
“Rumor?”
“Dulu sebelum seorang anak yang lahir dari tetesan air mata naga turun, ada sebuah ramalan jika seorang anak dengan kekuatan hope akan melindungi dunia. Sayangnya anak itu dibunuh. Menurutku satu-satunya yang kurang dalam tim kita adalah pemilik kekuatan hope. Aku tidak tahu bagaimana kekuatannya, tetapi mungkin dia bisa mengubah dunia yang kacau ini,” ucap Kak Ron.
Lagi-lagi aku membelalak. Hana dan Mizuki mengatakan jika aku memiliki hope. Kekuatan yang Kak Ron katakan itu ada pada diriku. Jadi apa yang mereka katakan soal mengubah dunia itu benar ... aku bisa mengubahnya.
“Kak Ron, kita terlambat. Lupakan soal hope. Kita bahkan sudah kehilangan Radja.”
Mendengar apa yang diucapkan Bizar, aku benar-benar ingin melemparkan sesuatu sekarang. Hatiku sakit. Bagaimana mungkin laki-laki itu bisa mengatakan kalau Radja sudah tiada. Aku menggeleng, bersamaan dengan air mata yang jatuh ke pelupuk mataku. Sial. Kenapa jadi seperti ini? Aku sudah tidak bisa berpikir dengan jernih.
Tiba-tiba sesuatu menarik tubuhku, begitu kuat. Tidak sedikit pun aku menahan keinginan untuk tetap tinggal. Biarkan saja ini menarikku. Bahkan jika ini mimpi, aku akan menganggapnya tidak lucu. Sungguh. Ini adalah hal yang paling tidak aku ingin dengar. Di antara semua orang, kenapa harus Radja yang Tuhan ambil? Kenapa orang yang terdekat denganku lagi? Tidak cukupkah keluargaku?
———————
Mataku terbuka begitu saja dengan menarik napas sedalam-dalamnya. Pusing langsung menghampiriku dan membuat mata samar-samar dalam memandangi ruangan. Tiba-tiba kehangatan itu menyelimuti kepalaku, meski membuat pandanganku tertutup. Namun, lama-lama aku jadi bisa melihat dengan jelas. Air mataku langsung menetes, tanpa izinku.
__ADS_1
“Syukurlah kamu sudah sadar, Dira. Kamu pingsan selama sehari penuh setelah berurusan dengan tanda yang ada pada Faizal dan Tiara. Kakak heran denganmu,” gerutu Kak Ron, meski begitu aku bisa melihat perhatiannya.
Tidak. Ini bukan saatnya untuk memikirkan kekhawatiran kakakku. Buru-buru aku memperbaiki posisi, tetapi Kak Ron menahan. Dia bersikeras jika aku membutuhkan istirahat lebih. Namun, di pikiranku sekarang hanyalah Radja. Bagaimana keadaan laki-laki yang sudah membantuku selama ini? Aku tidak bisa kehilangannya. Tidak bisa. Entah sejak kapan, tetapi aku sadar jika keberadaan Radja sudah seperti obat yang harus aku minum tiap hari.
“Kak, Radja di mana?” tanyaku dengan air mata yang berlinang. Kak Ron memandangku heran dengan kedua alisnya yang saling mendekat dan kerutan di dahinya.
“Nadira, kamu perlu banyak istirahat. Bahkan obat yang kakak berikan belum bereaksi. Radja belum kembali sejak kemarin, tetapi dia melapor jika Ratih dibawa pergi bersama Miss Ann. Sekarang keadaan bumi masih aman, tidak ada monster yang membabi buta untuk menyerang kita,” jelas Kak Ron.
“Benarkah jika Radja baik-baik saja? Kak ... aku bermimpi aneh, aku ... aku harus segera menyusulnya,” balasku masih takut dengan apa yang aku mimpikan. Mungkin mimpi itu sebuah pertanda bahwa aku harus menyelamatkan Radja. Ya, laki-laki itu dalam bahaya.
Kak Ron kembali mendorongku, kali ini dia juga menggunakan kekuatannya untuk mengikatku di bangsal. “Kakak meminta kamu tenang, Dira. Radja baik-baik saja. Tunggu beberapa jam hingga obatnya bekerja dan kamu bisa turun tangan lagi.”
Aku takut jika mereka yang berada di bumi sedang kelelahan. Kami di Twins mendapatkan pengobatan lebih cepat ditambah Kak Ron yang menangani jadi ekstra super cepat. Tali yang mengikatku ini sangat menyebalkan. Aku bahkan tidak bisa menyeka air mata yang masih mengalir. Namun, berlalunya Kak Ron membuat ikatan ini mulai menghilang. Seketika aku menyadari sesuatu. Kak Ron pun sudah mulai lelah.
Ini hari kedua dan semua sudah sangat lelah. Harus aku akui jika kemarin adalah malam terpanjang yang pernah aku lalui selama ini. Tidak ada istirahat, bahkan dalam mimpiku aku harus bertarung dengan perasaan sendiri. Ini semua melelahkan. Aku tahu. Aku paham sekali. Namun, bagaimana cara kami menghentikannya jika Miss Ann dan Ratih saja melarikan diri. Tidak tahu lagi harus ke mana kami mencari keberadaan keduanya.
__ADS_1
Aku nekat turun dari bangsal. Kakiku ternyata sangat lemah dan tidak bisa menopang tubuh sendiri. Jadi aku gunakan tangan dan bertumpu pada benda sekitar. Aku harus memberitahu Bizar jika sesuatu akan terjadi pada Radja. Setidaknya laki-laki itu masih mau mendengarkanku. Sebelum dia kelelahan dengan mengatur semua orang dari balik layar. Aku harus memberitahunya. Tentang jurnal yang merupakan sihir terlarang dan tentang kekuatanku. Rasanya aku bersalah pada Radja. Seharusnya aku mengatakan ini padanya.
Radja sudah menanyakannya lebih dulu, tetapi karena kami masih berada di dunia Kai, aku tidak bisa menceritakannya. Aku yakin laki-laki itu punya banyak pertanyaan, tetapi harus ditahan. Keadaan mendesak dan nyawa kami begitu dekat dengan kematian. Lalu, Kak Ron mengatakan jika Radja belum juga kembali. Laki-laki itu pasti kesulitan berjuang sendiri. Sebelum semua itu terjadi, aku harus mencegahnya.
Di laboratorium, semuanya nampak kacau. Baik robot-robot yang bergerak ataupun penampilan Bizar sendiri. Rambutnya berantakan dan sekarang lebih terlihat ikal. Beberapa anak rambutnya naik ke atas, begitu terlihat seperti ilmuwan pada umumnya. Laki-laki satu ini setia dengan jas labnya. Beberapa kali tangannya berhenti mengetik. Aku bisa melihat jika jari-jemarinya gemetaran. Apakah laki-laki itu sudah makan?
Tanpa ragu aku menghampirinya, dengan tangan yang masih bertumpu pada sesuatu. Aku mendekat ke arahnya. Di sana aku melihat dengan jelas komputer itu bekerja dengan keras. Berbagai laporan, sebuah kotak yang menunjukkan status, peta dan lain sebagainya ada di sana. Diam-diam aku mengamati wajah Bizar. Selain kusam dan mata panda, mata laki-laki itu sangat merah. Pertanda dia tidak tidur semalaman.
“Bizar, tidakkah sebaiknya kamu istirahat dulu?” ucapku spontan.
Laki-laki itu tidak berhenti memberi kabar. Namun, setelah lima menit, akhirnya dia melepaskan kacamata lalu menengadah. Kepalanya pasti sangat pusing. Tidak ada yang bisa kau lakukan selain menyemangatinya. Tanganku bertopang pada meja dan kulihat ada makanan di sana. Segera aku menariknya dan memberikan makanan tersebut pada Bizar.
“Aku rasa kamu butuh makan sebelum kembali bekerja. Bahkan sebuah robot pun memerlukan perawatan. Jadi makanlah dulu. Aku yakin mereka juga akan baik-baik saja,” ucapku.
“Kamu sudah sadar ya, Nadira? Terima kasih ... kamu satu-satunya yang mengingatkanku bahwa aku manusia. Memakai kekuatan penuh membuatku lupa segalanya. Ini memang beresiko, tetapi tidak ada cara lain,” ucap Bizar, lalu dia melahap sereal dingin tersebut.
__ADS_1
“Kekuatan penuhmu itu mengerikan, Bizar. Lagi pula, kamu memang harus beristirahat. Kamu sering mengatakan padaku untuk tidak memaksakan diri, sekarang aku kembalikan ucapan itu padamu. Jangan memaksakan dirimu,” jawabku tanpa ragu.
“Kamu benar. Ini beresiko, bahkan jika kamu tidak datang atau tidak ada yang mengingatkan. Aku bisa mati. Mati kelaparan haha!” gurau Bizar tetapi aku tidak suka. “Dan itu memang benar. Kakekku meninggal karena beliau menggunakan kekuatan penuh.”