
Di antara setiap bulan, hanya ada atau Minggu yang dia senangi. Tepat di awal minggu ketika para calon ibu datang ke rumah sakit. Dia juga senang dengan anak-anak kecil yang datang untuk imunisasi.
Biasanya rengekan anak-anak sering dia dengar. Ada beberapa tipe ibu yang mengajarkan anaknya agar jadi penurut. Tipe pemaksa, memanjakan dan menuturkan dengan baik-baik.
Vivian kesal dengan ibu-ibu tipe pemaksa. Dia memang tahu, jika perasaan manusia itu lebih rumit daripada kotak paradoks di Twins. Mereka menunjukkan cara yang salah pada anak dengan membentak dan memaksa. Tidak tahukah itu memengaruhi mental mereka kelak?
"Dokter Vivi, Dokter Rianti sedang memulai seminar," ucap seorang suster padanya.
Vivian mengangguk. "Terima kasih infonya. Saya akan ke ruangan untuk mengawasi Dokter Rianti dua menit lagi."
Sudahkah Vivian memberi tahu? Sejak mengetahui psikologi seorang manusia, dia mengusulkan pada rumah sakit tempatnya bekerja. Vivian ingin membuat acara rutin bulanan, agar masyarakat senang datang untuk memeriksa keadaan anak mereka. Berhasil, tiap bulan para dokter memberikan tips dan trik hidup. Tidak lupa juga, mereka akan mendapat terapi psikologis utamanya untuk para calon ibu.
Namun, ketika dia keluar ruangan kerja Vivian melihat seorang wanita yang sedang hamil tua kerepotan membawa anak berusia empat tahun. Anak laki-laki itu ingin memberontak tetapi ibunya tetap menggeleng.
"Tidak Ron! Ibu gak bisa biarin kamu main sendirian di rumah sakit. Kalau kamu ilang, ibu dan ayah yang bakal sedih. Jadi sabarlah dulu," ucap ibunya.
__ADS_1
Sementara Ron memalingkan wajah. "Adek arusnya uda keluar aja. Bial Ron ada temen."
Vivian tersenyum sambil geleng-geleng. Dia merogoh sesuatu dari jas lab putihnya. Mencari-cari lolipop yang biasa dia simpan untuk kejadian seperti ini.
Tanpa berlama-lama dia menghampiri anak kecil itu. Menyapa dengan riang pada Ron. "Adek main sama kakak yuk? Biar Ibunya bisa cek dulu sama dokter yang bertugas."
Vivian menyerahkan permen dan laki-laki itu tidak menolak. Namun, mata cokelatnya melirik kembali pada ibunda tercinta yang mengagguk sebagai jawaban. Ron melepas pegangan pada ibunya dia menerima uluran tangan Vivian.
Sang ibu masuk ke dalam ruangan, sedangkan dia membawa Ron ke taman. Anak kecil itu lebih pendiam dari yang dia duga. Padahal saat bersama ibunya dia merengek-rengek. Masa iya anak ini lagi jaga sikap?
"Adek mau makan?" tawar Vivian.
Vivian mengernyitkan dahinya. Perasaannya anak ini belum fasih berbahasa tadi. Namun, sekarang anak ini jadi fasih dan lancar berucap. Ah, mungkin kebetulan.
"Kalau gitu, nama Adek siapa? Kalau dokted namanya Dokter Vivian."
__ADS_1
"Heeeh? Seriusan?"
Oke sekarang Vivian benar-benar merasa janggal. Anak laki-laki ini aneh. Lebih aneh karena ekspresinya seperti terkejut tidak jelas begitu.
"Aneh," gumam Vivian.
Ron menimpali, "Iya aneh. Padahal Hana belum menemukan kita tapi kenapa kita udah ketemu duluan?"
Vivian mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia meragukan apa yang Ron katanya. Bukankah di sampingnya hanya anak lugu yang benar-benar polos? Bagaimana bisa dia tahu soal Hana? Jelas ini bukan kebetulan biasa!
Dan satu-satunya orang yang berani berkata begitu hanyalah ....
"PEAN?!"
Vivian tidak percaya, terutama ketika Ron menganggukkan kepalanya. Vivian dapat gambaran ingatan. Benar, Ron dapat mengubah bentuk, umur dan manipulasi ingatan. Namun, dia tidak pernah menyangka akan bertemu Ron secepat ini.
__ADS_1
Benar, Hana bahkan belum menemui salah satunya.
Tapi mereka berdua sudah bertemu lebih dahulu. Ini aneh.