
Ada sesuatu yang memaksa agar aku terbangun dari sunyinya malam. Gelumat riak yang saling
beradu, pikirku hanya khayalan saja. Hawa beku menusuk-nusuk di atas
permukaan kulit. Aku mulai menggeser
badan, mencari selimut lainnya. Namun, yang aku rasakan hanyalah
kerikil-kerikil kecil dan kasar di mana-mana.
Tunggu. Ini aneh!
Perlahan mataku terbuka lebar, hingga rasanya bumantara dapat kulihat jelas tanpa cahaya kelap-kelip di atas sana. Biru dongker menguasai langit di atas sana, itu artinya ini malam yang sama. Namun, jelas aku mengingat kalau tubuhku direbahkan di atas kasur, bukan pasir. Gelombang pasang
yang saling beradu, sedikit demi sedikit airnya menyapu ke arah kaki telanjangku.
“Ini di mana?” bisikku pada diri sendiri. Aku mencoba bangkit, mengedarkan pandang ke semua penjuru. Hanya ada pohon-pohon berdiri tegak tidak jauh dari sini. Banyaknya tanaman menjulang ke atas, pohon yang sangat dikenal sebagai pohon seribu manfaat.
Sebenarnya ini di mana?
Aku mencoba melihat ke tenggara, terdapat pondok kayu kecil. Meski hanya berhiaskan kulit kerang dan beratapkan daun pohon kelapa, pondok itu terkesan indah dan sederhana. Dorongan kuat bagiku untuk menghampiri tempat tersebut.
__ADS_1
Kami telah menunggumu.
Aku tersentak. Panas seketika menjalar di sekitar leher. Spontan aku memegangi bagian leher. Sakit, seakan minyak panas baru saja melalui kerongkongan. Semakin suara aneh itu terdengar, semakin kuat minyak panas itu mengalir. Ini menyakitkan.
Dalam gelumat riak, suara langkah kaki bisa aku rasakan semakin dekat. Siapa? Hanya satu kata itu yang diputar berulang-ulang dalam kondisiku ini. Ada sinar yang memancar dari ujung ternggara. Seseorang keluar dari pondok, membawa pedang yang begitu indah, dan sinar itu muncul dari sana.
Kami telah menunggumu. Nadira ... Nadira...
Ketika suara itu semakin pudar, wajah orang yang yang menghampiriku begitu jelas. Wajah yang begitu familier dalam kehidupanku. Namun, mata hijau dan kulit pucat itu tidak
pernah aku lihat.
Suara bisikan yang begitu pelan hingga membuat tubuhku merinding ketika sadar
mata pedangnya nyaris menempel di permukaan kulitku. Tanpa suara dan tidak aku
ketahui kapan dia mengayunkan pedang.
Aku menahan napasku. Di manakah aku saat ini? Jantungku berdebar-debar, semakin wajahnya mulai nampak dalam ingatanku. Begitu familier, tetapi tidak aku ketahui siapa. Perempuan itu berwajah datar pula dingin. Bagai mata pedangnya yang tajam, aku merasa tatapannya sangat mematikan.
Entah dorongan apa yang membuat kedua kakiku ini kuat berlari berlawanan arah, lautan yang dangkal. Tidak adakah pilihan lain? Aku menggeleng. Kulihat kembali pondok ketika dia datang. Haruskah aku ke sana?
__ADS_1
Nadira kamu di mana?
Tolong aku!
Suara itu kembali muncul di dalam benakku. Sakit, panasnya bagian leherku tidak lagi kuat aku tahan. Aku tidak mau berpasrah diri. Ini tempat aneh dan aku harus keluar dari
sini.
Jangan tinggalkan kami!
“Akh!” jeritku ketika benturan yang amat kuat menghantam tengkuk leherku. Saat aku melirik ke belakang, dia tengah menyeringai. Jari-jemarinya mulai mendekati wajahku. Tidak! Tidak!
Tolong kami Nadira!
Aku ingin mengomel atasapa yang kudengar. Bahkan aku tidak tahu akankah aku selamat sekarang atau malah bertemu dengan Sang Kematian lagi? Aku mengerjapkan mata, mendengar tawa aneh bersamaan dengan gelumat riak yang semakin menjadi.
“Kali ini kamu tidak akan selamat, Hana.”
Aku ingin menyangkalnya, siapa pun dia yang salah menduga namaku. Aku .... aku ingin
kembali.
__ADS_1