Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S3] 84. Dunia Kai (5)


__ADS_3

Meski aku sudah memaafkan, Radja seperti orang yang belum puas saja. Dia berulang kali meminta maaf atas kejadian yang bahkan tidak dia ketahui. Bukan salahnya karena menyerangku. Meski memiliki mata naga, dia tidak bisa menembus pertahanan Kai. Aku sangat wajar, terlebih Mizuki sendiri yang menjelaskannya kepadaku.


“Lebih baik kita mencari cara untuk menemukan Tiara. Dunia buatannya lebih menyulitkan. Dia memang sangat ahli dalam bersembunyi,” ucapku. “Mizuki bilang kita bakal ketemu dengannya jika aku pakai kekuatan itu.”


“Kekuatan? Kekuatan apa lagi, Dira? Dan ... kapan pula kamu berbicara dengan Mizuki?” tanya Radja dengan tatapannya yang mengintimidasiku.


Aku terdiam sesaat ketika Radja menanyakan dua hal yang tidak bisa aku jawab. Tepatnya, aku bingung bagaimana menjelaskannya. Dunia roh, pertemuan dengan Hana dan Mizuki juga kekuatan hope. Dalam satu hari ini, aku benar-benar mengalami hal yang luar biasa. Nyaris mati untuk kedua kalinya dan sembuh dengan cepat. Jika tidak ada Kak Ron, nyawaku sudah pasti tidak akan selamat.


Radja mendesakku, tetapi kami tidak memiliki waktu yang cukup untuk mebahasnya. Sudah berapa lama waktu berlalu? Aku memang tidak tahu, tetapi kami sudah harus kembali ke bumi dan meninggalkan dunia Kai. Tentunya untuk keluar dari tempat ini, kami harus berhasil mengalahkan Tiara atau mengubah pikirannya.


Laki-laki yang sebelumnya terus mendesakku kini berubah pikiran dan memilih untuk bergerak cepat. Setidaknya memberitahu tentang bahaya dunia Kai sudah cukup untuk saat ini. Aku tidak mengerti maksud Mizuki sebelumnya, dia bilang kekuatanku akan menuntun pada Tiara. sayangnya, sedari tadi aku tidak melihat kemunculan gadis tersebut.


Beberapa aaat sebelumnya aku memang merutuki ucapan Mizuki. Namun, ada yang aneh di antara pohon-pohon sekitar. Aku yakin ada yang aneh di sini. Seolah-olah ada bayangan hitam yang melompat dari dahan pohon ke dahan lainnya. Entah kenapa aku yakin jika bayangan itu mengikuti langkahku dan Radja. Mungkinkah itu Tiara? Tanpa ragu aku memunculkan panah dan membidik salah satu pohon yang sekiranya akan dilompati oleh bayangan tersebut. Tepat ketika bayangan itu melompat, anak panahku berubah menjadi sulur dan siap untuk mengikat kakinya.


"Radja, Tiara ada di sana!" ujarku.


Radja segera menggunakan sayapnya dan terbang tinggi hingga mencapai tempat bayangan tersebut terikat. Aku berlari dari bawah, sesekali tanganku mengepal. Menguatkan tangan agar Tiara tidak bisa kabur dati jeratanku. Bagaimana pun ini kesempatan kami untuk menyadarkannya. Namun, tidak aku sangka sulurnya terlepas. Mungkin Tiara mulai melepaskan diri dan tengah bertarung dengan Radja. Aku harap keduanya baik-baik saja. Sejenak aku melihat tanganku sendiri. Harus segera aku gunakan kekuatan hope.

__ADS_1


Aku pun sampai di tempat Tiara terikat sebelumnya. Di atas sana Radja sedang menahan gadis itu dengan susah payah. Aku pun ingin membantunya. Segera aku kembali mengangkat panah, menarik sulur dan memunculkan anak panah berbentuk bambu. Tidak masalah jika aku menyakitinya, tidak masalah. Perlahan aku meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja meskipun aku menyakitinya.


Tembakanku mengenai bahu Tiara. Bahkan menembus permukaan kulit gadis itu. Tanganku bergetar. Takut dengan apa yang baru saja aku lakukan terhadap Tiara. Memang hal itu membuatnya tidak melawan. Kesempatan yang bagus jika aku ingin menggunakan hope sekarang. Radja segera menahan tangan gadis itu. Sehingga Tiara tidak bisa pergi ke mana-mana, lalu laki-laki itu membawanya ke bawah.


“Lalu sekarang bagaimana?” tanya Radja ke arahku.


Aku melihat wajah Tiara yang begitu kesakitan akibat sebilah bambu di bahunya. Perlahan aku pun memegang pundaknya yang lain. “Tiara, bisakah kamu percaya padaku? Aku ingin mengembalikanmu pada dirimu yang sebenarnya.”


“Aku tidak memerlukan bantuan dari orang yang bahkan lebih lemah dariku!” balas Tiara. “Aku akan membunuhmu setelah ini, Dira! Ugh!”


“Tidak bisakah kamu tenang dulu, Tiara? Lukamu cukup serius. Biar Nadira mengembalikanmu lalu akan membawamu pada Kak Ron. Kamu teman kami dan tentu saja kami sangat ingin membantumu,” gerutu Radja seraya mengeratkan pegangannya pada Tiara.


“Tiara, jika aku punya salah, mohon maafkan. Tapi jangan bertindak aneh seperti ini. Sudahlah, aku akan mencoba melepaskan tanda yang Miss Ann berikan. Tolong ... percayalah padaku meski sedikit,” bisikku pelan dan Tiara enggan menanggapi ucapanku.


Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi. Kami benar-benar dalam keadaan yang tidak baik. Dengan segenap kemampuan, aku gunakan untuk memanggil hope. Peluh keringat mulai bermunculan, padahal aku belum menyentuh tandanya juga. Mungkinkah tubuhku sudah kelelahan? Tidak, jangan sekarang. Tanganku pun segera menyentuh tanda di belakang lehernya. Aku bisa merasakan ada sesuatu yang tertarik ke dalam tubuhku lagi. Namun, ini tidak begitu sakit seperti sebelumnya.


Tiara mengaduh kesakitan dan aku sempat melihat wajah Radja yang kaget dengan apa yang aku perbuat. Sampai pada akhirnya aku pun merasakan tanda itu terserap habis. Tiara nyaris kehilangan kesadarannya, tetapi sebelum itu aku segera menggunakan kekuatan air untuk menyembuhkan seperdelapan. Setidaknya cukup untuk memberikan waktu agar Tiara mengeluarkan kami dari dunia Kai.

__ADS_1


“Nadira, apa yang sedang kamu lakukan? Tubuh kamu sudah kelelahan dan akan buruk jika kamu memaksakan diri lebih dari ini,” ucap Radja padaku. Laki-laki itu mulai melonggarkan pegangannya pada Tiara. “Wajahmu sangat pucat.”


“Aku baik-baik saja. Tidak masalah. Tiara, kamu masih kuat kan? Tolong hentikan ini. Sebentar lagi jiwa kita akan terserap pada dunia Kai,” ucapku.


Tiara mencoba untuk bergerak. Meski sulit, dia tetap berusaha untuk membuat segel khusus. Aku pun turut mengaliri air untuk menyembuhkan Tiara. Meski tidak sehebat Kak Ron, kekuatan yang aku alirkan mampu bertahan untuk beberapa saat. Dunia ini mulai runtuh dan kami bisa melihat kembali tembok. Ini lantai yang sama.


Kepalaku benar-benar berat. Kami masih harus mengejar Ratih. Namun, kondisi Tiara sangat parah—begitu pun dengan diriku. Aku ingin memercayakan hal ini kepada Radja, tetapi tanpa berbicara pun, laki-laki itu sudah menatapku dengan tajam.


Radja segera mengembalikan bentuk tangannya. Dia pun memanggil Naga Putih dari atas langit hingga menembus gedung ini. Aku paham, Radja akan membawaku dan Tiara ke Twins.


“Bagaimana dengan Ratih? Ja, biarkan aku ikut denganmu,” ucapku pelan.


“Aku menolak, Dira. Tubuhmu sudah sangat lemah. Tidak apa, aku akan melawan Ratih seorang diri,” ucap Radja tegas, tidak menerima argumenku yang lain. Namun, aku tetap bersikeras dan menepis ketika laki-laki itu ingin mengangkat tubuhku ke atas Naga Putih.


“Ini bukan waktunya untuk istirahat. Semua orang sudah bekerja keras dan sekarang kamu menyuruhku kembali semudah itu? Aku percaya padamu,” ucapku.


Radja mengembuskan napasnya. Dia masih mendekatiku—tidak. Laki-laki itu sudah seperti orang jahat dan kini dia memukulkan tangannya pada tengkukku. Kepalaku yang sebelumnya terasa berat, kini sudah tidak dapat dibendung. Samar-samar aku bisa mendengarkan ucapannya.

__ADS_1


“Maaf.”


__ADS_2