Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S2] 54. Batas Waktu (2)


__ADS_3

Aku berusaha memberontak dari genggaman bayangan ini. Semakin lama bayangan itu menarik tubuhku terus ke bawah. Ini benar-benar menyebalkan dan aku sangat ingin bebas. Segera aku mengulurkan tangan ke langit-langit. Sinar dari telapak tangan pun mulai memunculkan tanaman dari langit ruangan.


Tanaman itu meraihku dan melingkar pada pinggang. Hal tersebut membuat bayangan dan kekuatanku menjadi tarik-ulur satu sama lain. Lama-lama tubuhku menjadi lebih sakit, sehingga aku pun terpaksa untuk melepaskan tanaman. Bayangan itu terus menarikku hingga kami berada di dasar atau mungkin tempat parkir dari gedung tersebut.


Di sanalah Azumi melepaskan bayang yang memegangnya tidak untukku. Perlahan dia mendekat dan meraih tangan kananku. Azumi memaksa untuk mengambil pedang yang sedang aku genggam, tetapi aku tidak mau melepaskannya.


“Lepaskan atau aku membunuhmu, Dira. Pedang itu bukan milikmu,” ucap Azumi dan aku tidak memedulikannya. Sekuat tenaga aku semakin mengencangkan pegangan.


Pedang itu tiba-tiba kembali bersinar, semakin lama semakin terang dan membuat bayanganpun pergi dari tempatnya. Saat keadaan mulai normal lagi, aku mulai memposisikan diri untuk kembali menyerang. Azumi menyipitkan mata dia kembali menghentakkan tongkat sehingga tanah pun bergerak untuk menyerangku. Dengan cepat aku melompat dan bergelantung di antara tanaman-tanaman pada langit tempat parkir.


Aku lalu mendorong tubuh untuk lompat di permukaan yang cukup aman. Setelahnya aku pun berlari mendekati Azumi. Dengan satu tebasan, sinar biru pun mengarah padanya dan segera berubah menjadi bongkahan es. Azumi menghindar. Aku tidak masalah jika gadis itu menghindar terus, saat ini aku hanya perlu mengulur waktu sampai mereka datang.


“Sebenarnya kenapa kamu bersikeras, Dira? Bunuh saja aku jika kamu ingin melampiaskan amarahmu! Kenapa kamu tidak mengeluarkan aura kebencian seperti waktu itu?” ucap Azumi sesekali berteriak ke arahku.


Dahiku berkerut. “Apa maksudnya, Azumi? Aura kebencian apa?”


Azumi kembali melempariku dengan tanah yang diangkat dari bawah, segera aku pun menghindar dari tempat tersebut. Gadis itu belum mau menceritakannya padaku dan itu membuat aku semakin penasaran. Namun, saat ini aku hanya bisa fokus pada serangan Azumi yang sangat tidak beraturan. Melompat ke atas, lalu menunduk membantung tubuh ke samping.


“Kebencian. Harusnya kamu ditutupi oleh kebencian, Dira. Setelah semua yang aku lakukan kepadamu. Membuat kamu kehilangan segalanya, tetapi kenapa itu hanya muncul sekali?” ucap Azumi.


Tiba-tiba saja sekelebat ingatan menyeruak masuk ke dalam pikiranku. Hal yang selalu memintaku untuk balas dendam, menghancurka Azumi hingga menjadi butiran debu. Namun, itu tidak bertahan lama, sampai aku dapat meningat apa yang Pak Hisam katakan.

__ADS_1


Balas dendam terbaik adalah dengan menunjukkan dirimu baik-baik saja.


Ini balas dendam yang sedang aku lakukan. Maka, aku pun tersenyum ke arah Azumi. Tentu saja hal itu membuat gadis tersebut menatap tajam padaku. Dia sangat tidak suka ekspresi yang sedang aku tunjukkan saat ini.


“Pak Hisam mengajarkanku untuk tidak membencimu, Azumi. Kamu hanya tersesat dan beliau yakin kamu bisa berubah. Maukah?” tanyaku seraya mengulurkan tangan ke arahnya.


Bukannya menerima tawaranku, Azumi justru merangkak naik menggunakan pasirnya. Dia sudah sangat mengamuk. Bersamaan dengan itu, Afly, Bara dan Nadia  sampai ke bawah dan mereka siap untuk melawan gadis itu lagi. Kali ini kami pasti berhasil. Ini satu-satunya kesempatan yang tersisa.


“Syukurlah kamu masih utuh, Dira,” ucap Bara padaku danaku hanya membalasnya dengan anggukan.


“Aku rasa kita semua sudah siap. Dira, saat ini kita harus menyatukan keempat pedang,” ucap Afly.


Pasir yang Azumi gunakan berganti menjadi pasir hisap, kami harus menghindari pasir-pasir yang ada di lantai tempat parkir. Aku melihat ke arah Nadia, meminta gadis itu untuk melapisi setiap pasir dengan api miliknya. Dia segera melakukannya sesuai perintai. Setelah melakukannya, aku pun menempelkan telapak tangan dan mengubah tempat ini dipenuhi oleh air yang lalu berganti menjadi es. Hal itu membuat pasir milik Azumi pun turut membeku.


“Mari kita akhiri ini,” ucap Afly lagi. Aku masih menahan es tersebut sebelum akhirnya mereka berdiri di posisi masing-masing.


Aku pun segera berdiri dan mengangkat pedang. Sinar biru kembali menyelimuti pedang ini, begitupun dengan pedang-pedang lainnya.  Sinar itu saling mengikat. Perlahan-lahan membentuk sebuah bendungan dan terarah pada Azumi.


“Hentikan, Dira, kamu akan menyesali semua ini!” teriak Azumi.


Tidak sekali pun aku berniat untuk mengurungkan rencana ini. Sinar itu mulai melebar ke segala arah. Aku semakin menggenggam pedang agar tidak terlepas, sekaligus menyalurkan tenaga. Sinar pun semakin kuat dan dengan cepat menyebar. Seakan sinar itu semakin lama semakin membesar dan teriakan Azumi pun terdengar kencang.

__ADS_1


Kami tetap menyatukan keempat pedang hingga sebuah ledakan kecil pun terjadi. Terlalu silau dan membuat kami semua menutup mata.


Sadar setelah kilat itu mulai menghilang, aku pun mulai membuka mata. Es milikku mulai mencari dan perlahan Azumi terjatuh dari tempatnya. Segera aku menghampiri gadis tersebut sebelum jatuh dan menahannya menggunakan air.


Afly, Bara dan Nadia pun turut membuka mata. Mereka celingak-celinguk tetapi tidak menemukan apa pun. Hana ada Azumi dan aku menurunkannya perlahan-lahan dengan air milikku. Gadis itu terlihat sangat rapuh. Dia tidak sadarkan diri, tidak mati. Aku sudah beberapa kali mengecek keadaan gadis tersebut.


“Nadira, apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba ada sinar?” ucap Bizar melalui jam tanganku.


“Kami menggabungkan kekuakan pedang, Bizar. Apa di luar sana baik-baik saja?” tanyaku.


“Lihatlah sendiri keluar, Dira.”


Aku mengembuskan napas tetapi tetap mengikuti arahan Bizar. Sebelumnya aku meminta Nadia untuk menopang tubuh Azumi, menggantikanku sementara waktu. Lalu aku pergi ke luar ruangan, melihat semuanya dengan sangat jelas. Begitu banyak tubuh manusia yang tumbang, bagai ombak. Aku melihat teman-teman yang lain sedang berlari ke arahku.


Selain itu, aku juga melihat bagaimana pasukan tengkorak mulai berubah menjadi abu. Ini membuatku membelalak. Berakhirkah tugas kami sekarang? Rasanya semua sesak di dadaku ini mulau pergi dan aku bisa bernapa dengan lega.


Satu tepukan di bahu membuatku sadar. Segera aku pun menoleh dan mendapati Radja di sana. Laki-laki itu mengusap kepalaku dengan lembut. Sayup-sayup aku dapat mendengarkan ucapannya padaku.


“Selamat Nadira, kita berhasil menghentikan kekacauan ini.”


Aku tersenyum simpul, kedua ujung mataku sudah mengeluarkan air mata. Entah berapa lama senyum ini bertahan. Namun, aku sangat menikmati kemenangan kami semua.

__ADS_1


__ADS_2