
Hampir sebulan dan kami sudah bisa mengatasi para monster itu dengan mengambil kekuatan jahatnya. Meski tidak semua monster bisa, ada beberapa tingkatan dan sepertinya membutuh penangan khusus. Namun, belakangan ini dia muncul, laki-laki yang pernah membantuku mungkin juga teman-temanku. Semenjak itu pula semua penduduk bumi mengetahui soal monster tersebut.
Bizar menolak untuk menghapus ingatan mereka. Dia yakin ini rencana dari orang yang menduplikat dirinya. Jika benar duplikat itu menguasai kemampuan dan paham dengan akses program milik ilmuwan tersebut, maka percuma saja untuk menghentikan publik mengetahui identitas kami dan monster yang menyerang. Bahkan, Bizar bilang agar kami lebih berhati-hati jika tidak ingin disorot oleh publik. Hanya itu pesannya.
Aku melihat tanganku sendiri. Belum begitu terliht jelas apa yang sudah aku dapatkan dari latihan selama ini. Kekuatan airku memang meningkat, tetapi saat melawan monster itu ... aku tidak berdaya. Jika seperti ini, aku hanya akan menghambat teman-teman saja. Tentu itu bukanlah hal yng aku inginkan.
“Nadira, Miss Merry udah sadar katanya,” ucap Radja. Laki-laki itu tengah duduk di atas dermaga sambil memperhatikan aku yang mengendalikan air dari danau. Dia sedang lenggang, tidak ada jadwal latihan.
“Kalau begitu kita bisa bertemu dengannya, kan?” tanyaku antusias. Karena terlalu bahagia, keseimbanganku di atas air mulai terganggu, tetapi aku berusaha untuk tetap tenang.
Radja mengusap tengkuknya, dia lalu melirik ke samping. “Entahlah, Miss Ann enggak bilang kalau kita boleh bertemu dengan Miss Merry. Meski udah keluar dari masa kritis dan koma, Miss Merry mungkin butuh istirahat lebih.”
“Tidak masalah, Ja, aku paham,” balasku santai.
Aku lalu menaikkan kembali air dari bawah. Rasanya aku sedang mengangkat barbel, tetapi ini bukan berisi besi atau pasir. Air. Jika sebuah air diisi banyak, beratnya pun akan sama. Cara membuat kekuatanku stabil adalah dengan mengaturnya. Selama ini aku hanya berlatih kekuatan air dengan volume kecil. Namun, sekarang Radja memintaku menaikkan seperempat volume air danau di sini.
Harusnya dengan kekuatanku, aku mampu menembus pertahanan dari para monster. Sayangnya, kekuatan air yang tidak stabil membuat seranganku pun kadang kuat kadang lemah. Sehingga yang terjadi hanya mengulurkan waktu. Memang berguna juga agar orang seperti Irish bisa menembakkan pelumpuh dan teman-teman memasukkan mengambil kekuatan jahat itu dari lawan.
Hanya saja, apa aku harus berdiam di tempat? Aku ingat betul. Musuh yang aku lawan bisa mengubah bentuknya menjadi uap. Aku harus bisa menggunakan keduanya atau salah satu dari kekuatanku untuk menghalau orang seperti dia. Namun, jika aku melihat pada Radja, laki-laki yang satu itu sangat tenang dan tidak terganggu dengan lawannya waktu itu. Seakan di pertarungan selanjutnya dia yakin jika kami akan menang.
__ADS_1
“Ja, kamu yakin gak bakal latihan lagi?” tanyaku padanya.
Radja memiringkan kepalanya, lalu menguap. Dia lalu menggelengkan kepala. “Lebih baik aku tidur saja, tetapi melihat kamu putus asa itu lebih menyenangkan.”
Aku hanya tersenyum tidak ikhlas. Ya, laki-laki ini bisa-bisanya meledekku dengan santai. Segera aku menarik air dari bawah ke atas. Cukup tinggi hingga membuat orang-orang yang berlatih pun melihat ke arahku. Di banding itu, Radja tersenyum ke arahku. Dia sangat puas dengan air danau tersebut. Tidak lama, dia pun menyuruhku untuk menurunkan air dan beristirahat di sampingnya.
“Ja, kadang aku berharap kalau aku bisa kayak kamu,” ucapku sambil berbaring di atas dermaga dan melihat langit mulai berganti warna menjadi jingga.
Radja menoleh padaku dan berucap, “Kamu mau jadi cowok? Wah, aku baru tau kalau kamu enggak betah jadi anak perempuan Nadira.”
Empat sudut siku-siku bisa terlihat di keningku. Menyebalkan sekali. Ya, ke mana-mana dia memang selalu menyebalkan. Entah sikap atau ucapannya. Namun, aku sudah terbiasa dan tidak masalah. Walau begitu aku tetap merasakan kesal ketika dia dengan santainya mengucapkan itu semua. Sudahlah, aku hanya ingin mengutarakan apa yang terpendam di hati.
“Aku ingin kayak kamu. Bisa bersikap tenang kapan pun, bahkan ketika kamu sadar ada bahaya yang mengancam di depan sana. Kamu juga pintar dan kuat. Apalah aku ini?” ucapku sambil menegadahkan tangan ke langit. Aku tidak mendengar Radja mengucapkan apa pun, dia hanya diam bersamaan dengan semilir angin menyama rambutnya.
Candra memberikanku ponselnya. Di mana aku bisa melihat sebuah video yang sedang viral. Memang kami jarang tersorot, tetapi orang yang membantu kami dulu lebih sering muncul. Hanya saja, tidak pernah ada yang menangkap mukanya secara langsung. Pasti videonya akan memperlihatkan mereka yang akan pergi atau pertarungan dengan monster sudah selesai.
“Lama-lama kita jadi pengangguran,” celetuk Demina sambil memerengut, kesal.
“Kenapa gitu? Dia kan bantuin kita juga. Harusnya kita bersyukur karena ada bantuan,” balasku.
__ADS_1
Demina memutar matanya bosan, lalu menjawabku, “Dira, tiap kita turun misi ... pasti kita Cuma dapet sisa atau penghabisannyanya aja. Kita datang dia pergi, apa itu terlihat bagus di mata kamu?”
Aku bergeming. Mataku tetap melihat video yang berputar. Aku biarkan saja mereka beradu mulut yang tidak ada gunanya. Mereka seharusnya bisa lebih menghargai satu sama lain. Terlebih kami jadi punya waktu untuk mengidetifikasi lebih lama, bukankah itu salah satu nilai positifnya? Namun, sebagian dari mereka tidak berpikir sama denganku.
Tiba-tiba portal terbuka dan Bizar keluar dari sana. Dia tidak menggunakan jas laboratorium seperti biasanya. Kali ini dia datang untuk berlatih dengan pakaian lengkapnya. Kacamata biru dan baju anti-peluru. Meski jika melihat dari mukanya, Bizar sedang kesal. Sepertinya dia belum menemukan petunjuk baru untuk mengambil kekuatan gelap di monster lainnya.
“Akhirnya kamu latihan juga, Zar. Mau latihan bareng aku?” tawar Candra.
Bizar menggeleng. “Aku mau pamit. Monster sering berpusat di Jakarta. Aku bakal cari tahu di sana mulai besok, sekalian dateng buat seminar. Sementara waktu aku enggak bakal kirim kalian ke mana-mana dulu. Lagian ada mereka.”
“Apa?!” ucap Afly meninggi. “Bizar, kamu pasti bercanda. Ayolah, masa iya kita libur di masa gawat ini. Katakan kalau kamu cuma latihan buat April Mop!”
Bizar lagi-lagi menggeleng. “Keadaan semakin gawat dan aku merasa mereka bisa menebar kebencian untuk membuat mereka lebih banyak lagi. Selama ini kita hanya menyerang monster-monster baru. Tingkat atas masih sulit untuk dilawan.”
“Lalu, kamu akan pergi ke Jakarta sendiri? Berapa lama?” tanyaku.
Bizar menegadah ke atas langit. Aku takut denga apa yang akan laki-laki itu ucapkan. Terutama sebelumnya ilmuwan satu ini sempat memutuskan untuk pindah sekolah. Walau hatiku berusaha untuk tetap memercayainya, tetap saja ada rasa takut di dalam hati.
“Mungkin beberapa hari. Miss Merry juga sudah sembuh, aku akan mengirimkan informasi padanya jika ada bahaya yang berlanjut,” gumam Bizar.
__ADS_1