
“Pak, kita ke arah kiri saja. Di sana aman dan belum banyak mobil yang berlalu lalang. Jika Bapak mengambil jalur kanan, nyawa penumpang ini dalam bahaya,” ucapku sambil mempertahankan diri sendiri agar tetap bisa berdiri dengan benar di atas bus.
Sopir itu pun melirik ke arahku sekilas. “Darimana kamu tahu jika jalur kiri lebih efektif dibanding jalan kanan?”
“Aku melihat dari ponsel, Pak,” ucapku seraya menunjukkan ponsel di sisinya.
Pak Sopir memercayai ucapanku, maka aku pun segera mengarahkan bus ini pada tempat yang lebih aman. Bukan waktunya untuk mencari tahu Ratih mau pergi ke mana. Saat ini aku harus menghentikan kekacauan ini. Jadwal padat menyebalkan. Mereka pasti kesulitan untuk keluar dari sekolah. Sampai akhirnya satu per satu penumpang pun turun dari bus. Sopir bus adalah orang yang terakhir turun, tetapi aku tidak melihat sosok Ratih di mana pun. Apa dia tertinggal atau aku yang tidak sadar dia sudah turun lebih dulu ya?
Sudahlah, aku harus memikirkan ini nanti. Aku segera berlari ke tempat yang lumayan sepi untuk berubah. Hanya ada dua puluh menit untuk mengatasi monster ini. Panitia lomba bisa saja mengetahui tentang monster ini dan sadar jika dua peserta lombanya menghilang. Mereka pasti akan datang untuk menjemput bersama dengan guru pembimbing.
Tidak seperti monster yang biasanya di darat. Kali ini mereka menghadirkan monster di atas langit. Seperti tahu saja jika aku yang akan melawan dan tidak ada Afly, Radja ataupun Bara. Trio yang bisa terbang itu masih terisolasi di dalam pelatihan. Ya ampun, bisakah aku mengatasinya dalam dua puluh menit?
Semakin jauh dia terbang, semakin sulit aku mengetahui posisi dari kristal yang dimiliki monster satu itu. Meski bisa menembakkan anak panah, aku tidak yakin jika ini akan berhasil. Namun menunggu monster itu turun pun percuma. Tubuhnya agak besar dan tangannya sangat panjang. Musuh kali ini benar-benar menyusahkan saja.
“Hei Monster! Jika kamu bukanlah pengecut, sebaiknya kamu turun dan berhadapan denganku,” ucapku menantang.
Monster tersebut tidak menghiraukan ucapanku. Dia justru semakin terbang tinggi, sempat sesekali turun dan menata mobil-mobil yang berlalu lalang. Aku hanya bisa membuat bantalan untuk menangkap manusia yang terjebak dan ingin melompat. Terkadang aku pun memanfaatkannya untuk melihat tata letak kristal.
Bagaimana pun caranya aku harus bisa menghancurkan kristal yang berada di punggung monster tersebut. Seraya menunggu monster itu kembali turun, aku segara menyiapkan anak panah yang tepat. Kesempatanku hanya satu kali atau ini akan menimbulkan kekacauan yang lebih buruk lagi. Maka aku pun bergeming, hanya bernapas saja kegiatan yang aku lakukan.
__ADS_1
Monster itu lalu turun dan menyambutku. Segera saja aku melepaskan tali busur sehingga anak panah pun langsung melesat. Namun, seranganku gagal. Anak panahnya melesat ke arah lain. Gawat. Aku segera menggunakan rencana cadangan dengan menahan monster tersebut. Akar-akar tumbuhan pun bermunculan dan mengikat tubuh monster, selagi dia masih berada di bawah.
Aku berniat untuk menyerang dengan menggunakan pedang, tetapi saat aku mengendurkan sedikit saja peganganku, monster itu langsung memberontak. Ini akan sangat sulit. Aku tidak memiliki waktu banyak. Menunggu pertahanan dari negara sama saja dengan bunuh diri. Jika mereka menemukanku, pasti banyak pertanyaan dan aku pun akan di bawa ke tempat mereka.
Aku harus bagaimana? Tidak mungkin mempertahankan monster ini lebih lama lagi, tenagaku bakal habis. Jika aku membiarkannya, maka orang-orang di sekitar akan dalam bahaya. Ayolah teman-teman ... segera keluar dan bantu aku. Air mataku perlahan mengalir. Tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk menghentikan monster yang satu ini.
“Sepertinya kita ketemu lagi ya?” ujar seorang anak laki-laki di hadapanku. Aku memang pernah melihatnya, tidak asing lagi. “Ngomong-ngomong bagaimana cara kita menghentikan monster ini?”
Aku segera menggelengkan kepala. Bisa-bisanya malah mengingat masa lalu. “Ada kristal di punggungnya. Kita harus menghancurkannya dan dia akan kembali menjadi manusia lagi. Tapi, aku harus menahan dia dan tidak bisa bergerak ke mana pun.”
“Serahkan padaku. Kamu pernah menyelamatkan aku sekali, jadi aku akan membalasnya,” ujar laki-laki tersebut. Aku semakin menguatkan akar-akar tumbuhan yang mengikat monster tersebut ketika anak laki-laki itu pun pergi mendekat. Tidak ada cara selain bekerja sama.
Segera saja aku menarik pergelangan tangan laki-laki itu dan pergi dari lokasi sebelum mereka mendekat. Aku tidak mau mereka menahan kami, terlebih aku harus segera kembali ke sekolah sebelum panitia mengetahui keberadaanku yang menghilang dari tempatnya. Setelah merasa aman, aku pun melepas pegangan dan segera meminta maaf kepada laki-laki tersebut.
“Kenapa harus berlari?” tanya laki-laki itu padaku.
“Aku tidak mau terekspos oleh publik. Ngomong-ngomong, terakhir kali kita bertemu ... kamu belum memperkenalkan diri,” ucapku spontan. Laki-laki itu tersenyum dan mengangguk.
“Namaku Rico, siapa nama kamu?” tanyanya.
__ADS_1
“Aku Nadira, lalu kenapa kamu bisa ada di sini? Terakhir kali kita bertemu ... kamu ada di Bandung.”
“Oh itu ... sekolahku lagi pariwisata dan kebetulan ada kejadian aneh yang memaksa aku untuk pergi ke sana. Siapa sangka bisa bertemu dengan kamu, Dira. Sekarang aku sedang ikut lomba cerdas-cermat, tetapi jadwal latihan kami diundur karena katanya ada perombakan jadwal dari panita,” jelas laki-laki tersebut.
Aku membelalak. Dia juga peserta lomba? Tidak aku sangka. “Aku juga peserta lomba karya tulis sastra. Karena enggak ada jadwal, aku ikut temanku yang ... oh tidak aku kehilangan jejak Ratih.”
Rico menawarkan bantuan untuk mencari Ratih, tetapi aku terpaksa menolaknya. Aku segera mengajak laki-laki itu kembali ke sekolah. Mungkin saja dia sudah berada di sana. Sebelum pergi aku mengganti pakaianku menjadi pakaian sekolah. Hari ini benar-benar melelahkan, tetapi aku beruntung karena bertemu dengan Rico. Jika saja laki-laki itu tidak datang, pasti sekarang aku sudah kehabisan tenaga.
“Sejujurnya aku ingin mengenalkan kamu dengan teman-temanku, tetapi sepertinya kamu sangat lelah. Menahan monster besar itu bukan perkara mudah. Jadi aku rasa kamu harus beristirahat dengan baik di hotel,” ujar Rico setelah kami sampai di depan gerbang sekolah. Para penjaga sempat melirik kami, untungnya mereka tidak mengerti apa yang kami ucapkan.
“Aku enggak bisa, Kak Rico. Aku harap kita bisa bertemu lagi dan akan aku kenalkan juga kakak pada teman-temanku. Oh ya, aku ingin mengucapkan terima kasih. Pasti secara tidak langsung, Kak Rico juga sudah menyelamatkan teman-temanku,” jelasku.
“Tidak masalah. Sesama super hero kita harus saling membantu demi menjaga kedamaian bumi. Lain kali, panggil aku Rico saja,” ucap laki-laki tersebut.
Aku mengangguk. “Baiklah, Rico. Mohon kerja samanya.”
__ADS_1