
"Inget, Dira, kita ke sini bukan buat jalan-jalan. Jadi tunda dulu bahagiamu itu," ujar Radja kepadaku dengan seringainya.
Baru aku melompat-lompat kegirangan karena hari ini Miss Merry mengizinkan aku untuk ikut berlatih dengan Radja. Sementara Bizar diminta keterangan tentang orang yang menyerang kami oleh Miss Merry. Aku penasaran, tetapi rasa itu kalah dengan kebahagiaanku yang merasakan kebebasan pada saat ini.
"Aku tahu kok. Eh Ja, kenapa kamu gak terbang sambil bawa aku aja sih? Biar lebih cepet," saranku, tetapi Radja malah tertawa. Hei! Memang apa ada yang salah dengan ucapanku?
"Justru kamu tuh kurang olahraga, Dira. Makanya, mending kita jalan ke tempat latihan."
Aku tidak suka dengan jawabannya. Aku tahu, fakta itu menyakitkan dan lebih sakit kalau laki-laki menyebalkan seperti Radja yang berbicara. Dia kembali melihatku dengan senyumnya. Walau harus aku akui dia cukup keren dari samping, kayaknya kalau aku lihat dari sedotan Radja bakalan makin ganteng. Oke cukup, Dira!
"Lux of Valley gak jauh dari sini kok, Dira," ucapnya.
"Gak jauh?" balasku sambil memajukan bibir beberapa senti, "ini udah lama banget kita jalan, Ja."
"Eh serius, lihat di sana. Ada danau kan? Gak usah sipitin mata kayak gitu juga, Dira. terus apa nih natap aku curiga? Udah-udah, sebelum sampai sana kita bunuh monster dulu ya," ucap Radja panjang lebar ketika aku malas untuk menanggapinya.
Aku mengembuskan napas sebal. Radja tengah meraba-raba ikat pinggang yang mengaitkan pedang di samping tubuhnya. Lalu dia ambil pedang berwarna putih dan menyodorkannya denganku. Sudah lama aku tidak memegang pedang, sekitar empat bulan yang lalu. Itu pun hanya sekali aku memegang pedang.
Saat aku menerima pedang putih tersebut, tanganku terasa dingin dan beban yang diterima cukup berat. Tunggu, dulu aku memegang pedang tidak seberat ini kok. Karena beban berat, gagang pedang yang kupegang tidak mengarah ke semestinya, justru semakin menyentuh tanah.
"Ja, kok kamu kasih pedang yang berat banget buat aku?" Protesanku hanya dibalas alis yang menaut di wajah Radja. Padahal aku benar-benar serius jika senjata ini lebih berat daripada panahan yang terbuat dari tanaman.
"Aku dan Bizar udah capek lho nyari pedang yang bener-bener ringan buat kamu. Itu yang paling ringan dibandingkan ini."
Radja menunjukkan pedang hitam legam yang mematulkan sinar ke arah lain. Ujungnya runcing dan ketebalannya hanya berpusat di bawah pedang. Semakin atas, semakin tipis, sedikit tergores sepertinya mengerikan.
"Oke, sepertinya kamu belum sanggup. Sekarang pakai panah dulu aja, sini pedangnya." Sesuai intruksi Radja, aku mengembalikan pedang berat itu. Mataku memeblalak ketika Radja bisa memegang dua pedang sekaligus. Padahal satu saja aku tidak sanggup. Entah mengapa aku jadi ingin meragukan jika Radja masih remaja yang sebaya denganku.
Tidak lama aku menggunakan sihir tanaman, memikirkan sebuah busur dan anak panahnya yang terbuat dari tanaman. Pada ujung anak panah, kayu runcing yang akan menembus permukaan monster. Aku memang tidak tahu monster seperti apa yang akan kami hadapi.
"Kita akan menghadapi slime. Sesuai seperti di bumi. Slime sangat lengket," jelas Radja singkat padaku.
"Slime? Terus gimana kita serang, apa kelemahannya? Apa panahku bisa melawan mereka? Terus di mana kita ketemu mereka?" tanyaku bertubi-tubi dan Radja hanya menatapku bosan.
Radja menunjuk ke sekeliling padang rumput luas yang di bagian barat terdapat hutan. Lalu tidak lama beralih menunjuk ke bebatuan. Radja menghampiri salah satu batu yang berwarna merah. Sejujurnya aku tidak begitu aneh dengan warna batu di dunia ini, atau apa pun. Karena di sini dunia lain, bukan bumi yang sering membuat viral sesuatu.
"Lihat ... dan perhatikan dengan baik," ucap Radja.
Tangannya mengambil kerikil kecil di sekitar padang. Dia lalu melemparkannya dan mengarah ke atas batu merah. Sekejap batu itu mengeliat, muncul bola-bola hitam yang naik ke atas dan melihat kami berdua.
"Hiiih!" ucapku sekaligus berdigik jiji dengan apa yang kulihat.
"Ini namanya Slime," ucap Radja.
"Ya udah, bunuh dong, Ja. Jijik aku tuh liatnya," balasku padanya.
Radja menggelengkan kepalanya. Dia mengayunkan pedang begitu cepat hingga slime yang menggeliat terbelah menjadi beberapa bagian. Sayangnya salah satu bagian mengenai tanganku.
"Aa!!!" Aku berteriak dan berusaha melepaskan bagian slime yang ada pada tubuhku, benar-benar menyebalkan karena itu sangat lengket.
Tanpa sadar aku bergegas berlari ke hutan meninggalkan Radja, tidak peduli laki-laki itu berteriak memanggilku untuk keberapa kali. Kenapa pula aku harus ketiban sial? Aku terus berlari, terus berlari, entah ke mana. Bahkan di samping kanan dan kiriku hanya ada pohon-pohon. Serius ini di mana?
Sejujurnya jauh sekali jika menggali hatiku, terdapat rasa bahagia bisa kabur dari latihan yang memburu para slime. Hii! Aku tidak mau kalau harus berurusan dengan monster lengket. Tidak slime di bumi maupun di sini. Dua-duanya menyebalkan.
__ADS_1
"Wah, aku tidak tahu kenapa tikus kecil sepertimu ada di sini," ujar seseorang entah di mana. Aku refleks mengedarkan pandangan, hati-hati jika sesuatu yang berbahaya menimpaku.
Tiba-tiba asap hitam mengepul ke arahku. Suara orang yang sepertinya baru saja melompat membuat tubuh bergetar. Entah siapa yang ada di sekitarku, aku tidak bisa melihat apa pun sekarang. Namun kuyakini ada suara langkah kaki yang semakin mendekat.
"Menguntungkan sekali," ucapnya, "bahkan tanpa harus aku mengeluarkan tenaga."
"Di mana kamu?!" amukku. Tanpa senjata aku hanya mengandalkan kemampuan tanamanku. Namun, aku mencoba berpikir logis, jika kemarin saja aku Radja dan Bizar sulit melawannya apalagi jika aku sendiri.
Gelegar tawa semakin membuat hatiku tidak tenang. Di hadapanku asap hitam telah menghadirkan seseorang. Laki-laki yang pernah kutemui. Michio. Dia menyibakkan asap dengan satu kibasan tangan hingga kegelapan digantikan dengan keadaan hutan sebelumnya.
"Michio," desisku. Dia tertawa begitu puas dan menarik pedangnya.
"Tenanglah, aku tidak akan membunuhmu, ada yang harus aku ...."
Ucapan Michio terhenti kala pantulan sinar membatasi kami berdua. Aku celingak-celinguk mencoba mencari tahu siapa yang telah melemparkan kekuatan pada kami. Namun, tidak perlu menunggu lama, aku melihat Michio tersungkur di tanah setelahnya.
"MICHIO!" teriak suara dari atas pohon. Saat menengadah, aku temukan sosok laki-laki yang memakai syal biru, bermata biru lautan yang membuatku teringat dengan ombak-ombak pasang.
Laki-laki tersebut melompat dari atas pohon tepat berhadapan dengan Michio. Ujung syal biru lautan dalam yang dikenakannya turut mengikuti arah angin yang berlalu. Aku lihat Michio terluka di sudut bibirnya dan mengeluarkan cairan kemerahan. Mata laki-laki itu berkilat marah, seolah-olah aura kegelapan semakin menyelimuti tubuh Michio.
"Kau?!" balas Michio tidak percaya. Dia mencoba bangun dari tempatnya. Tertatih-tatih Michio berdiri, ada rasa iba dalam hatiku. Namun, aku takut. Michio adalah musuhku, musuh bumi hanya untuk sekarang.
"Harusnya aku membunuhmu sejak dahulu, Mamoru," lanjut Michio.
Aku tidak tahu apa masalah mereka, tetapi ini adalah waktu yang tepat untukku melarikan diri. Namun, kabut kebal muncul kembali mengelilingi kami.Aku membelalak, padahal aku tidak telibat dalam konflik mereka. Tahu masalahnya juga enggak kok. Hanya saja, aku berpikir jika Michio menyadari niatku untuk kabur.
"Mari kita akhiri ini," ucap Michio pada laki-laki yang dia panggil Mamoru.
Aku merasa setumpuk buku di simpan di atas kepalaku. Mereka ini! Aku mau pergi, aku jadi nyesel pergi dari Radja. Mamoru berdiri di depanku dia mengeluarkan sebuah pedang baja biasa. Namun, kekuatan cahayanya mengitari pedang tersebut. Sementara Michio hanya menggunakan kedua tangannya untuk mewadahi sihir hitam.
Ini berasa cerita-cerita klise di novel fantasi. Cahaya melawan kegelapan. Membosankan. Jika ini buku, aku sudah menutupnya sejak halaman pertama.
"Oke, aku tahu. Ini urusan kalian berdua. Jadi boleh aku keluar dari sini?" tanyaku. Bukannya tidak mau langsung pergi saja. Namun, kabut kebal ini membuat seseorang tidak bisa masuk dan keluar seenaknya saja.
"Boleh."
"Tidak!"
Aku mengerjapkan mata melihat kedua jawaban yang saling bertentangan. Embusan napas aku lontarkan, karena kini dua laki-laki tersebut saling bertukar pandang.
Mamoru menggunakan tangan kirinya yang tidak memegang pedang. Dia membuka jalur di antara kabut tebal. Sontak saja aku berlari ke sana, bahkan tanpa berucap terima kasih. Anehnya halur itu semakin lama semakin menipis.Bahkan hany menyisakan setitik kecil saja untukku melarikan diri.
"Sudah kubilang tidak," ucap Michio di belakanku.
Tanpa perlu bertanya, seharusnya aku tahu biang kerok yang membuatku tidak bisa keluar adalah Michio. "Aku bahkan tidak ada hubungannya dengan ini," desisku.
"Kamu benar-benar keterlaluan, Michio," balas Mamoru dan aku setuju dengannya.
Mamoru bergerak secepat cahaya. Sementara Michio diam di tempat tetapi dia berhasil menahan semua serangan. Tidak perlu menunggu lama Mamoru berhenti, lelaki serba hitam itu menembakkan bola-bola kegelapan. Di sekeliling bola, menguar aura kebencian yang begitu pekat. Kebencian itu mengganggu hati kecilku.
Mataku terlalu panas melihat pertempuran sengit mereka. Aku tidak tahan lagi di sini. Mamoru menggunakan syalnya sebagai perlindungan dari semua bentuk serangan Michio. Aku bisa lihat keduanya terengah-engah dalam ruang terselimuti kegelapan ini. Aku tidak ingin menyaksikan pertempuran ini lebih jauh lagi.
"Tolong ... hentikan," ucapku begitu lirih.
__ADS_1
Aku ingin menghentikan mereka, tetapi semakin aku mendekat ada hantaman kuat ke arah kepalaku. Memori masa lalu acak yang tidak kuketahui berputar-putar sampai menarik suaraku untuk berteriak. Aku tidak tahu kapan, aku tidak tahu di mana, suara siapa yang mencoba memanggilku. Namun, dengan satu sentuhan, penat pergi seperti virus yang baru saja dibasmi.
Wajah Mamoru begitu kacau ketika bertatapan denganku. Mulutnya bergerak teratur, meski belum sepenuhnya indra pada tubuhku aktif aku bisa menerka apa yang dia katakan. "Kamu tidak apa, Nona?'
Aku mengangguk pada Mamoru. Dia lalu menarik tangannya dan kembali melihat pada Michio. "Lihat kamu melukainya, Michio!"
"Itu karena kamu berusaha menghalangiku, Mamoru. Pergiah!"
Mamoru menggeleng, aura kemarahan bisa aku rasakan dari tanah yang bergetar. Embusan angin mengangkat syal mamoru semakin naik ke atas. "Aku tahu niat jahatmu di sini, Michio."
Tanpa basa-basi lagi, Mamoru menari-narikan tanganya. Gemulai jarinya begitu lentur dan sinar semakin menyelimuti kedua ujung syal miliknya. Benda yang terbuat dari kain tersebut semakin terang-benderang. Seolah memiliki pikirannya sendiri, syal tersebut memanjang membentuk tangan kucing dan menembak-nembak bola-bola cahaya.
Michio dapat menghindari itu semua. Entah mungkin karena tubuh tingginya dan kelenturan badan membantunya dalam melewati tiap serangan. Michio tidak berontak tetapi menghindar tanpa terkena sedikit pun membuat laki-laki yang membantuku kewalahan.
Aku turut membantu. Aku tempelkan kedua telapak tangan dan dapat dirasakan tanah ini begitu bergetar akibat serangan mereka. Kali ini fokus pada musuh. Aku harus bisa menahan Michio. Lupakan fakta jika laki-laki kelam itu sanggup lepas dari jeratan tanaman rambatku.
Hap! Aku bisa merasakannya. Tanaman rambat mulai mengikat kedua kaki Michio. Sontak aku pun berteriak, "Lawan dia sekarang!"
Mamoru tidak membuang waktu. Melalui kedua tangan dan kedua ujung syal dia mengumpulkan tenaga dalam. Cahaya menyilauka mataku, syukurlah aku ada di belakangnya. Namun, aku bisa menerka jika Michio membelalakkan matanya. Tidak berselang lama aku merasa tanaman rambat yang mengikat putus begitu saja.
"Sial. Michio berhasil membuat portal dimensi." Mamoru menghentikan kekuatannya. Dia berbalik ke arahku. Pelipisnya begitu banyak mengeluarkan keringat. Akan tetapi laki-laki itu tidak sedikit pun terengah-engah.
"Terima kasih sudah menolong aku," ucapku gugup. Dia mengangguk. Aku turut memperkenalkan diri tetapi sebelum berucap dia menampakkan telapak tangannya di hadapanku.
"Pergilah, Nona. Kita berdua lebih baik tidak perlu mengenal," ucapnya sok keren buatku.
Mamoru lalu pergi, kembali melompat ke atas pohon. Aku ingin menegurnya, tetapi dia pergi secepat kilat. Mungkin lain kali aku dan dia benar-benar bisa berkenalan.
Ngomong-ngomong, apa Radja khawatir padaku?
Aku menepuk jidat. Cowok menyebalkan itu mungkin celingak-celinguk mencari keberadaanku. Meski seluk beluk dunia ini dia yang lebih tahu, tidak menutup kemungkinan Radja bingung mencari keberadaanku.
"Nadira!" Suara tinggi yang memanggilku membuat bulu kuduk meremang. Baru saja aku memikirkan dia dan Radja akan muncul dalam hitungan detik.
Radja menggunakan sayap naganya lagi, lalu turun dengan menyamarkan sayapnya. Alisnya begitu lurus dan matanya menatapku datar. Entah mengapa hati ini berkata jika cowok menyebalkan itu akan memarahiku. Lagi pula keadaan terakhir aku meninggalkannya cukup tragis. Takut dengan mosnter slime.
"Aku cari kamu ke mana-mana. Aku lihat ada kegelapan yang menyelimuti di sini. Kamu gak apa?" tanya Radja.
"Aku gak apa," balasku singkat sambil memelintir ujung rambut sendiri.
Radaja memutar bola matanya. "Oke aku ganti pertanyaan. Apa yang terjadi?"
"Kecelakaan," cicitku.
"Kecelakaan apa?"
Aku mengembuskan napas. Kalau sudah begini tidak ada cara lain selain menjelaskan dari awal. Maka bibirku langsung berucap, "Aku bertemu dengan Michio. Kamu tahu dia ingin bawa aku ke hadapan Azumi. Eh kenapa jadi tegang gitu Ja? Tenang. Ada orang lain yang bantu aku ngelawan dia kok."
"Syukurlah kalau ada yang mau bantu," ucap Radja membuatku lega dan ekspetasiku jatuh begitu saja ketika dia melanjutkan ucapannya, "sekarang kamu tahu betapa pentingnya kita harus berlatih."
"Iya, Bapak! Iya!" geramku.
Benar-benar tidak ada jam untuk pulang awal. Ini menyebalkan!
__ADS_1