Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S2] 35. Aku Serius


__ADS_3

Langkah kaki semakin mantap. Aku tidak bohong pada Pak Hisam, guru sejarah laki-laki itu cukup meragukanku sebelumnya. Namun, siapa sangka jika dia akhirnya luluh mendengar penjelasan sederhana yang aku sampaikan dari Kak Ron padanya.


"Kenapa kakak enggak boleh cerita sama siapa-siapa?"


Aku jadi teringat bagaimana nada bingung Kak Ron saat itu. Perbincangan kami tidak sampai dua menit. Sangat sebentar, aku memang tidak ingin terlalu merepotkan Pak Hisam. Sekali lagi aku melangkah, hatiku semakin mantap untuk berjalan.


"Kak, mungkin setelah mendengar ini ... Kak Ron aku bergabung dengan Azumi."


"APA?!"


"Aku terpaksa, Kak. Banyak hal yang ingin aku ceritakan. Semua cerita itu bisa kita tunda, tetapi tidak untuk nyawa, Kak."


"Entah kenapa aku merasa kamu bakal bilang hal buruk."


"Aku jadi sebel, Kakak nyebelin juga. Ish! Kak Ron, setelah semua pekerjaan kakak beres ... bisakah Kakak kembaliĀ  Twins? Radja sekarat dan perlu penanganan. Kekuatan kakak bisa membantunya!"


"Eh? Laki-laki itu bisa sekarat juga?"

__ADS_1


"Serius Kak! Aku harap kakak bisa segera datang. Kita tidak pernah tahu kapan Azumi menyerang lagi."


Aku menutup mata. Mengingat semua percakapan dengan Kak Ron. Bersyukur jika dia menyetujui dan bisa pulang secepatnya. Radja akan lebih cepat ditangani.


Belum lama angin melambai-lambai menggiring helai demi helai rambut. Bel mulai berbunyi dan berbagai murid keluar secara bergerombol. Benar juga sekarang jam istirahat.


Aku memilih kembali ke kelas, tidak ada tempat lain yang bisa aku datangi. Tidak perpustakaan, kelas atau kantin. Ketiga tempat itu terlalu beresiko untukku bertemu dengan Demina.


"Katanya kamu berubah ya? Tapi orang lemah tetep lemah," sindir seseodang di belakang.


Aku segera berbalik. Bertatap muka dengan anak perempuan menyebalkan di seantero sekolah, Brittany. Sudahlah, lebih baik mengabaikan dia saja!


Aku menarik napas. "Maaf, tetapi aku tidak punya kepentingan sama kamu."


"Hah?! Apaan nih, sejak kapan kamu belagu kayak gini, Penyakitan?"


"Mending kamu biarin aku pergi," ucapku cukup lantang.

__ADS_1


Brittany mungkin marah karena nada suaraku. Tangan kanan dia layangkan, tetapi aku hanya diam tidak bergerak ke manapun. Lagi-lagi seperti ini. Padahal aku bisa melawan.


Aku menunggu hingga Brittany benar-benar melayangkan telapak dan berciuman dengan pipiku. Mengakibatkan merah, atau lebam jika dia beralih jadi kepalan tangan. Namun, seperti angin Bara menahan tangan laki-laki tersebut.


"Jangan ada kekerasan di sini, Brittany," ucap laki-laki tersebut.


Lambang MPK membuat Brittany berontak. Dia segera berbalik ke lain arah. Tidak peduli tawa dari murid-murid yang berlalu lalang. Kembali aku melihat pada Bara.


"Gimana sekolahnya? Baik?" tanyaku basa-basi.


Bara hanya mengangguk. Dia terlihat bingung. Penglihatanku pun turun ke bawah, tepat pada tangan lain yang sedang memegang kotak berwarna biru tua.


"Kamu bekal?" Dugaanku pada kota berwarna biru tidak mungkin salah, aku dapat mencium wewangian makanan dari sana meski samar.


"Entahlah, Azumi tiba-tiba mengirimkan ke tas aku," ucapnya pelan agar tidak terdengar oleh orang lain, "tetapi ini bukan untukku."


Terbelalak saat dia mengatakan hal tersebut. memelototi takut jika Azumi hanya coba-coba. Terlebih Bara sangat gusar.

__ADS_1


"Ini dari Azumi, untuk kamu," ucapnya yang lalu menyerahkan kotak bekal padaku.


"Untukku?"


__ADS_2