Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S2] 12. Yang Tidak Terduga (3)


__ADS_3

Tidak ada yang salah dari mencoba. Setidaknya jika jatuh kita belajar sesuatu dari itu, ucapku dalam hati untuk meyakinkan Bizar.


Dapat aku dengar suara pasir yang ribut. Sepertinya Azumi mulai mencurigai apa yang telah aku lakukan. Gawat jika Michio terbang, dia akan menemukanku dan Bizar. Tidak akan ada yang selamat.


Aku menggigit bibir bawahku dalam. Keningku sudah berkerut begitu juga tersalur pada tangan yang menggenggam busur. Kali ini menghubungi Bizar lagi adalah keputusan terbaik.


Bizar, kita bagi tugas. Aku akan mengalihkan perhatian mereka. Kamu pergilah menyelamatkan anak-anak di sana.


"Aku tidak tahu apa yang lebih gila dari idemu. Akan aku lakukan dengan cepat," balas Bizar padaku.


Aku mengembuskan napas. Tidak perlu mengarahkannya, Bizar bahkan lebih mengetahui harus apa dan ke mana. Lalu pusing itu kembali menimpaku, kali ini penampakan. Bukan penampakan masa depan yang aku lihat, seperti seseorang. Ya ampun, adakah hantu dalam kepalaku?


Segera aku berdiri dan melompat kangkang melalui tong. Untungnya berhasil, latihan dengan Radja ternyata tidak sia-sia. Di depan sana Azumi membulatkan mata, wajahnya begitu ketakutan. Sedangkan Michio tetap dengan wajah datarnya.


Sebelum mereka berdua menyerang, aku sudah lebih dahulu menarik tali busur dan menariknya. Anak panah itu melesat dengan cepat. Namun ditangkap satu tangan oleh Michio. Aku terbelalak karena tangannya berdarah. Bukannya sakit, dia justru menjilat darahnya sendiri.


"Sangat mengejutkan kamu sendirian," sindir Azumi ke arahku.


Aku mengedipkan mata menikmati angin yang mengelus pipi dengan dinginnya suasana. "Aku sendiri atau bersama mereka pun sama saja."


"Hah? Justru kamu menggali kuburanmu sendiri," balas Azumi.


Aku mengerutkan dahi, menyadari Michio tidak lagi berada di dekat Azumi. Tidak-tidak, kenapa aku lengah sekali? Segera aku memutar mata ke berbagai arah. Mencoba mencari tahu di mana letak keberadaan laki-laki itu.


Seakan mencari Michio kembali memicu pusing yang hilang. Aku tidak ingin terlihat lemah di depan Azumi. Dengan cepat aku merentangkan kedua tanganku ke depan, mengubah panah menjadi pedang.


Hawa tubuh di belakangku sangat dingin, ini aneh. Aku segera berbalik dan menemuka si gigi taring itu menggunakan kekuatan gelapnya. Tidak boleh kena serangannya akan menyulitkan. Bizar.


"Dira, kenapa dari tadi kamu susah aku kirimkan telepati? Bukalah teleportasimu, aku sudah kirimkan kordinat," titah Bizar.


Akan tetapi mataku masih memandangi Michio, dia semakin mendekat. Namun, tidak sedikitpun menyerangku. Sihir kegelapan itu seakan hanya menakut-nakutinya saja. Benar-benar tidak terlihat seperti penjahat.


"Michio! Buat dia pingsan!"


Kini aku menyadari sesuatu, mata Michio sangat menyihir. Ketika dia perlahan terbang, aku seakan menjadi penurut. Tidak bisa aku gerakkan tangan dan kaki. Tidak, bahkan seluruh tubuhku mati rasa. Apa-apaan ini!


Pusing itu kembali melanda, mempersulit keadaan sekarang. Aku tidak bisa melakukan apa pun. "Dira! Dira!"


Bizar terus memanggilku, tetapi tidak dapat aku jawab. Mata Michio menatapku semakin dalam. Gelap, sesak, itu yang bisa aku rasakan sekarang. Apa yang sebenarnya terjadi di sini?


"Gyaku!"


Ketika suara itu muncul, aku merasa terdorong. Pusing beranjak lagi dan aku bisa melihat ke sekelilingku. Cahaya yang menyorot di depanku. Begitu terang.


Bizar berlari ke arahku, tampaknya dia baru saja beres dengan membantu anak-anak jalanan. Aku menghela napas lega, lalu kembali melirik ke depan. Orang yang baru saja membantuku.


Tanpa sadar mulutku bergerak untuk memanggilnya, "Afly."


Laki-laki yang berdiri di depanku masih memfokuskan diri dengan lawan. Dia masih menggunakan pakai putih-biru. Berbeda dengan sosok Mamoru yang kulihat pertama kali. Namun, dalam penglihatanku begitu jelas terdapatt syal yang masih bergelantungan tertiup oleh angin.


"Pelindung cahaya!" ucapnya dengan kerah hingga menimbulkan sebuah bendungan yang hanya melindungi kami bertiga.


Dari balik pelindung yang transparan ini, aku melihat dengan jelas jika Azumi dan Michio tengah menyerang kami. Afly tidak peduli. Dia hanya berbalik dan melihat kami berdua.


"Ini masih pagi dan aku bolos sekolah," gerutunya.


Ngomong-ngomong sekolah ... aku melihat pada Bizar. Dia juga balas menatapku. Tanpa telepati, pikiran kami sudah terhubung. Segera aku melihat jam, pukul 08.00 pagi. Bahkan Bizar pun ikut membolos. Miss Ann juga pasti sudah curiga.


Oke! Lupakan. Biar itu jadi masalah kami nanti. "Makasih, Afly."


Afly sontak menatapku bingung. Oh, ya, aku melupakan topeng ini. Afly tidak bisa mengenaliku dengan mudah, tetapi aku malah menyebutkan namanya. Bizar tersenyum masam padaku. Tanpa ragu dia mencubit pipiku.


"Ini mulut kok ember sih," sindir Bizar padaku.


"Aw, aw, sakit, Za--- ZAKIT!" teriakku. Hampir saja aku menyebutkan nama Bizar. Mulut ini harus aku atur biar enggak menyulitkan lagi.

__ADS_1


Aku lihat Afly termenung. Seolah dia sedang menatap kami dengan intens. Jika dia tahu, semua ini akan berakhir. Sejujurnya aku takut ... takut jika dia mengucapkan sepatah kata saja.


"LAH?!" teriaknya juga. Aku dan Bizar mengerjapkan mata tidak mengerti kenapa Afly memegang kepa sendiri dan langsung berjongkok seperti preman yang ketahuan mencuri. "Bisa-bisanya aku teledor."


"Eh?"


"Gawat, gawat! Gimana kalau si menyebalkan itu tahu?! Sial, sial, aku bernasib sial hari ini," gerutunya.


Aku tidak cukup paham. Namun, pelindung yang Afly buat semakin lama semakin menipis. Bizar memperingatiku, "Lawan dari jarak dekat. Biar aku yang mengatasi jarak jauh."


Kembali aku mengangkat tangan dan memunculkan pedang. Afly sepertinya masih gugup dan cemas karena pakaiannya. Michio sudah menatapku, tetapi matanya teralih pada sosok Afly yang tengah berjongkok.


"Nona, aku bisa mengatasi mereka sendiri," ucap Michio pada Azumi.


Azumi berkacak pinggang dengan pasir-pasir yang berada di sekitarnya. "Bisakah aku percaya denganmu?"


Michio bungkam. Salah jika aku menduga dia memang tidak bisa dipercaya. Justru orang yang pertama dia serang adalah aku. Tanpa persiapan, aku hanya menahan tangannnya dengan sebilah pedang. Namun, entah bagaimana Michio berhasil membuat aku melepaskan pedang. Dia memelintir tanganku ke belakang dan menjambak kasar rambut pendekku. Sakit sekali.


Bizar yang melihat itu pun tidak terima. Dia menggunakan kedua pistolnya untuk menyerang Michio. Sayangnya, pasir Azumi berhasil mencegahnya. Firasatku buruk, sangat tidak tenang.


Gigi taring Michio bisa aku lihat. Dia membawa tanganku yang satunya. Tidak, tidak. Vampir ini tidak boleh meminum darahku.


"Aku tidak peduli lagi kamu tahu identitas aku atau enggak, Michio ... maksudku Bara," ucap Afly dengan mantap. Aku bisa lihat dari ujung penglihatanku. Dia menggunakan kedua tangan untuk memunculkan suatu kumpulan cahaya.


Mengingat nama Bara yang Afly sebutkan, aku tidak dapat memercayainya. Berusaha sekuat tenaga aku memberontak. Haruskah aku memercayai kegilaan ini? Afly yang begitu menghinaku, juga Bara yang baik hati membantu.


Tidak mungkin. Jantungku bedebar sangat kencang. Air mataku seakan-akan mengalir dengan kencang. Michio atau mungkin Bara melihatku. Hatinya melunak, dia membebaskanku.


"Michio!" teriak Azumi begitu murka. Gadis itu berusaha menghampiri kami, tetapi dari atas tinju api telah mengarah padanya. Hingga Azumi menghindar dan melompat ke belakang.


"Lawanmu adalah kami, Azumi," ujar sosok di atas sana.


Miss Merry dan Radja berdiri di atas sana. Terbang dengan kekuatan mereka. Peri itu mengeluarkan banyak mantra, tangannya yang lentur dia arahkan pada Radja. Sebelum lki-laki menyebalkan itu menyerang dia melihat ke arahku, mungkin lebih tepat melihat ke arah kami.


"Wah wah! Kecoa kecil ini bermulut besar juga. Kamu harus ingat jika dulu kamu ... terjatuh dari ketinggian," jelas Azumi. Aku tidak terima. Saat-saat di mana Azumi akan membunuh Radja. Kali ini Miss Merry datang dengan laki-laki itu, mereka menantang maut.


"Tidak ada salahnya mencoba. Meski jatuh, kita akan mempelajari sesuatu," ucap Radja tiba-tiba, "masa lalu membuat aku yang lebih baik di masa kini."


Aku mendongak, Radja benar-benar serius dengan ucapannya. Sebentar saja dia langsung memanggil naga hitam dari langit. Pesan tersirat yang membuatku kembali bangkit.


Bizar memegang pundakku. Dia sudah sangat siap dengan kedua pistolya. Sementar di sampingku juga berdiri Afly yang matanya berubah menjadi silver.


"Baiklah, Michio. Habisi mereka kecuali anak perempuan yang aku peringatkan padamu," ucap Azumi sebelum dia melanjutkan pertarungan dengan Radja.


Michio melihat kami. Matanya menjadi gelap, semua hitam, tetapi dia seakan baru saja menangis darah. Mengerikan.


"Aku bakal bantu kalian, lagi pula aku ada urusan dengannya," ucap Afly pada kami.


"Baiklah, aku rasa Bizar sudah membuat rencana," balasku dengan senyum selagi mencari keberadaan pedangku. Tidak begitu jauh dari tempatku berdiri, tetapi berbahaya karena terlalu dekat dengan Bara.


Aku berharap rencana Bizar bukanlah menggunakan pedang. Nyatanya aku salah, Bizar menyebutkan dalam telepatinya, "Dira, ambilah pedang kamu. Ikat Michio sekuat yang kamu bisa. Afly aku ingin kamu melawannya dengan kekuatanmu. Gunakan perisai tadi dan jadikan senjata."


"Sejujurnya aku ingin menanyakan hal lain, tetapi memang lebih bagus kalau kita menghentikan apa yang bukan fokus kita," balas Afly dalam telepati.


Kalian ini, lihatlah dia sudah mulai mengamuk.


Sasaran awal Michio tetap aku tidak berubah. Dia menggunakan kedua tangannya untuk mencekik. Sayangnya dia terlambat. Aku lebih dulu melakukan rol depan dan berlari mengambil pedang.


Bizar melompat mundur, tetapi dia tidak berhenti menembak Michio hingga bahunya terluka. Aku mencoba berlari dengan menebas pedangku, tetapi dengan kedua tangan yang ditepuk saja laki-laki itu berhasil menghentikannya. Ya, lagi pula itu memang rencanaku.


Aku melepaskan pedang dan segera mengepalkan tanganku sendiri. Pedang itu berubah menjadi akar-akar yang kuat dan merayap ke tubuh Michio hingga laki-laki itu sulit memberontak. Tipuan, Radja mengajarkannya beberapa minggu belakangan.


"Lakukan sekarang!" teriakku pada Afly.


Laku-laki itu mengangguk. Dia dan mata silvernya kembali bersinar terang. Molekul kecil membuat syal di antara lehernya. Cantik bagaikan banyaknya kunang-kunang di malam hari. Tangan Afly juga bersinar, mengepulkan cahaya menjadi sebuah bola.

__ADS_1


"Kamu orang paling menyebalkan!" umpat Michio pada Afly.


Afly mengembuskan napas, langkahnya berhenti. Aku memiringkan kepalaku, tidak dapat aku mengerti jalan pikirannya. Ada apa?


"Aku harus melakukan ini agar kamu ingat siapa kita sebenarnya, Michio," ucap Afly penuh ragu.


"Hana tidak pernah ada untuk menjemput kita." Baik aku dan Bizar sama-sama tersentak.


Tiba-tiba kilasan ingatan kembali membenturku. Tidak. Ini mengerikan, ingatan tentang Hana yang mengambil pedang mereka. Kenapa terus berputar di dalam ingatanku? Sakit!


Seakan semua orang melempariku dengan batu. Tidak berhenti, malah semakin banyak. Nafasku sesak dan tidak teratur, sesuatu seperti memanggilku. Apa mimpi itu mencoba memanggilku lagi?


"Dira!" Sadar akan tepukan tangan di bahuku pun menghilangkan semua sakit. Mataku menatap dalam pada Afly.


Benar juga, kenapa aku baru menyadarinya?


"Kalian memang orang yang dekat, kenapa aku baru sadar dengan petunjuknya?" gumamku pada mereka.


Aku lihat Bizar menyelesaikan pekerjaannya. Artinya tinggal Azumi. Aku melihat laki-laki itu terbang cepat bersama naganya. Dia kerahkan semua tenaga. Lalu Azumi tersungkur di tanah.


Azumi kembali bangkit, tetapi bukan untuk menyerang. Dirinya mengambil sebuah tongkat dan menarik Michio, oh ternyata memang Bara di sana, ke arahnya lalu menghilang secara perlahan.


"Ingatlah ini kalian semua! Aku akan kembali dan menjadikan kalian pelayan yang akan aku pekerjakan seharian. Hahaha!"


Aku mendengus. "Kudoakan harapan kamu gak berhasil."


oOo


Miss Merry membawa kami kembali ke sekolah, tepatnya di ruang bimbingan dan konseling. Khusus untuk kami berempat saja. Sejujurnya Radja tidak masuk hitungan, tetapi aku tidak rela jika dia tertawa di atas kami.


"Aku tidak menyangka kasus seperti ini terjadi. Harusnya kamu mengabariku dulu, Bizar," tegur Miss Merry.


Bizar mengangguk paham. "Maaf ... aku pikir tidak akan sepelik ini."


Miss Merry beralih memandangiku. "Nadira Putri Haniah, kamu tahu ini hal membahayakan yang keberapa kalinya sudah kamu lakukan."


Aku meneguk ludah, mencoba menghitung tetapi seketika tanganku gemetar. "A ... aku ...."


"Ya kamu tidak tahu. Wajar, karena sudah banyak dan hatimu selalu maju sebelum rencana dimulai," sindir Miss Merry.


Kini peri itu mengembuskan napas dan melihat ke arah Afly. Suaranya melembut dibanding padaku dan Bizar. "Daripada aku, sepertinya kamu punya banyak pertanyaan Afly."


"Benar," balas Afly, "sebelum aku nanyain tiga anak aneh bermasalah dan menyebalkan ... oke hentikan tatapan mengerikan kalian. Aku ingin tahu di mana Hana."


Merry tidak menjawab. Tepatnya bingung harus bercerita bagaimana dan aku paham. Mataku melirik pada Afly yang menunggu kepastian. Kupikir, aku bisa mewakili Hana untuk menjawabnya.


"Hana, telah tiada. Dia dan Vivian menyelamatkan aku," balasku.


"Sepenting apa kamu bagi Hana?" Aku terlonjak kaget mendengar pertanyaan Afly. Sepenting apa aku hingga ratu mereka mengorbankan hidupnya? Aku tidak tahu.


"Hentikan pertanyaan konyolmu, Afly. Hana tidak mendidik pendahulumu dengan kasar seperti itu," balas Radja dengan kasar, "dan Kazuhiro memberikan tanda padamu untuk tidak bersikap kasar pada orang-orang."


Afly tidak menunduk, dia juga tidak menengadah. Matanya menatapku, Bizar dan Radja bergantian. "Ya, ya, ya. Aku hanya tidak mengerti kenapa dia tidak menepati janjinya."


"Untuk menemukan kalian bertiga?" celetuk Bizar. Melihat lawan bicaranya mengangguk, dia melihat ke arahku, "kamu tahu, aku rasa Hana memenuhi janjinya melalui Dira."


Aku membelalak, begitu juga dengan Afly. Namun, bukankah ini kesempatan? Aku tersenyum pada laki-laki itu. "Jadi Afly, bisakah kita berteman? Bisakah kita ...."


"Aku tidak percaya. Dia hanya kebetulan bisa bertemu denganku dan Bara, bagaimana dengan Ame?! Hentikan saja! Kalian pembohong." Radja heran dengan Afly, dia segera berdiri melihat laki-laki yang pernah dipercaya leluhurnya itu juga berdiri.


"Kamu benar-benar, Afly!" geram Radja.


"Apa? Kalian hanyalah sekumpulan pembohong. Mau melawan Azumi katanya? Percuma saja selama kegelapan ada di hati Bara."


Aku bungkam. Lima detik kemudian, aku mendengar pintu yang ditutup dengan bantingan kuat. Miss Merry geleng-geleng.

__ADS_1


"Ini sudah aku prediksikan," ucap Miss Merry frustasi, "mereka kehilangan jati diri mereka."


__ADS_2