Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[R2] 04. Reverse Ingatan (3)


__ADS_3

"Karena semua orang itu berharga, dan aku tidak mau menghilangkan kesan itu."


Aku menatap sendu pada mata Bara. Aura kegelapan mulai menguar dari balik tubuhnya. Namun, terhenti ketika aku semakin menggenggam tangannya. Mengalirkan perasaan tenang dan berharap bisa membuatnya rileks.


"Azumi bisa melihat gelagat orang. Seperti yang aku bilang sebelumnya. Kamu terlalu ragu," jelas Bara.


"Maka dari itu Azumi mengancamku? Tetapi dia percaya ingatanku hilang ...," ucapku terpotong oleh laki-laki di sampingku.


"Baiklah kita anggap 25% Azumi percaya kalau kamu tidak ingat apa-apa."


Aku menggembungkan pipi jika kembali menghitung berapa persen Azumi tidak percaya denganku. Bara juga hanya bungkam. Hanya kaki yang mengetuk pada lantai secara berulang. Seperti ada yang ingin dia bicarakan, tetapi sulit untuk dibicarakan.


"Bara kamu enggak perlu pendam semuanya sendiri," ujarku, "jika kamu punya ide, katakan saja."

__ADS_1


Bara melenguhkan napasnya cukup panjang barulah berucap, "Ini ide gila kamu tidak akan setuju."


"Katakan!" Aku memaksanya. Menggoyangkan lengan laki-laki itu yang lebih kekar dibandingkan anak seumuran SMP lainnya. 


Bara hanya berbisik pelan, tetapi bisa aku pastikan apa yang terucap. Membunuh. Hanya satu kata yang dia ucapkan lirih, tetapi itu mampu menggetarkan hatiku. Aku menelan ludah dan menatap ke arahnya.


Sepasang bola mata itu bergulir ke samping. Menarik pedang hitam dengan aura gelap menguar.  "Satu-satunya hal yang membuat Azumi percaya adalah, kamu membunuh."


"Hah?!" Teriakanku menggelegar di ruangan sempit ini, "aku enggak mungkin membunuh rekanku sendiri."


Setelah Bara mengucapkannya, refleks dia berdiri. Aura kegelapan menyelimuti laki-laki itu. Aku belum siap menghadapi Bara yang tidak bisa mengendalikan diri. Tidak sekarang. Segera aku pegang kerah lengannya.


"Kita akan mencobanya!"

__ADS_1


Bara sontak melihatku dengan matanya yang bulat sempurna. Apa yang baru saja aku ucapkan tidak mudah diterima. Ya, bahkan untuk orang yang baru saja mengatakannya saja tidak percaya. Aku melirik ke samping dengan senyum aneh dan semburat merah muncul. Ya ampun, apa yang aku ucapkan?


Membunuh? Tidak mungkin. Aku bahkan tidak mau kehilangan siapa-siapa lagi, terutama setelah aku bilang semua orang berharga. Segera aku menutup muka.


"Aku ralat! Aku akan melawan mereka, menyerang dan membuat mereka terluka parah. Namun, aku tidak akan mebunuh mereka," tawarku pada Bara.


Bukannya dibalas dengan jawaban dari penyelesaianku dia justru tertawa. Bara mengepalkan tangan kanannya dan menutupi bagian mulut yang tengah terbuka sedikit. Matanya tertutup, entah mengapa aku merasa laki-laki di depanku ini menganggap ucapanku sebagai hiburannya.


"Jangan memaksakan diri," ujar Bara pelan. Satu tangannya memegang puncak rambutku. "Rencana kamu bagus, kita cari waktu yang tepat. Azumi akan percaya."


Aku mengangguk, meski tidak menghilangkan sedikit pun kerisauan yang ada di dalam hatiku. Ini benar-benar berat, hanya demi mengalahkan Azumi ... aku harus mengorbankan kepercayaan mereka?


Entah hanya perasaanku saja, tetapi aku sangat ingin bertemu dengan Radja. Bertutur kata sebelum keputusan ini telah dibulatkan sepenuhnya. Tidak ada waktu. Tidak ada ruang. Tanpa bertanya pada Bara, aku tahu ini hanya akan memperlambat proses percaya Azumi.

__ADS_1


Di saat aku meragukan keputusan yang telah diutarakan. Lengan kanan dengan simbol bunga kembali muncul. Lama aku tidak pernah melihahtnya. Namun, aku benar-benar merasakan jika sesuatu yang besar akan terjadi. Melalui warna ungu gelap becahaya mengitari simbol.


Semakin dipandang, simbol itu menekan kuat ke balik kulitku.


__ADS_2