Tanyaku


'Aku adalah dirimu. Jiwa yang terkunci rapat didalam hatimu, yang tak pernah tersentuh oleh pikiranmu yang logis itu'


"Kau... adalah aku?" Tanyaku


Bayangan diriku itu tersenyum tipis padaku.


'Otakmu mungkin tidak percaya, tapi itulah kenyataannya. Di dunia ini banyak hal diluar nalar yang bisa terjadi'


'Baiklah. Sudah cukup bicaranya'


'...Jangan mati...'


"Tunggu dulu! Aku masih belum menger---"


Wush....


Tiba-tiba muncul angin yang sangat kencang dan membuat mataku kelilipan terkena debu.


Begitu aku membuka mata dan menatap bayanganku di air lagi, bayangannya kembali normal.


"Apa... yang tadi itu..." Gumamku


Aku masih tidak percaya dengan yang terjadi. Aku langsung menoleh kesana kemari mencari sosok manusia, tapi tidak ada.


Aku sendirian ditempat ini.

__ADS_1


"Yang tadi itu... Sungguhan? Jiwa didalam diriku?" Pikirku bingung


Baru sekarang perasaan merinding menyerbu seluruh tubuhku. Dengan cepat aku pergi dari tempat itu dan kembali ke rumah keluarga Hazuki setelah berkeliling beberapa saat.


__ADS_2