
Aku berdiri di hadapan Faizal. Namun, aku mengabaikan laki-laki tersebut dan memilih memeriksa keadaan teman-teman. Mereka benar-benar miris. Banyak luka dan mereka seakan siap untuk mati. Hatiku menciut dan rasanya begitu sakit. Aku tidak kuat jika harus melihat mereka terluka begitu dalam. Jadi aku segera berdiri dan kini menghapus air mata yang nyaris keluar dari pelupuk.
“Faizal, hentikan ini! Kamu bukan orang seperti ini,” ucapku berteriak. Laki-laki yang memegang kuas itu tertawa begitu keras.
“Nadira, kamu terlalu naif. Kekuatan kegelapan ini membuat aku bisa mengendalikan dunia mimpi dengan sempurna. Bahkan aku bisa membuat kamu jadi abu hanya dengan bertatapan,” ancam Faizal.
Aku balas dia dengan menyiapkan pedang. “Jika kamu berani, ayo kita berduel dan jangan ada sedikit pun kecurangan. Pemenang menentukan hukuman.”
Faizal kembali tertawa. Kini dia menggambarkan sebuah pedang untuk berhadapan denganku. Debaran jantung ini benar-benar tidak tertahankan, apakah aku sanggup untuk menyerang teman sendiri? Mataku menjeling dan melihat mereka sudah mulai tumbang, tidak ada tenaga untuk bertahan lagi. Sementara Radja kini berdiri di belakang dan mencengkeram tanganku.
“Keahlian berpedangmu masih buruk, biar aku saja yang melakukannya,” ujar Radja.
“Jangan, Ja. Sekarang cuma kamu yang bisa membawa teman-teman kembali. Cuma aku yang bisa melawan Faizal. Tolong percayalah padaku. Seorang Nadira ingin berguna sewaktu-waktu,” balasku sambil tersenyum.
“Nadira, ini ide yang sangat gila. Bagaimana jika kami malah kehilangan kamu? Tolong pikirkan baik-baik. Ini bukan permainan yang bisa diulang begitu saja jika kamu kalah.”
“Ja, kamu harus percaya sama aku. Faizal akan segera menyadari apa yang sedang dilakukannya. Saat ini aku mengandalkanmu untuk membawa jiwa mereka,” balasku.
Aku lihat Faizal mulai membuat arena yang membuat Radja dan teman-teman pun tidak bisa masuk ataupun mengganggu duel kami. Sebelum menyerang, aku memastikan Radja. Laki-laki yang biasanya percaya diri dan berani kini malah terlihat ragu-ragu. Sekali lagi aku memamerkan senyum. Ini bukan akhir, tetapi awal untuk dunia yang lebih damai. Radja perlahan membawa ketika temanku dengan tangan naganya yang lebih kuat dan bisa menampung semuanya.
Radja membuka sebuah portal dengan kekuatan mata naga. Mungkin itu alasan kenapa dia tidak ingin membawaku. Dia bisa kembali dengan cepat. Namun, tenaga Radja sudah tidak dipastikan lagi. Meski menang di alam mimpi, musuh tetap bisa menghabisinya. Sebaiknya dia menemui Kak Ron dan Bizar. Aku yakin mereka pun akan mencoba memahamiku.
__ADS_1
“Apa yang kamu tunggu, sudah waktunya menari di atas kematianmu sendiri,” ujar Faizal yang sudah siap dengan pedangnya. Aku melihat pedang milik Radja. Beda dengan caladbolg yang ringan, pedang ini sangat berat tetapi juga tajam.
“Aku tidak ingin menyakiti temanku sendiri, Faizal. Jadi, menghindarlah sebisamu,” balasku agak takut.
“Jangan mengucapkan omong kosong, Nadira. Aku akan menghancurkanmu berkeping-keping bahkan tidak akan ada lagi yang tersisa.”
“Terserah padamu, Faizal. Aku tetap pada tujuanku,” timpalku tanpa ada keraguan sedikit pun. Saat ini aku terus mengutarakan keyakinanku. Tidak boleh ragu atau ini semua akan sia-sia saja dan aku tidak mau hal itu terjadi.
Faizal mulai menyerang terlebih dahulu. Aku segera menangis serangannya yang tidak beraturan. Sungguh ini membuat pola serangan laki-laki itu tidak dapat aku baca. Selama pedang belum menyakitiku, itu berarti masih baik-baik saja. Aku pun segera melompat ke arah lain dan mencari lokasi untuk menghindar dari tebasannya.
Segera aku berguling ke depan dan menendang punggung laki-laki tersebut. Faizal tersungkur tetapi tidak lama berdiri. Memang sulit menumbangkan seorang laki-laki, tetapi tidak ada kata menyerah saat ini. Segera aku menangkis kembali serangan Faizal yang mendadak. Sempat tebasannya memotong ujung rambutku. Pedang sangat tajam. Terlebih dia sangat bertenaga.
“Berhenti bicara! Tugasmu saat ini adalah melawanku, Dira,” balas Faizal.
Aku mengembuskan napas dan segera menghindar. Faizal tidak menyerangku dengan pola yang benar sehingga aku pun memukulkan gagang pedang pada punggungnya. Itu sukses membuat Faizal terjatuh. Bicara dengan kepala dingin adalah yang kubutuhkan dan itu hanya bisa didapatkan jika aku bisa melumpuhkan Faizal.
“Faizal yang aku kenal adalah orang baik, bukan laki-laki pengecut yang bahkan menyerang dengan taktik berantakan,” balasku.
Faizal kembali berdiri dan dia pun mulai menyerangku. Sialnya aku merasa arena ini menjadi lebih sempit. Selain kawan tidak bisa masuk, aku sendiri tidak bisa keluar. Jadi bagaimana caranya aku mengalahkan Faizal dengan keadaan seperti ini? Dia pasti sengaja mempersempit jarak arena.
Aku segera berlari memutar di saat dia mengejarku. Melawan tanpa melukai itu lebih susah, terlebih aku tidak memiliki kekuatan Hana. Aku benar-benar berharap jika kekuatanku ini bisa dipakai sekarang. Hana bilang prosesnya tidak mudah, terlebih dipercaya oleh orang itu lebih sulit daripada kita memercayai seseorang.
__ADS_1
Faizal memang tidak menyerang dengan pola yang sama. Namun, itu membuatku menemukan celah untuk menyerangnya. Jadi aku pun berhenti berbalik dan kini berhadapan dengan laki-laki tersebut. Tidak terbesit keraguan di dalam pikiranku lagi. Saat ini aku yakin jika kekuatanku bisa menghentikan serangan dari Faizal.
Kami saling beradu pedang. Aku melakukan gerakan menyilang dan dia menahannya, lalu aku melakukan serangan menebas ke samping kanan dan kiri. Faizal memang berhasil menangkisnya. Namun, aku melihat celah di antara kuda-kudanya. Jadi segera aku tendang saja salah satu kakinya. Sehingga laki-laki itu pun mengaduh sakit dan menjatuhkan pedangnya. Aku ingin mengakhiri permainan ini. Segera saja aku todongkan pedang ke arahnya. Tentu dia menatapku dengan tatapan tajam.
Aku turut berjongkok dan mengulurkan tangan ke arah laki-laki tersebut. “Tolong kembalilah, Faizal. Kami sangat membutuhkanmu dan kami menerima kedatanganmu.”
“Tidak bisa, aku tidak bisa,” balas Faizal. “tanda ini benar-benar mengutukku. Jika kamu ingin Faizal yang sebelumnya kembali, maka cobalah untuk menghancurkan tanda di belakang leherku. Jika itu hancur, aku akan kembali jadi semula.”
Aku segera berjalan ke belakang tubuhnya. Benar, ada sebuah tanda berbentuk mawar dan menyala dengan terang. Entah bagaimana cara menghancurkannya. Namun, entah kenapa saat aku menyentuhnya, sinar itu semakin menyala. Faizal pun merintih kesakitan, tetapi tandanya mulai memudar. Aku melihat tangan yang memiliki simbol Hana, apakah ini penyebabnya? Apa ini salah satu kekuatanku yang Hana maksud?
“Faizal, bisakah kamu percaya padaku? Aku akan menghilangkan tanda ini dan kamu akan menjadi normal lagi,” ucapku, “sepertinya aku bisa menghilangkan tanda ini.”
“Lakukan saja sesukamu. Aku tidak peduli, lagi pula pemenang berhak menentukan hukumannya. Jadi, aku akan menerima ini sebagai hukuman darimu,” ucap Faizal ketus.
Aku kembali memegang tanda itu. Sinar yang begitu menyilaukan pun kembali muncul. Ada sesuatu dari tubuhku yang ikut terserap. Aku tidak tahu apakah itu, tetapi sukses membuatku lelah sekaligus mimisan. Pandanganku pun memudar, sementara Faizal pingsan. Tidak. Kami tidak boleh terjebak di dalam dunia mimpi.
Siapa pun tolong kami.
__ADS_1