Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 57. Kacau


__ADS_3

Aku menarik napas dalam. Ternyata suar itu memicu para monster di luar sekolah. Mereka mulai mendekat ke arah gerbang dan beberapa orang dewasa sudah berlari. Sementara para petugas keamanan ragu-ragu untuk berdiri di garis depan. Segera saja aku pun memunculkan anak panah dan menembak ke arah monster terdekat.


Beberapa kali aku menembakkan panah es untuk menghentikan pergerakkan monster-monster tersebut. Kadang pula aku menembak tepat di kristal. Namun hanya dua dari sepuluh monster saja yang kena. Masih ada delapan monster lagi yang harus aku lawan, sekaligus membuat mereka kembali ke dalam wujud normal. Aku pun segera mengganti panah menjadi pedang. Padahal aku sadar jika melawan mereka sekaligus dalam jarak dekat adalah hal gila.


Akan tetapi, ini satu-satunya cara. Jika aku berlindung di belakang petugas keamanan, itu sama saja mengorbankan mereka. Masih untung jika kepolisian datang untuk membantuku, tetapi mereka belum sampai. Aku tidak berharap banyak dengan menunggu mereka sampai di sini. Aku juga tidak mengharapkan jika teman-teman datang tepat waktu. Apa pun itu, aku hanya tidak ingin kecewa.


Segera aku menyerang salah satu monster dengan pedang yang yang menyerong. Tidak aku berikan kesempatan bagi monster itu melukai warga sekitar. Kadang aku meluangkan waktu untuk membuat perlindungan dengan tanaman rambat. Meski tahu itu melelahkan, tetapi aku sadar jika itu yang aku bisa saat ini.


Asalkan tenaga yang aku miliki ini stabil, aku yakin tidak akan ada masalah. Jangan sampai kekuatanku menghilang atau aku harus mengucapkan selamat tinggal lebih cepat. Walau tahu itu menamparku, tetapi aku tetap harus berusaha.


Satu kristal berhasil aku hancurkan, kini tersisa tujuh monster yang berusaha keluar dari perlindungan. Aku tidak bisa membiarkan mereka menyakiti siapa pun. Segera aku mengepalkan tangan hingga memunculkan tanaman rambat yang lebih kuat lagi dan menutupi seluruh bagian. Tidak ada yang berani masuk, jadi seharusnya semua manusia sudah aman sekarang. Mungkin hanya properti mereka saja yang akan rusak.


"Tolong berhenti! Kalian menyakiti saudara kalian sendiri!" ucapku lantang, tetapi itu tidak menggoyahkan perasaan mereka.


Para monster itu semakin menggila, mereka mencoba menarik pelindungku. Kadang ada satu atau dua monster yang mendekat dan menyerang. Aku harus bisa membagi fokus antara mempertahankan keamanan dan melindungi diri sendiri. Sesekali mataku mencoba mencari kristal milik ketujuh monster.


"Argh!"

__ADS_1


Aku mencoba menahan rasa sakit dari benturan pada mobil. Tubuhku pasti remuk sekarang. Sakitnya seperti rasa tulang yang patah. Monster itu menyerangku tanpa ragu, ingin aku bertahan, tetapi tidak bisa. Kembali sang monster pun menyerang diriku.


"Maaf kami terlambat," ucap Bara dan Radja di hadapanku.


Aku melihat ke langit-langit, ternyata mereka membobol perlindungan yang aku buat. Sudahlah! Itu tidak masalah, justru aku berterima kasih karena mereka datang tepat waktu. Mungkin jika telat beberapa menit saja, aku sudah tidak akan melihat mereka lagi. Tentu mereka pun hanya akan menemukan mayatku.


Dengan tertatih aku berusaha bangkit dan mendekati keduanya. Mereka sudah siap bertarung, sementara aku harus mencari di mana pedangku terlempar. Ternyata tidak jauh, jadi aku segera mengarahkan tangan dan mengeluarkan tanaman untuk menarik benda tersebut mendekat padaku. Tanpa beranjak, aku pun tetap bisa mengambilnya dan kembali dalam tim.


Satu tanganku memegang liontin yang Miss Merry berikan. Aku tidak tahu melindungi yang dia bilang itu dalam konteks apa. Namun, apa pun tujuan pasukan Azumi kali ini ... tidak akan berhasil. Kami tetap jadi pemenang. Ya, tidak boleh mengalah meski di tempat ini sangat terbatas dan ketat akan peraturan.


"Aku menemukan kristal kegelapan milik mereka. Nadira, diamlah di sini. Jangan nakal!" ujar Radja.


Aku segera menghampiri manusia tersebut, mengecek keadaannya sekilas. Takut-takut jika nyawanya menipis karena serangan Radja yang sangat mendadak itu. Namun, detak jantung mereka normal. Tidak ada yang salah.


Kembali mereka saling menyerang monster-monster yang tersisa. Aku tidak bisa berdiam diri saja seperti saat ini. Lupakan perintah Radja! Aku juga ingin membantu! Segera aku pun mengeluarkan anak panah dan menembakkannya pada monster. Menahan pergerakan mereka dengan tanaman es milikku.


Meski itu teknik baru yang sedang aku kembangkan, aku tidak boleh ragu. Ini bisa menahan monster itu beberapa saat. Masih tersisa empat lagi dan aku harus menembak mereka semua. Biarkan saja Radja dan Bara mengurus penghancuran kristalnya, sedangkan aku menahan pasukan Azumi.

__ADS_1


"Kami tidak mengincar kalian, enyahlah dari hadapan kami," ujar salah satu dari monster tersebut. Aku memanfaatkan situasi itu untuk menembak anak panah lainnya. Meski itu ancaman, tetapi apa gunanya?


Radja dan Bara sudah menghampiri mereka, mengambil kristal gelap dan menghancurkan ketiga monster. Tinggal satu lagi, tetapi aku tidak melihatnya di sekitarku. Maka aku pun celingak-celinguk. Di mana monster besar itu berada? Tidak mungkin mereka hilang dalam sekejap. Pasti ada penjelasan yang lebih tepat dalam hal ini.


Aku melihat Bara menyeka keringatnya, dia lalu menoleh ke arahku. Matanya membelalak seakan melihat hantu. Hingga aku mendengar dia berteriak dan membuat Radja pun ikut mencari tahu apa yang terjadi. "Nadira, awas di belakangmu!"


Aku segera melihat ke belakang, siap-siap membuat pertahanan. Namun di belakangku bukan hanya ada monster, tetapi sihir berwarna merah yang sedang menuju ke arahku. Segera aku melompat dan memakai pelindung dari es. Sekali lagi mataku membelalak. Sihir itu menembus pertahanan dan akan mengenai tubuhku. Bagai sengatan listrik dan itu mengalir ke segala tubuh, aku berteriak sekencang-kencangnya. Samar-samar aku melihat kalung yang Miss Merry berikan pun menyala.


Cahaya itu membuat sihir berwarna merah keluar dari tubuhku. Aku mungkin akan hilang akal jika sihir itu terus memaksa masuk. Bahkan, aku bisa merasakan sensasi yang sama dengan saat kristal hitam hinggap di dalam hati. Perlahan sihir itu pun terkumpul menjadi satu dan kalung pemberian Miss Merry pun mulai redup.


Bara dan Radja segera menghampiri. Mereka menopang tubuhku agar tidak jatuh. Tidak lupa menyiapkan diri masing-masing apabila lawan akan bertindak menyerang kami. Aku bisa lihat jika monster itu sangat marah karena rencananya berhasil kami gagalkan. Dengan bantuan mereka, aku pun berusaha untuk bangkit dan ikut berhadapan dengan lawan.


"Sebenarnya apa yang kalian inginkan?!" seru Radja dengan nada yang begitu keras.


"Menghancurkan ... kalian," ucap monster tersebut.


 

__ADS_1


 


__ADS_2