
Ron Pean, picture from pinterest
Aku melihat Demina di bangkunya. Dia menatapku, dengan bola mata yang membesar. Begitu pula dengan Afly, laki-laki itu tengah menelan ludah ketika aku mulai melangkah. Dengan wajah itu, aku tahu, kami tidak dalam kondisi tepat untuk bertegur sapa.
"Hati-hati di sekolah, nanti pulangnya bareng," ujar Bara.
Aku nyaris melupakan laki-laki tinggi yang mengantar ke kelas. Meski terdengar ketus, aku tahu itu hanya satu dari seni peran yang tengah kami mainkan. Setelah dia mengangguk, aku merasakan hawa panas semakin menjauh dari punggungku.
Kelas ini ... tidak berubah banyak dari dua minggu lebih aku meninggalkannya. Buku-buku tersusun rapi di rak belakang, dengan loker masing-masing murid yang menyangga rak tersebut. Hanya saja, Radja tidak ada di sana. Tepatnya laki-laki itu tidak masuk sekolah sejak hari aku melawan mereka.
"Nadira!" seru Demina yang membuatku sadar dari lamunan.
Refleks aku mengerutkan dahi. Ketika dia melebarkan tangan seolah ingin memeluk, aku langsung mendorongnya. Tidak peduli jika seisi kelas menjadi gempar karena tindakan tersebut.
"Dira ...," panggilnya lirih.
"Maaf, tapi kamu tidak berhak memelukku, Demina," ucapku pada perempuan yang sedang dipapah oleh Afly.
"Itu Nadira?" bisik-bisik murid lainnya.
Aku mencoba untuk tidak mengacuhkan pendapat mereka. Saat ini, meski sama saja aku mengibarkan bendera perang. Apa pun itu, aku melakukannya demi bumi.
Demina tetap duduk berdampingan denganku. Topik hangat bagi sekolahku. Sekarang mereka hanya memandangi aku sebagai orang jahat tanpa perasaan. Anak aneh yang melupakan kebaikan sahabatnya sendiri. Bahkan julukan jahat bisa saja bersanding denganku.
"Aku gak peduli kamu benar-benar lupa atau dicuci otaknya sama Azumi," ucap Alfy yang turut menghampiriku. "Tapi kamu beneran aneh."
"Maksud kamu dengan aneh itu apa?"
"Kamu ingin aku jadi baik, tapi sekarang kamu yang bertindak jahat," jelasnya padaku.
Aku bungkam seraya menjeling melihat orang sekitar. Banyak orang yang bingung dan aku benar-benar tidak suka cara Afly memojokkanku.
"Aku tidak ingin membicarakannya!" ucapku padanya.
Afly baru saja ingin berbicara kembali, tetapi Demina menggeleng. Seolah mengerti maksud kami berdua, dia mengembuskan napas. Masih memperhatikan gerak-gerikku.
__ADS_1
Salah satu hal yang dia maksudkan, penyerangan terhadap dia dan teman-teman lainnya. Bagaimana racun menyerap pada Radja. Laki-laki itu berjuang antara hidup dan mati.
Ketika bel berbunyi, semuanya buyar. Aku mengambil buku dari dalam tas. Jujur, aku mengkhawatirkan Radja. Sekali lagi, aku membuatnya dalam bahaya.
Warna gelap lebih mendominasi, Bara bilang ini karena kegelapan berkuasa. Alasan mengapa setiap hari dia mempertanyakan keputusanku. Karena bumi dalam bahaya.
"Dira, di sana kita boleh jadi musuh. Di sekolah, kita lupakan semua itu," ucap Demina di sampingku.
Dia mengulurkan tangannya di depan bangku. Aku mengembuskan napas dan hanya menatapnya. Namun, Demina tidak mudah menyerah. Dia kembali berucap, "Sepakat?"
"Tentu saja tidak," balasku dilanjut dengan mendengus.
"Eh?" Tentu saja jawaban dingin tanpa perasaan itu membuat Demina membelalak.
Aku segera merapikan buku-buku, memasukkannya ke dalam tas. Setelahnya aku beranjak dari tempat duduk.
Ah iya, aku lupa. Segera aku merogoh sesuatu dari kantong rok. Hal yang selalu membuat Azumi ragu dengan keputusanku. Satu-satunya penghubung yang membuatku sadar.
Mengembuskan napas lebih panjang, aku akhirnya berani mengeluarkan jam tangan dari balik saku rok.
"Ini milik kalian," ujarku pelan dan lalu menyerahkannya pada tangan Demina.
Aku tidak menanggapi lebih lanjut, karena bel masuk berbunyi. Segera aku mengeluarkan pena dan pensil bersamaan. Jika ditanya, ada sesuatu yang hilang di hatiku.
Pak Hisam yang mengajar di pelajaran pertama. Dia langsung menunjukku tanpa ragu. Membuat aku meneguk ludah dengan suguhan pertanyaan guru tersebut.
"Nadira, kamu tidak bosan ya? Jika kondisi kamu belum pulih, ada baiknya kamu homeschooling lagi saja. Jadwal menyesuaikan," tegur guru laki-laki tersebut.
"Aku hanya drop, Pak," balasku, "perlu istirahat tapi aku memang sungguh-sungguh ingin sekolah."
Pak Hisam melenguh. "Tidak! Tidak! Bapak tidak peduli jika Miss Merry, guru Bahasa Inggris itu bersikeras."
"Pak ...."
"Kalian rangkum keseluruhan bab 3. Nadira Putri Haniah, kamu ikut bapak ke ruang TU. Kita hubungi wali kamu," tegasnya tidak bisa aku tolak lagi.
Mungkin Pak Hisam jengah dengan kelakuanku yang nyaris mengikuti anak-anak nakal. Takut pula jika aku dijadikan cemoohan untuk sekolah. Ya, dari dulu Pak Hisam memang tegas, mendekati rasa sayang dan cintanya pada SMP ini.
__ADS_1
Benar jika aku dibawa Pak Hisam ke ruang TU. Berdiri di hadapan telepon kabel milik sekolah. Telepon kabel tetap dipertahankan oleh sekolah, identik katanya, tetapi pembayarannya mahal.
Pak Hisam berjongkok dan menarik satu per satu buku tebal di dalam laci tempat telepon itu disimpan. Buku itu hanya memiliki satu tulisan yang berbeda, tahun angkatan.
"Aduh, sekolah belum update nomor kakak kamu," omel Pak Hisam.
"Aku hapal kok, Pak. Tapi kakak saya sedang menjalani studi di luar negeri," jelasku.
Pak Hisam manggut-manggut, tetapi dia justru merogoh ponselnya sendiri dan menyerahkannya padaku. "Telepon, Kakak kamu. Tanya sebaiknya kamu harus bagaimana."
"Tapi Pak!" sanggahku.
"Bapak tidak melarang kamu untuk sekolah. Hanya kamu ini bisa drop kapan saja. Kamu spesial, Nadira. Jadi telepon kakak kamu dan tanyakan haruskah kamu homeschooling atau menjalani pengobatan sampai benar-benar pulih."
Penjelasan Pak Hisam tidak terbantahkan. Aku agak ragu mengambil ponsel dan mengetikkan nomor Kak Ron. Namun, jika aku menggunakan ponsel lain ... Azumi tidak mungkin melacakku, 'kan?
"Bapak beri kamu ruang sendiri. Di ruang BK sedang sepi. Bicaralah, jangan khawatirkan apa pun, oke?"
Aku mengangguk. "Terima kasih, Pak Hisam."
Menekan tombol itu, harapanku hanya satu. Kakak benar-benar mengangkatnya. Siapa peduli dengan perbedaan waktu? Bahkan jika Kak Ron sedang kuliah, dia harus mengangkat telepon ini.
Sambil melangkah gusar aku masuk ke dalam ruang BK. Sofa dan meja hampir luput dari perhatianku. Nyaris tersandung, tetapi akhirnya aku memilih untuk duduk.
"Hello?"
Berat suara itu menghancurkan ketegangan yang aku miliki. Kak Ron dan Inggrisnya yang fasih itu membuat aku agak tidak mengenali suaranya.
"Kakak, ini Dira," ucapku parau.
Tidak butuh bagiku mendengar suaranya yang meninggi, mungkin saja saat ini matanya tengah membelalak.
"Serius itu kamu? Kakak dan teman-teman kamu sangat khawatir!"
"Aku tahu, maaf, Kak."
"Kakak bingung harus bilang apa sama kamu sekarang, Nadira," ujarnya di penjuru lain.
__ADS_1
"Kakak, aku harus mengatakan beberapa hal dan ini sangat penting. Tolong jangan beritahu siapa pun kalau Dira hubungi Kakak."