Miracle Of Wish

Miracle Of Wish
[S2] 56. Akhir Untuk Memulai


__ADS_3

“Sejujurnya Azumi benar. Perjalanan kita yang sesungguhnya memang baru dimulai. Nadira, Radja, kita tidak bisa tenang-tenang saja. Terkadang apa yang kita harapkan dari sebuah rencana, pasti ada hal yang tidak sejalan. Jadi kalian tidak berencana untuk bersantai kan?”


“Tidak, Bizar. Tenang saja, kami juga punya kamu yang sangat bisa diandalkan. Aku dan Dira berencana pergi ke rumah sakit, jenguk Pak Hisam. Kamu mau ikut, Bizar?” ajak Radja.


Bizar tiba-tiba bungkam. Dia menunduk, membuat aku dan Radja hanya bisa melihat kacamatanya saja. Tidak tahu apa yang terjadi padanya. Bizar juga tidak kunjung mengucapkan apa pun. Ini membuat kami berdua semakin bertanya-tanya dengan apa yang terjadi. Lalu dia kembali menatap kami dengan sendu.


“Sejujurnya aku dipaksa Miss Merry untuk menyembunyikan semua ini sementara waktu. Sampai semuanya baik-baik saja. Aku piki ini waktu yang tepat, kalian juga sudah beraktivitas dengan normal,” ucap Bizar tiba-tiba.


Kami tidak paham apa yang Bizar maksud. Sehingga laki-laki itu pun membuat program. Memberikan kami layar transparan. Kosong, tidak ada apa pun. Debaran jantungku sangat tidak karuan. Sebenarnya apa yag ingin Bizar katakan pada kami berdua? Aku lalu melihat pada Radja. Raut wajahnya mulai berubah.


Ilmuwan cilik kelewat narsis itu seperti kehilangan percaya dirinya. Bizar melihat kami lagi, secara bergantian. Dia akhirnya memutuskan untuk menekan tombol enter pada program. Aku pun bisa melihat layar yang awalnya transparan diisi oleh wajah Pak Hisam. Perasaanku tidak karuan. Sangat. Rasa rindu ini sudah menggebu-gebu di dalam hati dan jiwa.


“Operasi ini pasti berhasil, Hisam. Kenapa kamu ingin kita membuat video seperti ini?” tanya seseorang yang aku yakini pasti Miss Merry.


“Setiap rencana tidak akan berjalan mulus, pasti ada beberapa persen untuk keadaan terburuk. Bagi operasi ini, berarti aku mati, Merry. Jadi sebagai antisipasi, aku mohon bantuanmu dan berikan ni pada anak didikku yang hebat-hebat itu,” balas Pak Hisam dan beliau berusaha untuk tersenyum. “Tolong pegang kamera ini.”


Aku melihat dengan seksama, bagaimana bangunan itu terguncang. Lalu kembali tegak. Sepertinya Miss Merry sudah memegangnya dengan benar. Kembali Pak Hisam pun memposisikannya dirinya di dalam video yang tengah berputar.


“Bapak tidak sempat banyak berbincang dengan kalian. Seperti yang kalian tahu, hari ini bapak akan operasi. Ini menyangkut hidup-mati. Maaf jika bapak memberikan kalian sebuah harapan. Bapak selalu mendoakan kalian dan percaya jika kalian akan membawa keamanan pada negara ... ah tidak ... pada bumi ini.

__ADS_1


“Ini pesan bapak untuk Radja. Sejujurnya bapak selalu bertanya-tanya kenapa tiap-tiap rapat orangtua, hanya keluargamu saja yang tidak pernah bapak ketahui wajahnya. Semua datamu lengkap, tidak ada yang kurang. Namun, keberadaan orangtuamu itusangat dipertanyakan.


“Akhirnya, bapak tahu. Kamu anak yang pintar dan berbakat, hanya saja kekurangan kasih sayang. Berbeda dengan Nadira, dia memiliki orang tua yang sayang padanya ... tetapi tidak punya waktu cukup untuk saling berbagi. Kalian memang kurang beruntung, tetapi, di luar sana ada yang lebih tidak beruntung dari kalian.


“Bapak ingin kalian berdua melanjutkan hidup seperti teman-teman kalian. Terlepas dari seorang manusia super, kalian tetaplah murid bapak. Maka, pergilah bersenang-senang dan jangan biarkan masa muda kalian lenyap begitu saja,” nasehat dari Pak Hisam. Aku bisa melihat setetes demi tetes air matanya jatuh menuruni pipi.


Tanganku mengepal. Kali ini aku menyetujui apa yang Miss Merry katakan. Untuk apa membuat video seperti ini? Namun itu tidak akan menjawab pertanyaanku. Segera aku pun melirik ke samping, di mana Radja tengah menahan air mata. Pipinya sangat merah dan metanya memelotot pada layar transparan tersebut.


“Nadira, bapak juga memiliki nasehat untukmu. Kamu yang selalu sendiri dan ditindas. Mungkin terlambat jika bapak menegur mereka untuk tidak melakukannya lagi. Tapi, bapak begitu bersyukur karena sekarang kamu tidak sendirian lagi. Ada teman-teman yang siap membantu kamu saat duka dan suka, bukan?


“Kamu bisa mengandalkan Radja. Kalian pasangan yang cocok. Kalian bisa saling melengkapi, bukankah bapak pernah mengatakannya? Jangan sampai kalian hilang kontak! Karena bapak yakin, persahabatan kalian tidak akan berhenti hanya karena melawan Azumi.


Video itu ditutup dengan senyum yang perlahan-lahan memudar. Tubuhku berdigik ngeri karenanya. Aku berusaha untuk bernapas. Namun, tidak tanpa aku sadari air mata sudah lolos dari pipiku begitu saja. Aku ingin berteriak, tetapi tidak bisa. Rasanya semua rasa takut ini ditarik ke depan dan yang lainnya dibiarkan mundur.


Tanganku tidak dapat digerakan. Justru rasanya sangat dingin. Bizar lalu menghapus video itu dan menutup layar milik kami. Ilmuwan itu pun ikut menangis, aku tidak ingin menebak pikiran ilmuwan yang sedang transparan ini. Tidak. Aku tidak ingin mengakuinya.


“Katakan ... apa yang terjadi sebenarnya, Bizar?” ucap Radja dengan lirih.


Bizar menggelengkan kepalanya. “Berjanjilah kalian akan tenang setelah apa yang aku katakan. Aku akan memberikan kalian alasan kenapa Miss Merry belum juga memberikan kalian izin untuk bertemu dengan Pak Hisam.”

__ADS_1


“YA SUDAH KATAKAN SAJA!” Aku tersentak karena Radja tiba-tiba berteriak. Kedua tangannya sudah mengepal. Sangat marah. Hingga air mataku semakin deras.


“Pak Hisam dalam keadaan koma dan sangat kritis. Sejujurnya operasi itu untuk menyelamatkan nyawanya. Miss Merry baru menyadari adanya serpihan kegelapan di sana dan sangat berbahaya bagi manusia biasa. Api yang membakar guru kalian itu, api yang siap menerkam nyawa kapan pun dan di manapun Azumi mau,” jelas Bizar.


Bizar juga menjelaskan jika nyawa Pak Hisam sangat bergantung pada keselamatan Azumi. Semenjak kami semua berhasil menjatuhkan gadis itu, kegelapan memang sirna karena dia melemah. Namun, aku tidak menyangka jika nyawa Pak Hisam justru dalam bahaya.


Karena kekuatan Azumi melemah, Pak Hisam dalam keadaan yang bisa dikatakan sangat buruk. Tidak sadarkan diri dan bahkan bisa lebih buruk. Sejak kemarin keadaannya terus menurun. Miss Merry berusaha untuk mengambil alih keadaan, tetapi ternyata tidak bisa.


“Saat ini Miss Merry sedang berjuang di saat aku sedang memantau keadaan elemental milik Azumi. Semakin lemah semakin bahaya,” ucap Bizar, “dan aku pikir setelah bicara denganmu kekuatan Azumi akan bangkit, Dira.”


“Lalu bagaimana keadaan Pak Hisam sekarang?” tanyaku.


Bizar  menggeleng. Namun, dia kembali membuka layar. Mencoba menghubungkan dirinya dengan dengan Miss Merry yang berada di rumah sakit. Pesan suara akhirnya kami dapat dengarkan.


“Miss Merry! Bagaimana keadaan Pak Hisam sekarang? Kenapa tidak memberitahu kami lebih dulu?” ujar Radja.


Aku dapat mendengar isak tangisnya. Dan aku tidak mau memercayai apa yang diucapkan oleh Miss Merry saat ini.


“Tabahkan hati kalian ... Pak Hisam telah meninggalkan kita semua.”

__ADS_1


__ADS_2