
Bara Auliana Karim.
---Picture from pinterest
"Kita harus melihat keadaan Radja," seruku pada laki-laki yang tengah berjalan mondar-mandir di depan sana.
Penyerangan, penembakan atau usaha membunuh yang baru saja terjadi di bumi tadi, benar-benar mengacaukan akal sehatku. Tidak sesuai rencana. Radja terluka karena anak panah yang aku layangkan. Dia terluka dan aku hanya bisa berkata kasas.
Rencana kami gagal total. Niat hanya melukai. Aku sudah merencanakan dan mengarahkan anak panah itu. Hanya perlu waktu satu detik agar racunnya berkurang dari Monkshood. Namun, tindakan Radja yang melindungi Bizar membuat semuanya berantakan
Betapa aku masih mengingat jelas di mana mata Radja mulai tertutup secara perlahan-lahan. Teringat pula bagaimana keadaan wajahnya yang memucat, lemas dan terbata-bata ketika menyerukan namaku. Entah sebenarnya dia ingin mengucapkan rasa kecewa, marah, tidak percaya atau apa pun kepadaku. Sudah jelas dan pasti dia tidak mungkin mengatakan hal baik setelah aku memukul telak teman-teman hingga tumbang.
"Azumi akan curiga, Nadira. Aku sarankan jangan. Percayalah laki-laki itu akan baik-baik saja," jelasnya.
Aku menggelengkan kepala. "Meski Radja memiliki regenerasi yang cukup cepat, tapi racun dari monkshood pasti mengakibatkan sesuatu yang fatal!"
"Tidak ada satu pun dari kita yang menyangka hal ini. Kamu enggak perlu menyalahkan diri kamu sendiri," balas Bara yang tetap berusaha menenangkan hati.
Memangnya siapa yang tidak mau hatinya tenang tanpa beban? Sayangnya ini berbeda! Tanpa Radja siapa yang bisa menjaga dua dunia sekaligus?
Lupakan saja melawan Azumi dengan lancar. Baik aku dan Bara, tidak mungkin bagi kami menusuk langsung jantung ratu dari kegelapan tersebut. Mungkin hanya perlu beberapa detik hingga tusukan itu berpindah tempat untuk menikam masing-masing jantung kami.
Aku mengkhawatirkan Radja, selagi Azumi berada di bumi untuk mengumpulkan kekuatan jahatnya. Itu satu hal yang baru aku ketahui. Selama aku dan sisi gelap bertarung, Azumi tidak pernah ada. Tidak ada di sekitar karena dia mengumpulkan kekuatan.
"Kalian sudah kembali dari bumi? Cepat sekali," ujar suara di balik pintu kamar Bara.
__ADS_1
Aku terlonjak untuk bangun dari posisi duduk di atas kasur. Sementara tubuh Bara jadi tegang. Kenapa di saat seperti ini sisi jahat Barat tidak muncul saja sih? Sulit bagi aku untuk meyakinkan Azumi sendirian.
Ketika ratu tersebut membuka pintu dan tampaklah di sana. Aku mengepalkan tangan. Memikirkan bagaimana caranya berekspresi di hadapannya. Haruskan aku dengan bangga menyebutkan berkat moonkshood di anak panah, Radja terluka parah? Dengan keberhasilan yang tinggi jika aku masih menginginkan Azumi mempercayaiku.
Sejak awal aku tahu ini terlalu sulit untuk dilakukan. Sama seperti melihat mata ratu dari seluruh kegelapan itu. Berat. Terlebih auranya semakin kuat menekan sesak yang ada di hatiku.
"Aku harap, aku benar-benar mendapatkan informasi yang bagus dan cukup terpecaya darimu," ucap Azumi dengan sorotan matanya yang tajam mengarah pada Bara.
Ini bukan lagi memperuntungkan nasib. Tidak juga tentang mengukur seberapa banyak keberuntungan yang aku miliki. Bara sekilas menatap padaku. Sebelum berlanjut aku mendengarkan jawaban apa yang dia berikan.
"Nadira berhasil melumpuhkan kesatria dan ... nyaris membunuh Radja," ucapnya rendah.
Mataku menatap intens pada wajah Azumi. Dia hanya tersenyum, menepuk tangannya. "Bagus."
Di kamar Bara yang rapi tanpa benda aneh, masih mampu membuatku berdigik. Kesan di mana Azumi tengah bertepuk tangan dan sorot matanya yang berkilat penuh kemenangan. Ini membuat aku down.
Aku sempat mundur beberapa langkah. "Jika aku lihat racun singa sudah cukup membuatnya sekarat, Ratu."
"Laki-laki keturunan Kazuhiro itu memiliki kemampuan regenerasi yang lebih cepat, hampir menyerupai Pean. Jika Merry berhasil menangani, keturunan Kazuhiro itu sudah pasti selamat," jelas Azumi dan aku justru sangat berharap jika Miss Merry berhasil menyelamatkannya.
Beralih dari Azumi, aku melihat simbol itu kembali muncul. Tanpa sebab dan perkara. Muncul tanpa diundang, tidak ada buku panduan yang menyebutkan hal ini. Aku mengembuskan napas pelan.
"Aku rasa ada baiknya juga jika kalian memeriksa keadaan Radja," lanjut Azumi, aku membelalak tidak percaya dengan ucapannya, "Nadira, kamu bisa menyelinap masuk ke sana. Bara, kamu harus standby karena bisa saja mereka merebut senjata kemenangan kita."
"Jadi aku tidak masuk ke wilayah mereka?" tanya Bara memastikan.
"Benar. Aku yakin si ilmuwan cilik itu bisa mendeteksi keberadaan kamu dalam jarak terdekat. Sementara Nadira, dia sebelumnya bagian dari mereka. Keuntungan bagi kita," jelas Azumi.
__ADS_1
"Lantas bagaimana caraku menyelinap jika aku saja tidak hapal tempatnya seperti apa?"
Pandangan tajam itu menyorot padaku. "Entahlah. Aku hanya ingin informasi itu secepatnya. Sebelum hari berganti, kabar tentang kematian atau komanya Radja harus sudah sampai di telingaku."
oOo
Sudah aku menduga jika masuk ke wilyah ini sebagai musuh akan memacu debaran jantung lebih cepat. Aku tidak bisa percaya dengan Azumi. Padahal aku yakin Bara juga bisa memeriksanya sendiri, tidak perlu aku ikut. Namun, keberuntungan untukku karena aku memang mengkhawatirkan laki-laki yang sangat menyebalkan itu.
Pertahanan kerajaan belum ditingkatkan, Bizar dan yang lainnya mungkin sedang ditangani. Meski dari luar memang jarang sekali ramai, tetapi rumah sementara yang pernah aku singgahi terlihat lebih menyeramkan seolah penghuninya telah lama pergi. Tidak ada lagi warna yang tersisa dari tempat ini.
Aku berdiri di depan pintu besar, memegang gagangnya agar menonaktifkan pengamanan. Azumi benar, aku masih dianggap dalam lingkungan mereka. Sebelum masuk, aku kembali berbalik dan mengangguk pada Bara.
Sepertinya mengendap-endap masuk layaknya pencuri cocok menggabaran keadaan ini. Ada suara gaduh di ujung koridor lantai dua. Sepertinya mereka memang sedang diobati. Bagaimana dengan Radja? Dia di mana?
"Ya ampun!" Refleks aku menoleh mendapati suara dari kamar berhadapan dengan kamarku.
Segera mungkin aku berlari masuk ke dalam kamar sendiri. Tempat bagus untuk bersembunyi. Syukurlah jaraknya dari keberadaanku tadi tidak terlalu jauh. Saat ini aku masih selamat.
"Aku baru keluar dari kamar Radja. Kondisinya? Racun mulai keluar, tetapi dia belum sadarkan diri. Sekarang aku harus memeriksa keadaan yang lain," ucap suara dari peri lain di balik pintu.
Mungkin Miss Ann dan dia tidak tahu keberadaanku. Bersyukur karena aku mendapatkan informasi. Cukup untuk diberikan pada Azumi, tetapi tidak untuk menenangkan hati. Ketika suara langkah kaki itu semakin tidak terdengar, aku membuka pintu perlahan. Mengintip demi memastikan tidak ada siapa-siapa di sana.
Aku mengembuskan napas. Lega. Buru-buru aku beranjak dari kamar ini ke seberang. Sebelum Miss Ann tahu, atau seminimalnya curiga.
Di ruangan besar ini aku melihatnya. Radja terbaring di kasur yang menutrku terlalu megah untuk seorang anak kecil. Pipinya, tangannya dan telapak tangannya menunjukkan kebiruan. Meski racun mulai keluar, bagaimana dengan keadaan di dalamnya? Aku mengkhawatirkannya.
Semakin aku mendekat, kilasan balik ketika dia selalu mendampigi ketika aku sakit pun kembali. Menimbulkan keraguan di relung hati. Mencoba untuk mengisi bagian yang hilang pada hati.
__ADS_1
"Aku minta maaf, Radja," ucapku lirih, "maaf aku harus melakukan semua ini. Dari jauh aku akan tetap mendoakan kesembuhanmu."