Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 38. Mencoba Paham


__ADS_3

Demina baru sadarkan diri setelah semuanya kembali dari desa. Penyamaran mereka berhasil, justru orang-orang yang tersangka sebagai pasukan Azumi tidak menyadari. Aneh. Ini semakin aneh. Apa memang seharusnya kami mencari dalangnya? Meski ingin melakukannya, kami tidak tahu dan tidak memiliki bukti yang kuat. Para monster tahap satu tidak mengetahui identitas kami. Tidak tahu juga jika diri mereka adalah monster yang meresahkan warga. Saat menjadi monster ingatan mereka hilang.


Artinya orang yang sejenis pernah aku lawan dengan Bizar dan Radja memiliki level yang lebih tinggi dan dibiarkan punya pemikiran sendiri. Menurut Bara waktu itu, Azumi hanya mengarahkan pikiran seseorang dan menjadikan mereka turun tangan langsung. Tidak ada mencuci ingatan, hanya dijadikan budak. Mungkin saja keadaan Azumi saat ini memang seperti itu.


Aku mengembuskan napas. Mataku mencoba menerawang sesuatu di langit-langit. Berharap ada sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk. Dari mana mereka tahu aktivitas kami. Benarkah pengkhianat ada di sekitar kami? Aku kembali tidak yakin, semuanya punya alibi masing-masing. Tidak mungkin Bara, Irish, Demina apalagi Radja. Sudahlah, di rumah saja aku memikirkannya kembali. Siapa tahu Kak Ron dan Nadia bisa diajak berdiskusi.


Aku memandang isi tas di dalam kamar bersama. Demina dan Irish juga tengah merapikan barang-barang mereka. Sebentar lagi sopir yang menjemput akan segera sampai, tidak akan ada pasukan Azumi yang menyerang. Lagi pula jika mereka menyerang, kami sudah siap untuk menghadang. Walau kami yakin sopir itu masih takut dengan para monster.


“Kalian anak perempuan lama banget beres-beresnya,” ujar Radja di depan pintu.


Laki-laki itu sudah mengetuk pintu kami berulang-ulang. Mungkin kesal dan ingin segera pulang ke rumah. Padahal Pak Tio tidak perlu meminta sopirnya untuk menjemput kami. Namun, sebagai kepala sekolah yang baik, beliau meminta kami menurut. Ya sudahlah, kami bisa apa? Disebar atau menurut, hanya itu pilihannya.


Aku lalu menggendong kembali isi tas dan pamit lebih dulu. Memang bawaanku tidak sebegitu banyak. Jadi lebih mudah berkemas. Tentu alasan lainnya karena aku ingin menjitak kepala laki-laki yang mengetuk pintu kami terus. Tidak tahukah itu sangat mengganggu kami? Diingatkan seperti itu membuat kami malas-malasan.


“Yang lain mana? Belum beres?” tanya Radja.


Aku mengangguk, tidak lama aku pun mencubit lengannya. Radja pun meringis. “Udah jangan ganggu mereka. Kamu tau juga kalau keadaan Demina baru membaik. Emang ada apa sih? Sopirnya aja belum dateng, kamu udah ribet duluan.”

__ADS_1


“Ada yang harus kita bicarakan. Ini penting sekali. Mungkin aku bisa mengetahui siapa dalang dari semua kekacauan ini,” ujar Radja menatapku dengan sangat serius.


“Siapa, Ja? Kamu gak lagi nuduh temen-temen kita kan? Ayolah, apa enggak ada orang lain yang lebih tepat untuk dicurigai?” balasku geram.


“Aku enggak mencurigai mereka. Dira, kita harus pergi ke tempat Azumi ditahan. Kita harus menemukan siapa-siapa saja yang memiliki hubungan dengannya. Seperti Bara, mungkin memang ada pasukan setara dengannya, tetapi dia sama sekali tidak diberitahu,” ucap Radja padaku. Aku tidak mau berharap terlalu jauh, ini sudah sangat menyesakkan.


Bizar tiba-tiba menghubungiku dengan mengirim pesan. Dia meminta aku dan Radja datang ke laboratoriumnya sekarang juga. Aku bisa menebak, pasti Bizar juga ingin membahas masalah yang sama. Tentang monster. Mungkin pemikirannya kali ini tetap sama. Ada pengkhianat di antara kami. Padahal belum tentu benar tanpa adanya bukti pasti dari dirinya.


Namun, aku tetap memberitahu Radja. Sebaiknya kami pergi lebih dulu. Berpamitan dengan teman-teman dan meminta mereka menjelaskannya langsung pada sopir yang menjemput. Bizar pun membukakan portal untuk kami berdua. Aku memutuskan pergi untuk mengetahui jalan rahasia lagi. Kami tidak tahu banyak soal ruangan laboratorium Bizar. Apalagi kalau salah bertindak, tubuh kami mungkin tidak akan selamat.


Portal itu mengarah langsung ke ruangan Bizar. Sangat rapi seperti biasanya. Para robot pasti membereskan tempat ini secara terjadwal. Aku melihat Bizar tengah duduk dan bersantai sambil meminum teh hangat. Suatu kejadian langka! Bizar tidak biasanya beristirahat seperti ini. Apa suasana hatinya sedang dalam kondisi baik?


“Ini soal kemampuanmu dan Radja. Kalian aku tempatkan satu tim karena kekuatan kalian cocok, tetapi aku tidak yakin jika kamu bisa pergi misi untuk beberapa hari. Kak Ron meminta agar aku meliburkanmu dulu dan aku sudah membicarakan ini pada Miss Ann. Dia setuju. Kamu akan libur selama dua minggu.


“Tunggu, jangan protes dulu. Aku awalnya tidak setuju karena kamu sangat dibutuhkan. Terlebih di antara semuanya ... aku hanya percaya kalian berdua. Jadi sulit sekali untuk bicara denganmu saat kamu berlibur. Jadi, aku hanya bisa berharap kondisimu lebih cepat pulih. Jangan memaksakan diri lagi,” jelas Bizar yang lalu meminum teh hangatnya lagi.


Aku membelalak dan memang ingin protes. Segera aku mendekati laki-laki itu, lalu menggebrak mejanya. “Aku baik-baik aja! Kenapa kalian bilang jika kondisiku menurun?! Harusnya Demina yang diberikan liburan, dia baru saja sembuh. Bukan aku!”

__ADS_1


“Benar, Bizar. Selama di Vila dia baik-baik saja. Tidak terluka bahkan pingsan. Kak Ron pasti terlalu khawatir. Kita berdua harus menjelaskannya pada dia jika adiknya ini baik-baik saja,” ucap Radja membelaku.


Bizar menggeleng. Dia tidak menyetujuinya, justru semakin bersikeras untuk tidak menugaskanku dalam dua minggu. Baiklah lupakan. Jika pun aku sakit, kenapa pula harus selama itu? Ini keadaan darurat! Seharusnya selama sebulan sebelum lomba ... kami sudah membasmi semua monster di wilah kami agar kami bisa fokus mencari markasnya.


Ini gila. Apa yang merasuki Bizar? Laki-laki berkacamata itu mendekat. Dia mengulurkan tangan dan memegang lenganku. Bizar lalu mengambil jam tangan milikku.


“Maaf Dira, ini untuk kebaikanmu. Radja ... alasan aku menempatkanmu bersama Dira, kamu lindungi saja dia dari para monster. Keputusan Kak Ron memang salah, tetapi alasan aku menyetujuinya bukan karena kondisimu.


“Aku baru menyadari jika di sini ada penyadap. Mereka mengetahui pergerakan kita dari penyadap itu. Akan aku kirimkan email tentang ini semua. Untuk sekarang berhati-hatilah. Mereka mungkin akan mengincar kamu, tetapi jangan gunakan kekuatanmu untuk menyerang mereka,” bisik Bizar.


Aku dan Radja tidak mengerti, tetapi dipaksa untuk memahami. Aku pun mengembuskan napas. “Jadi saat ini aku target mereka? Bukan kamu lagi?”


“Mereka mengubah rencana. Bukan komputerku lagi yang mereka tuju. Ngomong-ngomong dengan tidak ada misi, kamu bebas melakukan apa pun, Dira,” balas Bizar.


Aku mulai mencerna ucapan laki-laki itu lalu membelalak. Benar, aku bisa melakukan apa pun. Terlepas dari misi, aku bisa menyelidiki mereka dari dekat. Jika selama ini para monster tahu kami melaui radar milik Bizar, aku tidak akan di sana.


“Kamu benar,” gumamku. Akan aku cari petunjuk lainnya dari jarak dekat.

__ADS_1


 


 


__ADS_2