
Aku pikir dengan menghentikan Azumi, semuanya selesai. Ternyata tidak. Masalah Azumi memang sudah selesai, tidak lagi membuat onar. Namun, perasaanku masih tidak tenang. Pak Hisam belum juga menunjukkan tanda-tanda bahwa dirinya mulai sadar. Padahal operasi uang Miss Merry jalankan sudah berhasil, tetapi kenapa aku terus-menerus tidak tenang dengan situasi ini.
Semua mulai menjalani hari dengan normal. Minus Bizar. Laki-laki itu sangat sibuk membantu pemerintah untuk menyelesaikan masalah. Seperti memprogram ulang dan memanipulasi ingatan semua orang. Mencegah kenang-kenangan buruk bagi manusia biasa. Ilmuwan satu itu benar-benar berusaha memahami kami semua. Dia tidak ingin mengeksplorasi tentang kami di publik.
Afly tetap berusaha untuk membuat para penggemarnya tetap dalam jangkauan. Tidak ada lagi tindakan seenaknya seperti menindasku. Tentu aku bersyukur karena mereka bisa memperlakukan seseorang dengan lebih baik lagi. Teman-teman juga bisa menjalani hidupnya dengan normal. Walau kami masih tidak menyangka jika kekuatan ini sering membuat kami kembali berkumpul satu sama lain.
Saat ini, aku memilih untuk memalingkan wajah ke samping. Melihat lapangan yang begitu luas dan ramai oleh murid-murid. Mereka semua sedang berolahraga dan begitu fokus satu sama lain. Entajbknaoa hal ini membuatku ingat tentang Radja yang seng menolong dan membantuku untuk berlatih. Semua itu ada gunanya. Tanpa laki-laki itu, aku tidak tahu bisakah aku menghentikan Azumi atau tidak.
"Kamu masih kepikiran Pak Hisam?" tanya Radja di hadapanku.
Aku lantas melirik ke arahnya, lalu tersenyum masam. Memang benar apa yang dia ucapkan itu. Dalam hati dan pikiranku masih dijajah oleh keadaan Pak Hisam yang belum juga sadarkan diri.
"Ada niat mau bolos terus ke rumah sakit gak?" ucap Radja lagi dan aku tidak percaya dengan apa yang baru saja dia katakan. Tumben sekali mengajakku bolos, biasanya dia lebih suka meledek. Tidak pernah membiarkanku bertindak konyol.
Namun aku sudah gila. Aku menyetujui apa yang Radja ucapkan, "Ayo kita pergi sekarang, Radja!"
"Tunggu, aku hanya bercanda, Dira! Kamu serius milih bolos dari sekolah demi ketemu Pak Hisam?" Radja kembali mempertanyakan hal itu, kali ini dengan tataran tajam. Laki-laki di hadapanku ini sangat serius.
__ADS_1
Aku menelan ludah. Kukira Radja memang ingin mengajakku untuk kabur dan menemui Pak Hisam. segera aku menunduk. "Ya, Radja. Aku ingin ketemu Pak Hisam."
Tanpa diduga-duga, Radja justru mengelus bagian puncak kepalaku. Dia tersenyum dan membisikkan kata sabar. Kami hanya perlu menunggu katanya. Tidak akan bolos, tetapi tetap memohon, tetapi aku tidak menggunakannya. Radja sudah berjanji dan tidak akan menepatinya. Itu sosok laki-laki menyebalkan yang aku kenal. Tidak cukup dengan mengucapkan terima kasih saja untuk Radja. Dia sudah percaya padaku, menemaniku hingga akhir.
"Tunggu bel bunyi. Guru masuk, kita keluar. Aku udah buat surat izinnya. Tapi kita enggak ke rumah sakit dulu. Masih ada Azumi yang harus kita urus," ucap Radja berbisik pelan.
Aku mengangguk. Tidak mau mebohongi siapa pun, termasuk hati sendiri. "Baiklah. Aku ikut aja, yang penting aku bisa ketemu sama Pak Hisam lagi."
Seakan waktu memihak kepadaku, suara bel terdengar. Pertanda masuk ke jam belajar lagi. Radja mendengus sebal, dia pun merogoh sesuatu di dalam saku celananya. Sebuah surat. Setelehnya dia pun menyimpannya di atas meja. Aku segera merapikan kembali barang-baran di atas meja. Sesuatu telah membuncah hebat di dalam hati. Sebentar lagi kami akan bertemu Pak Hisam.
Radja membereskan tasnya dengan asal-asalan, dia lalu keluar dari kelas. Aku pun mengikutinya. Orang-orang melihat kami dngan penasaran, termasuk Afly dan Demina. Mereka baru saja mau bertanya, tetapi Radja segera memegang tanganku. Secepat itulah laki-laki menyebalkan ini menarikku pergi tanpa memberikanku kesempatan menjawab.
Aku melihat ke sekitar dan melihat rungan putih dan hanya ada beberapa peralatan. Sepi. Di hadapan kami ada seorang anak laki-laki yang dengan santainya sedang mengerjakan tugas sekolahnya. Bizar lalu menutup buku, melihat ke arah kami.
“Ini dia, tempat isolasi khusus untuk Azumi. Nadira, kami tidak berniat untuk mengurungnya, tetapi aku rasa kamu perlu berbicara dengannya. Selama setahun dari sekarang, aku akan menutup portal ke sini. Yang bisa masuk hanya beberapa orang saja. Seperti Miss Ann, Miss Merry dan juga aku. Maaf, aku tidak bisa memberimu akses kecuali hari ini,” jelas Bizar seraya menunjuk ke salah satu tembok. Dia kembali mengetik pada layar transparan dan membuat tembok tersebut berubah menjadi kaca.
Terlihat jelas seorang gadis biasa, tanpa gaun mewah seperti biasanya. Mata yang sering memandangku dengan tajam kini hanya menatap kosong. Aku tetap mendekatinya meski tetap terbatasi oleh kaca. Perlahan aku pun mengetuk pelan kaca itu untuk menarik perhatian gadis tersebut.
__ADS_1
Gadis itu tidak merespon apa yang aku lakukan. Dia masih diam di tempatnya. Duduk di lantai putih dengan tatapan kosong. Rasa sesak menyeruak masuk ke dalam hati. Akhirnya aku memutuskan untuk tetap menyapanya.
“Azumi, apa kabarmu?” tanyaku. “Sepertinya belum baik-baik saja ya? Aku harap kamu segera sadar dan bisa menjadi manusia normal. Kami tidak menghapus kekuatanmu, tetapi kamu harus belajar menggunakannya untuk kebaikan.”
Aku bepikir jika Azumi tidak merespons ucapanku, tetapi salah. Gadis itu mendongak dan melihatku dengan tatapan hampanya. Perlahan dia bangkit dari tempatnya dan segera mendekatiku.
“Kalimat apa yang pantas aku ucapkan padamu? Meski aku dikurung seperti ini, kamu pikir penjahat lain tidak akan bertindak?” ucap Azumi.
“Azumi, ini demi kebaikanmu sendiri. Berhentilah jadi penjahat, kamu masih bisa mengubahnya sekarang,” balasku. Azumi tidak menanggapi ucapanku. Dia jusrtu membelakangiku.
“Aku hanya mengingatkanmu, Dira. Mengalahkanku adalah salah satu awal perjalananmu. Sebaiknya kamu memikirkan bumi lebih baik lagi setelah ini,” ujar Azumi. Radja tiba-tiba menepuk pundak dan membuat aku untuk tidak bertanya lebih.
Di hadapanku, Azumi mulai berjalan menjauh. Dia tidak ingin melanjutkan percakapan dan aku harus memahaminya. Maka dari itu Bizar pun kembali mengubah kaca itu menjadi tembok. Aku tidak bisa meminta lebih. Bertemu dengan Azumi untuk terakhi kali pun tidak sebegitu buru seperti yang aku pikirkan.
“Tenanglah, Nadira. Azumi pasti asal bicara,” ucap Radja berusaha untuk menenangkanku.
Bizar menimpali, “Sejujurnya Azumi benar. Perjalanan kita yang sesungguhnya memang baru dimulai. Nadira, Radja, kita tidak bisa tenang-tenang saja. Terkadang apa yang kita harapkan dari sebuah rencana, pasti ada hal yang tidak sejalan. Jadi kalian tidak berencana untuk bersantai kan?”
__ADS_1
“Tidak, Bizar. Tenang saja, kami juga punya kamu yang sangat bisa diandalkan. Aku dan Dira berencana pergi ke rumah sakit, jenguk Pak Hisam. Kamu mau ikut, Bizar?” ajak Radja.