
Tidak lama pintu kembali di buka. Radja dan Bara masuk dengan wajah sangar masing-masing. Apalagi yang terjadi pada mereka? Oh, bisakah hari ini ini tenang tanpa melihat pertengkaran siapa pun hari ini?
Radja dan Bara duduk di dekatku, tepatnya aku menjadi penengah mereka. Padahal salah satu bisa duduk di samping Bizar. Namun, sepertinya tidak ada yang ingin melakukannya. Sudahlah, saat ini kami masih lebih penting untuk menemukan petujuk tentang pasukan Azumi. Satu-satunya yang tahu lebih banyak adalah Bara.
“Kalian berdua baik-baik aja, kan?” tanyaku seraya menengok pada Bara lalu Radja.
“Tidak, tapi jangan pedulikan. Aku pengen buru-buru menyelesaikan semua ini,” jawab Bara. Entah perdebatan apa yang sudah terjadi hingga membuat laki-laki di sampingku ini memiliki suasana hati yang sangat buruk. Pasti ada hubungannya dengan Radja, tetapi ini bukan waktu tepat untuk menanyakannya.
Aku mengembuskan napas, lalu melihat pada Bizar yang masih mengetik progran dengan malas-malasan. Setelahnya dia menghadapkan layar pada kami. Terdapat tabel mengenai musuh kami, pasukan Azumi. Juga rekaman saat pertarungan melawan mereka di waktu lalu. Kembali aku melihatnya dan memang benar ... pasukan Azumi sudah kami bereskan. Tidak ada kekuatan gelap yang tersisa pada orang-orang di sana.
Namun, setelah melihat kenyataan kemarin, kekuatan gelap masih berkeliaran. Harusnya mereka sudah diselamarkan, kecuali ada orang lain yang mengendalikan kekuatan itu. Hanya saja siapa? Aku meragukan kekuatan kami untuk melawannya saat ini. Terlebih melawan monster saja kami masih kewalahan dan belum menemukan titik kelemahannya.
“Harusnya kekuatan gelap di dalam diri mereka udah hilang, kita sendiri saksi matanya. Bahkan di video milik Bizar pun sangat jelas. Kekuatan gelap Azumi sudah tidak ada,” gumam Radja.
“Bara, apa kamu tau sesuatu soal ini? Harusnya kekuatan gelapnya sudah hilang, seperti kamu,” balasku yang lalu menoleh pada laki-laki tersebut.
Bara mengembuskan napas. “Selama ini Azumi tidak pernah membuat rencana untuk jangka pendek. Aku bukannya ingin menyembunyikan, tapi ... aku juga tidak begitu yakin dengan ini. Dulu Azumi memang memiliki rencana untuk memasang sebuah implan.”
__ADS_1
Aku membelalak. Setiap penjelasan Bara terbayang di dalam pikiranku. Bagaimana mungkin Azumi menggunakan kekuatannya untuk memperkuat niat jahat dari manusia biasa. Sampai niat itu sudah naik ke tahap yang serius, implan di dalam tubuh itu akan tumbuh menjadi kekuatan. Namun, Bara juga tidak tahu kekuatan apa yang ditanamkan oleh Azumi.
Satu hal yang kami tangkap, tidak ada cara untuk menghentikan mereka jika implannya sudah diaktifkan. Bara memalingkan mukanya, aku tidak tahu kenapa. Sementara Bizar mencoba mencari tahu jenis implan apa itu dan dia segera pamit untuk menyelidikinya melalui monster sebelumnya. Sementara Radja masih berpikir.
Jujur aku tidak tahu harus ke mana. Akhirnya aku memutuskan untuk tetap bersama Bara dan Radja. Memikirkan tentang implan ini membuatku mual. Harusnya Azumi tidak menggunakan cara licik seperti ini. Aku tahu niatnya adalah menguasai dunia, tetapi dengan menanam implan pada seseorang adalah sesuatu yang buruk.
Jika aku menjadi Azumi, aku tidak akan melukannya. Bukankah itu bisa membuat sebuah perlawanan jika orang yang memiliki implan itu semakin berniat jahat. Aku tidak begitu paham dengan seluruh keadaan ini. Tanpa Azumi, apakah mereka akan menjadi monster yang tidak terkendali? Tanganku mengepal dan rasanya aku ingin segera mencari tahu soal implan-implan itu.
“Maaf karena aku tidak bisa membantu banyak. Kalian bisa coba ikut denganku ke kerajaan Azumi. Mungkin kita bisa menemukan sesuatu di sana,” celetuk Bara.
“Aku rasa masih. Memang terlalu beresiko jika kita membawa Nadira atau orang lainnya. Radja, hanya kamu dan aku yang bisa. Kekuatan kita sama-sama kegelapan dan sulit untuk dipengaruhi oleh sisa kekuatan Azumi,” balas Bara, laki-laki itu sempat menunjuk kepadaku lalu kembali melihat pada Radja. “Bagaimana menurutmu?”
“Jadi kalian berencana pergi tanpa mengajakku? Jika itu yang terbaik ... lakukan saja.”
Aku menahan diri untuk tidak kecewa. Jika memang aku tidak bisa ikut, aku harus ikhlas. Ini demi kelangsungan misi dan menyelamatkan dunia dari kehancuran. Bara dan Radja pergi, tetapi tidak mau ketahuan oleh siapa pun. Ya, pasti mereka juga ingin ikut untuk mencari tahu tentang monster itu. Aku tidak tahu bagaimana eksprei mereka jika tahu ini disebabkan oleh Azumi.
Mereka memutuskan untuk membuka jendela dan segera melompat. Aku tidak perlu takut jika mereka jatuh. Mereka memiliki sayap. Satu kelelawar dan satu lagi naga, terlebih ini malam hari. Mereka berdua benar-benar menyatu dengan alam. Paling hanya Bizar yang akan menyadarinya dan kesal sendiri karena meninggalkan ruang perpustakaan lebih dulu.
__ADS_1
Kembali aku memutuskan untuk mendekati buku tentang elemen kegelapan. Harapanku sangat besar untuk menemukan petunjuk. Jika pun musuh tertanam implan kekuatan kegelapan Azumi ... itu tidak menjawab semua pertanyaan tentang duplikasi mereka. Pada akhirnya kami sendiri harus mencarinya lebih ekstra lagi.
“Ketemu!” ucapku dan langsyng menarik salah satu buku dari rak bawah. Cukup berdebu, tetatpi tidak terlalu banyak.
Aku membawanya ke tepi dipan dan duduk di atasnya. Membuka satu per satu halaman pada buku. Tulisan itu lebih kuno dari yang aku kira, bahkan mulai luntur. Aku mengembuskan napas dan mencoba untuk mempelajarinya pelan-pelan.
Elemen kegelapan bisa begitu mendominasi di satu sisi dan merupakan kekuatan yang sangat tidak stabil. Biasanya elemen ini hanya dimiliki oleh orang yang terlahir dari kaum penyihir saja. Namun, semenjak kaum penyihir yang mencintai damai diserang ... penggunanya pun menjadi sedikit dan menjadi salah satu elemen murni yang langka.
Elemen ini sangat sulit dipelajari, tetapi mudah disalurkan kepada orang lain. Walau begitu, pengguna yang tidak murni akan kesulitan mengendalikannya. Lebih parah, elemen kegelapan dapat menelan hati mereka.
Aku membalikkan kembali halaman. Mencoba mencari mantra-mantra dan kegunaanya. Cukup dalam membaca sejarah elemen kegelapan. Tidak ada yang serupa dengan situasi ini sampai aku membaca salah satunya. Mataku membelalak, sepertinya apa yang Bizar ucapkan benar. Ada pengkhianat di antara kami.
Sebuah mantra yang dapat memberikan lawannya terprovokasi. Lawan akan bertindak seperti mayat hidup, tidak lama mereka akan kembali normal dan memiliki kekuatan baru. Kegelapan akan menelan hati nuraninya. Jika ada penanaman sesuatu ke dalam tubuh, pengguna dapat menyuruh lawan bertidak sesuai dengan kehendaknya.
Sampai saat ini, tidak ada cara untuk mengatasinya kecuali membunuh monster dan juga penggunanya.
Aku yakin betul bukan Azumi pelakunya. Dia sudah ditahan dan tidak ada kekuatan gelap yang tersisa. Jantungku berdebar kencang, tetapi aku tetap memutuskan untuk membacanya. Jika memang ada pengguna lain dan itu bukan Azumi, maka siapa musuh kami sebenarnya?
__ADS_1